
Seorang wanita cantik kini terlihat mondar mandir didepan koridor salah satu rumah sakit ternama.
Wajahnya terlihat pucat, panik, khawatir bercampur menjadi satu.
Terlihat ia tengah menggigit-gigit kecil kuku-kukunya, sekedar mengurangi rasa tak enak yang mengganjal didalam hatinya.
Satu jam lalu, Clara menghubunginya ketika ia sedang bekerja, memberi kabar bahwa mamah tercintanya kembali kritis.
Dan disinilah sekarang ia berada. Menunggu sang dokter keluar dari ruang dimana mamahnya ditangani.
Ceklek..
Seorang dokter cantik yang tak lain adalah Clara sang sahabat dan juga dokter laki-laki setengah baya keluar dari ruangan.
Raut wajah keduanya terlihat muram, dan itu sukses membuat Dira semakin khawatir akan keadaan mamahnya.
"Cla, ba bagaimana keadaan mamah?." tanya Dira dengan suara bergetar.
"Dir.. Tante..." suara Clara serasa berhenti ditenggorokan, ia tak mampu menyampaikan kabar yang tidak baik itu pada sang sahabat.
Sebuah tepukan mendarat dibahu Clara.
"biar papa saja yang ngomong." ujar dokter paruh baya yang tak lain adalah papah Clara sekaligus kepala rumah sakit disana. Arya Subandono.
"huh.. nak Dira.. kamu yang sabar ya.." serunya setelah mencoba menenangkan diri.
"o om.." seru Dira dengan suara bergetar. "mamah gak apa-apa kan?."
"nak Dira, kondisi mama kamu semakin menurun, jika kita tidak segera melakukan operasi maka..."
"gak om.. Dira akan cari uang supaya mama bisa melakukan operasi secepatnya." potong Dira cepat, ia tak sanggup jika harus mendengar kabar buruk tentang mamahnya, hanya mamahnyalah satu-satunya keluarga yang ia punya.
'Dira akan melakukan apapun agar mamah bisa sembuh, Dira janji mah, bertahanlah. Mamah gak boleh ninggalin Dira, gak boleh mah.' batin Dira.
"maafkan Om nak Dira, om tidak bisa membantu kamu banyak."
"gak om, om Arya dan juga Clara sudah banyak membantu Dira, terimakasih om, Clara.."
"tentu saja boleh, ayo aku antar.." Clara dengan sigap menggandeng tangan Dira memasuki ruang dimana mamahnya berada.
"ya sudah kalau begitu om pergi dulu, masih ada beberapa tugas yang harus om selesaikan." pamit om Arya sebelum Dira dan anaknya masuk.
"iya om.."
"iya pah.."
Seru keduanya bersamaan.
Terlihat wanita paruh baya yang tengah berbaring lemah, tubuhnya semakin kurus, wajahnya juga semakin pucat.
Dira memandang wajah mamah tercintanya dengan lekat. Tak terasa buliran air mata yang ia tahan sedari tadi lolos juga pada akhirnya.
"mamah, mamah harus bertahan, demi Nadira mah, mamah harus kuat." digengamnya tangan sang mamah erat-erat.
"hanya mamah keluarga Dira satu-satunya mah, Dira gak mau kehilangan mamah."
"pokoknya mamah harus bertahan, Dira akan berusaha mencari uang buat operasi mamah, bagaimanapun caranya, Dira janji mah, jadi mamah juga harus berjanji sama Dira untuk bertahan, oke." air mata Dira terus saja membanjir dikedua pipinya, dikecupnya tangan sang mamah tercinta cukup lama, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya pada Clara yang masih senantiasa berdiri disampingnya.
"Cla, kamu pulang aja, malam ini aku mau menemani mamah disini." Seru Dira dengan suara bergetar.
"apa kamu yakin?, kamu gak mau aku temani?." Clara mencoba memastikan ucapan Dira.
"iya Cla, kamu pulang aja, aku gak papa kok." sebuah senyum tipis tercetak diwajah sayu Dira.
"baiklah kalau begitu, aku pulang ya, kamu jangan lupa makan, kamu belum makan kan?!. kamu gak boleh sakit, oke!."
"iya, kamu tenang saja." Dira mengangguk pelan. Ia berdiri dari duduknya, mengantar Clara keluar dari ruang rawat sang mamah.
^^^terimakasih sudah mampir 🖤^^^
jangan lupa tanda cinta buat saya ya 🖤