
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Asisten Davis, Hisyam kembali menghampiri Renata meski rasa benci tak pernah padam di hatinya, bahkan semakin bertambah dengan adanya informasi dari Asisten Davis.
Renata bermondar-mandir, ia tampak begitu serius membahas sesuatu yang amat penting lewat panggilan telepon.
"Baiklah, aku tahu apa yang harus ku lakukan!" Renata segera mengakhiri panggilan saat melihat Hisyam semakin dekat menghampirinya.
Hisyam mengepalkan tangannya kuat, info yang di berikan Asisten Davis benar-benar membuatnya tersulut emosi.
"Um, this is about a work..." Renata menunjuk ponselnya, "Tadinya aku ingin menunggu sampai Ozan bangun, tapi, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini, kan?"
Ucap Renata gugup, apa lagi saat tatapan elang Hisyam yang terlihat begitu mengintimidasi mengarah kepadanya.
"Tunggu!"
Hisyam menghentikan langkah Renata yang tampak teburu-buru ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Sorry" Hisyam melepas cengkramannya, "Um, terima kasih atas bantuanmu hari ini dan.... kamu, bisa menemui Ozan kapanpun yang kamu mau" Ucapan Hisyam terdengar terbata-bata.
Bukan karena malu harus menarik kembali kata-katanya, hanya saja ucapan itu begitu sulit ia lontarkan, di tambah lagi ia harus berpura-pura bersikap lembut dengan seseorang yang telah menghancurkan keluarganya, tentu cukup sulit dan sebisa mungkin ia meredam emosinya jika ingin memastikan kebenaran kata-kata Asisten Davis.
-
Keadaan nyonya Farida semakin membaik, begitupun dengan Ozan yang sudah di perbolehkan pulang setelah menerima perawatan selama dua puluh empat jam di rumah sakit.
Agar lebih mudah untuk memantau kesehatan keduanya, Hisyam meminta agar Ozan tetap mendapat perawatan di rumah sakit saja sampai kesehatan mama dan putranya itu banar-benar pulih.
Pagi-pagi sekali Renata sudah mengabarkan bahwa dirinya akan berkujung ke rumah sakit dengan alasan ia begitu khawatir dengan keadaan Ozan, dan tentu saja Hisyam menerimanya dengan senang hati.
Bukan karna ia mulai luluh dengan perhatian yang di berikan mantan istrinya itu, tapi wanita itu terlalu licik, mungkin saja dengan cara lembut wanita itu akan lebih mudah untuk di taklukkan sekaligus memudahkan dirinya mencari tahu kebenaran dari kecurigaannya.
"Tokk... tokk...!" Pintu di ketuk dengan cara elegan.
Hisyam menoleh memastikan seseorang di balik pintu.
Terlihat Renata melenggang menghampirinya, memamerkan setiap lekuk tubuhnya yang di baluti pakaian ketat tak cukup bahan.
Melihat penampilan Renata yang semakin terbuka dan mencolok mata, Hisyam hanya bisa memalingkan wajah.
Seketika momen bersama Alia terlintas di benaknya, di mana istrinya itu begitu anti dengan pakaian tipis dan tak cukup bahan seperti yang di kenakan oleh Renata saat ini.
Hisyam tersenyum simpul mengenang momen lucu itu, momen di mana istri kecilnya itu sangat shock dan panik saat mendapat hadiah berupa lingerie dari nyonya Farida saat itu.
"How sweet...." Bisik Hisyam seraya menyunggingkan senyum samar yang tak pernah di lihat oleh Renata sebelumnya.
"Thank you" Jawab Renata girang, berpikir Husyam sedang memuji dirinya.
Dengan gaya sensual ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, sengaja menampakkan lehernya yang jenjang.
"Ehm!" Hisyam berdehem.
Melihat aksi Renata yang tampak murahan di matanya, ia mencoba menetralkan geli yang mengelitik hatinya.
"Argh! Di saat seperti ini, kenapa aku semakin merindukannya..." Gumam Hisyam sambil mengusap kasar wajahnya.
"Um, aku membawa makanan untuk kita, kamu pasti belum sarapan, kan?"
Suara Renata membuat Hisyam kembali ke alam sadarnya, kini wanita itu sedang berdiri di hadapannya, menunjukkan perhatiannya yang palsu.
"Kamu makan saja, aku akan makan nanti!" Tolak Hisyam datar.
Meski dengan mendekati Renata bisa memudahkannya menggali informasi, tapi hatinya masih belum sepenuhnya rela jika Renata dekat dengan Ozan, apalagi membiarkan wanita licik itu kembali masuk ke dalam kehidupannya bersama Alia.
