
Mobil yang di kendarai Hisyam berhenti di pekarangan villa yang berdiri megah dengan aksituktur tradisionalnya.
Di dalam mobil Hisyam masih enggan beranjak apalagi membangunkan Alia yang tertidur nyenyak sejak mereka meninggalkan pantai.
Mengingat sebelumnya wanita itu memang menguap berkali-kali, tapi karna merasa tak nyaman jika harus tidur di atas punggung bosnya, ia pun berusaha menahan kantuknya saat itu.
Hisyam terus menatap lamat-lamat wajah polos Alia yang terlihat teduh saat terlelap, saking mengantuknya Alia tak menyadari ponsel yang di genggamnya pun terlepas tanpa di sadarinya.
Hisyam meraih ponsel Alia yang terjatuh, awalnya ia akan menyimpan kembali benda itu ke dalam sling bag Alia, namun ia penasaran apa wanita itu sudah melihat berita tentang dirinya di internet.
"Wajahnya begitu teduh dan damai saat tidur, akankah ia kuat setelah melihat berita tentang dirinya? Huft... maaf menyeretmu kembali ke dalam masalah ini...."
Ungkapnya dalam hati, ia kembali mengutak atik ponsel milik Alia dan dengan sengaja ia memblokir semua akses juga media yang akan membuatnya shock bila mengetahui berita tentang dirinya di internet.
"Hari ini adalah ulang tahun Ozan sekaligus Assyifa putrimu, setidaknya untuk hari ini aku bisa melindungimu dan tak membuatmu sedih...."
Hisyam terus merasa bersalah atas apa yang menimpa pengasuh itu, hingga ia teringat dengan keinginan mamanya untuk menjadikan Alia sebagai menantunya.
"Selain memberikan Ozan dan Assyifa keluarga yang lengkap, apa menikahinya adalah salah satu cara untuk membalas kebaikannya dan melindunginya dari orang-orang yang berusaha memanfaatkannya?"
Hisyam mulai memikirkan keinginan mamanya, keputusan yang selama ini di pikirnya tepat, kini perlahan goyah setelah menyadari kesalahannya pada pengasuh itu, apa lagi jika di pikirnya lagi kesehatan dan kenyamanan Ozan memang lebih penting dari apapun di dunia ini termasuk perasaannya sendiri.
Alia mengeliat dan perlahan membuka matanya, ia terkejut saat menyadari mereka telah tiba di villa.
"Nice dream...?" Ucap Hisyam setelah tersadar dari lamunannya.
"Uh, maaf aku ketiduran sampai tak menyadari kita sudah di villa" Jawab Alia sembari membuka pintu mobil.
"Alia, tunggu!" Cegat Hisyam lalu menutup kembali pintu yang sempat di buka oleh wanita itu.
"A-ada apa?"
Alia gugup dan sebisa mungkin merapatkan punggungnya ke sandaran kursi, berusaha memberi ruang untuk Hisyam yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Hisyam menatap Alia cukup dekat, hingga aroma tubuh mereka seakan menyatu memenuhi rongga hidung keduanya.
"Maaf.... tapi, ada sesuatu yang harus kita bicarakan" Tutur Hisyam lalu kembali memperbaiki duduknya.
"Um.... baiklah" Jawab Alia singkat, meski gugup ia berusaha terlihat santai walau sebenarnya ia merasakan jantungnya seakan ingin keluar dari peraduanya.
"Alia, aku sudah memikirkan tentang..." bungkam....
"Tentang... tentang apa?" Alia penasaran.
"Um... bukan apa-apa, kamu pasti lelah, kan, masuklah kedalam dan beristirahat, aku akan menyusul kemudian"
Titah Hisyam, sedang Alia yang tak mengerti dengan tingkah bosnya, hanya bisa menurut dan keluar dari mobil dengan terbata-bata.
Melihat Alia berlalu dengan menyeret langkahnya, Hisyam akhirnya bisa bernapas lega sambil meletakkan wajahnya di stir mobilnya.
"Hisyam, Hisyam apa yang kamu pikirkan, pengasuh itu terlalu muda untukmu....
Dia bahkan belum menginjak dua puluh lima tahun saat ini dan tak mengerti kehidupan rumit seperti apa yang akan ia jalani setelah menikah denganku"
Hisyam kembali ragu dengan keputusannya, dia berpikir dengan umur Alia yang masih terlalu muda tentu sulit untuk mengendalikan emosi wanita muda itu.
"Mungkin gadis indo itu bisa menjadi ibu yang baik untuk Ozan, tapi bagaimana dengan dua anak sekaligus" Hisyam menghela napas panjang.
Menurutnya Alia belum cukup matang untuk berperan sebagai ibu sekaligus istri dari seorang Hisyam Al Jaziri Osmand.
