Single Parents

Single Parents
JANGAN JADI NYAMUK.



Hisyam bermondar mandir di depan sahabatnya yang juga sedang berpikir keras mencari solusi untuk masalah yang mereka hadapi.


Tak butuh waktu lama, sebuah ide tiba-tiba muncul dalam benaknya, membuat Davis seketika bangkit dari duduknya lalu menghampiri bosnya.


"Honestly, we still have one more choice..."


"(Sejujurnya, kita masih memiliki satu pilihan lagi)"


Hisyam menoleh saat Davis mendekatinya dan menatap asistennya dengan memicingkan mata.


"What? No way! Aku sudah memikirkan hal itu dan aku tidak setuju, itu bukan ide yang baik Davis!"


Tolak Hisyam dengan keras, bukannya ia tak terpikirkan tentang ide itu, tapi ia tak ingin menambah beban Alia yang selalu menjadi korban atas kesalahannya mengambil tindakan.


"Hisyam, kita hanya perlu mengadakan konferensi pers dan meng-klarifikasi masalah ini" pujuk Davis, proa itu terlihat meyakinkan.


"Lalu, bagaimana dengan gadis indo lagi-lagiitu, mereka akan bertanya tentang wanita yang menjadi korban dari insiden ini, dan pengasuh itu akan ikut terseret ke dalam permainan ini!"


"Tapi kamu tau kan, hanya itu satu-satunya cara untuk menghadapi skenario yang di ciptakan tuan Lee?"


Tambah Davis, sambil menghela napas beratnya, pria itu kemudian menepuk bahu sahabatnya dan kembali melabuhkan bokongnya di atas sofa.


"Sorry Davis, tapi kali ini aku tak sependapat denganmu, kamu tidak tahu apa yang telah di alami wanita itu..."


Ucap Hisyam sambil melempar pandangannya ke luar jendela, ia tahu gadis indo itu berusaha terlihat tegar hanya untuk menyembunyikan betapa rapuhnya dirinya.


Dan ia bisa melihat bagaimana tangan wanita itu bergetar setiap kali ia termenung mungkin memikirkan semua masalah yang menimpa dirinya.


"So, what should we do?"


"Entahlah, tapi bukan dengan cara itu, "


"Oke, ketepikan cara itu, dan katakan saja kamu mendapatkan rekan bisnis yang baru dan berpengaruh seperti Mr. Lee, tapi..."


"Kita bicara lagi nanti, aku akan menemui Ozan terlebih dahulu" Ucap Hisyam sambil melangkah keluar.


"Hisyam! Think about that! Bagaimana dengan tanggapan publik dan kepercayaan dari partner kita setelah tahu kita ikut andil dalam bisnis kotor Mr. Lee!"


Teriak Davis namun tak di tanggapi oleh Hisyam, ia mencoba meyakinkan sahabatnya bahwa cara itu lebih baik dari pada harus membantu Mr. Lee dalam menjalankan bisnis ilegalnya.


-


Hisyam keluar dari kamar Ozan saat tak menemukan siapapun di sana, dengan perlahan ia mendekati living room setelah mendengar gelak tawa mama Farida dan bik Ina.


Ketiga wanita beda generasi itu terlihat bercengkrama, mengusik Ozan yang tak ingin lepas dari pangkuan pengasuhnya, hingga tingkah menggemaskan Ozan sukses membuat nyonya Farida dan bik Ina lagi-lagi tergelak riang, kecuali Alia yang hanya mengukir senyum memerhatikan Ozan yang bertingkah over protektif terhadapnya.


"Ehm...! Sejak kapan makan malam mulai di larang di rumah ini? Atau... kalian semua sudah makan malam tanpa menungguku?"


Ucap Hisyam yang merasa dirinya sedang diabaikan, namun tak ada respon dari nyonya Farida dan juga bik Ina, sehingga Alia yang tak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya bisa menatap dua wanita paruh baya itu dengan bingung.


"Bagaimana ya, daripada harus menunggu si workaholic yang hanya peduli dengan dirinya sendiri, ku pikir kami juga harus melanjutkan hidup kan?


Sindir nyonya Farida sambil menatap lurus ke hadapan, wanita paruh baya itu berpura pura menikmati acara televisi yang bahkan tak ia ketahui topiknya.


"Bik! Tolong siapkan makan malam sekarang!"