"Hm!" Hisyam mendengus kesal.
"Oya, Hisyam, you know what, tadinya aku ingin makan di restoran favorit kita dulu, tapi tiba-tiba aku teringat padamu, jadi aku berpikir untuk membawakan makanan kesukaanmu kesini"
Dengan berat hati, Hisyam pun mengikuti saja permainan Renata, drama demi drama yang di tunjukkan padanya tak mampu membuat Hisyam luluh dan melupakan kesalahan yang di lakukan Renata.
"Oya, bagaimana kamu bisa tahu, Ozan ada di sini?"
Renata meletakkan sendok, mencari jawaban yang tepat agar Hisyam tak curiga bahwa kehadirannya sudah ia rencanakan sebelumnya.
"Um, kebetulan aku sedang menjenguk teman yang sedang sakit dan tak sengaja melihatmu di sini" Tanpa rasa takut Renata bisa menjawabnya dengan santai.
"Apa aku juga mengenalnya?"
"I don't think so, aku juga mengenalnya baru baru ini"
Hisyam mengangguk mengerti, pura-pura percaya dengan alasan Renata.
"Oya, Hisyam, Alia apa kabarnya?" Renata mengalihkan topik pembicaraan.
Hisyam yang sebenarnya tertarik dengan topik pembicaraan Renata, hanya bisa terdiam pura-pura menikmati sarapan yang di sediakan untuknya.
"Ck! Seharusnya aku meminta maaf padanya sejak dulu.... tapi kamu mau, kan, mengatur pertemuan kami?"
Pancing Renata, sengaja ingin memastikan pengasuh itu sudah di depak keluar dari kehidupan Ozan.
"Kamu mau, kan? Please..." Renata memelas manja.
"Dia sudah pergi"
"Pergi! Kemana?" Renata terlihat kaget, tapi sebenarnya ia berseru dalam hati.
"Entahlah, aku pikir dia kembali ke rumah tuan Farhan, tapi, ternyata aku salah"
Hisyam berbohong, tak ingin Renata malah menemuinya dan melakukan hal buruk lagi pada wanitanya itu.
"Kenapa kamu ingin menemuinya? Bukankah sejak dulu kamu ingin dia pergi?" Tanya Hisyam penuh selidik.
"Kamu tahu, sejak pertemuan kami yang terakhir kali tak berjalan baik, aku sering di hantui rasa bersalah dan ingin meminta maaf padanya langsung....
Tapi aku melakukan semua itu karna aku cemburu, Ozan lebih dekat dengannya dan kamu, aku merasa kamu juga semakin jauh dariku"
Hisyam terdiam mendengar alasan Renata yang sama sekali tak mendasar, pasalnya hubungan mereka sudah hancur jauh sebelum Alia datang di kehidupannya.
"Bagaimana, kamu mau, kan, mengatur pertemuanku dengannya" Renata ingin memastikan pengasuh itu benar-benar telah pergi dari kehidupan mantan suaminya.
"Maaf, aku tidak bisa, lagi pula aku tidak tahu dia ada di mana sekarang"
"Benarkah? Uh, sayang sekali, padahal aku ingin memberinya ini" Renata meletakkan sepasang tiket di atas meja.
"Selama menjadi pengasuh Ozan, tak pernah sekalipun ia meminta libur, apalagi bersenang-senang" Sambung Renata sengaja ingin menunjukkan rasa bersalahnya.
"Kamu tahu dari mana Alia tak pernah berlibur selama menjadi pengasuh Ozan?"
Hisyam mengernyit heran.
"Hisyam.... aku memang pergi dari kehidupan kalian, tapi bukan berarti aku lalai dan tak perduli dengan putraku sendiri....
Tanpa kamu sadari, diam-diam aku mencari tahu tentang kalian, sayangnya aku begitu malu untuk menampakkan diri di hadapanmu, aku begitu menyesal, Hisyam"
Renata memelas, ia tahu Hisyam begitu lemah jika melihat air mata seorang wanita.
"Cih....!" Hisyam berdecih dalam hati.
Pasalnya satu tahun belakangan ini di ketahui Renata amat sibuk dengan bisnis barunya di luar negeri, dan informasi terbaru dari Asisten Davis mengatakan Renata membeli sebuah Resort dengan harga yang begitu fantastis, tapi kenapa ia malah bersembunyi di salah satu pulau dan menginap di sebuah hotel.
"Dasar wanita licik! Apa dia pikir aku akan mempercayainya begitu saja" Hisyam menggerutu dalam hati karna terang-terangan Renata sedang mengeconya dengan alibi yang cukup mendasar, meski begitu Hisyam tak akan tertipu dengan tipu muslihat yang Renata mainkan.