Single Parents

Single Parents
MAKAN MALAM KELUARGA.



"Um.... tuan tidak perlu menunggu kami, saya akan membawa anak-anak turun setelah mereka siap"


Ucap Alia basa-basi setelah beberapa saat mereka hanya saling terdiam.


"I will waiting, (saya akan menunggu) Mama akan melanjutkan omelannya, jika melihatku turun tanpa kalian"


Jawab Hisyam datar sambil melabuhkan bokongnya dan mulai berkutat dengan ponselnya.


Mendengar alasan Hisyam, Alia tak berniat untuk bersuara lagi, sehingga Hisyam merasa heran karna tak biasa-biasanya wanita itu tak menjawab kata-katanya.


Hisyam kembali menoleh ke arah Alia yang sedang sibuk menyiapkan dua balita yang begitu aktif-aktifnya.


Bahkan wanita itu terlihat kewalahan mengejar anak-anaknya yang berlarian kesana kemari, saling mengejar satu sama lain.


Karna tak mungkin menangkap Ozan dan Assyifa secara bersamaan, akhirnya Alia mendekati meja di mana semua pernak-pernik perlengkapan untuk membuat susu ada di sana, termasuk pemanas air listrik.


Sedang Alia fokus menyiapkan dua porsi susu untuk Assyifa dan Ozan, tiba-tiba terdengar tangisan Assyifa.


Alia bergegas meletakkan botol berisi air panas lalu menghampiri putrinya tanpa sadar air panas tadi telah mengenai tangannya.


"Ada apa, sayang?"


Tanya Alia panik sambil menciumi dahi putrinya yang membiru.


"Hm....!" Hisyam mendengus kesal, "Lain kali mintalah pelayan untuk membantumu, tak semua hal bisa kamu lakukan seorang diri!"


Usul Hisyam, sambil menghampiri meja di mana Alia meninggalkan tugasnya.


Mendapat usul dari Hisyam, membuat ia menyesal, hanya karna gengsinya yang tak ingin berharap lebih pada keluarga itu, akhirnya membuat putri kecilnya mengalami kesulitan.


"Maafkan mama sayang, tapi mama hanya tak ingin terbiasa dengan semua kemewahan yang jelas-jelas bukan hak kita, karna mama sadar suatu saat kita akan kembali dan menjalani hidup seperti sebelumnya"


Bisik Alia dalam hati seraya memeluk erat tubuh mungil Assyifa yang masih sesenggukan, sementara tangan satunya menggenggam Ozan yang asyik berinteraksi dengan mainan robot transfomers di tangannya.


Saat ia sibuk mengajak Assyifa bermain agar melupakan sakit di dahinya, di situ ia baru sadar bahwa Hisyam belum selesai menyiapkan susu untuk Ozan dan Assyifa.


Dengan ragu Alia mendekati pria yang terlihat bingung, menimbang-nimbang sendok takaran susu di tangannya mungkin tak tahu harus memasukkan berapa banyak susu kedalam botol yang di genggamnya.


"Um, tuan pasti lelah.... sebaiknya tuan istirahat saja, biar saya saja yang menyiapkannya"


Ucap Alia ragu, takut jika dirinya salah bicara lagi.


"Uh, benar, ini seharusnya tugasmu, kan?"


Ucap Hisyam sembari menghampiri Ozan dan Assyifa dengan gayanya yang senantiasa cool.


Alia sedikit menyunggingkan bibir melihat reaksi Hisyam saat kedapatan tak bisa melakukan hal sekecil itu.


Selesai menyeduh susu untuk kedua anak-anaknya, Alia kembali menghampiri Ozan dan Assyifa yang sedang berbaring di lengan kiri dan kanan Hisyam, namun sayangnya pria bertubuh kekar dan atletis itu sudah pun terlelap bersama anak-anaknya.


Alia terenyuh kala memandangi wajah mungil Assyifa yang tampak nyaman dalam dekapan papa sambungnya itu.


Tanpa sadar air mata Alia mulai mengalir dengan derasnya walau sudah di tahan sekuat hati.


Bukan tak bersyukur akhirnya putrinya bisa merasakan sosok seorang ayah yang selama ini tak pernah di rasakannya, tapi entah mengapa dirinya merasa takut jika Assyifa semakin terbiasa dengan kehadiran Hisyam di sisinya.


"Kenapa berdiri di situ?" Suara Hisyam menyadarkan lamunan Alia.


"Uh! Oh, bukan apa-apa" Alia berbalik sembari menyeka pipinya yang basah.


"Saya baru saja ingin memberikan susu tapi mereka sudah tertidur"


Jawab Alia sambil menunjukkan dua botol susu pada Hisyam.


"Oh!" Hisyam akhirnya baru saja menyadari kalau kedua balita itu kini ikut tertidur di sampingnya.


"Kenapa masih berdiri di sana! Turunlah, bibimu pasti sudah menunggumu di bawah!"


"Tapi, begaimana dengan Ozan dan Assyifa?"


"Berikan saja susunya, biar saya yang menjaga mereka"


Titah Hisyam sehingga Alia segera mengulurkan dua botol itu pada suaminya.


"Tunggu! Apa yang terjadi dengan tanganmu?"


Tanya Hisyam setelah melihat punggung tangan Alia memerah.


"Oh, bukan apa-apa, tadi tidak sengaja terkena air panas saat...."


"Tunggu di sini!"


Ucap Hisyam seraya bangkit dari tepat tidur dan berlalu meninggalkan Alia yang tampak kebingungan.


Tak butuh waktu lama Hisyam pun kembali dengan sebuah kotak obat di tangannya dan langsung menghempaskan bokongnya di kasur empuk tepat di belakang Alia.


