Single Parents

Single Parents
KEHILANGAN SOSOK AYAH.



Suara riuh mulai terdengar memenuhi setiap penjuru rumah pak Rahman.


Terlihat ibu-ibu tetangga tengah merumpi sambil mempersiapkan makanan untuk para tamu yang hadir menyaksikan akad yang akan berlangsung beberapa jam lagi.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi, namun Alia masih menemani papanya dengan linangan air mata.


Setelah berbincang dengan istrinya semalam, entah kenapa kondisi pak Rahman semakin memburuk.


Bahkan tatapannya sudah tak merespon setiap kata yang di dengarnya, pandangannya pun hanya berfokus pada satu titik saja.


Alia mengusap lembut tangan berkeriput itu, tangan yang selalu memberinya kekuatan dalam setiap masalah yang di hadapinya.


Buk Retno melangkah masuk menghampiri suaminya yang terbaring lemah lalu merapikan selimut yang di kenakan pria kebanggannya itu.


"Alia, kembalilah ke kamarmu, nak, sudah saatnya kamu bersiap"


Ucap buk Retno sambil mengusap ubun Alia yang menyandarkan kepalanya di telapak tangan papanya.


"Bagaimana Alia bisa menikah dengan keadaan papa seperti ini, ma...." Suara Alia terdengar lirih.


"Alia, kamu tahu kan apa yang di inginkan seorang ayah bagi putrinya? Mereka ingin melihat putrinya menikah dan memiliki keluarga yang bahagia...."


Pesan buk Retno pada Alia yang terlihat sangat sedih dan enggan meninggalkan kamar papanya.


Mendengar kata-kata buk Retno, ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan gontai menuju kamarnya yang telah di hias dengan pernak-pernik senada dengan gaun pengantin putih tulang yang akan di kenakannya.


Meski terlihat sederhana, namun Alia tetap menawan dan berbeda dengan adanya hijab yang menutupi rambutnya serta mahkota kecil yang bertengger di atas kepalanya.


Nyonya Farida tertegun melihat perubahan calon menantunya, meski semua yang di kenakan Alia tak mewah dan tak berkelas seperti apa yang di rencanakannya.


Tapi tetap saja wanita paruh baya itu selalu setuju jika bik Ina mengatakan Alia akan selalu terlihat cantik dengan apapun yang melekat di tubuh mungilnya.


"Pasti tak lama lagi Hisyam akan tertegun dengan pilihan hatiku...." Bisiknya dalam hati.


Belum sempat nyonya Farida menyanjungi kecantikan calon menantunya yang terlihat begitu menawan, Assyifa tiba-tiba berlari ke arahnya memamerkan gaun putih yang baru di dapatnya dari calon papanya.


"Oh.... bukankah gaun mini ini persis seperti yang ada di toko tempat aku berbelanja hadiah untuk Ozan...."


Alia bingung dan bertanya-tanya, bagaimana bisa gaun yang begitu di inginkanya untuk ulang tahun Pertama Assyifa, kini di kenakan oleh putrinya.


"Apa waktu itu dia sengaja, menyuruhku menunggu di luar toko, karna ingin membeli gaun itu"


"Ini tuan Hisyam, lho, yang memberikannya, katanya sebagai hadiah ulang tahun pertama Assyifa"


Goda Amel pada kakaknya di ikuti senyuman nakal nyonya Farida yang ikut menggoda calon menantunya.


"Benarkah...?" Dengan berpikir Alia menjawab dengan bingung.


-


Dengan di iringi buk Retno dan Amel di sisi kiri dan kanannya, Alia terlihat anggun meski matanya sedikit sembab karna menangisi keadaan papanya yang semakin lemah.


Terlihat mempelai pria sudah menunggu di hadapan penghulu lengkap dengan jas hitam dan beberapa saksi yang sudah siap melakukan tugasnya.


Dua orang dari kantor urusan agama sudah bersiap untuk mencatat pernikahan.


Beserta wali hakim juga turut hadir menggantikan posisi pak Rahman yang tak memungkinkan dirinya untuk manjadi wali untuk putri sulungnya.


Hisyam masih sibuk mengutak atik ponselnya saat Alia menghampiri dirinya di hadapan penghulu.


Hingga mempelai wanita duduk di sampingnya barulah ia tersadar, dan menatap lamat penampilan Alia yang begitu anggun dan berbeda dari sebelumnya.


Satu detik.....


Dua detik......


"Bukankah pilihan mama adalah yang terbaik...."


Bisik nyonya Farida di telinga putranya, seketika Hisyam tersadar dari khayalan.ya dan segera mengalihkan pandangannya dari calon pengantinnya.


"Bisa kita mulai sekarang?"


Tanya si penghulu setelah semua anggota keluarga telah berkumpul, termasuk pak Rahman yang sedang terduduk lemah di kursi roda.


Proses akad nikah pun di mulai setelah mendengarkan syarat-syarat pernikahan.


Hisyam dengan suara tegas dan cukup lantang melafalkan ijab qabul di hadapan para saksi dan penghulu.


