Single Parents

Single Parents
AKU BUKAN ANAK KECIL.



Semilir angin di sore itu berhembus menyibak rambut panjang Alia yang hitam legam, desirannya terasa lembut menyapa wajahnya yang merona tanpa sentuhan make up.


Entah berapa lama Alia berjalan menyusuri pantai sambil menikmati alunan musik akustik dari ponselnya, ia merasa tentram, menatap lautan yang terbentang luas di hadapannya.


Sesekali ia mundur menghindari ombak yang berlarian ke pinggiran, namun tetap saja percikannya akan membasahi dress yang di kenakannya.


Matahari mulai berganti senja, menampakkan atmosfer indah dengan warna kuning keemasannya.


Alia yang lelah berjalan akhirnya memilih untuk beristirahat dan memeriksa kakinya yang terasa perih akibat sepatu lembab yang di kenakannya.


"Sh.... pantas saja perihnya semakin tak tertahan, ternyata lukanya separah ini" Alia mendesis kesakitan melihat kakinya yang memerah karna lecet.


"Ha... sudah hampir gelap, kalau aku pulang sekarang aku harus memberi alasan apa pada nyonya Farida, beliau pasti akan mengintrogasiku habis-habisan....


Ah... ini semua gara-gara tuan kaku itu, apa susahnya, sih, menolak keinginan mamanya... ini apa lagi! Mentang-mentang punya uang banyak, dia bisa seenaknya menyuapku dengan kartu kredit ini...."


Alia menggerundel sendiri sambil memegangi perutnya yang keroncongan, menagih untuk segera di isi.


Kruckk... kruckk....!


"Lapar lagi, masa iya, aku harus menggunakan kartu ini hanya untuk membeli makanan, bisa-bisa tuan Hisyam berpikir aku sengaja memanfaatkan keadaan...." Alia merasa bingung namun gengsinya cukup tinggi.


"O iya! Aku kan masih punya uang rupiah yang belum sempat di tukarkan"


Wajah Alia yang tadi sempat kebingungan mencari solusi untuk perutnya, kini kembali ceria setelah mengingat masih ada beberapa lembar uang yang tersimpan dalam sling bagnya.


Sambil merogoh tasnya Alia menyeret langkah dengan kakinya yang perih, mendekati pedagang yang berjejer di pinggiran jalan.


Sedang ia memilih jajanan yang di inginkan, pandangannya tertuju pada satu pedagang yang menawarkan aksesoris dan berbagai macam oleh-oleh khas pulau itu.


Alia teringat akan papanya saat melihat sebuah jam di antara dagangan lainnya, dengan senyum mengembang ia membeli jam tersebut untuk papanya.


Tiga lembar pecahan seratus ribu kini bertukar menjadi selembar uang kertas berwarna biru, dengan uang itu ia manfaatkannya untuk membeli sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang melakukan aksi demo.


Karna khawatir Hisyam tak bisa menemukannya di keramaian itu akhirnya ia kembali ke pinggir pantai setelah mendapatkan makanan.


Dengan menenteng kantongan plastik yang berisi seporsi bakso bakar yang baru saja di belinya, ia pun menyeret langkahnya kembali ke tempat semula.


Tak mampu menahan rasa laparnya lagi, Alia pun mulai mengeksekusi makanan siap saji yang sudah menjadi makanan favoritnya dari dulu.


"Huh...! Ini bahkan belum cukup, seharusnya aku membeli lebih banyak dan memakan sepuasnya sebelum tuan Hisyam melarangku dengan aturan konyolnya itu..."


Gumam Alia dengan mulut yang terlihat penuh oleh makanan.


"Benar! Makanlah sesukamu! Tapi kalau perutmu sampai sakit karna memakan makanan yang tak terjamin kebersihannya, jangan memintaku untuk membawamu ke dokter!" Tantang Hisyam.


"Uhuukk...! Uhuukkk....!"


Alia tersedak dan menumpahkan makanannya saking terkejutnya mendengar suara Hisyam yang menggelegar.


"Uhuukk...! uhuukk...!


Alia terus terbatuk sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, hingga Hisyam tergerak untuk melakukan sesuatu.


"Drink this....!"


Hisyam menawarkan sebotol air mineral dan di sambut cepat oleh Alia yang masih cegukan akibat tertelan potongan pentolan yang lumayan besar.


"Makanya kalau makan, jangan sambil omongin orang, sekarang kamu tau kan akibatnya...."


