Single Parents

Single Parents
maafkan Daddy dan mommy el



Dira baru saja tiba dirumahnya. Ia mendapati El sang buah hati tengah menonton televisi dengan Maya diruang tengah.


"selamat malam sayang, kenapa belum tidur, hemm??" Dira mendaratkan tubuhnya di samping El, tangan kanannya mengusap lembut kepala sang putra.


"belum mengantuk mom, El baru saja bangun jam setengah tujuh tadi, sekarang gak bisa tidur." keluh El.


"mbak, aku ke kamar dulu ya, mau istirahat, capek banget." keluh Maya, ia sudah berdiri dari duduknya.


Dira tersenyum lembut pada Maya, "iya istirahatlah, kamu pasti lelah, besok libur saja, beritahu anak-anak yang lain dan berikan bonus pada mereka."


"yang bener mbak?, yeyy besok aku bisa tidur lebih lama. Makasih mbak, aku akan memberi tahu anak-anak yang lain, bye mbak Dira, aku keatas dulu, much." Maya melayangkan kiss jarak jauhnya sembari berlari riang menuju kamarnya, dan Dira hanya tersenyum menggeleng pelan melihatnya.


Kini diruang tengah itu tinggal El dan Dira saja. Hening, El tengah fokus melihat film kesukaannya.


10 menit kemudian..


"yah udah habis." keluh El ketika filmnya telah berakhir.


Dira tersenyum tipis mendengarnya, "belum mengantuk?."


"belum mom, El pengen keluar sama mommy, bolehkah?." pinta El dengan mata berbinarnya.


Dira mencubit kedua pipi El gemas dan mengangguk pelan.


"boleh kok, ayo mommy akan temani kamu kemanapun kamu mau. El mau kemana?."


"ke taman dekat komplek aja mom yang dekat, tapi El pengnnya naik motor." pinta El.


"baiklah, sekarang El ambil jaket dulu biar gak kedinginan pas naik motor."


Dengan senang hati El menuruti perintah sang mommy. Kini keduanya sudah turun dijalan raya, menikmati semilir angin malam dan jutaan bintang di angkasa.


Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit, mereka sudah sampai di taman yang El inginkan.


Banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya disana. Dari cilok, siomay, kerak telor, es Boba, sate, dan masih banyak lagi.


Suasananya pun lebih ramai dari hari biasanya dikarenakan hari ini malam Minggu.


"mommy kita duduk disana ya." tunjuk El pada sebuah bangku dipinggir jalan.


"oke, El mau apa sekarang?." keduanya berjalan beriringan menuju bangku yang El tunjuk tadi.


"emm... El mau makan sate sama ice pop boleh mom?." pinta El pelan.


"boleh dong, El duduk disini jangan kemana-mana, mommy akan pesankan dulu, oke?."


🍁


Sebuah mobil mewah melaju kencang membelah jalan raya.


Senyum orang dibalik kemudi itu tak pernah luntur dari bibirnya.


"Daddy datang sayang, tunggu Daddy." gumamnya pelan.


Setelah Dean mengetahui hasil tes DNA antara dirinya dan El, tanpa pikir panjang Dean berniat menghampiri sang putra yang selama ini terpisah darinya.


"ck, kenapa musti macet segala, padahal tinggal sedikit lagi." Dean berdecak kesal ketika ia ikut terjebak macet. Pandangannya menyapu keluar, mencari tahu hal apakah yang membuatnya macet, padahal biasanya jalan ini juga lancar-lancar saja.


Tapi siapa sangka pandangan Dean saat ini tertuju pada dua orang yang kini tengah ia pikirkan, orang yang saat ini sangat ingin ia temui, dan ingin ia rengkuh kedalam pelukannya.


..


"selamat malam nona Dira." sapa Dean ketika ia sudah sampai dimana Dira dan El berada, setelah ia dengan susah payah memarkirkan mobilnya.


Dira dan El yang saat ini tengah menikmati makanannya menoleh kearah sumber suara.


"tuan Dean?, anda disini, kebetulan sekali." Dira beranjak dari duduknya, dan sedikit membungkuk hormat.


"uncle Dean?, apa kabar?." sapa El, bocah itu mengambil tangan Dean dan menciumnya dengan takzim.


"halo boy, kabar uncle baik, bagaimana denganmu?, kenapa jam segini belum tidur, malah bermain keluar, itu tidak baik buat kesehatanmu." Dean melirik jam ditangannya, sudah pukul 20.25.


"sekali-kali gak papa uncle, lagian El belum mengantuk, besok juga libur sekolahnya. Uncel duduk sini." El menarik tangan Dean untuk duduk disampingnya, dan dengan senang hati Dean menurutinya.


"El, gak boleh begitu sayang." tegur Dira pada El. "maafkan putra saya tuan." lanjutnya, kini pandangannya tertuju pada Dean.


"tidak apa-apa nona, saya tidak keberatan, bahkan menjadi daddy-nya pun saya bersedia." Dean mengusap lembut pucuk kepala El dan tersenyum simpul padanya.


deg


'gak, gak boleh tuan Dean itu sudah memiliki kekasih. huh dasar playboy perayu ulung.' gerutu Dira dalam hati.


"benarkah uncle?, uncle bersedia jadi daddy-nya El?." binar mata El menandakan bahwa ia sangat ingin sekali memiliki seorang Daddy dan itu tak luput dari pandangan Dira dan Dean .


'maaf kan Daddy sayang, maafkan Daddy karena Daddy baru bisa menemukanmu sekarang, maafkan keterlambatan daddy.'


'maafkan mommy El, mommy tidak bisa membahagiakan kamu, mommy fikir, mommy bisa menjadi mommy sekaligus Daddy buatmu, tapi mommy salah, maafkan mommy sayang, maaf.'


🖤