"Renata saja yang sudah cukup matang tak bisa menerima peran ganda seperti itu, bagaimana dengan wanita muda seperti Alia" Pikirnya kembali.
-
Alia termenung menatap pantulan dirinya di dalam cermin, sejak ia meninggalkan Hisyam seorang diri di dalam mobil, ia terus tertanya tanya apa sebenarnya yang akan di katakan pria itu padanya.
"TOKK.... ! TOKK....!" Terdengar suara ketukan di balik pintu.
Masih mengenakan bathrobe, Alia bergegas menghampiri pintu dan membukanya untuk seseorang yang ada di baliknya.
"CLECKK....."
Di balik pintu, terlihat nyonya Farida berdiri di depannya dengan dandanan mewah dan elegan.
Belum sempat Alia bertanya maksud kedatangan wanita paruh baya itu ke kamarnya, seorang wanita cantik yang sama sekali tak di kenal oleh Alia pun datang menghampiri mereka.
"Alia, perkenalkan this is Celine, dia akan meriasmu sekaligus membantumu dalam memadu padankan pakaian"
Jelas nyonya Farida dengan senyum sumringah di wajahnya, dengan antusias wanita itu menariknya ke dalam dan mulai mengarahkan Celine agar mendandani Alia secantik mungkin.
"Nyonya, ini sebenarnya tidak perlu di lakukan, aku bisa..."
"A.... a.... a.... kamu tidak bisa menolak lagi kali ini, aku tau kalian tidak mendatangi spa hari ini kan?" Nyonya Farida menatap penuh selidik.
"Um... itu... maaf, tapi aku benar-benar tidak terbiasa dangan perawatan seperti itu...." Ucap Alia dengan nada menyesal.
"Baiklah! Aku maafkan tapi, kalau tidak ke sana, lantas kalian pergi ke mana dan baru pulang sekarang?"
Nyonya Farida memicingkan matanya ia banar-benar penasaran sudah sejauh mana rencananya berjalan.
"Oh, itu... kami hanya..." Alia berpikir sejenak, menurutnya keakraban yang mereka tunjukkan hari ini tak pantas untuk di ceritakan apalagi antara bos dan bawahannya.
"Apa kalian memutuskan untuk berkencan sekarang, benarkah?" Sosor Farida antusias, ia begitu berharap kali ini Alia menjawab ya pertanyaannya.
"Bukan begitu nyonya, kami terlambat karna....uh! Kakiku luka, lihat, kami harus mengobatinya terlebih dahulu"
Alia mencari alasan hingga menunjukkan kakinya yang lecet.
Berapa menit berlalu Celine akhirnya pamit setelah selesai mendandani Alia, sedang Farida yang tadi terlihat kecewa, kini kembali bersemangat setelah melihat hasil tangan Celine pada penampilan Alia yang menakjubkan.
-
Nyonya Farida melenggang keluar dari villa menuju taman belakang yang telah di sulap menjadi pesta mewah untuk ulang tahun pertama Ozan.
Di belalakang Alia dan bik Ina hanya mengikuti langkah nyonya besarnya dengan ragu menuju keramaian tamu.
Sesuai arahan wanita paruh baya itu Alia dan bik ina tak perlu melakukan pekerjaan apapun kecuali membuat Ozan tetap aman selama pesta berlangsung.
Bik Ina yang berpenampilan sopan terlihat lihai melayani nyonya Farida yang memperkenalkan wanita paruh baya itu sebagai asisten pribadinya.
Sedang Alia yang merasa canggung dengan situasi saat itu hanya bisa tersenyum ramah saat teman-teman Farida menyanjungi kecantikannya.
Tak dapat di pungkiri Dress navy dengan model sabrina memang sangat cocok di tubuh Alia yang mungil, hingga tak sedikit teman-teman nyonya Farida yang mempunyai anak lelaki tertanya-tanya dengan peran dirinya di pesta itu.
"Oh, wanita cantik ini adalah putri dari temanku, aku mengundangnya karna Ozan sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri, bukankah dia wanita yang sangat cantik..."
Begitulah jawaban nyonya Farida setiap kali teman-temannya menanyakan tentang Alia, tapi menurut nyonya Farida jika ia memperkenalkan wanita muda itu sebagai pengasuh akankah mereka masih akan bereaksi yang sama pada Alia.
"Mom, sorry i am late, bisakah kita memulai acaranya sekarang"
Saran Hisyam sekaligus alasan untuk menghindari pertanyaan teman-teman mamanya yang tentu akan membuatnya tidak nyaman.