Seru Hisyam geram, ia tahu itu salah satu ide mamanya sebagai aksi protes karna dirinya telah berbuat kesalahan.


"Maaf tuan tapi..."


"Bik, sebaiknya bibik menjaga Ozan, agar Alia bisa menikmati makan malamnya"


Potong nyonya Farida, sedang bik Ina yang sudah mengerti dengan kode yang di berikan nyonya besarnya kini bangkit dan mulai merayu Ozan dengan berbagai cara agar bisa melepaskan pengasuhnya.


"Bik, biar Alia saja yang menidurkan Ozan, aku akan makan setelah Ozan tertidur"


Ucap Alia saat menyadari Ozan benar-benar tak ingin lepas darinya, dan hal itu juga di jadikan alasan agar dirinya tak terjebak dalam perseteruan antara ibu dan anak itu.


"Hm... semua orang bertingkah aneh hari ini!" Hisyam menggerutu saat hanya tinggal dirinya dan mamanya di ruang tamu itu.


"Hisyam tunggu! Kita perlu membicarakan masalah ini!"


Cegat nyonya Farida, sehingga membuat Hisyam segera menghentikan langkahnya.


"Apa kamu merasa puas sekarang! Setelah menempatkan pengasuh itu dalam insiden yang akan meninggalkan trauma di sepanjang hidupnya?"


Nyonya Farida membuka pembicaraan, sedang Hisyam yang tadi hanya berdiri, kini melabuhkan bokongnya.


"Mama tak menyangka, kamu akan berbuat sekeji itu" Nyonya Farida mengungkapkan kekecewaannya.


"Huf.... Hisyam tahu Hisyam salah, semua ini karna kecurigaanku yang tak mendasar pada gadis indo itu"


Ungkap Hisyam penuh penyesalan, ia terlalu takut jika terjadi sesuatu pada Ozan hingga tak sadar telah menyakiti wanita itu lagi dan lagi.


Hisyam menatap sayu wanita yang sangat ia hormati itu, kharismanya sebagai seorang CEO pun seakan ciut jika berhadapan dengan wanita yang bergelar ibu tersebut.


"Maka dari itu, mama mohon padamu, berhenti mencurigai wanita itu, dia sudah banyak berkorban untuk Ozan, bahkan ia rela mengabaikan perasaannya sebagai seorang ibu dan menjalani perannya sebagai pengasuh...


Seharusnya kita membalas kebaikannya dengan melindunginya bukan malah menambah masalah dan baban pikirannya"


"Mama harap, kali ini kamu menyelesaikan masalah ini tanpa menyakiti siapapun termasuk pengasuh itu, dan pastikan nama Alia tak terseret apalagi sampai kasus pelecehan itu di ketahui publik!"


Ucap nyonya Farida tegas, dengan perasaan kecewa wanita paruh baya itu meninggalkan putra sulungnya yang masih terpaku berusaha mencerna setiap kata-kata mamanya.


-


Alia termenung sambil mengusap rambut coklat milik Ozan dengan penuh kasih sayang, di situ ia baru teringat tentang ponsel yang baru di berikan Hisyam padanya.


Dengan tergesa-gesa ia menuruni anak tangga mencoba mengingat, di mana ia meletakkan ponsel pemberian tuannya itu.


"Apa masih di mobil ya? Besok sajalah aku mengambilnya, lagi pula ini sudah malam"


Ucap Alia perlahan, sambil mengendap endap pengasuh itu tiba-tiba mengurungkan niatnya tak ingin membangunkan seisi rumah hanya gara-gara sebuah ponsel.


"KRUCCKK.... KRUCCKK...." Suara perut Alia mengingatkan untuk segera diisi membuatnya segera beralih mendekati dining room.


"Ah... perutku, oya! Bukankah bik Ina sudah menyiapkan makan malam untukku, sebaiknya aku memakannya sekarang untuk menggajal perutku"


Bisik Alia perlahan, baru saja pengasuh itu melangkah masuk ke ruang makan, pandangannya tertuju pada sosok pria yang sedang bersiap menikmati makanan yang di siapkan bik Ina untuknya.


"Tuan! bukankah itu makanan yang di siapkan bik Ina untukku?"


Alia menghampiri Hisyam yang baru saja akan memasukkan suapan pertama ke mulutnya.


