
5 tahun kemudian
"cepetan Dira!. ini udah siang, q kan udah nyuruh kamu beres-beres dari kemaren." clara bersungut kesal dengan Dira yang tak kunjung bergerak cepat membereskan barang-barangnya.
"ngapain cepet-cepet sih Cla, ini kan masih jam sepuluh, aku juga harus menjemput El dulu kesekolah kan, sama mencabut berkas-berkas nya." Dira masih santai memasukkan barang-barangnya satu persatu kedalam koper.
Clara menepuk dahinya pelan. "aduh, kenapa aku bisa lupa sih sama ponakan aku yang unyu itu.."
Clara bangkit dari duduknya, meninggalkan semua pekerjaannya. "aku aja yang jemput El, kamu beresin ini semua, jangan sampai ada yang ketinggalan, aku balik nanti harus udah selesai!. Aku pergi dulu."
"kenapa harus buru-buru sih Cla.." terlihat Dira membuang nafasnya kasar, tak habis fikir dia dengan sahabatnya itu, sudah dua tahun terakhir ini ia selalu membujuk dan merayu dirinya agar membuka usahanya di ibu kota. Sampai pada akhirnya satu tahun yang lalu Dira menyetujui keinginan Clara.
Setelah mendapat persetujuan dari Dira, Clara sesegera mungkin mencari lokasi dan tempat yang strategis untuk Dira membuka usaha barunya.
Setelah merenovasi tempat yang akan dijadikan butik oleh Dira, mereka berdua juga mencari tempat tinggal baru untuk Dira, anaknya dan juga beberapa karyawan yang akan ikut bersama Dira ke ibu kota, melebarkan sayap usahanya dibidang fashion.
"huufftt.." Clara membuang nafasnya kasar. Ia jadi teringat kembali akan kejadian lima tahun yang lalu.
flashback on
Clara membulatkan kedua matanya saat melihat dua lembar kertas hasil DNA yang ia dapatkan dari sang papa.
"dugaan kita benar pah, ternyata mereka beneran ayah dan anak." seru Clara. Saat ini Clara tengah berada diruangan sang papa.
"Clara masih tidak menyangka pah, bukannya keluarga Wilson itu sangat menjunjung tinggi harga diri seorang wanita?."
"pasti tuan Dean melakukan itu semua ada alasannya nak, sama seperti nak Dira. Sudahlah kamu jangan terlalu banyak ikut campur urusan mereka, biarkan saja, kita cukup tau saja."
"cukup kita berdua saja yang tau faktanya, jangan sampai orang lain tau soal ini." lanjut dokter Arya yang tak lain adalah papah Clara.
"fakta apa dok?!." bariton besar yang berada di ambang pintu mengagetkan kedua manusia didalam sana. Entah sejak kapan orang itu berada disana.
Keduanya menegang saat mengetahui siapa pemilik suara besar itu.
"fakta apa yang kalian maksud?." nada yang keluar dari mulutnya begitu santai, tapi tidak dengan tatapan matanya.
Semmy berjalan masuk lebih dalam, ia berhenti didepan dokter Arya dan juga dokter Clara. Matanya menangkap sebuah berkas yang tengah berada ditangan Clara.
Hanya dengan menunjukkan saja sudah bisa membuat berkas itu berpindah ke tangannya, Clara dengan ragu menyerahkan berkas itu.
Setelah membacanya, Semmy terlihat tersenyum samar.
"sekarang dimana dia?."
"maaf tuan, yang anda maksud.."
"nona Nadira dan juga putranya. Dimana mereka?." Semmy memotong perkataan Clara.
Terlihat Clara menghela nafasnya. 'sabar Clara, sabar, kamu bisa, kamu pasti bisa menghadapi srigala gila ini.' batin Clara.
"maaf tuan, semenjak kelahiran putranya, kondisi Dira saat ini sudah berangsur membaik, tapi ia tidak bisa jauh-jauh dari putranya, jika ia tidak melihat putranya barang sedetik saja, ia akan menjerit histeris dan panik, mencari anaknya tak tentu arah."
"oleh sebab itu, biarlah saya merawatnya dulu, jika kondisinya sudah membaik, saya pasti akan membawanya bertemu dengan anda."
Clara berbicara dengan sungguh-sungguh. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa menyikapi pertanyaan asisten Semmy dengan kebohongannya.
Semmy menghela nafasnya berat.
"baiklah, saya tunggu berita baiknya." setelah berkata demikian, ia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan sepasang ayah dan anak itu dengan ketegangannya.
flashback off
*🖤
...jika sesuatu diawali dengan kebohongan, pasti akan ada kebohongan-kebohongan yang lainnya kelak*....