"Hisyam, tak perlu terburu-buru, sapalah teman-teman mama dulu sayang"
Titah nyonya Farida sehingga putranya tak bisa mengelak lagi dari perangai genit teman-teman mamanya.
Hisyam terus menanggapi gurauan ibu-ibu yang tak akan pernah bosan menanyakan hal-hal sensitif dan pribadi pada pria beranak satu itu.
Bahkan tanpa segan ada pula yang sengaja menyanjungi anak gadisnya dan memintanya untuk menikahi putri mereka, melihat hal itu Alia menjadi paham kenapa Hisyam berusaha untuk tidak datang ke spa hari ini.
"Tuan Hisyam, perkenalkan ini putri tunggal kami, namanya Jennifer bukankah dia cantik dan tentu saja dia adalah pewaris tunggal di keluarga kami kelak"
Sepasang suami istri menghampiri Hisyam dan keluarganya, disusul wanita berpenampilan seksi yang di perkenalkan sebagai putrinya tadi.
Mendengar kata-kata suami istri itu Hisyam dan mamanya hanya menatap satu sama lain.
"Um... Hisyam, sepertinya nona Alia kecapean menggendong Ozan, kamu bisa kan membantunya"
"Baiklah mom..." Hisyam menuruti saran mamanya sekaligus menghindar dari pembicaraan tak bermanfaat itu.
"Ah.... mereka sangat kompak, bukankah mereka terlihat sangat cocok?"
Nyonya Farida mencari alasan agar putranya bisa terlepas dari keluarga sombong itu.
"Wait! Nona Alia, jadi itu namamu?" cegat wanita sexy tadi, dan perlahan mendekati Alia.
"Ya? Bagaimana nona tau kalau namaku adalah Alia?"
Alia kembali bertanya, saking herannya ia menatap nyonya Farida dan Hisyam secara bergantian.
"Yes, i remember, it was you right? The person in the article (ya, aku ingat, itu memang kamu kan? Orang yang ada di artikel itu)"
"Artikel? Artikel apa?" Alia bertanya heran, tak mengerti yang di maksud oleh wanita sexy itu.
"Um.... mom, nona Alia, come on, time to cut the cake!"
Hisyam berusaha merubah topik, dan dengan sengaja menggandeng tangan Alia maju ke depan, di mana cake sudah di siapkan oleh para pelayan.
"Happy birthday to you...."
Lagu selamat ulang tahun mulai di nyanyikan dengan suka ria, Alia yang kembali teringat akan putrinya tak dapat lagi menahan kesedihannya, hingga ia pun mencari cela, dan perlahan meninggalkan pesta itu.
Alia berhenti di sebuah kursi taman dan perlahan mengeluarkan ponselnya saat kerinduannya pada Assyifa benar-benar tak dapat di bendung lagi.
"Hai, Alia...." Sapa seorang wanita di belakangnya.
Alia menoleh mencari asal suara itu, dan benar saja wanita berpenampilan sexy tadi kembali menghampirinya dengan senyum sinis.
"Sepertinya kamu sangat dekat dengan keluarga Osmand.... apa mereka tahu banyak tentang dirimu?"
Wanita tadi membuka pembicaraan saat Alia hanya menatap bingung kearahnya.
"Maaf, tadi kamu bilang, kamu mengenalku, apa kita saling kenal? Dan, apa maksud kata-katamu tadi?" Tanya Alia polos.
"Kamu memang tak mengenalku, karna aku tak menjajakan tubuhku seperti yang di beritakan di internet"
Tuduh wanita itu lagi sembari memperlihatkan ponselnya yang menampakkan berita mengenai scandal yang melibatkan Alia di sebuah kamar hotel.
Melihat hal itu Alia benar-benar terkejut dan segera mengambil ponsel itu dari tangan Jennifer.
"Aku ingin tahu, bagaimana reaksi keluarga Ozmand setelah melihat artikel ini"
"Tidak! Ini tidak benar, kejadian sebenarnya tidak seperti ini..." Alia panik hingga menjatuhkan ponsel di tangannya.
"Maka dari itu jangan pernah menghalangi jalanku!"
Jennifer yang merasa di permalukan dengan sambutan dingin keluarga Osmand, kini berlalu dengan melenggang puas melihat reaksi takut Alia karna ulahnya.
"Tidak! Semua itu tidak benar, bagaimana mungkin aku melakukan hal itu, aku yakin itu bukan video aslinya...."
Alia panik dan mencoba mencari video yang sama di ponselnya, namun hasilnya nihil karna tak menemukan apa-apa di sana.
Alia yang pasrah hanya bisa terduduk menekuk lututnya, dengan menyembunyikan wajahnya di antara lengannya wanita itu menangis sejadi jadinya tanpa peduli seseorang akan mendengar tangisannya.