Single Parents

Single Parents
Pemakaman



"meninggal."


"apa?!." tak percaya. Tentu saja, baru kemaren Dira menemani sang mama, kini ia mendapat kabar mamahnya meninggal?.


"gak! gak mungkin!." sangkal Dira


"Dir.."


"mama gak mungkin ninggalin aku kan Cla?!." tanpa mempedulikan Clara, Dira langsung saja melewatinya.


Ia berdiri disamping brangker sang mama yang telah terlelap dengan wajah yang pucat dan tangan sudah terlipat didada.


"mah.." disentuhnya tubuh sang mama yang mulai mendingin.


"mamah.." sedikit mengguncang, panik? tentu saja.


"mamah bangun!." Dira tak sanggup lagi membendung air matanya. Tanpa permisi air mata itu lolos dari pelupuk mata Dira.


Berkali-kali Dira mengguncang tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Tak henti-hentinya ia menyuruh sang mama bangun.


"mamah bangun mah.. jangan tinggalin Dira.."


"bangun mah!."


"Dira udah dapetin uangnya buat operasi mamah. Mamah gak boleh ninggalin Dira kek gini.."


"Dira gak punya siapa-siapa lagi selain mamah, bangun mah.."


"mah bangun.."


"jangan tinggalin Dira.."


Tangis pilu Dira membuat orang yang berada diruangan itu ikut merasa sedih dan sesak didada.


Perlahan tubuh Dira merosot dibawah brangker sang mama.


Clara yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghampiri Dira, membantunya berdiri dan mencoba menguatkan Dira agar ikhlas melepas sang mama.


"yang sabar Dir.."


"kamu gak sendiri, kan masih ada aku." direngkuhnya tubuh lemah Dira kedalam pelukannya. Mencoba menyalurkan ketenagan untuk sang sahabat.


"om turut berduka cita nak, kamu yang sabar ya.. jangan merasa sendiri, masih ada kami yang menyayangimu." om Arya mengusap pucuk kepala Dira dengan penuh kasih.


Setelah berucap demikian, om Arya menyuruh dua perawat yang sejak tadi ada diruangan itu untuk membawa mayat mamah Dira keruang khusus untuk dibersihkan.


🏣


🏣


🏣


Kini rumah kecil yang biyasanya sepi tanpa kehidupan itu terlihat ramai.


Tiba saatnya jenazah sang mamah dikebumikan.


Isak tangis Dira kembali pecah. Clara yang sejak tadi berada disamping Dira mendampinginya, mengusap pelan bahu Dira.


"ikhlasin Dir.. biar mamah kamu tenang dialam sana.." Dira mengangguk pelan dalam rengkuhan Clara.


Satu persatu para pelayat pamit undur diri. Tak terkecuali Clara.


"jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, oke!, besok aku kesini lagi." pesan Clara sebelum ia pergi tadi.


Kini rumah kecil itu kembali sepi, bahkan terasa sangat sepi.


Kenangan-kenangan bersama sang mama kini berputar-putar dalam memori otaknya.


Dira mengambil salah satu bingkai foto. Diusapnya perlahan. Kembali buliran kristal lolos dari pelupuk mata Dira.


"mamah, papah, adek.. kenapa kalian begitu cepat ninggalin Dira?!."


"bahkan adek saja belum sempat melihat dunia."


"rasanya Dira pengen nyusul kalian aja.."


"Dira gak punya siapa-siapa lagi disini mah, pah, adek.."


"padahal Dira udah ngelakuin apa saja buat bisa nyelametin mamah, tapi mamah tetep aja niggalin Dira."


"apa mamah kecewa sama Dira, karena Dira udah menjual tubuh Dira?."


"tapi itu semua Dira lakuin buat nyelametin mamah, Dira gak mau kehilangan mamah."


"tapi apa?, pada akhirnya mamah juga ninggalin Dira."


"pasti mamah kecewa sama Dira ya karena Dira gak bisa jaga kehormatan Dira sendiri?, makanya mamah memilih pergi menyusul papah sama adek kesurga dari pada sama Dira disini!."


"apa Dira ikut nyusul kalian aja?."


"dosa Dira udah banyak mah, dengan Dira bunuh diri apakah Dira bisa nyusul kalian kesurga?, pasti enggak kan!. Dira pasti akan keneraka mah, pah, karena Dira bukan orang baik seperti mamah dan papah."


"dan Dira akan menjadi orang baik dulu biar bisa menyusul mamah, papah dan adek kesurga."


"Dira sayang kalian!." Dira mencium bingkai foto yang telah terbanjiri dengan air matanya.


Cukup lama ia menciumnya sebelum ia meletakkan kembali foto itu pada tempatnya.


😭


😭


😭