Single Parents

Single Parents
URING-URINGAN.



Di taman, Davis menghampiri Hisyam yang tengah asyik menuntun Ozan, berjalan di atas rerumputan sambil menjawab setiap celotehan putranya.


Sadar atau tidak, kini Davis sedang berjalan mengekorinya sambil memikirkan kata untuk memulai pembicaraannya dengan sahabatnya.


"Kenapa kamu tidak mencoba membujuknya, ini malah ikut ikutan..." Ucap Davis tiba-tiba.


"Aku punya alasan untuk itu" Jawab Hisyam tanpa memandang lawan bicaranya.


"Bukankah selama ini kamu selalu antusias jika itu mengenai pekerjaan, party mewah bahkan semua hal yang berbau formal, tapi kali ini kamu bahkan tidak berusaha, kamu banar-benar sudah berubah"


Jelas Davis geram, kini pria itu berdiri di samping Hisyam dan menyelaraskan langkahnya dengan sahabatnya itu.


"Aku tidak berubah, aku cuma tak ingin membebani wanita itu lagi, selama ini aku selalu berpikir buruk tentangnya, bahkan berusaha membuatnya tak nyaman bekerja disini..."


Hisyam menghentikan langkahnya seraya menghela napas beratnya, kali ini pria itu kembali menyesali perbuatannya.


"Aku berharap kamu bisa mengerti situasinya, aku cuma berusaha menebus kesalahanku padanya, mungkin dengan cara ini aku bisa membalas apa yang di lakukannya untuk putraku, hingga Ozan bisa sehat seperti sekarang ini, karna ketulusannya"


"So, bagaimana dengan kesepakatanmu dengan tuan Lee, apa kamu akan mengingkarinya, mereka tak akan tinggal diam?"


Tanya Davis resah, akhir-akhir ini dia merasa bosnya sedikit berubah, apalagi dalam hal pekerjaan, pria itu terlihat lebih santai dalam menghadapi setiap masalahnya.


Hisyam terdiam sejenak mendengar pertanyaan asistennya, hingga ia berbalik menghadap sahabatnya.


"Semua ini terjadi karna amarahku pada gadis indo itu yang sebenarnya hanya salah paham..."


Ungkap Hisyam sambil menatap nanar sahabatnya


"Sorry buddy, i didn't mean to..."


Davis merasa bersalah telah menyalahkan sahabatnya.


"Don't worry, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Mr Lee dan maaf telah menempatkanmu dalam situasi ini"


Ucap Hisyam sambil menepuk bahu Davis sebelum meninggalkan sahabatnya seorang diri.


Sebelumnya.


Alia berlari kecil menuju taman belakang mencari keberadaan bosnya, namun langkahnya terhenti saat melihat dua pria itu terlihat serius membicarakan sesuatu hingga tak menyadari kehadirannya di seberang kolam


Alia kembali melanjutkan langkahnya saat merasa perbincangan dua pria itu sudah berakhir, hingga Hisyam terlihat ingin beranjak dari tempat itu.


Hisyam menghentikan langkahnya saat Ozan yang berada dalam gendongannya seakan tak ingin berajak setelah melihat pengasuhnya berdiri tak jauh dari tempatnya.


Hisyam menatap sesaat ke arah Alia dan dengan ekspresi datarnya pria itu kembali mengatur langkahnya.


Sedang Alia yang merasa di abaikan segera mengayun langkah agar tak tertinggal jauh di belakang.


"Apa tuan menolak undangan itu karna aku? Aku akan pergi!"


Teriak Alia dari belakang, sehingga membuat Hisyam menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pengasuh itu.


"Don't worry about that, semua ini tak ada kaitannya denganmu..."


"Aku akan pergi ke pesta itu"


Sejenak terdiam, pengasuh itu sekali lagi mengutarakan keputusannya dengan jelas, sehingga pria itu kembali menghampirinya yang juga sedang berjalan ke arahnya.


"Hm... are you sure? Aku tahu kamu tidak nyaman dengan situasinya nanti"


"Aku memang tak nyaman dan tak terbiasa dengan suasana seperti itu, tapi, pada akhirnya aku juga harus mengatasinya"


Tantang Alia dengan penuh tekad.


"Hm... baiklah jika itu maumu! bersiaplah kita akan berangkat beberapa jam lagi"


Jawab Hisyam yang sudah kembali memunggunginya.


"Baiklah, a...apa! Jadi maksud tuan Davis tadi, kita akan ke pesta malam ini?"


Teriak Alia, ia melongo, kaget saat mengetahui acara yang akan di hadirinya akan di adakan beberapa jam lagi.


Sedang Hisyam yang terlihat santai mulai mengatur langkah seraya mengukir lengkungan tipis, melihat tingkah Alia yang terkadang absurd.


"Apa itu, apa pria itu baru saja tersenyum? Apa yang di katakan nyonya Farida memang banar"


Davis tergelak lucu, tak percaya Hisyam si muka datar bisa tersenyum semanis itu.


"Whoa...! Apa penawar yang di maksud nyonya Farida adalah pengasuh itu"


Seketika ia teringat nasehat nyona Farida saat mereka bertiga masih mengayam pendidikan di negeri kelahiran tuan Osmand


"Wanita yang baik bisa jadi penawar bagimu tapi wanita yang buruk akan jadi penyakit yang bisa menggerogoti tubuhmu"


Begitulah pesan nyonya Farida, yang telah memperlakukan dirinya dan Daniel layaknya seorang anak kandung.


