
Entah berapa jam telah berlalu, tapi suasana sesak di depan kamar Hisyam masih terus berlanjut.
Aku yang sesekali kembali memeriksa keadaan sekitar masih setia menunggu diujung lorong, namun keadaan tak kunjung kembali normal.
Kini aku harus menyerah kalah dan akhirnya beredar saat perut ini terasa meronta, mungkin menagih untuk segera di isi.
Ku perhatikan keadaan sekitar, kemudian beralih memeriksa isi dompetku.
Takut uang yang ku miliki tak cukup untuk memesan makanan di kantin rumah sakit yang setara dengan restoran mewah itu, akupun memutuskan untuk memilih sehelai roti dan sebotol air mineral untuk makan siang yang hampir menjelang malam.
Bukannya Hisyam tak memberiku kekuasaan atas semua isi tabungan yang ku pegang, tapi aku tak berani membelanjakannya takut jika suatu saat nanti tuan Hisyam akan mengungkitnya dan memintaku untuk mengembalikannya.
Baru saja aku ingin fokus dengan makan siangku tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah layar yang menampilkan sosok pria yang sedang menjawab satu persatu pertanyaan dari para wartawan.
Awalnya aku tak tertarik untuk menyimak, karna ku pikir mereka hanya akan membahas tentang bisnis dan bagaimana ia bisa sampai berada di rumah sakit ini.
Tapi lama kelamaan para reporter mulai menanyakan kehidupan pribadi hingga sosok wanita yang sekarang dekat dengan putra tertua keluarga Osmand itu.
Aku meletakkan kembali roti di tangan dan mulai fokus, tak sabar ingin mendengar jawaban dari mulut Hisyam.
"Memang sulit menjadi salah satu orang terpenting di negara ini, bukan begitu, nona?"
Ucap seorang pria yang tanpa ku sadari telah berdiri di hadapanku dengan mata yang juga mengarah pada layar yang sedang menampilkan pemberitaan suamiku.
"Bisakah aku duduk di sini?" Tanya pria tadi sambil mengulum senyum ramah.
Meski masih keberatan, tapi aku tetap mengangguk, mengingat dia sudah membawa makanannya, di tambah lagi begitu sulit untuk mencari meja kosong di tempat ini.
"Silahkan...."
Ucapku kemudian, dan tanpa menunggu lagi pria itu mengulurkan tangan setelah mengambil posisi duduk di hadapanku.
"Hai, aku Adrian"
"Alia..."
Dengan cepat ku tarik tangan dan kembali menggenggam botol mineral yang sejak tadi belum sempat ku nikmati isinya.
"Bukankah begitu sulit berada di posisinya"
"Apa maksud anda?"
Tanyaku saat mendengar cara bicaranya yang tak jauh beda dari sebuah drama series, di mana penontonya harus di buat penasaran untuk menunggu di episode selanjutnya.
"Oya, ini kartu namaku"
Ucapnya sembari mengulurkan sebuah kartu nama padaku.
"Reporter?" Tanyaku dengan tatapan kaget.
"Benar, dan aku salah satu dari mereka" Dia menunjuk ke arah layar yang masih menampilkan pemberitaan tentang Hisyam.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
"Tentang apa?" Aku kembali bertanya.
Merasa perbincangan yang Adrian maksud ada kaitannya dengan kehidupan pribadi Hisyam membuatku tak nyaman, atau lebih tepatnya takut jika aku malah semakin memperburuk keadaan.
"Hallo..."
"Oh, maaf tapi saya harus pergi, permisi" Jawabku sembari mengalungkan tas ke pundak, ingin segera beredar dari tempat itu.
"Sepertinya kamu sudah tau apa yang ingin ku bicarakan"
Aku terdiam mendengar tuduhan sang reporter.
"Argh, aku lupa dia seorang reporter, dia tentunya sangat lihai memojokkan seseorang" Gumamku dalam hati.
"Ehm..." Aku mencoba sesantai mungkin, meski sebenarnya aku merasa sangat tak nyaman dengan situasi ini.
"Memangnya apa yang ingin anda bicarakan dengan saya? Kita bahkan tidak saling mengenal"
"Aku mengenalmu, semua orang mengenalmu, mulai dari scandal di kamar hotel hinggalah perlakuan khusus seorang Hisyam Al Jaziri Osmand pada pengasuh muda sepertimu, bukankah hal itu cukup untuk membuat para reporter tertarik untuk mengenalmu lebih dekat?"
Sindiran sang reporter sukses membuat kakiku melemah, hingga aku harus bertumpu pada tangan yang mencengkram kuat di sandaran kursi.
"Apa maumu?"
"Bisakah nona duduk dulu"
"Gleek!" Aku menelan saliva.
Terjebak dengan kata-kata sendiri, membuatku semakin terpojok dan tak punya pilihan lain.
