Single Parents

Single Parents
MENYAMBUT CALON BESAN.



Hisyam menatap nanar punggung wanita yang tak lama lagi akan menjadi istri sekaligus ibu dari putranya.


Meski di antara mereka tak ada perasaan khusus, tapi kali ini ia benar-benar mantap dengan keputusannya.


Hingga buk Retno sendiri tak percaya, jika ia akan tetap melanjutkan pernikahannya, meski mengetahui kisah hidup Alia yang sebenarnya.


"Apa yang ku pikirkan, selagi dia bisa menjadi ibu yang baik untuk Ozan, masa lalunya bukanlah masalah untukku...


Lagi pula pernikahan ini akan menguntungkan kedua belah pihak, Ozan mendapatkan seorang ibu begitupun dengan Assyifa dan mama, dia pasti akan sangat bahagia mendapat menantu pilihan hatinya..."


Pikirnya lagi, tak ingin ambil pusing tentang masa lalu Alia.


"Tuan! Apa yang tuan lakukan di sini, apakah anda membutuhkan sesuatu?"


Tanya Alia sambil menata meja untuk makan malam.


"Uh, benar! Aku hampir lupa, tadi mama menanyakan soal gaun! Gaun pengantin seperti apa yang kamu inginkan, mama bisa meminta designer untuk menyiapkannya untukmu"


"Terima kasih, tapi, itu semua tidak perlu" Tolak Alia


"Kenapa? Bukannya gaun pengantin adalah hal yang terpenting bagi calon pengantin wanita?" Hisyam heran.


"Karya designer tidak akan cocok untuk akad nikah yang sederhana"


"Kenapa harus sederhana, kita bisa menyewa hotel atau gedung, soal biaya kamu tak perlu khawatir aku yang akan menaggung semua budgetnya, kecuali awak media, aku tak akan setuju dengan itu!"


Hisyam menegaskan dengan serius, tapi entah kenapa Alia merasa geli, hingga tersenyum lucu melihat ekspresi bosnya.


"Ada apa, kenapa kamu tertawa, ada yang lucu?"


Alia hanya mengangguk karna tak dapat menahan tawa, hingga Hisyam di buat jengkel lalu memeriksa pakaiannya, mengira dirinya sedang mengenakan kostum yang salah.


"Apa yang salah denganku...." Gumam Hisyam bingung, ia masih tak menemukan kejanggalan pada dirinya.


"Hotel, wartawan, semua fasilitas itu tak akan permnah anda temui di tempat ini..."


Ucap Alia masih berusaha menahan tawanya.


"Benarkah? Oh, baiklah, Lagi pula media hanya akan menambah masalah...."


Hisyam masih berusaha terlihat cool dengan semua kekonyolannya.


"Um.... tentang wartawam, kamu tidak masalah kan, jika public tidak di libatkan dalam...."


"Tentu saja! Aku juga berpikir seperti itu, lagi pula masalah video itu belum selesai, akan semakin rumit jika pernikahan ini sampai di ketahui oleh publik"


Lanjut Alia lagi, dirinya sangat mengerti apa yang di maksud oleh Hisyam, sebagai orang terpandang di negaranya, tentu pria itu sangat berhati-hati dalam segala hal.


Ia sangat mengerti, dirinya hanyalah seorang janda dengan satu anak , tentunya tak akan mudah jika harus mengakui dirinya sebagai menantu kaluarga Osmand.


Jadi menyembunyikan pernikahannya adalah salah satu cara untuk menjaga nama baik keluarga calon suaminya.


"Terima kasih atas pengertianmu dan maaf karna tidak bisa memperkenalkanmu pada publik"


"Tidak mudah mengakui pernikahan ini pada orang-orang, bagiku anak-anak lebih penting jadi, tuan tak perlu khawatir tentang hal itu"


Kata-kata Alia membuat Hisyam merasa puas, hingga berkali-kali pria itu terlihat menghela napas lega.


"Huft.... akhirnya aku bisa membicarakan hal ini denganmu, aku sampai bingung harus memulai dari mama agar kamu bisa mengerti posisiku....


Tapi, biar bagaimana pun aku merasa bersalah telah nenempatkanmu dalam kesulitan ini...."


Ucap Hisyam tulus, hingga di sambut Alia dengan senyum hangat.


"Aku berjanji setelah pernikahan ini, aku akan membersihkan nama baikmu dan, kapanpun kamu ingin lepas dari pernikahan ini aku siap, tapi....


Penggantiku harus bisa membuatmu bahagia, harus lebih baik dariku, lebih handsome, smart, meskipun dua poin itu sedikit sulit untuk di dapatkan"


Goda Hisyam, yang di sambut heran oleh Alia, karna selama bekerja dengan pria kaku itu, baru kali ini Hisyam membuat lelucon seperti itu.


Bahkan sampai saat ini sebutan 'pria kaku' masih konsisten di nobatkan pada calon suaminya itu.


"Cih.... dia bahkan tak ingin melewatkan kesempatan untuk memuji diri sendiri!"


Cibir Alia dalam hati.


* * * * * * * * *


Walaupun keadaan pak Rahman masih tetap sama seperti kemarin, tapi terlihat jelas pria yang baru saja mendapat hadiah kursi roda dari calon menantunya, terlihat bahagia meski hanya bisa terlihat samar di wajah kakunya.


