Single Parents

Single Parents
KELUARGA BARU.



Alia terpaku menatap pintu utama berbahan kayu, berdiri kokoh di hadapannya.


Sambil menggandeng Asyifa, wanita itu terlihat berulang kali menghelah napas panjang, mempersiapkan diri untuk memulai kehidupan barunya bersama keluarga Ozmand dan segala sesuatu yang akan di hadapinya setelah ini.


"Jangan ragu Alia, kamu sudah memilih langkah yang tepat, tak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan karna Assyifa sudah bersamamu sekarang dan selamanya akan terus bersamamu, tapi, bagaimana dengan tuan Hisyam....


Argh! Aku akan memikirkan hal itu nanti, lagi pula ini bukan pertama kalinya kami berbeda pendapat, paling dia hanya akan memakiku dengan kata-kata yang menyakitkan hati....


Lagi pula aku melakukan hal yang benar, kok, memberi tahukan kebenaran pada mereka, tak akan merubah apapun sekarang, lambat laun semuanya akan kembali seperti semula dan orang-orang akan lupa tentang video itu"


Alia terus bermunolog dalam hati, dan kembali memantapkan hatinya bahwa dirinya telah mengambil keputusan yang tepat.


"What you waiting for, come in! (Apa yang kamu tunggu, masuklah!)" Semua orang sudah menunggu di dalam"


Seru Davis yang tiba-tiba saja datang mematahkan keyakinan yang telah di bangunnya dengan susah payah.


Sambil menggenggam jemari putrinya Alia mencoba menetralkan rasa gugupnya dan mulai mengayunkan langkahnya memasuki dunia baru yang sangat jauh berbeda dari dunianya.


"Cekleek....."


"Surprise....!!"


Suara riuh dari nyonya Farida, bik Ina dan beberapa maid lainnya terdengar kompak berseru menyambut Alia yang tampak kaget dengan kejutan yang telah di siapkan untuknya.


Terlihat nyonya Farida sangat antusias menyambut kedatangan menantu idamannya itu, hingga tanpa menunggu lagi wanita paru baya itu langsung memeluk menantunya serta kecupan sayang di pipi kiri dan kanan Alia.


Menerima perlakuan yang tak biasa itu membuat Alia tersenyum malu serta segan, meski begitu tetap saja dia juga harus membalasnya dengan meraih punggung tangan nyonya Farida dan menciumnya takzim.


"Terima kasih atas sambutannya, tapi sebenarnya nyonya tidak perlu repot melakukan semua ini"


"Nyonya? Cih! Apa aku terlihat seperti mertua yang jahat pada menantunya"


Rajuk nyonya Farida sambil memanyunkan bibirnya sehingga Alia merasa serba salah di buatnya.


"Alia, kamu kan sudah menikah dengan Hisyam, kamu mau, kan, memanggilku mama, dan mengenai kejutan ini, bukanlah apa-apa Alia, anggap saja ini permintaan maaf mama karna tak sempat menyambut kalian di airport tadi...


Uh, mama hampir lupa, seseorang ingin memberikan sesuatu padamu"


Ucap nyonya Farida lalu bergegas ke kamar Ozan.


Beberapa menit kemudian wanita paruh baya itu kembali dengan menggandeng Ozan yang sedang memegang sesuatu di tangannya.


Belum sempat nyonya Farida mengarahkan apa yang perlu di lakukan Ozan, balita itu sudah lebih dulu berlari mendapati Alia yang sedang membungkuk sambil merentangkan tangan kanannya menyambut anak sambungnya itu, sementara tangan kirinya masih memegang Assyifa, hingga kedua balita itu kini dalam dekapan Alia.


Sejuk mata memandang, itulah yang di rasakan nyonya Farida saat memandangi menantu perempuannya sedang menciumi wajah Ozan bertubi-tubi, sehingga Ozan yang tadi tampak cemburu melihat Assyifa kini tampak akur.


Bahkan hadiah yang seharusnya di berikan Ozan pada mama barunya, kini berpindah ke tangan Assyifa.


"Ozan, hadiahnya itu untuk mama, untuk Assyifa ada di kamar, sayang"


Ucap nyonya Farida seraya mengambil kotak dari tangan Assyifa dan menggantinya dengan mainan.


"Apa ini ma?"


Tanya Alia saat kotak itu berpindah ke tangannya.


"itu hadiah dari Ozan, bukalah"


Alia membuka kotak persegi panjang di tangannya dengan hati-hati, terlihat sebuah piala berbentuk seorang wanita mengenakan crown di kepalanya dan berukirkan sebuah ucapan yang membuat hati Alia terharu saat membacanya.


"The greatest mother"


Bisik Alia pelan lalu kembali memeluk Ozan, "Terima kasih sayang, muach.... muach...."


Ucap Alia lagi dengan genangan air mata sehingga dua balita yang belum mengerti situasinya juga kompak menunjukkan kesedihannya dan tiba-tiba...


"Huaa....! Huaa....!"


Assyifa dan Ozan menangis sekuat-kuatnya, hingga seisi rumah pun di buat riuh dengan gelak tawa nyonya Farida beserta para maid yang ada di ruangan itu.


-


Lama berbincang-bincang dengan topik yang hangat dan ringan, akhirnya nyonya Farida menyuruh Alia untuk beristirahat, sementara Ozan dan Assyifa di jaga oleh pengasuh baru yang di pekerjakan nyonya Farida saat Alia pulang ke kampungnya.


"Naik dan beristirahatlah, kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang"


Titah nyonya Farida sambil menggandeng menantunya menaiki anak tangga.


"Um.... saya harus melihat anak-anak dulu, barangkali mereka kesulitan menjaga Ozan dan Assyifa sekaligus..."