Ejek Hisyam, dengan tawa yang berusaha di tahannya, namun ada secuil rasa prihatin yang muncul dalam dirinya mengetahui pengasuh itu menuggunya dengan perut kosong.


"Maaf, karna membuatmu menungguku dengan perut kosong"


Ucap Hisyam yang juga ikut duduk setelah batuk Alia sedikit mereda.


"But, why you stil here? (kenapa kamu masih disini) seharusnya kamu kembali ke villa!" Suara Hisyam terdengar geram.


"Aku bingung harus menjawab apa saat nyonya menanyakan keberadaan tuan dan, aku... sebenarnya tidak tahu arah jalan pulang"


Alia menunduk, ia merasa malu untuk mengakui ketidak cerdasannya yang tak bisa menemukan jalan pulang ke villa.


"Are you kidding me? (apa kamu bercanda) Tempat ini adalah salah satu pulau yang terkenal di indonesia, bagaimana bisa...."


"Ya! Terus saja mengolok-olokku seperti ini! Memang benar ini negaraku, tapi, bukan berarti aku....!"


Alia menjawab kesal pertanyaan Hisyam, namun ia segera menurunkan nada suaranya setelah menyadari dirinya telah membentak bosnya sendiri dan itu sangat tidak pantas untuk di lakukan seorang bawahan pada atasannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud..." Ucap Alia kemudian.


"Wait here, i'll be right beck! (Tunggu di sini, Aku segera kembali!)" Potong Hisyam lalu berlari ke arah keramaian.


Hisyam kembali beberapa menit kemudian dengan menenteng beberapa kantongan plastik di tanganya dan meletakkan kantongan tersebut di hadapan Alia.


"Apa ini? Apa yang tuan lakukan?"


Tanya Alia, heran melihat kantongan plastik tadi berisi berbagai macam jajanan dari pedagang yang berjejer di pinggir jalan.


"Tadi kamu menyesal karna tidak bisa menikmati jajanannya lebih banyak, bukankah itu yang kamu katakan tadi?" Sindir Hisyam.


"I-iya... maaf, tapi... bukankah tuan melarangku menyantap makanan seperti ini, apalagi dari pedagang yang ada di pinggir jalan seperti itu"


"Kalau tidak mau, biar ku kembalikan pada pedagangnya saja...." Ancam Hisyam sambil meraih plastik itu kembali.


"Tidak! Tidak! Tuan tidak perlu mengembalikannya, aku akan memakannya!"


Sosor Alia yang langsung memasukkan satu buah risoles ke dalam mulutnya, membuat Hisyam sedikit lega setidaknya tak terjadi apa-apa pada pengasuh itu karna dirinya.


"Baiklah Hisyam hanya untuk hari ini, mungkin dengan menuruti keinginannya ia bisa melupakan kesedihannya yang tak bisa hadir di ulang tahun pertama putrinya..."


Hisyam terus memerhatikan gelagat Alia yang begitu antusias menyicipi berbagai jenis gorengan di hadapannya, meski terlihat bersemangat tapi ia tahu Alia berusaha keras menyembunyikan kesedihannya.


Sesekali terlihat wanita itu menghela napas panjang dan perlahan mengeluarkannya serta senyum mengambang yang di buat-buat.


"Um... aku pasti terlalu bersemangat sampai lupa kalau tuan belum menyicipinya sama sekali"


Turur Alia gugup, menyadari Hisyam sedang memerhatikan tingkahnya, hingga dengan perlahan ia meletakkan kembali gorengan yang ada di tangannya.


"Oh, bukan begitu, aku hanya penasaran bagaimana kamu begitu menyukai makanan berminyak yang di jajankan di pinggir jalan seperti itu"


Jawab Hisyam yang tak kalah gugup saat tertangkap basah memerhatikan Alia diam-diam.


"Berminyak? Namanya juga gorengan ya, pasti berminyaklah...


Dan, tuan tidak tahu saja bagaimana sedihnya seorang pedagang jika harus membuang dagangan yang sudah tak laku, padahal mereka masih harus membeli bahan yang akan di jual lagi untuk hari esok"


Alia menerawang jauh, teringat kembali kehidupan yang ia jalani sebelumnya, di mana ia harus melihat perjuangan kedua orang tuanya menghidupi keluarga, dan kadang harus membuang dagangan sayurnya yang sudah tak layak untuk di jual.


