
Alia bergegas menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana.
Setelah mengusir suaminya dengan berbagai cara, Alia akhirnya bisa lepas dari pria keras kepala itu, namun bukan berarti perasaannya sepenuhnya menjadi tenang.
Apa lagi ketika Hisyam sudah bertekad untuk menunggu di mobil dengan cuaca yang sangat dingin seperti itu, tentunya akan membuat hati lembut Alia di hinggapi rasa bersalah.
"Akh! Pria itu benar-benar tau cara membuatku tak bisa tenang seperti ini" Gumam Alia sambil menghentakkan kakinya berkali-kali.
"Menjadi kaum tak enakan itu.... rumit juga, ya?" Sindir Nisha setelah memerhatikan gelagat Alia sadari tadi.
"Kenapa tidak mengajaknya masuk dulu, setidaknya kamu tak akan merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri jika sampai terjadi sesuatu padanya di luar sana"
Alia memanyunkan bibir di sertai helaan berat, ia beralih menatap kaluar jendela, memang benar hujan yang di sertai badai sedang berlangsung saat ini, membuat dirinya semakin merasa bersalah karna tak membiarkan suaminya masuk, setidaknya sampai hujan dan badai di luar sana reda.
"Sudah, tak perlu di pikirkan lagi, nih, aku buatkan hot chocholate" Nisha menyodorkan mug berisi cokelat panas.
"Tumben, aku bahkan tidak memintanya" Tanya Alia asal.
"Agar tubuhmu kembali hangat setelah bersembunyi di luar sana dan membuat kami semua panik mencari keberadaanmu"
"Panik? Apa tuan Hisyam juga sepanik itu?"
Tentu saja pertanyaan itu hanya bersarang di minda Alia dan tak berniat untuk menanyakannya, bisa-bisa Nisha mengejeknya habis-habisan atau bahkan mengadu pada sepupunya apa yang di harapkan dirinya saat itu.
"Maaf, bukan maksudku membuat kalian khawatir, aku hanya tidak ingin merusak makan malammu bersama keluargamu" Alia merasa bersalah.
"Hm.... padahal sebenarnya mereka juga keluargamu dan kita sama sekali tidak tahu tentang itu!"
Nisha terlihat kesal, terlebih lagi saat mengingat dirinya-lah yang begitu antusias menghasut Alia agar meninggalkan suaminya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat kesal?" Alia jadi bingung melihat gelagat Nisha.
"Tau, ah!" Jawab Nisha jengkel dan dengan buru-buru menyesap cokelat panasnya.
"Kasihan Hisyam, dia pasti sangat kedinginan di luar sana"
Sindir Nisha yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Jangan lupa mengunci pintu... god night"
Tambah Nisha lagi, tapi entah kenapa kata-kata Nisha tadi justru semakin membuat perasaan Alia tak karuan.
"Hm!"
Alia lagi-lagi menghela napas lalu meletakkan mug-nya dan kembali menatap keluar jendela.
Bukannya reda, badai di luar sana malah semakin menggila dan petir pun terlihat sesekali mengibaskan cahayanya di kejauhan.
"Duuaarrr!" Suara gemuruh kembali terdengar.
Alia seketika mundur menjauhi jendela dan dengan cepat ia menyambar mug berisi coklat panas yang belum sempat di cicipinya.
Tak ada lagi gengsi, Alia terus berlari hingga ke lantai dasar setelah melihat mobil suaminya yang masih terparkir di depan gedung apartemen dan benar saja di dalamnya ada Hisyam.
Alia berhenti sejenak, bukan karna takut tubuhnya akan basah kuyup, tapi bila mengingat dirinya sendiri yang mengusir Hisyam, membuat egonya kembali tertantang.
"Duaarrr!"
Gemuruh di sertai petir kembali menggelegar, dengan satu tarikan nafas, Alia akhirnya berlari keluar tak perduli lagi dengan gengsi .
Beruntung Hisyam tak mengunci pintu mobilnya jadi ia tak perlu menunggu di luar dan kebasahan.
"Braakkk!"
Hisyam yang baru saja memejamkan matanya tersentak kaget saat Alia membanting pintu dan tanpa di minta wanita itu memilih duduk di sampingnya.
"Alia, wha....what are you doing here? Ini sudah sangat larut" Protes Hisyam sambil memindai tubuh mungil istrinya yang setengah basah.
