Single Parents

Single Parents
Desahan



Satu bulan telah berlalu setelah kepergian sang mama. Kini Dira juga sudah kembali beraktivitas seperti biyasanya lagi. Ia telah mengikhlaskan kepergian sang mama dan akan melanjutkan hidupnya.


Tujuannya hanya satu, terus bekerja keras agar bisa jadi sukses kedepannya.


Pekerjaannya yang hanya seorang pelayan, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetep mengejar impiannya, yaitu menjadi desainer terkenal.


Jika ada waktu senggang ia akan menggambar baju-baju impiannya. Karena hanya itu yang saat ini ia bisa.


Sedangkan uang yang ia dapatkan dari ONS nya tidak ia gunakan, masih utuh selembar cek 200 juta.


"huh.. akhirnya selesai juga." Dira mengganti baju seragamnya dengan baju santai.


"aku duluan ya semua.." pamit Dira pada semua temannya.


"Dir, bareng aku aja gimana?, sekalian." salah satu teman Dira menawari tumpangan.


"arah rumah kita kan berlawanan Dit." tolak Dira.


"iya sekalian, aku mau kesuatu tempat." sangkal Radit.


"ekhm.. modus itu modus.." salah satu teman pria mereka berseru.


"kampret loe!." Radit melempar botol minum kearah temannya.


"jangan mau Dir, diculik sama si Radit Lo nanti." Anis, salah satu teman mereka juga ikut menimpali.


"ck, ayolah Dir, kali ini aja, kan sekalian." bujuk Radit.


"emm.. oke deh, kali ini aja, q gak mau ngerepotin kamu."


"yess.. yuk.." Radit menjulurkan lidahnya, mengejek kedua temannya yang tadi mengngomopri Dira.


🌆


🌆


🌆


"agrrhh.. kenapa jadi tidak fokus begini!." Dean mengacak-acak rambutnya frustasi.


Sudah satu bulan ini pikiran Dean diacak-acak oleh wajah ayu Dira, *******-desahannya pun selalu terngiang-ngiang ditelinganya. Ia mencoba melupakannya, tapi bukannya lupa, wajah Dira malah terus menari-nari dipikirannya.


Ceklek.


Pintu ruangan Dean terbuka, siapa lagi pelakunya kalau bukan Semmy. Tidak ada seorangpun yang berani masuk keruangan Dean kecuali Semmy dan sang papa.


"kebetulan kau kesini, aku ada tugas." seru Dean.


"berita yang akan aku sampaikan ini lebih penting Dean." Semmy duduk didepan meja Dean, berseberangan dengannya.


"ck, tugasku lebih penting!."


"apa?."


"aku ingin kau mencari tahu tentang wanita yang menawarkan dirinya padaku satu bulan yang lalu."


Semmy menaikkan sebelah alisnya "wanita pelayan itu?."


"ya."


"kau tertarik dengannya?."


"entahlah, tapi satu bulan ini wajahnya terus saja berputar diotakku, apa lagi desahannya." jelas Dean yang membuat kedua mata Semmy melotot sempurna.


"gila.. seliar itu dia diranjang?, bagai mana rasanya?." jiwa kepo Semmy meronta-ronta.


"ck, aku ingin kau mencari tau tentang dia, sudah." kesal Dean.


"aku gak pernah mendengar ******* Angel!." sangkal Dean.


"bukan tak mendengar desahannya, tapi kau tidak merasakan tubuhnya. bhahaha.."


"sialan!." Dean melempar sebuah bolpoin pada Semmy yang berhasil menangkapnya.


"eits.."


"jadi, kenapa kau keruanganku?!." Dean mengalihkan pembicaraannya.


"nah.. ini, ini lebih penting dari Dira." Semmy mencondongkan tubuhnya pada Dean, tangan kanannya bertumpu pada meja kerja Dean.


"Dira siapa?." dahi Dean berkerut.


"ck, wanitamu!." kesal Semmy karena lagi-lagi Dean mengalihkan pembicaraannya.


"wanitaku?."


"ish, Dira, wanita yang melakukan ONS denganmu, wanita pelayan itu." kesal Semmy.


"itu kita bahas nanti, sekarang ada yang lebih penting dari itu." Semmy memasang wajah seriusnya.


"apa?."


"proyek kita yang ada di Bandung mengalami masalah, bangun yang tinggal 20% rampung roboh menimpa sebagian pekerja disana." jelas Semmy.


"apa?!." Dean yang tadi duduk bersandi kini menegakkan tubuhnya


"bagaimana bisa?!, bukankah seharusnya dua bulan lagi proyek itu selesai dan siap untuk digunakan!!."


"itu dia masalahnya Dean, dari info yang ku dapat, campuran bahan materialnya tidak seimbang, maka dari itu bangunannya rapuh." jelas Semmy.


"bahan materialnya tidak seimbang?, bukankah kita sudah membahasnya secara rinci?, bagaimana bisa?, pasti ada yang tidak beres."


"ya, aku juga berfikir demikian. Tapi yang menjadi pokok masalahnya saat ini bukan itu."


"apa?." Dean memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


"para pekerja Dean. Mereka meminta pertanggung jawaban."


"bukankah pekerjaannya dari kita?, mereka sudah mendapatkan asuransi kan?."


"iya, sebagian pekerja dari kita dan ada sebagian pekerja dari luar juga, dan pihak keluarga pekerja dari luar ini meminta pertanggung jawaban dari kita."


"mau tidak mau, kau harus ke Bandung secepatnya Dean, untuk menyelesaikan masalah ini."


Kepala Dean kembali berdenyut, rasa pusing tiba-tiba menderanya. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba menjernihkan pikirannya.


"papah tau soal ini?." tanya Dean.


"tuan besar belum mengetahuinya."


"oke, jangan biarkan papa tau, aku gak mau membuat papa khawatir, aku akan menyelesaikannya secepatnya."


"atur jadwal keberangkatanku ke Bandung secepatnya."


"baik bos."


"kalau begitu saya permisi."


🖤


**Ohh cinta untukku jangan kau lupakan..


cukup degan goyang jempol nyonge uwes bahagia 🤗🖤**