
"Kamu tidak apa-apa, kan?"
Hisyam menghampiri Alia yang masih menekuk lututnya di pojok sambil menutup mata dan telinganya.
Setelah merasa suara Hisyam sudah sedikit melembut di penengarannya, barulah Alia dengan perlahan mendongak menatap tuannya yang sedang berdiri tepat di depannya sambil mengulurkan tangan padanya.
"Ayo kita pulang..."
Alia menatap ragu ke arah Hisyam, dan perlahan menyambut uluran tangan tuannya.
Meski keadaan sudah tak setegang tadi, Alia tetap memastikan semuanya sudah aman, hingga menelisik mencari keberadaan tuan Lee, ia takut jika pria itu tiba-tiba menyerang mereka.
"Dia sudah pergi.... kamu aman sekarang"
Ucap Hisyam, sambil menuntun Alia masuk kedalam mobil, ia mengerti kekhawatiran yang di rasakan pengasuh itu.
"A...apa yang terjadi padanya, tuan tidak melakukan hal buruk padanya kan?"
Tanya Alia ragu, setelah mobil yang di kemudikan Hisyam melaju meninggalkan kawasan hotel.
Sambil meremas tangannya ia menunggu jawaban dari tuannya, dia tau jika kedatangan tuan Lee tadi ada kaitannya dengan insiden yang melibatkan dirinya semalam, membuatnya semakin takut jika masalah itu berlanjut rumit hingga harus melibatkan polisi.
"You still worry about him, apa kamu sudah lupa apa yang sudah dia lakukan padamu"
Geram Hisyam dengan sikap polos Alia, hingga dengan kesal ia kembali menatap lurus kedepan, sambil menggenggam kuat stir sebagai pelampuasan emosionya.
Menyadari pria itu sedang kesal, Alia hanya bisa melempar pandangannya ke luar jendela.
"Hm.... maaf semua ini adalah kesalahanku" Ungkap Alia tulus sambil menyandarkan kepalanya ke jendela dan lagi-lagi wanita itu menghela napas beratnya.
"Seharusnya aku lebih berhati-hati dan mendengar kata-kata tuan sebelumnya..."
Lirihnya lagi, kali ini ia benar-benar takut dan menyadari masalah seperti apa yang ia handapi saat ini, bahkan mereka tak segan untuk mengangkat senjata di tempat umum.
"Huftt... tempat ini memang mengerikan, semua hal yang hanya bisa ku lihat di sebuah film action, kini benar-benar terjadi tepat di depan mataku..."
Bisik Alia, namun terdengar menggerundel, hingga Hisyam yang mendengar sungutan wanita yang sedang duduk di sampingnya, kini terlihat menyunggingkan bibirnya dan seketika ia melupakan kekesalannya tadi setelah melihat tingkah konyol ibu muda itu.
"Ehmm! Um... i have something for you"
Ucap Hisyam sambil meletakkan sebuah paper bag tepat di pangkuan pengasuh itu, hingga membuat wanita itu menatap tuannya dengan kening yang sedikit terangkat ke atas.
Alia beralih menatap benda yang ada di pangkuannya dan mengeluarkan isinya saat Hisyam hanya menatap lurus ke depan tanpa menanggapi ekspresinya yang penuh tanda tanya.
"Sebuah telepon....?" Alia menatap Hisyam .
"Hope you like it..." Jawab pria itu masih menatap lurus ke hadapan.
"Tapi ini terlalu mahal tuan, lebih baik menabungnya dari pada harus mengeluarkan uang untuk benda yang tak begitu penting seperti...."
Hisyam menghentikan mobilnya secara mendadak dan menghadap Alia penuh kesal.
"Tidak begitu penting menurutmu! Andai kamu memiliki ponsel, aku bisa menemukanmu lebih awal! Dan hal buruk seperti semalam tak akan terjadi padamu!"
Pekik Hisyam penuh penyesalan dan mulai memukul setir mobilnya, hingga luka pada tulang jari tangannya kembali mengeluarkan darah setelah beberapa menit mengering selepas perkelahiannya bersama Mr. Lee.
"Kumohon tuan, berhenti! Lihat, tangan anda kembali berdarah !" Sungut Alia sambil mencari sesuatu yang bisa di jadikan perban untuk membalut luka tuannya.
"Baiklah akan ku terima pemberian tuan dan aku minta maaf telah membuat tuan khawatir"
Ucap Alia lagi sambil melilitkan sebuah dasi yang baru saja di temukannya.
Tidak berhenti di situ, wanita itu masih mengacak barang-barang pribadi Hisyam hingga menemukan sebuah pulpen dan menuliskan "TERIMA KASIH" pada dasi itu lengkap dengan emoji haru buatan tangannya.
Sementara Hisyam yang sedari tadi hanya menatap kesal kedepan tiba-tiba menarik tangannya.
"Aku tidak apa-apa!" Ucap Hisyam dan kembali melajukan mobilnya tanpa peduli apa yang di lakukan Alia untuknya.
Menyadari Hisyam sedang kesal padanya, wanita itu pun ikut terdiam.
Setelah hampir setahun bekerja dengan keluarga Osmand, dia bisa sedikit mengetahui kebiasaan tuannya yang mudah tersulut emosi, hingga ia memutuskan untuk tak menanggapi meski dirinya ingin sekali membalas dan memaki setiap kali pria itu membuatnya geram dan sakit hati.
-
Hanya butuh berapa menit untuk berkendara kembali ke kediaman Hisyam, namun Alia merasa sudah seharian penuh ia terjebak di situasi yang membuat dirinya seakan tak terlihat oleh pria bermuka datar yang sedang asyik dalam dunianya sendiri.