Tahu Hisyam sedang duduk di belakangnya, Alia pun cepat bangkit namun tangannya di tahan oleh ptia itu.


"Duduklah biar ku obati lukamu dulu" Pinta Hisyam sembari menggenggam pergelangan tangan Alia dan menariknya agar wanita itu kembali duduk di tempat semula.


Hisyam mengeluarkan obat berupa krim dari kotak obat lalu mengoleskannya ke punggung tangan Alia yang melepuh.


Perlakuan lembut Hisyam seketika membuat perasaan Alia sedikit terenyuh kala pria bermata emerland itu meniup luka di tangan Alia dengan hati-hati.


Mungkin hal seperti ini sudah di rasakan untuk kesekian kalinya, tapi gemuruh yang di rasakan oleh Alia saat ini sangatlah berbeda dari biasanya, hingga tangannya yang saat ini dalam genggaman Hisyam pun ikut bereaksi sama dengan jantungnya.


"Apa terasa sangat sakit?" Hisyam mendongak menatap Alia yang terlihat berkaca-kaca.


"Um, sedikit" Jawab Alia singkat.


Namun apa yang di rasakannya tadi tak berlangsung lama, ia sadar apa yang dia rasakan sekarang tak seharusnya ia biarkan berlarut terlalu dalam.


"Aku baik-baik saja, maaf merepotkan tuan" Tepis Alia sembari menarik tangannya dari. genggaman Hisyam.


"Ada apa? Apa aku menyakitimu?" Tanya Hisyam heran.


"Tidak! Aku baik-baik saja, sebaiknya saya turun sekarang"


Ucap Alia sambil mengemasi kotak obat dengan buru-buru dan membawanya keluar tanpa memberi ruang untuk suaminya untuk bertanya lebih.


"Ada apa dengannya? Dasar wanita muda, selalu bertingkah aneh dan sulit untuk di pahami"


Gumam Hisyam sambil berpikir, heran dengan perubahan sikap Alia yang tiba-tiba ingin menghindar darinya.


-


Alia perlahan menuruni anak tangga sambil menyentuh dadanya yang masih berdetak kencang.


Berulang kali Alia mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang di rasakanya tadi hanya murni perasaan biasa, perasaan yang sama di alami wanita saat mendapat perlakuan lembut dari seorang pria, karna sejatinya wanita adalah mahluk yang paling perasa dan sensitif.


"Benar, mendapat perhatian seperti itu, tentunya semua wanita akan bereaksi sama.... Alia apa yang kamu pikirkan"


Bisik Alia dalam hati dan berkali-kali mengelengkan kepalanya, mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyerangnya.


"Alia....!"


"Kak Alia....!"


Panggil dua suara yang begitu di kenalnya dan kompak menyebutkan namanya.


Langkah Alia seketika berhenti di tangga terakhir, lalu mencari asal suara yang ternyata dari ruang tamu di mana nyonya Farida juga duduk di sana.


"Tante Rima! Farah!" Seru Alia, lalu dengan girang menghampiri adik dari mamanya itu dan memeluknya dengan sangat erat.


Karna merasa di abaikan oleh Alia yang sudah di anggap kakak kandungnya sendiri, Farah pun ikut memeluk Alia penuh sayang.


"Maafkan tante karna tak menceritakan hal yang sebenarnya tentang mama kandungmu.... tante hanya tak ingin membuatmu bersedih, sayang...."


Ungkap Rima setelah melerai pelukannya.


Adik dari mamanya itu merasa bersalah karna tak memberitahukan tentang asal usul Alia yang ternyata bukan anak kandung buk Retno yang seharusnya ia panggil tante selama ini.


"Alia tahu, dan Alia juga mengerti kenapa semua orang menyembunyikan kebenaran ini dari Alia, itu karna semua orang sayang padaku, kan? Jadi tante jangan sedih lagi, ya"


Bujuk Alia sembari menghapus air mata tantenya yang semakin deras membasahi pipinya.


"Sudah, sudah, jangan bersedih lagi, bagaimana kalau bicaranya di meja makan saja, bik Ina juga sudah menyiapkan makan malam untuk kita"


Nyonya Farida menyela, mencairkan suasana yang mengharukan di depan matanya.


Melihat kebaikan nyonya Farida pada keluarganya membuat Alia menatap hangat wanita baik yang telah mengangkatnya menjadi menantu di keluarga Osmand.


"Ada apa, nak, apa ada yang salah?" Tanya nyonya Farida sembari menghampiri Alia dan menggenggam tangan menantunya erat.


"Terima kasih, karna nyonya telah baik pada keluargaku, dan memperlakukan mereka layaknya keluarga nyonya sendiri" Ungkap Alia tulus.


"Alia, bukankah kita memang keluarga? Dan ingat mama tidak akan senang jika kamu masih memanggilku nyonya lagi, mengerti!"


Ancam mertuanya, namun dengan lembut dan suara manja khas Farida Osmand bisa di artikan Alia sebagai gurauan seorang mertua untuk dirinya yang bergelar menantu.


"Naiklah dan panggillah suamimu untuk makan malam bersama kita"


"Apa! Su-suami?"


"Iya suamimu, bukan tuan Hisyam lagi, ingat!" Bisik nyonya Farida sambil mendorong tubuh Alia untuk kembali memanggil suaminya di lantai atas.


Mendapat perlakuan lembut dari mertuanya membuat Alia mengulum senyum yang sedikit di paksakan.


Meski ia sangat tahu bahwa kebaikan yang di tunjukkan nyonya Farida tak di buat-buat, namun Alia terus berusaha untuk tak terbiasa dengan semua itu.... juga agar semua hal yang ia kecapi sekarang tak membuatnya sulit untuk melepaskannya suatu hari nanti.