"A-aku hanya...." Alia tergagap mencari alasan, "Cokelat panas! Ya, Nisha menyuruhku membawakan ini untuk tuan"
Hisyam menaikkan sebelah alisnya, "Really? Kalau begitu kenapa dia tidak mengantarnya sendiri?"
"Um, Nisha sangat lelah mengurus Nathan dan Assyifa sampai tertidur"
Hisyam semakin mengerutkan dahi, "Ckk! Alasan yang tak memuaskan, bagaimana Nisha bisa menyiapkan minuman itu jika ia tertidur" Gumam Hisyam.
"Maksudku, dia sangat lelah jadi tidak bisa mengantarnya sendiri....." Tambah Alia lagi saat melihat raut wajah suaminya yang tak puas.
"Um.... ini minumannya, sebaiknya aku kembali ke atas"
Ucap Alia sembari meraih tangan suaminya lalu memberikan mug berisi cokelat panas itu pada Hisyam, "Selamat malam...."
"Tunggu dulu!" Cegat Hisyam hingga membuat Alia kembali menoleh.
"Apa kamu bercanda! Di luar hujan sangat deras, kamu bisa sakit jika terkena hujan di tengah malam seperti ini!" Protes Hisyam.
"Ta-tapi Assyifa akan terbangun dan mencariku...."
Alia mencari alasan yang logis, pasalnya ia tak begitu yakin jika alasannya tadi membuat Hisyam sepenuhnya percaya bahwa cokelat panas itu inisiatif dari Nisha.
"Tunggu sampai hujan reda dulu, aku berjanji akan pulang setelah hujan reda dan jangan khawatir, aku takkan menemui Assyifa sebelum mendapat ijin darimu"
Alia mempertimbangkan untuk tak kembali ke apartemen, kalau pun ia kembali sekarang, hatinya juga tak akan bisa tenang jika Hisyam masih menunggu di luar dengan cuaca seperti saat ini.
"Pakai ini, ini akan membuat tubuhmu kembali hangat" Ucap Hisyam sembari menutupi tubuh mungil istrinya yang setengah menggigil dengan jas yang sudah tersedia di jok belakang.
"Masih terasa dingin? Pakai ini juga!" Hisyam kembali melepas sweater yang di kenakannya hingga hanya tersisa kaos putih ketat menutupi tubuh bugarnya yang samar memperlihatkan deretan roti sobek di perutnya.
Alia menurunkan pandangannya, "Um, tuan tidak perlu membukanya! Ma-maksudku, ini sudah lebih hangat, tuan pakai saja kembali" Ucap Alia terbata-bata.
Tahu Alia tak nyaman dengan penampilannya, Hisyam pun menuruti keinginan istrinya dan segera mengenakan kembali pakaiannya.
Melihat Hisyam kembali dengan penampilannya semula, Alia pun akhirnya bisa bernapas lega.
Padahal jika di pikir-pikir sudah hampir setahun pernikahan mereka dan sudah beberapa kali mereka tidur sekamar, tapi bukan berarti Alia sudah terbiasa melihat Hisyam seterbuka itu dan sampai saat ini ia masih merasa canggung saat hanya ada mereka berdua di tempat yang sunyi seperti saat ini.
"Huft, ehm!" Hisyam berdehem pelan sebelum membuka percakapan.
"Um, I was thinking to..... give you this" Sebuah paper bag dari jok belakang di raihnya dan meletakkannya di pangkuan Alia.
"Apa ini?" Tanya Alia.
"Itu ponsel untukmu, Nisha bilang dia sangat kesulitan menghubungimu jika kamu tersesat di luar sana, jadi ku pikir ini akan membantu"
Kini giliran Alia yang mengerutkan kening, " Kenapa bukan Nisha sendiri yang memberikannya?" Bisik Alia pelan.
"Ah, sebenarnya itu dari mama, kamu tau, kan, mereka selalu kompak dalam memberi solusi"
"Owh..." Alia mengangguk asal sembari melempar pandangan ke luar jendela.
"Cih! Apa salahnya mengakui jika ponsel itu pemberian darinya" Bisik Alia lagi lalu melirik isi paper bag yang berlogo salah satu merek terkenal itu.
"Aku tidak bisa menerimanya" Alia meletakkan paper bag itu di atas dashboard.
