
Dean dan Semmy baru saja menginjakkan kakinya di loby YL Fashion, aura keduanya sangat kentara disana, dingin dan mencekam. Siapa yang tidak mengenal mereka?. Seorang penguasa yang beberapa tahun terakhir ini terkenal dengan kekejamannya dalam berbisnis. Semua orang yang berpapasan dengan mereka membungkuk hormat dan hanya diabaikan oleh Dean, sedangkan Semmy hanya mengangguk pelan.
Mereka berdua memasuki lift khusus yang akan membawanya keruangan Deva.
'sekian purnama aku membujuknya, akhirnya dia mau juga menyaksikan kompetisi ini.'
'jika tidak mengingat nona Dira pernah mengalami ganguan jiwa, tidak sudi aku menuruti kata-kata dokter sialan itu.'
"hah.." Semmy membuang nafasnya berat, geram sendiri jika mengingat tentang dokter Clara.
Dean melirik pada Semmy yang berdiri disampingnya. "apakah ada masalah?."
"tidak tuan."
"mari tuan, kita sudah sampai." Semmy membiarkan Dean melangkah terlebih dahulu dan dirinya senantiasa mengekor dibelakangnya.
cklek..
Mendengar pintu ruangannya dibuka, Deva mendongak, melihat siapa gerangan yang sudah berani kurang ajar masuk ke ruangannya tanpa permisi.
"Dean?!." Deva setengah berteriak, ia refleks bangkit dari duduknya dan menghampiri Dean yang sudah duduk disofa tanpa permisi.
"biasa saja, tidak usah heboh seperti itu." ketus Dean.
"ada angin apa kau datang kemari?."
"bukankah hari ini adalah hari terakhir kompetisinya?, aku ingin melihat semua finalisnya."
"oh, oke, aku akan mengambil semua berkasnya, nilailah nanti." Deva beranjak dari duduknya, mengambil berkas yang ada dimeja kerjanya dan menyerahkan pada Dean.
Dengan teliti Dean melihat satu persatu berkas yang ada ditangannya. Kali ini Deva duduk disebelah Dean, ia juga menjelaskan karya desainer-desainer yang menurutnya bagus dan lebih kompeten, hingga tiba diberkas selanjutnya, mata Dean menyipit, menyimak lebih detail kertas yang ada ditangannya.
degg
"dia?."
"oh, dia?, kau masih ingat dengan wanita yang aku kejar dan dia janda itu?, dialah orangnya, cantik bukan?." dengan senyum mengembang diwajahnya Deva menjelaskan.
Dean meremas kuat berkas yang ada ditangannya, mencoba meredam amarah yang tiba-tiba saja bergejolak, dan itu tidak luput dari pandangan Semmy dan Deva.
"tuan." melirik berkas yang ada ditangan Dean. 'omg, ternyata nona Dira?!.' sedikit terkejut, karena sedari tadi Semmy hanya mendengarkan, tidak melihat berkas-berkasnya.
"sejak kapan kau mengenalnya?." pandangan Dean masih tertuju pada kertas ditangannya, tapi tidak dengan hati dan fikirannya.
"sejak... sebelum kompetisi ini dimul.."
bughh
"brengsek!."
bughh
"kurang ajar!."
bughh
Mendapat serangan mendadak, Deva tak dapat berkutik sama sekali.
"lepaskan Sem!, biar aku hajar dia!!." emosi yang menguasai Dean benar-benar membuat ia gelap mata.
"tenaglah Dean!." sentak Semmy, ia menarik paksa Dean menjauhi Deva yang tersungkur dilantai.
"kau gila Dean!." perlahan Deva bangkit, ia kembali duduk disofa.
"kau yang gila!." hardik Dean.
"diam kalian!." Semmy mengambil kotak obat dan menyerahkan pada Deva. "obati lukamu."
Perlahan Deva mengobati luka pukul yang ia dapat dari Dean.
"iistt.." rintih Deva.
"lemah." Dean tersenyum sinis kearah Deva.
"apa kau bilang?!."
"diam!. sekarang aku mau tanya, kau mengenal siapa wanita itu?." Semmy menatap Deva tajam.
"tentu saja, namanya Nadira Giovanni, dia seorang desainer dan dia memiliki sebuah butik yang belum lama ini buka, aku memaksa dia ikut kompetisi ini, padahal waktu itu pendaftaran sudah tutup." Deva tersenyum tipis ketika mengingat waktu pertama kali ia bertemu dengan Dira.
"kau benar-benar tidak mengingatnya?."
"apakah sebelum ini aku pernah bertemu dengannya?." Deva mengernyit, mencoba mengingat-ingat apakah pernah bertemu dengan Dira sebelumnya atau tidak.
"kau masih ingat dengan wanita yang melakukan one night stand dengan Dean lima tahun lalu?."
"tidak, aku tidak memperhatikan wanita itu, yang aku tau dia seorang pelayan." Deva memberikan kembali kita obatnya.
"bukankah kau masih mencarinya?, apakah sudah ketemu?." Deva beralih menatap Dean.
"dia wanita itu!." hardik Dean kesal.
"apa?!. kau tidak salah mengenalikan?!." Deva terperangah tak percaya dengan apa yang diucapkan Dean.
"apa aku terlihat sedang bercanda?." Dean menaikkan sebelah alisnya.
"oh astaga.. dunia ini sempit sekali."
"oke, sekarang sudah jelas, ku harap kau mengubur perasaanmu dalam-dalam tuan Deva." Semmy beranjak dari duduknya. "sekarang mari kita ke ruang kompetisi."
"degan wajahku yang seperti ini?!." kesal Deva.
Dean dan Semmy terkekeh pelan.
"maaf."
"sudahlah Dean, kalian kesana saja dulu, nanti aku menyusul."
"baiklah."
🖤