Sementara itu, tanpa di minta Adrian pun mengeluarkan peralatannya berupa kamera, note book dan tak lupa juga alat perekam yang tentunya sangat penting bagi seorang reporter seperti Adrian.
"Huh! Jadi anda sudah mempersiapkan semuannya sebelum anda berpura-pura menghampiriku"
Ujarku tak percaya, namun Adrian hanya tersenyum, seakan membenarkan perkataanku.
"Bisa kita mulai sekarang?" Tanyanya sembari mengarahkan kameranya padaku.
"Hm! Aku bahkan belum memberimu ijin untuk merekam pembicaraan ini!" Ucapku tak terima.
"Tapi kamu tak punya pilihan lain, kan" Ucapannya semakin membuatku kesal.
Aku bangkit tak perduli lagi bagaimana tanggapannya tentang diriku.
Toh, mereka pun sudah menganggap buruk tentang diriku di masa lalu jadi, ku pikir tak ada gunanya lagi untuk membela diri sekarang.
"Nona Alia! Apa kamu akan terus membiarkan...."
"Maaf, tapi saya rasa, nona Alia tak punya urusan lagi dengan anda"
Suara tegas asisten Davis membuatku menghentikan langkah dan kembali menoleh ke belakang.
Kulihat Davis sedang memegang tangan Adrian dengan rahang yang mengeras.
"Tuan Davis, apakah anda sedang mencariku?"
Aku berusaha mencairkan suasana dan benar saja, Davis benar-benar terlihat marah dan mengerikan.
"Ikut aku!"
Tak butuh waktu lama Davis melerai tangannya dari Adrian dan beralih menarikku hingga aku sedikit terseret mengikuti langkah panjangnya menuju kamar Hisyam.
"Tuan Davis!" Panggilanku tak di endahkan olehnya.
"Lepass, anda menyakitiku!" Ucapku lagi saat Davis semakin mencengkram tanganku.
Tak tahan lagi dengan perlakukan kasar Davis, akupun melepas genggamannya sekuat tenaga.
"Ada apa dengan anda, hah!" Teriakku lantang sembari mengelus pergelangan tangan yang memerah.
"Memangnya apa salahku, sehingga memperlakukanku seperti ini?"
"Apa kamu sadar semua hal buruk yang terjadi pada bisnis tuan Hisyam berawal dari sikap kekanak-kanakanmu itu!"
"Tapi aku hanya...."
"Hanya ingin menemui reporter itu? Menciptakan masalah baru lagi?
Cukup Alia! Aku tak akan membiarkanmu menghancurkan kehidupan tuan Hisyam lagi!" Davis mempertegas.
"Dan satu hal yang harus kamu ingat, ada hal yang tidak perlu untuk di ungkapkan agar tak memperburuk keadaan.... dan saya harap nona Alia bisa memahami ucapanku ini"
Pesan Davis sebelum ia banar-benar berlalu pergi meninggalkanku seorang diri.
-
Entah berapa lama aku termenung memikirkan kata-kata Davis tadi, meski logikaku mengatakan itu bukan masalah dan aku baik-baik saja.
Tapi, tetap saja ada rasa takut dalam diri yang membisikkan bahwa suatu saat nanti aku akan merasa kecewa dan semua impian kebahagiaanku akan menjadi sia-sia.
Aku berdiri di depan kamar Hisyam, menarik nafas cukup dalam dan menghembuskanya perlahan sebelum akhirnya aku merasa mantap untuk berhadapan dengan pria yang telah resmi menjadi suamiku itu.
Ku lirik setiap sudut ruangan yang tampak kosong itu, tampak berantakan, tapi aku cukup lega karna tak ada siapapun yang akan menyadari kekusutan di hatiku, termasuk Hisyam yang sudah tertidur pulas di ranjangnya.
Ku baringkan tubuh lelahku di atas sofa namun mata ini sama sekali tak ingin terpejam, akhirnya ku putuskan untuk mengguyur tubuhku di bawa pancuran shower.
Meski tubuh ini terasa jauh lebih segar tapi pikiranku masih tetap kusut, semua itu karna kata-kata Davis cukup mengganggu pikiranku.
Setelah mengenakan pakaian, aku pun keluar dengan Handuk yang masih melilit dikepala.
Ku dekati Hisyam yang tengah berbaring di ranjangnya, rasanya aku ingin sekali menanyakan hal yang sejak tadi mengusik pikiranku.
"Apakah tuan juga menyalahkanku atas semua kekacauan ini?
Apakah salah jika aku ingin di akui sebagai seorang istri?
Dan, apakah pantas aku bersanding dengan pria hebat seperti dirinya?"
Aku menjerit dalam hati, sebagai wanita yang cukup tau diri, aku tak mungkin menanyakan hal memalukan ini padanya.
Meski ku tahu aku berhak dan memiliki hak untuk menuntut kepastian darinya.