"Apa maksudmu?" Hisyam memutar tubuhnya hingga bisa menatap mata istrinya yang juga menatap serius padanya.
"Dari awal tuan sudah menyuruh orang untuk mengikutiku, kan?" Alia semakin mempertegas asumsinya meski saat itu ia kembali menerima kenyataan bahwa sebenarnya orang itu bukanlah suruhan Hisyam.
"Itu tidak benar, Alia, aku dan mama bahkan baru tahu saat Nisha membawamu datang hari ini, dan yang membuat aku begitu shock, aku sama sekali tak mengetahui kalau selama ini kamu ada di sekitarku dan bahkan sangat dekat denganku...."
"Shock? Apa karna kehadiranku telah merusak suasana hati nyonya Renata!" Sindiran Alia membuat Hisyam menghelah napas cukup berat, entah bagaimana lagi ia bisa meyakinkan Alia tentang perasaannya yang sudah sangat-sangat jelas terpaut pada wanita itu.
"Alia, aku tahu kamu sangat kecewa atas penolakanku saat itu...."
Hisyam menjeda kata-katanya kala menyadari Alia tak nyaman dengan topik itu.
"Um, maksudku adalah...."
"Kalau tuan tidak ingin aku kembali ke apartemen, bisakah tuan membiarkanku tidur di sini sebentar, sampai hujan mereda" Potong Alia.
"Owh, tentu saja.... aku akan membangunkanmu setelah hujannya reda"
Hisyam tak lagi berdebat, melihat Alia kembali bersikap dingin padanya membuatnya terpaksa mengurungkan niat untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Arkh! Bagaimana aku bisa seceroboh ini, dia pasti tak nyaman dan merasa malu jika aku membahas masalah itu lagi"
Hisyam merutuki diri sendiri dengan kebodohannya, memang benar ia selalu menjadi nomor satu jika menyangkut bisnis dan perusahaannya tapi dalam masalah wanita dan perasaan, dirinya bukanlah ahli dalam hal itu, dan sekarang Alia malah kembali menutup dirinya.
Hisyam melirik Alia lagi, deruan napas dari wanita yang memunggunginya saat ini menandakan dirinya harus mencari waktu lagi untuk menyelesaikan masalah perasaannya.
-
Hisyam mengerjapkan matanya malas saat matahari mulai menunjukkan cahayanya.
Menyadari seseorang sedang terlelap di bahunya membuat kantuknya seketika menghilang.
Melihat wajah teduh sang istri sedang tertidur pulas membuat tangannya terulur ingin menyentuh pipi polos tanpa sentuhan make up itu.
Seolah tahu sepasang mata sedang memperhatikan tampilan wajahnya, kulit mulus bak bayi itu semakin menyembunyikan wajahnya dari kilauan cahaya luar.
Hisyam tersenyum gemas melihat tingkah Alia yang semakin menempel padanya.
Tak tega mengusik tidur lelap istrinya, Hisyam pun kembali mengurungkan niatnya untuk menyentuh pipi Alia dan malah menghalangi cahaya yang sempat membuat istrinya merasa tak nyaman.
"Andai aku bisa membuatmu senyaman ini setiap saat, pasti aku tak akan merasa khawatir lagi mengenai apapun"
Asyik menatap pemandangan indah di balik kaca spion, sampai Hisyam tak sadar bahwa ucapannya tadi telah mengusik tidur lelap istrinya.
Alia mengeliat pelan dan perlahan membuka matanya.
Ia lekas membenarkan duduknya setelah memindai sandaran kokoh yang semalam menopang tubuhnya dengan nyaman.
"A-aku...."
"Hish! Tubuhku serasa remuk setelah semalaman berjaga di sini...." Suara Alia tercekat saat dua pria baru saja keluar dari mobil yang juga terparkir di sisi kiri kendaraan Hisyam.
Alia spontan melirik Hisyam yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Apa kamu yakin pria yang kamu lihat semalam benar-benar Hisyam Al Jaziri Osmand!" Bentak seseorang yang berprofesi sebagai wartawan pada teman yang memberinya informasi tentang penampakan Hisyam di gedung apartemen itu semalam.
"Aku yakin aku tidak salah lihat, bahkan tuan Hisyam dan wanitanya itu tampak mengendap-endap, seakan tak ingin siapa pun mengenali mereka"
Ucap si informan yakin lalu kedua pria itu malah bersantai menyesap minuman kalengnya di depan pintu masuk gedung itu.