"Ck...! tapi aku sudah memakannya sebagian, carilah yang lain dan buatlah makanan yang kamu inginkan"


Hisyam mencari alasan dan mencoba memberi usul agar pengasuh itu tak mengganggu rencana makan malamnya yang telah tertunda sejak tadi.


"Baiklah! Aku akan mencari makanan lainnya..."


Lanjut Alia, dengan antusias wanita itu membuka kabin dan meraih sebungkus mie instant asam laksa yang telah lama di idam idamkannya.


Hisyam memperhatikan Alia yang begitu antusias dengan peralatan dapur di hadapannya.


"Wait! Bukankah itu mi instan? Apa bik Ina tak memberitahumu bahayanya meng-konsumsi makanan instan seperti ini!"


Hisyam mendekati Alia dan langsung mengembalikan semua peratan dapur itu ke tempat semula.


"Sudah tahu makanan instan berbahaya, tapi masi saja di produksi, heran!"


Gumam Alia sambil meremas bungkusan mie di tangannya, sedang Hisyam yang merasa terjebak dengan perkataannya sendiri mulai gelagapan.


Pasalnya salah satu perusahaannya juga memproduksi beberapa makanan cepat saji dan di antaranya adalah merek dari bungkusan yang di pegang oleh Alia sekarang.


"Ehm... namanya juga berbisnis, memang kamu tau apa soal itu!


Lagipula tidak menjadi masalah kan, jika yang mengkonsumsinya bukanlah seorang ibu menyusui sepertimu, memangnya kamu tidak tau tentang itu"


Hisyam mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal dan bisa di terima oleh Alia, sehingga tak ada lagi aksi protes yang di dapat dari wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.


"Sudahlah, memasaklah makanan apapun, kecuali makana siap saji seperti ini, jangan sampai terjadi sesuatu pada Ozan gara-gara sikap keras kepalamu itu!"


Tukas Hisyam sebelum meninggalkan Alia setelah mengeluarkan beberapa bahan masakan dan kembali ke meja makan, melanjutkan makanannya yang sama sekali belum sempat di cicipinya.


Sementara Alia yang merasa perutnya sudah semakin di obrak abrik oleh segerombolan cacing yang sedang melakukan aksi protes, terpaksa harus memulai kembali acara masaknya dengan menu yang berbeda, meski sebenarnya ia sangat merindukan makanan seperti itu.


"Argh... padahal itu kan cuma mie!" Alia menggerundel sambil memotong sayuran yang sudah di siapkam oleh Hisyam dan...


"Auww...!"


Alia meringis saat pisau yang di gunakan untuk memotong bahan masakan, kini mengenai jarinya hingga mengeluarkan cairan merah.


Mendengar ringisan Alia membuat Hisyam bergegas menghampiri pengasuh itu dan langsung meniup luka pada jari Alia.


"Tuan... "


Alia kaget dengan aksi tuannya, sehingga ia segera melepas genggaman tangan tuannya, takut seseorang melihat kedekatan mereka dan terjadi kesalah pahaman seperti yang terjadi pada majikannya yang terdahulu.


"Cih...! Kamu terlalu ceroboh, kamu pikir tanganmu terbuat dari besi!"


Hisyam berdecih sebal dengan sikap keras kepala Alia, hingga menuntun pengasuh itu duduk dan mengolesi obat ke tangan Alia yang luka.


Dan benar saja, bik Ina dan nyonya Farida yang mendengar suara berisik kini bergegas mencari asal suara itu.


"Eh... eh... bik Ina mau kemana? Jangan merusak suasana, sebaiknya kita tunggu disini saja, bik"


Nyonya Farida berhenti seketika setelah melihat pemandangan yang tak biasa antara putranya dan si pengasuh itu, hingga ia berinisiatif mencegat bik Ina yang sudah siap menghampiri Alia dan Hisyam di meja makan.


"Bibik mau membawakan obat untuk Alia, nyonya"


"Tidak perlu bik! Sudah ada Hisyam di sana, yang ada bibik cuma jadi nyamuk..."


"Maksud nyonya?"


"Apa bibik tidak mengerti juga, lihat, bukankah mereka terlihat sangat cocok bila bersama"


Bisik nyonya Farida sehingga bik Ina yang tadi kurang peka langsung membelalakkan matanya, mengerti dengan apa yang di maksud oleh nyonya besarnya.