Sesekali ia melirik pria di sampingnya, ingin mengajaknya untuk sekedar berbual agar bisa mengusir bayangan wajah Mike yang selalu mengingatkannya pada setiap masalah yang di hadapinya.
Tapi lagi-lagi niat itu di urungkannya hingga ia memutuskan untuk tak membangunkan singa yang sedang tertidur itu.
Alia sekali lagi mendengus kesal hingga akhirnya ia terlelap dalam kebosanannya sendiri.
Berapa menit kemudian mobil yang di kemudikan oleh Hisyam kini terparkir di pekarangan mansion.
Saat itulah ia tersadar Alia menulis sesuatu pada dasi yang di gunakan untuk membalut luka di tangannya.
"Apa kamu berpikir aku masih anak-anak...."
Hisyam beralih menghadap wanita di sampingnya ingin mengungkapkan rasa protesnya, namun ia baru menyadari Alia sudah terbuai dalam mimpinya.
"Pantas saja dia tak banyak protes, rupanya dia sudah tertidur...
Tidurlah kamu pasti sangat ketakutan, sehingga tak bisa memejamkan mata dengan nyaman semalam"
Gumam Hisyam seraya melepas seat belt dari tubuhnya dan bergegas keluar, tak ingin mengganggu tidur Alia yang lena.
Hisyam terkejut setelah melihat ekspresi mamanya yang kurang bersahabat kini berjalan menghampirinya dan...
"PLAAKK!!"
Nyonya Farida melayangkan tangannya ke wajah putranya, membuat Hisyam hanya ternganga dengan aksi spontan mamanya.
"Mama benar-benar kecewa dengan tindakanmu yang memalukan itu!"
"Mom...?" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Hisyam.
"Di mana Alia? Davis sudah menceritakan bagaimana semuanya berawal, dan mama tidak mau tahu, kalau sampai semuanya tersebar kamulah yang harus di salahkan atas semua kekacauan ini!"
Nyonya Farida terlihat begitu emosi, semua kekesalan yang di tahannya setelah mengintrogasi Davis lewat telpon sudah tak bisa di bendungnya lagi.
Bagaimana tidak, sebelum ia pergi ke luar negeri, ia berpikir Hisyam sudah menerima Alia dan tak mencurigai pengasuh itu lagi.
Tapi setelah mengetahui fakta bahwa putranya sendiri lah yang mengatur kedekatan Mike dan Alia hingga wanita polos itu harus mengalami perlakuan yang tak pantas dari Mike, membuatnya naik pitam dan kecewa pada perbuatan putranya.
"Nyonya!"
Panggil Alia, dengan senyuman manis di bibirnya pengasuh itu menghampiri ibu dan anak itu.
Seketika air muka nyonya Farida yang tadi memancarkan aura dingin kini berubah teduh saat menyadari keberadaan Alia di situ.
"Nyonya apa kabar? Maaf, seharusnya Alia tak meninggalkan Ozan semalaman, kami tidak pulang karna ada sesuatu yang..."
Alia menunduk tanda menyesal, ia merasa tak enak meninggalkan tanggung jawabnya tanpa memberi tahu alasannya, tapi, haruskah ia jujur pada nyonya Farida tentang kejadian memalukan itu?.
"Sudah, tak perlu di jelaskan, lagi pula saya percaya kamu tidak sengaja dan semua ini di luar rencana kamu"
Bujuk nyonya Farida lembut hingga membuat perasaan Alia yang tadi gusar kini mulai tenang, meski masih ada sedikit rasa takut jika nyonya Farida berpikir buruk tentangnya, mengingat putranya baru saja menginap di hotel yang sama dengannya.
"Sudahlah ayo kita masuk" Ucap nyonya Farida lembut namun masih sempat melirik tajam putranya.
"We need to talk!"
Kode keras di tunjukkan nyonya Farida pada Hisyam, sebelum meninggalkan putra sulungnya itu seorang diri.
Hisyam menghela napas beratnya, sambil merogoh ponselnya setelah dua wanita beda generasi itu mulai hilang dari pandangannya.
"(Halo is everything okay, boss?)" Suara Davis terdengar di balik talian.
"Come to my house, we need to talk, now!"
Suara Hisyam terdengar bergetar menahan amarahnya, hingga ia memutuskan panggilan teleponnya pun tanpa menunggu tanggapan dari Davis.
-
Di ruang kerja.
"BRAAKK!" Hisyam menggebrak meja menatap tajam ke arah Davis.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi pada mama semalam? Dia shock Davis, padahal dia hanya menerka-nerka aku melakukan hal yang buruk pada wanita itu...
Dan sekarang, kamu mengatakan semuanya pada mama, apa kamu bisa memastikan dia tak akan drop setelah mengetahui apa yang terjadi pada gadis indo itu!"
"Sorry boss, but..."
"Sorry? Kamu mengambil keputusan tanpa memberi tahuku terlebih dahulu, apa kamu sudah bosan bekerja denganku hah!" Tanya Hisyam emosi.
"Hisyam, i am really sorry, but, nyonya Farida menghubungiku setelah melihat berita ini"
Davis menunjukkan artikel tentang pengeroyokan terhadap Mike semalam yang sedang hangat di perbincangkan, dan anehnya berita tentang Alia tidak ikut terekspose.
"So, Mr. Lee benar-benar memanfaatkan insiden semalam untuk menjebak kita?"
"That's right, namun mereka memberi kita dua pilihan, mengikat kontrak bisnis dengannya atau mereka akan membawa masalah ini ke jalur hukum" Terang Davis.
"Aarrgghhh....! Pria itu benar-benar mempermainkan kita, seharusnya kamu membiarkanku menghabisinya tadi!"
Erang Hisyam sambil bermondar-mandir memikirkan solusi dari tindakannya yang ingin menyelidiki pengasuh itu, tapi justru malah berbuntut panjang.