Melihat betapa santainya dua pria itu membuat Alia mendengus resah sambil menyilangkan kedua kakinya rapat-rapat, dia mendapat panggilan alam seperti biasanya.
Tahu arti dari bahasa tubuh itu, membuat Hisyam memutar otak, tak butuh waktu lama Hisyam pun mulai menyalakan mobilnya setelah mendapat solusi dari masalah yang Alia alami.
"Ma-mau kemana?" Tanya Alia panik, tapi Hisyam hanya fokus menyetir dan mengabaikan pertanyaan Alia.
"Sebentar lagi kita sampai"
Ucap Hisyam setelah terdiam beberapa saat. Dan dengan santai pria itu malah berbelok ke sebuah gedung raksasa berlogo 'O.Z GROUP COMPANY'
"O.Z GROUP?" Gumam Alia bingung.
Melihat papan nama yang terpampang jelas di hadapannya saat ini, membuatnya mengerutkan kening, pasalnya Mall, Hotel, dan bahkan rumah sakit yang pernah menangani Hisyam sebelumnya berlogo sama.
"Daebak! Apa semua gedung di negara ini di memiliki oleh orang yang sama, aku yakin dia pasti tak pernah mengkhawatirkan apapun dalam hidupnya"
Seru Alia tanpa rasa malu dan tak perduli tanggapan Hisyam dengan tingkahnya itu.
"Ehm! Kalau begitu, bukankah istri dari pewaris utama O.Z Grup juga tak perlu mengkhawatirkan tentang apapun?" Pancing Hisyam setelah mematikan mesin mobilnya.
Sementara Alia hanya bisa mengerutkan dahi, tak tahu kemana sebenarnya arah pembicaraan Hisyam.
"Seperti itu, kan, yang kamu maksud?" Tuntut Hisyam lagi namun Alia sama sekali tak mengerti karna ada hal lain yang menuntut agak segera di selesaikan.
"Um.... apa tuan ingin menemui seseorang di dalam sana?" Hisyam mengangguk ragu.
"Kalau begitu, bisakah aku ikut masuk? Aku janji tidak akan menyusahkan tuan, atau kalau perlu, aku bisa berpura-pura tidak mengenal tuan" Tawar Alia lagi.
Belum sempat Hisyam mengiakan, Alia sudah lebih dulu keluar dan mengambil posisi yang agak jauh dari mobil, seolah-olah mereka tak saling mengenal satu sama lain.
Tak menuggu waktu lama Hisyam pun ikut turun lalu mengikuti Alia yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung yang sama sekali tak ia ketahui pemilik sebenar dari gedung itu.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" Seorang pria menyapa dengan sopan.
"Ya, um... bisa tunjukkan toilet-nya?" Tanya Alia tak sabar.
"Maaf tapi, orang yang tak berkepentingan di larang masuk" Cegat pria itu tegas seraya memindai penampilan Alia dari atas hingga ke ujung kaki.
"Berkepentingan? Tapi ini juga sangat...."
Alia menghentikan kata-katanya, menjelaskan situasi yang sedang di alaminya juga tak mungkin, jadi mau tidak mau ia harus meminta bantuan Hisyam yang kini sudah pun berdiri di sampingnya.
"Tuan...." Sapa pria tadi sambil membungkuk hormat, di ikuti semua karyawan yang baru menyadari kehadiran Hisyam di tempat itu.
"Dia bersamaku!" Mendengar ucapan Hisyam membuat pria tadi menatap Alia sekilas kemudian memanggil seorang wanita yang bertugas di meja resepsionis dan membisikkan sesuatu padanya.
"Mari nona...." Ucap seorang wanita setelah mengerti arahan yang di berikan padanya.
"Tapi tuan, aku hanya butuh toilet!" Bisik Alia pada Hisyam, hingga mematik rasa cemburu dan penasaran setiap kaum hawa yang melihatnya.
"Ikutlah dengannya, aku akan menyusulmu nanti"
"Tapi, mereka bisa di percaya, kan?" Tanya Alia ragu, takut kejadian di hotel malam itu terulang kembali.
Hisyam mengangguk lembut, "Don't worry, aku akan menemuimu setelah urusanku selesai"
"Janji...."
"I promise" Jawab Hisyam lalu memerintahkan dua karyawan tadi mengantarkan Alia ke ruangannya.