Single Parents

Single Parents
NASI GORENG KAMPUNG.



Suasana tampak masih sepi saat Alia tiba di ruang dapur, meski ada beberapa maid yang terlihat di ruangan itu, tapi masing-masing dari mereka hanya melakukan tugasnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun kecuali membungkuk hormat atau sekadar menyapa sang nyonya yang baru keluar dari kamarnya.


"Huh....! Apa mereka harus seserius itu...." Gumam Alia sambil mengeluarkan bahan makanan yang akan di eksekusinya dari dalam lemari pendingin.


"Aneh, tidak biasanya bik Ina terlambat menyiapkan sarapan, apa dia sedang sakit?" Alia bergumam heran.


Pasalnya di jam seperti ini biasanya sarapan telah pun tersaji di atas meja, tapi pagi ini jangankan sarapan, batang hidung bik Ina pun masih belum kelihatan hingga sekarang.


"Apa aku saja yang menyiapkan sarapan pagi ini, ya? Tapi bagaimana kalau masakanku tidak sesuai dengan selera tuan Hisyam?" Gumam Alia.


Setelah berapa menit mematung akhirnya Alia memberanikan diri untuk menyiapkan sarapan dengan bahan seadanya sesuai dengan resep nasi goreng kampung yang bisa ia masak.


Sambil bersenandung, Alia terlihat begitu bersemangat melakukan pekerjaannya hingga tak sadar bik Ina yang baru saja kembali dari mini market, diam-diam memerhatikan tingkah cerianya.


"Ehm.... lagi siapin sarapan untuk suami tercinta ya?"


"Iya bik.... eh! Maksud Alia.... untuk tuan Hisyam, bik"


Jawaban Alia yang jujur dari lubuk hatinya membuatnya malu sendiri.


"Apa itu benar, Alia?" Sosor nyonya Farida dari ruang tamu.


"Um.... itu...."


"Itu benar, nyoya, hari ini nona Alia menyiapkan sarapan untuk tuan Hisyam dengan semangat dan penuh kasih sayang..."


Bik Ina ikut heboh, membuat pipi Alia semakin memerah menahan malu.


Nyonya Farida mendekati menantunya. "Mama ikut senang mendengarnya dan mama harap sebelum mama tutup usia mama ingin menimang cucu darimu"


Harap nyonya Farida sambil menggenggam tangan menantunya.


"Tapi mah, ini tidak seperti yang mama pikirkan, Alia menyiapkan sarapan untuk tuan Hisyam karna...."


Alia kembali tersenyum mengingat hal baik yang telah di lakukan suaminya hari ini.


"Sebenarnya Alia menyiapkan sarapan untuk tuan Hisyam, sebagai bentuk terima kasih Alia padanya...."


"Terima kasih, untuk apa? Jangan buat mama penasaran, Alia"


"Um.... tadi, saat Alia bersiap untuk melaksanakan sholat subuh...." Alia menjeda kata-katanya lagi.


"Hikk.... hikk....!" Merasa lucu, Alia cekikikan melihat ekspresi dua wanita di hadapannya layaknya seorang kontestan yang menunggu hasil penilaian juri.


Tak ingin memuat bik Ina dan nyonya Farida penasaran Alia berusaha menahan tawanya, kemudian melanjutkan ceritanya.


"Jadi.... di sholat subuh tadi, untuk yang pertama kalinya, tuan Hisyam menawarkan diri untuk menjadi imam buat Alia..."


Ungkap Alia sambil melirik dua wanita paruh baya itu secara bergantian.


"Benarkah! Alhamdulillah....!" Ucap syukur nyonya Farida dan bik Ina terdengar menggema di ruangan itu dan tanpa sagan silu menciumi pipi menantunya kiri dan kanan.


"Sudah, sebaiknya kamu memanggil Hisyam untuk sarapan bersama, biar mama dan bik Ina yang melanjutkan menata mejanya"


Titah nyonya Farida, sambil mengarahkan menantunya ke tangga, Alia pun hanya menurut.


Alia beralih ke kamar anak-anaknya saat tak menemukan sosok Hisyam di sana.


Setelah menyiapkan Ozan dan Assyifa, Alia menggandeng dua balita itu menuju ruang kerja suaminya, dan benar saja, di awal pagi Hisyam sudah berkutat dengan pekerjaannya.


"Daddy.... daddy....!" Panggil Ozan sembari berlari ke arah daddy-nya, di ikuti Assyifa yang masih tampak ragu meniru gelagat Ozan bergelayut di pangkuan Hisyam.