Hanya butuh satu tarikan napas wanita di sampingnya telah resmi menjadi istrinya


Proses ijab kabul telah pun selesai, Hisyam yang sudah terlatih memasangkan cincin di jemari Renata selama ini, kini meraih tangan Alia, menyarungkannya ke jari lentik wanita yang telah menjadi istrinya beberapa detik yang lalu.


Meski sedikit longgar tapi cincin bertahtakan berlian itu terlihat mewah di jari manis Alia yang putih.


"Alia....!"


"Ya....?"


Alia tertegun dengan kilauan berlian di jarinya, hingga tak sadar nyonya Farida sedang memanggilnya.


"Ayo, nak pasangkan cincin itu ke jari suamimu"


Lanjut buk Retno, mengarahkan anaknya yang nampak canggung, atau lebih tepatnya sungkan.


Tanpa menatap suaminya, Alia meraih cincin dan langsung memasangkannya di jari suaminya.


Mendapat arahan dari para tamu, Alia pun perlahan mencium punggung tangan suaminya hingga Hisyam bisa merasakan dinginnya tangan istrinya saat itu.


Meski sebatas tangan, tapi terasa berbeda jika di bandingkan saat ia mengecup bibir sexy Renata di pernikahannya terdahulu.


Kecupan dari Alia berbalas, hingga dada Alia terasa berdebar saar bibir Hisyam mulai menyentuh keningnya, rasanya begitu nyaman tapi Alia tak ingin hanyut dalam lembutnya sentuhan awal dari seseorang yang sudah bergelar suaminya.


Seketika Alia menoleh ke arah pak Rahman, seakan menunjukan bahwa ia sekarang telah resmi menjadi seorang istri, sebagaimana yang di inginkan papanya, melihat putrinya menikah sebelum ajal menjemputnya.


Proses demi proses telah pun selesai di laksanakan, saatnya kedua mempelai pria dan wanita meminta restu pada kedua orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


Namun tak seorang pun menyadari, bahwa pak Rahman dengan tenang telah menghebuskan nafas terakhirnya sesaat setelah mendengar lafal ijab qabul keluar dari mulut pria yang baru saja menjadi menantunya.


Alia yang menyadari sesuatu telah terjadi pada papanya, seketika panik saat menyentuh tangan papanya yang dingin.


"Pa.... i-ini Alia, papa... bisa mendengarku, kan?"


Suara Alia tetbata-bata sampai tersekat di tenggorokan.


Sedang Hisyam yang berada di samping Alia kini bergegas menghampiri pria yang baru saja menjadi mertuanya itu.


Hisyam terdiam, sambil mengeleng perlahan setelah memeriksa denyut nadi pak Rahman.


"Papa....!"


Alia semakin histeris sampai seluruh sendinya terasa lemah tak bertulang dan hampir terperosok ke lantai.


Dengan sigap Hisyam meraih tubuh istrinya yang lemah dan menopangnya agar tak terjatuh.


Hisyam menatap sendu wanita yang baru saja di nikahinya, tak jauh beda dengan Amel, gadis itu juga histeris dalam pelukan mamanya.


Merasa bertanggung jawab atas keluarga istrinya, Hisyam menatap sekeliling mencari keberadaan Assyifa yang ternyata nyaman dalam pengawasan nyonya Farida.


Meski shock, ia berusaha menguatkan Alia, menarik wanita yang telah di nikahinya ke dalam pelukannya dan mencoba untuk menenangkannya.


-


Hari bahagia bertukar menjadi duka bagi keluarga pak Rahman, suara canda dan tawa berubah, berganti isakan pilu yang menyayat hati.


Alia terdiam memerhatikan papanya yang terbujur kaku di hadapannya.


Dengan sendu, Alia yang masih mengenakan gaun pengantin, kini perlahan mendekati papanya yang telah terbungkus kain kafan.


"Dia sudah meninggal, nak.... ikhlaskan hatimu, Alia, papamu sudah pergi untuk selamanya...."


Ucap nyonya Farida pada anak menantunya, sambil memangku Assyifa yang sudah tertidur di pangkuannya.


"Ini semua salahku, kalau saja aku tak mengungkit masa lalu, pasti bapak masih ada bersama kita di sini...."


Alia yang sedari tadi terdiam, kini menoleh ke arah mamanya, yang tanpa sadar telah membut Alia penasaran dengan kata-katanya.


"Apa yang mama maksud? Apa yang terjadi semalam? Apa yang mama katakan pada papa?"


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Alia, ia menuntut jawaban dari pengakuan mamanya.


"Um.... Alia, sebaiknya kamu tenang dulu, buk Retno tak bermaksud apa-apa dia hanya terpukul dengan...."


"Tidak! Alia harus tahu yang sebenarnya.... Alia, mama tidak sanggup menyimpan rahasia ini lagi seorang diri"


Buk Retno menangis tersedu-seduh ia bingung, selama ini, setiap ia ingin melakukan sesuatu, suaminya lah, yang selalu memberinya masukan.


Tapi sekarang pria itu telah pergi untuk selamanya, dan ia benar-benar tak bisa berpikir jernih, apakah keputusannya untuk berkata jujur tentang asal-usul Alia adalah hal yang tepat.