Tahu ke mana nyonya Farida akan membawanya Alia pun mencoba mencari alasan, namun sayangnya nyonya Farida punya lebih banyak cara untuk membuat alasan Alia menjadi sia-sia.


Ucap nyonya Farida kemudian melanjutkan langkahnya ke arah kamar putranya.


"Tapi nyonya, aku...."


"Hm...! Alia, aku tahu apa yang kamu pikirkan tentang kami, mungkin menurutmu, kami sedang memanfaatkan kelemahanmu, hingga memintamu untuk berperan sebagai istri sekaligus ibu untuk Ozan tapi....


Asal kamu tahu, mama tidak pernah berniat untuk memanfaatkanmu, Alia, apalagi menjadikan penikahan kalian sebagai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak....


Jadi mama mohon, jalanilah pernikahan ini layaknya pernikahan yang di dasari cinta dan kasih sayang, bukan pernikahan yang terjalin dengan adanya kesepakatan"


Pesan Farida pada menantunya, lalu mengarahkan agar Alia menuggunya, sementara dirinya lebih dulu masuk ke dalam kamar putranya.


"Alia, masuklah!"


Beberapa menit berdiam diri di depan kamar, Alia tersentak saat merdengar suara nyonya Farida sedang memanggil namanya, hingga dengan ragu Alia mulai mengatur langkahnya mendapati mertuanya yang sudah tak sabar ingin membawa Alia ikut masuk ke dalam kamar.


"Alia, kenapa masih berdiri di sana? Kemarilah....!"


Panggil Farida lagi saat Alia hanya berdiri di ambang pintu, sedang Hisyam bersikap acuh dan hanya berdiam di sofa menyaksikan pertandingan bola di layar tv.


"Alia, mulai hari ini kamarmu ada di sini..."


Ekor mata Alia yang tadi mencuri pandang suaminya kini beralih menatap mertuanya.


"Di sini? Tapi nyo.... maaksud Alia, mama... bagaimana dengan pakaianku? Akan lebih muda jika aku tetap...."


"Tidak ada alasan lagi, Alia! Para maid akan mengantar barang-barangmu kesini, kamu tinggal istirahat saja sementara menunggu bik Ina menyiapkan makan malam....


Oh, ya, satu hal lagi, jangan menampakkan kecanggungan kalian di depan para maid jika tak ingin mereka curiga tentang pernikahan kalian"


Pesan Farida lalu mengusap pucuk kepala menantunya sebelum meninggalkan sepasang pengantin baru itu.


Baru saja suara pintu di tutup oleh nyonya Farida, Hisyam pun dengan cepat bangkit dari duduknya dan menghampiri Alia yang terlihat gugup tak tahu harus bersikap seperti apa.


"Tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu, padaku?"


Sindir Hisyam yang sudah lelah menunggu penjelasan dari Alia atas tindakan beraninya tadi di hadapan para wartawan.


"Kenapa kamu diam saja sekarang! Apa kamu sudah kehabisan kata-katamu!"


Lanjut Hisyam lagi, namun Alia tetap bergeming, meski wanita itu sangat ingin menjawab kata-kata suaminya.


"Cih! Berlagak seperti pahlawan! Kamu pikir dengan mengakuinya seperti itu, mereka akan berhenti mengejarmu, hah!


Dasar polos! Asal kamu tau, kamu hanya memberi kesempatan pada Mr. Lee dan Mike untuk melakukan hal yang lebih gila lagi, apa itu yang kamu inginkan? Jawab aku!"


Pekik Hisyam sambil mencengkram kuat bahu Alia lalu dengan kasar menjatuhkan istrinya ke tempat tidur.


"Dengan terus bersembunyi dan berdiam diri seperti ini, apakah semuanya akan terselesaikan..."


Alia bangkit mensejajarkan dirinya dengan Hisyam yang hendak beranjak dari tampat itu.


"Jawab aku tuan, apakah tuan bisa menjamin orang-orang yang ku sayangi akan baik-baik saja jika aku terus berdiam seperti ini?"


Tak tahan dengan ocehan sinis yang di lontarkan Hisyam padanya, Alia akhirnya memberanikan diri untuk menjawab semua ucapan suaminya.


"Apa maksudmu? Bukankah dengan adanya Assyifa di sini tak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan?"


"Hah....! Apa tuan masih tak mengerti juga?" Alia tergelak sinis sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Atau kah, tuan masih ingin menyembunyikan kebenaran tentang Sarah!"


Raut wajah Hisyam tiba-tiba berubah saat mendengar Alia menyebut nama Sarah.


"Aku tahu tuan sedang mencari Sarah, karna hanya wanita itu yang bisa mengungkapkan semua kebusukan suaminya sekaligus membersihkan nama baik anda di mata masyarakat...


Tapi.... apakah tuan pernah berpikir, kalau tindakan tuan bisa mengancam keselamatan wanita malang itu!"


Nada Alia ikut meninggi, ia memekik kesal dalam kesedihannya.


"Berhenti bersikap b*doh Alia! Wanita itu telah menjebakmu, dan sekarang kamu malah mengkhawatirkannya!"


"Apakah tuan belum mengerti juga! Wanita itu sedang dalam bahaya tuan, hiks.... hiks.... dan tak ada siapapun yang bisa menolongannya, dia sebatang kara, sama sepertiku"


Suara Alia kembali merendah, ia kembali mengingat cerita perjalanan hidup sarah dan bagaimana wanita itu terpaksa menjalani hidupnya sebagai seorang istri simpanan Mr. Lee.


"Maka selamat! Kamu sudah berhasil menyelamatkan hidup orang lain dengan merelakan kasus pelecehanmu begitu saja....!"


Cibir Hisyam, dengan nada kecewa pria itu berlalu meninggalkan Alia seorang diri di kamar besar itu.