Seolah dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Assyifa, Alia segera mendekati putrinya.


Baru saja Alia ingin meraih tangan kecil putrinya, Hisyam sudah lebih dulu membawa Assyifa naik ke pangkuannya.


"Ada apa kalian ke sini?" Tanya Hisyam setelah memutar video cartoon di laptopnya.


"Um.... nyonya memanggil anda untuk sarapan bersama"


Seperti biasa, meski sikap Hisyam padanya sudah sedikit melunak, tapi tetap saja nyalinya menciut setiap kali menatap mata emerland milik suaminya itu.


"Katakan pada mama untuk tidak menungguku, aku akan turun setelah pekerjaanku selesai.... oya! beritahu pelayan agar membawakan kopi untukku"


Ucap Hisyam kemudian kembali menekuni fail di meja kerjanya.


"Baiklah...."


Nada suara Alia terdengar kecewa, kemudian ia kembali mendapati nyonya Farida yang sudah menantinya di meja makan.


Melihat tingkah laku menantunya nyonya Farida dan bik Ina mengangkat bahu menatap bik Ina satu sama lain.


"Ada apa dengannya....?"


Bisik Farida saat Alia hanya terdiam di depan pantry, menyiapkan kopi kesukaan suaminya.


"Alia.... apa Hisyam tidak ikut sarapan bersama kita di sini?"


Suara nyonya Farida menyadarkan Alia dari lamunannya.


"Uh.... itu...." Alia tersenyum hambar.


"Tuan Hisyam meminta kopi-nya di antarkan ke ruang kerjanya" Jawab Alia, raut kekecewaan sangat jelas terlihat di wajah menantunya.


"Hm....!" Farida menghela kasar.


"Sini! Biar mana saja yang membawanya ke atas"


Nyonya Farida mengambil alih cangkir di tangan Alia dan membawanya ke ruang kerja putranya.


-


"Mom.... what wrong?"


Tanya Hisyam saat mamanya meletakkan secangkir kopi di atas mejanya dengan kasar.


"Apa rencanamu kali ini?" Nyonya Farida melipat tangan di dada, seakan meng-introgasi seorang tersangka kriminal.


"Maksud mama apa....?" Tanya Hisyam tak tertarik.


"Maksud mama adalah.... kenapa memberi harapan padanya jika unjung-ujungnya kamu akan mengecewakannya juga, apa kamu sudah lupa cara untuk menghargai seorang wanita!" Ungkap nyonya Farida geram.


"Ya siapa lagi kalau bukan Alia, menantu mama satu-satunya....


Kamu tahu, pagi ini dia memasak hanya untukmu, meski ragu masakannya tak sesuai dengan seleramu tapi dia tetap melakukannya sebagai bentuk terima kasihnya.... tapi kamu malah mengecewakannya lagi"


Hisyam terdiam sejenak menimbang kata-kata mamanya.


"Memangnya apa yang ku lakukan?" Tanya Hisyam acuh.


"Jadi kamu masih belum mengerti juga!" Farida menghela napas, sambil mengelengkan kepala.


"Hm... kamu tahu, untuk pertama kalinya mama melihat Alia tersentuh dangan perbuatanmu dan untuk pertama kalinya juga kamu menjalankan sholat setelah sekian lama kamu hidup dalam bayang-bayang Renata...."


Mendengar nama Renata membuat keduanya terdiam, sedang Hisyam kembali menekuni fail yang berserakan di hadapannya.


"Setidaknya turunlah dan bergabunglah dengan kami di meja makan, Ozan dan Assyifa biar mama yang mengurusnya"


Usul Farida kemudian menghampiri dua balita yang sedang menikmati cartoon kesukaannya.


Baru saja Farida ikut berselonjor di atas matras bersama kedua cucunya, pintu kamar pun tiba-tiba di ketuk dan Alia muncul di baliknya dengan dua botol dot berisi susu di tangannya.


"Lho! Alia, kamu di sini sayang...."


Tanya nyonya Farida.


"Iya, mah, sejak bangun Ozan dan Assyifa belum makan apa-apa, pasti mereka sudah sangat lapar" Jawab Alia, lalu ikut melantai bersama mertuanya.


"Mama memang tidak salah memilihmu, kamu memang ibu yang baik Alia...." Ucap Farida dengan mengelus ubun menantunya.


"Sini biar mama yang mengurus mereka, kamu sebaiknya ke bawah dan menyiapkan sarapan untuk suamimu"


Usul Farida lagi, kemudian melirik putranya yang diam-diam menyimak pembicaraan istri dan mamanya.