"Meski saya baru mengenal keluarga pak Rahman hari ini, tapi saya yakin kalian adalah orang tua yang sangat baik, itu bisa di lihat dari kepribadian Alia yang sopan dan mandiri..."


"Anda terlalu banyak memuji nyonya, sebenarnya, harus saya akui, Alia dan Amel lebih dekat dengan papanya, sehingga yang harus di beri pujian itu suami saya bukan saya...." Buk Retno melirik suaminya.


"Jujur, saya merasa sangat malu dan bersalah pada kalian, karna kelalaian kami, wanita sebaik Alia harus menanggung malu, padahal seharusnya kami bisa menjaga nama baiknya selama dia bekerja dengan kami"


Nyonya Farida terdengar menyesal.


"Bukan nyonya yang seharusnya merasa bersalah, akulah yang pantas di salahkan, semua hal buruk yang menimpa Alia adalah kesalahanku, kalau saja aku tidak menerima lamaran pria tak bertanggung jawab itu...."


"Ma, kenapa mama mengungkit masalah itu lagi, mama sudah melahirkan Alia dan membesarkan Alia hingga menjadi seperti sekarang ini, jadi tolong berhenti menyalakan diri sendiri"


Ucap Alia dengan mata berkaca-kaca, lalu mencium tangan mamanya dengan takzim, hingga menciptakan suasan haru bagi siapapun yang menyaksikan nya saat itu.


-


Setelah acara menyambut calon besan yang berlangsung sederhana telah selesai, buk Retno mendorong suaminya untuk kembali ke kamarnya.


Ada banyak hal yang harus ia bicarakan dengan suaminya, meski mengalami stroke tapi ia yakin pak Rahman masih bisa mendengar kata-katanya dengan baik.


"Kelihatannya calon mertua Alia orang baik-baik, jadi bapak tidak perlu khawatir lagi tentang masa depan Alia sekarang dan....


Tuan Hisyam, sepertinya pria itu benar-benar tulus mencintai Alia, buktinya dia tetap akan menikahi Alia meski setelah dia tahu tentang asal-usul Alia yang sebenarnya...."


Buk Retno terus mengungkapkan rasa bahagiannya hingga tak sadar jika kata-katanya tadi membuat shock suaminya.


"Mm.... pak, apa sebaiknya kita jujur saja pada Alia tentang asal usulnya, ibu takut Alia tidak akan sanggup jika suatu hari nanti ia mengetahui semuannya dari orang lain"


Buk Retno masih merasa was-was, ia tak tahu bagaimana reaksi Alia jika tiba-tiba mengetahui tentang ibu dan ayah kandungnya dari orang lain.


-


Di kamar Alia, nyonya Farida menyusun beberapa koper berisikan pakaiannya dan hampir memenuhi separuh dari kamar Alia yang berukuran sederhana, bahkan lebih kecil dari walk in closet milik Hisyam.


"Kenapa Ozan dan bik Ina tidak ikut serta..."


Ucap Alia yang baru saja menghampiri nyonya Farida sambil menuntun Assyifa yang siap berlari jika terlepas sebentar saja dari tangannya.


Farida tersenyum hangat mendapati calon menantunya ikut duduk di sampingnya.


"Kita baru saja kembali dari liburan, aku kasihan jika harus membawanya lagi kesini, mereka pasti masih lelah....


Oya, Alia, kamu ingin perhiasan apa sebagai hadiah pernikahanmu" Tanya nyonya Farida penuh semangat.


"Perhiasan? Bisakah aku meminta hal lain" Alia malah kembali bertanya.


"Hal lain? Apa itu, Alia?"


Seketika raut wajah Farida berubah serius, ia takut jika hal lain yang di maksud Alia, adalah membatalkan pernikahannya, mengingat keadaan pak Rahman yang semakin memprihatinkan.


"Kalau memang benar apa yang ku pikirkan, lalu bagaimana dengan Ozan cucuku...."


"Kenapa nyonya diam saja, maaf, seharusnya aku...."


"Ya! Apa? Maaf, aku tidak mendengarmu, bisakah kamu mengulanginya"


Farida kelabakan saat Alia menyadarkannya dari lamunannya.


"Itu.... setelah pernikahan, apa aku bisa...." Alia kembali terdiam, lalu mengumpulkan keberaniannya.


"Maksudku.... apa aku bisa membawa Assyifa ikut bersamaku?"


Alia terbata-bata menyuarakan keinginannya, pasalnya ia merasa permintaannya itu terlalu berlebihan, jika di bandingkan dengan posisinya sekarang.


Sedang nyonya Farida yang merasa lega mendengar permintaan Alia, tiba-tiba merangkul tubuh mungil calon menantunya sambil mengangguk berkali-kali.


"Tentu sayang, tentu saja Assyifa akan ikut dengan kita, kemanapun yang kamu inginkan"


Ucap nyonya Farida, ia terharu dengan sikap keibuan yang di miliki calon menantunya itu.


"Terima kasih atas pengertian nyonya"


Alia bernapas lega telah mengutarakan keinginan terbesarnya, meski merasa malu, tapi ia tetap harus meminta hal yang satu itu, karna impian terbesarnya adalah melihat putrinya tumbuh menjadi anak yang baik dalam pengawasannya.