
"apakah kau memiliki hubungan khusus dengan tuan Dean?." Mega melempar pertanyaan pada Dira setelah Dean, Deva dan Semmy telah menghilang dibalik pintu.
Dira mengerutkan dahinya "apa maksud anda nona?, hubungan saya dan tuan Dean sama seperti anda dan nona Amel, hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih."
"oh ya?, tapi ku lihat tidak seperti itu, benarkan nona Amel?!." Mega melempar pandangannya pada Amel yang tengah membereskan barang-barangnya.
"emm.. menurutku desain anda tadi cukup bagus, bahkan bisa dibilang lebih bagus dari desain saya, tapi mungkin selera tuan Dean berbeda, setiap orang mempunyai standar yang berbeda-beda, jika tuan Dean tidak puas dengan desain anda, mungkin anda harus bekerja lebih keras lagi." penjelasan yang logis menurut Amel, tidak memihak pada Mega ataupun Dira.
"yah kau benar, aku akan berusaha lebih keras lagi, terimakasih nona Amel." Dira beranjak dari duduknya diikuti El yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"ya, berusahalah lebih keras lagi untuk menggoda tuan Dean." sindiran pedas keluar dari mulut Mega sebelum Dira beranjak dari ruangan tersebut.
"jaga mulut anda nona!, saya dan tuan Dean tidak ada hubungan apapun, ku harap anda mengingat hal itu dengan baik nona Mega. Permisi." dengan perasaan kesal Dira melangkah pergi dengan menggandeng tangan El pelan. Disusul oleh Amel yang ikut meninggalkan ruangan tersebut setelah berpamitan pada Mega.
🍃
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Dira terus saja mengumpat kesal pada Mega yang telah menghina dirinya.
"huh, menyebalkan!, siapa juga yang mau menggoda tuan Dean, dasar!. kalau suka ya kejar saja, kenapa musti memfitnahku!, gak jelas banget.!" Dira membuka pintu mobil untuk El.
"sayang ayo masuk."
"yes mom."
Brakk. Saking kesalnya Dira menutup pintu mobil itu dengan keras, membuat orang yang berada didalamnya terlonjak kaget.
"astaga mommy, kalau kesal tidak begini juga kali.." gerutu El.
Saat Dira membuka pintu, ada seseorang yang memanggil namanya. Dira mengurungkan niatnya.
"El, tunggu sebentar, oke."
"yes mom."
Dira membalikkan bada, ia melihat Amel tengah berlari kecil menuju kearahnya.
"jangan terlalu formal, panggil saja Amel, apakah kau ada waktu luang malam ini?, aku ingin mengajakmu jalan, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu." Amel menyerahkan kartu nama pada Dira yang berdiri didepannya.
"oke, nanti aku akan menghubungimu jika tidak ada kegiatan lain, tapi sekarang aku harus pulang." Dira melirik pada mobilnya.
"ya aku tau, putramu pasti lelah, berhati-hatilah." Dira hanya mengangguk pelan, kemudian masuk mobil dan meninggalkan Amel yang masih berdiri ditempatnya.
🍃
Sementara itu di kantor Dean, Deva tertegun melihat hasil tes DNA antara Dean dan El, ia masih tak percaya jika Dira adalah wanita lima tahun yang lalu, bahkan dari kejadian itu melahirkan satu kehidupan baru, El.
'pupus sudah harapanku, aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi.'
'sekalinya ingin serius menjalin kasih kenapa harus wanita yang sama dengan wanita milik Dean, bahkan mereka sudah mempunyai anak.'
'harus mundur.'
"huh." Deva membuang nafasnya pelan, menepis semua pikiran negatifnya dan mencoba ikhlas dengan takdirnya.
"kenapa Dev?." tanya Dean yang menyadari perubahan pada raut wajah Deva.
"tidak papa."
Semmy menepuk bahu Deva pelan. "aku tau kau memiliki perasaan pada Dira, tapi kau sendiri juga tau bagaimana perjuangan Dean mencari wanita itu selama ini, ku harap kau mengambil keputusan yang bijak Dev."
"Dev, kau..."
"yah, kau benar Sem, aku memang memiliki perasaan pada Dira, tapi kau tenang saja Dean, aku tidak akan mengambil Dira darimu, aku tau bagaimana perjuangan mu untuk mencarinya, tenang saja aku akan membantumu untuk mendapatkannya lagi." Deva memberi penjelasan pada Dean sebelum emosi pria itu meledak.
"kuharap kau membuktikan kata-kata mu Dev, jangan mengecewakanku." Dean menatap tajam pada Deva yang duduk di hadapannya.
🖤