"Bukannya mama sedari tadi berada di sini, mama juga belum sarapan, kan?"


"Sudah, jangan pedulikan mama, pergilah dan siapkan sarapan untuk suamimu"


Titah nyonya Farida, sengaja ingin memberi ruang pada putranya agar hubungan suami istri itu bisa lebih akrab.


-


"Apa sarapannya sudah siap?" Tanya Hisyam setelah tiba di meja makan.


"Um, sepertinya bik Ina lupa menyisakan sarapan untuk tuan.... biar ku panggilkan bik Ina dulu" Alia beralasan.


"Bukankah sarapannya ada di sini?" Hisyam menunjuk nasi goreng di atas meja.


"Tunggu.... sebaiknya tuan menyicipi sarapan buatan bik Ina saja" Cegat Alia beralasan.


"Memanya ada apa dengan nasi goreng ini, apa kamu menyimpan racun di dalamnya"


Sindir Hisyam dan mulai menyendok nasi goreng ke dalam piringnya.


"Biar saya saja tuan!" Seru Alia, kemudian memasukkan telur ceplok yang hanya di bumbui kecap.


Dengan perasaan bimbang Alia kemudian duduk sedikit menjauh dari tempat suaminya, "Kenapa duduk di situ?"


"Ti-tidak apa-apa?" Jawab Alia dengan senyum yang di paksakan, malu jika suaminya menertawakan nasi goreng kampung buatannya.


"Apa kamu tidak ikut sarapan?" Tanya Hisyam lagi.


"Aku belum...."


"Nona Alia belum sarapan karna menunggu tuan dari tadi...." Potong bik Ina yang tiba-tiba muncul dari taman belakang.


"Bukan seperti itu, bik...." Jawab Alia pelan, tak ingin Hisyam mendengarnya.


"Sudah, mengaku saja.... ini, bibik buatin susu hangat untukmu"


Bik Ina meletakkan segelas susu hangat di atas meja, tepat di samping Hisyam.


"Kenapa harus susu lagi? Ozan dan Assyifa sudah tak me...."


"Itu karna nyonya, melihatmu lemas akhir-akhir ini, apa lagi pagi ini, ada lingkaran hitam di matamu, dan itu terlihat jelas seperti mata panda"


"Uhuukk.... uhuukk....!"


Hisyam tersedak mendengar godaan asisten rumah tangganya itu, hingga dengan sigap Alia memberikan segelas air pada suaminya.


"Apa nasi gorengnya tidak enak, tuan?"


"Nasi gorengnya enak, kok, aku hanya tersedak, dan sekarang aku sudah tidak apa-apa...."


Jawab Hisyam spontan tak ingin Alia tahu jika ia tersedak karna godaan bik Ina.


"Tuh, kan, mama bilang juga apa, nasi goreng buatan kamu itu unik, Hisyam saja sampai suka"


Nyonya Farida yang baru saja tiba di ruangan itu bersama dua cucunya, ikut menimpali dengan candaan.


"Oya, tuan, malam ini tuan ingin di masakkan apa untuk makan malam nanti?" Tanya bik Ina, setelah nyonya Farida ikut duduk.


"Bibik tak perlu repot-repot menyiapkan makan malam untuk kami, aku akan mengajak Ozan dan Assyifa keluar soreh ini, mama juga ikut, ya...." Pinta Hisyam.


"Lho, kenapa tidak mengajak Alia saja? Kamu, kan tahu reumatik mama kambuh jika terlalu lama berjalan, apa lagi jika harus kejar-kejaran dengan anak-anakmu yang aktif-aktifnya itu" Tolak Farida.


"Bagaimana dengan bik Ina, bibik bisa, kan?" Hisyam beralih meminta bantuan wanita paruh baya itu.


"Tuan ini bagaimana, ada yang muda malah mengajak yang tua, kenapa tidak mengajak nona Alia saja, tuan...."


"Hm.... bagaimna menurutmu, apa tidak apa-apa jika orang-orang mengenalimu"


Hisyam meminta pendapat Alia, takut jika Alia belum siap mendapat kritikan masyarakat terkait video-nya yang sudah tersebar luas.


"Ehm....! Sekarang mama baru merasa kalau kalian adalah pasangan suami istri yang begitu mengkhawatirkan satu sama lain" Godaan Farida


membuat pipi Alia bersemu marah merah layaknya kepiting rebus.


"Kalau begitu bersiaplah, kita akan membawa anak-anak keluar sore ini" Ujar Hisyam sebelum kembali ke ruang kerjanya.