
Dean baru saja tiba diruangan, dimana kompetisi itu di gelar ketika sebuah tangan putih, halus nan mulus melingkar sempurna di tubuh kekarnya.
"Dean aku merindukanmu."
deg
Suara ini, suara yang dulu selalu membuat ia tersenyum, suara yang dulu selalu merengek manja padanya, hingga akhirnya suara itu berubah menjadi suara yang paling menjijikkan yang pernah ia dengar dalam hidupnya.
"lepaskan tangan anda nona!." Semmy yang baru saja tiba setelah menemui tim pelaksana dan para juri melepas paksa tangan Angel dari tubuh Dean.
"kau urus dia Sem." tanpa menoleh, Dean beranjak pergi dari sana.
Disisi lain, tepatnya di ruang ganti para peserta, Dira masih saja membujuk El agar mau mengikuti kompetisi ini.
"kalo tidak sama mommy El tidak mau." kekeh El.
huufftt.. Dira hanya bisa pasrah kali ini, kalopun nantinya akan kalah, ia sudah mempersiapkan diri.
El berjalan ke arah dua model yang akan memperagakan busana karya mommynya, ia membawa dua botol air mineral di kedua tangan mungilnya.
"uncle, onty, minumlah dulu agar lebih rilexs." El menyerahkan minuman itu pada dua orang dewasa dihadapannya.
"oh, terimakasih El." model wanita itu mencubit pipi El gemas dan menciumnya sekilas, lalu meminum minuman yang diberikan El.
"sama-sama." senyum paksa terukir dibibir mungil El. Berani-beraninya dia menyentuh bahkan mencium pipi mulusnya, tapi perlahan senyum itu berubah menjadi seringai tipis, ketika ia melihat minumannya telah habis lebih dari separuh.
"kalo begitu saya permisi uncle, onty." El mengusap pipinya kasar. "huh, terpaksa ketoilet untuk membersihkannya." gerutu El.
🍃
"menjijikkan."
"menjijikkan."
Kedua manusia berbeda usia itu saling melempar pandangan.
"kau.." Dean menautkan kedua alisnya takkala ia melihat bocah kecil yang tak asing baginya.
"tuan, kelihatannya anda sudah lebih baik sekarang." El sedikit membungkuk hormat.
Dean tersenyum tipis. "seperti yang kau lihat. Terimakasih atas bantuannya waktu itu, mungkin saya tidak akan selamat jika kau tidak menyelamatkan kami saat itu."
"hanya kata terimakasih saja?." El menaikkan sebelah alisnya dan melipat kedua tangannya didepan dada.
Dean menautkan kedua alisnya. "kau meminta imbalan?, baiklah, berapa yang kau inginkan?."
"saya tidak butuh uang anda tuan, tapi jasa anda. Jika anda benar ingin membalas kebaikan saya, ikutlah dengan saya." El keluar dari toilet tanpa menghiraukan Dean apakah mengikutinya atau tidak.
Dean mematung ditempatnya, bisa-bisanya ia bernegosiasi dengan bocah kecil, dan besar kemungkinan, bocah kecil itu adalah anaknya sendiri, darah dagingnya yang selama ini ia cari.
Cukup lama Dean tengelam dalam lamunannya sebelum ia tersadar, ternyata El sudah menghilang dari pandangan. Buru-buru ia keluar dan menyusul El yang berhasil ia kejar sebelum menghilang dari pandangannya.
"El, kamu dari mana saja sayang." Dira menghampiri El yang baru saja tiba di ruang khusus peserta kompetisi.
Ruangan peserta kompetisi ini sengaja dipisah, setiap peserta mendapatkan ruangan masing-masing, agar mereka lebih leluasa berkontribusi dalam kompetisi final ini.
"toilet mom, mommy dimana modelnya?." mata tajam El menyapu kesegala penjuru ruangan.
"mereka dilarikan kerumah sakit, tiba-tiba saja mereka mengalami sakit perut." frustrasi, tentu saja, bukannya berhasil membujuk El, tetapi Dira malah kehilangan kedua modelnya.
"huh.. mommy gagal El." lirih Dira, ia sudah menyerah sebelum berperang.
"siapa bilang?, mommy belum mencobanya. El mau menjadi model ciliknya jika mommy yang menjadi model wanitanya, dan.."
"dan?, apa El?." desak Dira, El menggantungkan kata-kata, membuat Dira, Clara dan orang yang ada didalam sana penasaran.
"tuan Dean sebagai model prianya."
"tuan Dean, masuklah, kenapa anda berdiri di ambang pintu seperti itu?."
🖤