Hisyam berpikir keras tentang kata-kata Alia sambil menatap wajah teduh di sampingnya ia baru menyadari bahwa hal yang menurutnya sekecil itu bisa berdampak besar bagi mereka yang menjalani hidupnya dengan kekurangan.


"Kamu benar, Alia, maaf karna tak menyadari akan hal itu, tapi, itulah resiko dalam berbisnis" Ucap Hisyam menyesali kata-katanya


"Ya, sama halnya dengan berdagang, hidup juga kadang mengalami hal baik dan buruknya dan aku sedang menanti hal baik yang akan segera datang dalam kebidupanku, Aamiinn" Ucap Alia penuh harap.


"Maaf, sepertinya aku terlalu banyak bicara..." Alia kembali gugup menyadari Hisyam masih menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikanya.


"Um.... bagaimana kalau tuan menyicipinya sedikit, setelah itu tuan bisa berkomentar tentang jajanan pasar yang berminyak dan tidak higienis ini"


Tantang Alia lalu tanpa aba-aba memasukkan satu buah risoles utuh ke dalam mulut bosnya, hingga Hisyam hanya bisa memegang tangan Alia dan melototinya dengan mulut yang membengkak.


Melihat ekspresi Hisyam yang mengelitik hatinya, Aliapun tak dapat menahan tawanya, sehingga Hisyam terpikirkan untuk membalas perlakuan iseng Alia tadi, dan terjadilah aksi suap-suapan di antara dua karakter yang berbeda itu.


"Bagaimna rasanya....?" Tanya Alia saat tawa mereka kembali mereda.


"Not bad..." Jawab Hisyam, dengan sedikit senyuman pria itu bangkit merapikan jasnya, mengingat jajanan di hadapannya juga hampir ludes.


"Kita pulang sekarang?" Lanjut Hisyam sembari mengulurkan tangan untuk pengasuh itu.


"Baiklah! Nyonya dan bik Ina juga pasti kerepotan mempersiapkan pesta sambil menjaga Ozan" Sambut Alia dan....


"Aauuww....!" Ringis Alia saat menyadari luka pada kakinya.


"Kenapa? Apa kakimu lecet karna sepatu ini?" Alia hanya mengangguk mendapat pertanyaan dari Hisyam.


"Itu karna kamu tidak ingin menggunakan flat shoes yang ku belikan waktu itu?"


"Um... mungkin tuan tidak sadar, tapi, sebenarnya... aku kehilangan sepatuku di hotel malam itu"


Jawab Alia sedih jika harus mengingat kembali peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya malam itu.


Hisyam terdiam mendengar jawaban Alia, dengan rasa bersalah ia berjongkok di hadapan wanita itu.


"Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu hingga ke mobil..."


"Apa! Tapi aku bukan anak kecil lagi tuan, kenapa harus di gendong, sih..." Protes Alia.


"Baiklah! Kalau tidak ingin naik ke punggungku, berjalanlah hingga ke resort spa tadi, aku meninggalkan mobilku di sana" Saran Hisyam.


"Apa! Tapi butuh waktu berjam-jam untuk kembali ke sana!" Alia begitu risih dengan solusi bosnya.


"Itu pilihanmu, lagian, kenapa harus pergi sejauh ini? Kenapa tidak menungguku di spa tadi" Bentak Hisyam.


"Itu karna...." Alia menjeda kata-katanya.


"kenapa tuan tidak mengerti juga! terapis tadi terus menawarkan pijatan calon pengantin itu untukku....!"


Alia akhirnya jujur, meski merasa sangat malu untuk memberitahu alasannya.


"Jadi, mau naik atau tidak!" Tanya Hisyam lagi.


"Tapi aku terlalu besar untuk....! Argh... baiklah aku akan naik" Alia akhirnya pasrah dan perlahan naik ke punggung bosnya dengan was-was.


"Kamu terlalu berat dengan posisi kaku seperti itu!" Teriak Hisyam.


"Aku kan sudah bilang tidak perlu menggendongku! Lagian aku bukan anak-anak lagi!"


"Berhenti mengeluh! Kamu itu berat karna salah posisi! Lingkarkan tanganmu di leherku kalau tidak ingin jatuh! Kamu pikir aku tidak kuat menopang tubuh kerdilmu itu!"


Hisyam lagi-lagi mengejek fisik Alia yang mungil, bahkan tak akan ada yang menyangka kalau Hisyam Al Jaziri Osmand sedang menggendong wanita yang telah memiliki seorang anak.