"Tuan! Ah... dia bahkan tak mendengarku sama sekali, apa yang harus ku lakukan, aku bahkan tak punya apa-apa yang layak untuk di gunakan..."


Alia bergumam sendiri saat Hisyam tak mengendahkan teriakannya, hingga pandangannya tertuju pada Davis yang sedang berjalan menghampirinya.


"Hei, tunggu! tuan bisakah kita bicara..."


Alia menghentikan pertanyaannya saat Davis tiba-tiba menerima panggilan telepon yang sebenarnya hanya akal-akalan saja agar wanita itu tak berubah pikiran lagi.


"Halo, benar nyonya Sarah, tuan Hisyam dan nona Alia akan datang beberapa jam lagi...


Ne, jeongmal gamsahabnida (terima kasih banyak)"


Ucap Kim Davis dalam bahasa korea, pria itu berlalu pergi, berpura-pura tak mendengar teriakan Alia yang sedang kesal dengan keputusannya.


"Hhuufftt... sebaiknya aku menghindar, sebelum wanita itu kembali merubah keputusannya"


Gumam Davis sembari mengayun langkah cepatnya untuk segera keluar dari mansion itu.


-


Alia masih bermondar mandir di dalam kamarnya setelah melakukan Sholat Dzuhur terlihat pengasuh itu sedang menggigit bibir bawahnya dan kedua tanganya bertengger di pinggangnya, memperhatikan lemari pakaiannya yang hanya beris jeans, dan beberapa kaos.


Wanita itu sekali lagi mengacak rambutnya dan mengeluarkan napas beratnya saat pandangannya tertuju pada rok plisket yang di kenakannya serta sepatu kets yang di pakainya saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumah itu.


Alia melangkah kaluar setelah bosan memerhatikan isi lemarinya yang tak akan berubah dalam sekelip mata.


Dengan langkah gontai wanita itu berhenti tepat di depan kamar bik Ina, dengan posisi menyandarkan kepalanya menghadap pintu, Alia terus menggelengkan kepalanya kesana kemari.


Tanpa sadar bik Ina yang baru saja kembali dari ruang dapur menatap heran si pengasuh yang bertingkah aneh.


"Ada apa denganmu, apa kamu baik-baik saja? Tingkahmu sangat aneh hari ini"


Tegur bik Ina saat Alia terus menggesek dahinya di pintu kamar bik Ina.


"Ah... bik aku dalam masalah besar dan sangat, sangaaat membutuhkan bantuan bik Ina saat ini..."


Alia memohon, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada ia mulai menunjukkan wajah memelasnya pada wanita paruh baya itu.


"Memangnya kamu masih anak kecil! berani beraninya menunjukkan wajah memelasmu itu padaku, selesaikan sendiri masalahmu! Bibik mau sholat dulu..."


Ucap bik Ina sambil mengetuk kepala Alia sehingga pengasuh itu meringis menahan sakit.


"Aaww... bibik!"


Alia merungut sambil mengusap kepalanya, tak peduli larangan bik Ina, pengasuh itu malah mengekori wanita paruh baya itu ke kamarnya dan menungguinya hingga selesai Sholat.


-


Hisyam mengetuk pintu kamar Alia berkali-kali namun tak mendapat jawaban dari dalam.


Dengan terpaksa pria itu membuka pintu secara perlahan dan mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru yang tampak kosong.


Lama mengetuk pintu kamar mandi, namun tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan di ruangan itu, hingga ia mendekat ke arah tempat tidur yang sedikit berserakan oleh beberapa pakaian di atasnya.


Di dekatinya lemari yang sedikit terbuka, menelisik setiap isinya termasuk sepasang sepatu kets usang yang tersusun rapi di dalam.


Hisyam mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang amat menyita perhatiannya, di raihnya sebuah bingkai, meski telah di hancurkannya, bingkai itu masih terlihat utuh dengan bantuan selotip untuk merekatkannya.


"Huft... aku telah melakukan banyak kesalahan padamu..."


Bisik Hisyam sambil menatap sendu bingkai yang pernah di rusaknya suatu ketika dulu.


Puas memandangi bingkai yang berisi foto Alia bersama putrinya, pria itu pun kembali meletakkan satu-satunya kenangan yang bisa di pandang dan di sentuh pengasuh itu saat wanita itu merindukan malaikat kecilnya.


Pria itu keluar dari kamar Alia dengan rasa bersalah dan tanpa sengaja ia hampir saja menabrak bik Ina yang baru saja keluar dari kamarnya setelah selesai mejalankan sholatnya.


"Aduh! Tuan, apa yang tuan lakukan di tempat ini?"


Tanya bik Ina heran, karna sangat jarang Hisyam masuk ke tempat iry, kecuali ada keperluan yang mendesak untuk di perintahkan, itupun dengan bantuan asisten Davis.


"Aku ke sini ingin menemui gadis indo itu, apa bibik melihatnya?"


Tutur Hisyam dengan nada ragu, takut bik Ina malah mengejeknya.


"Ah... dia di kamar bibik, wanita itu tertidur saat menunggu bibik sedang sholat, katanya mau minta bantuan...


Bibik juga heran, apa yang terjadi padanya, dari tadi pagi nona Alia terlihat aneh dan agak uring uringan, belum sempat bibik tanyain, eh dianya malah tertidur"


Jelas bik Ina panjang lebar, namun nadanya sedikit turun agar wanita yang sedang tertidur pulas di dalam kamarnya tak terganggu dengan obrolan mereka.


"Hm... baiklah, bangunkan dia sejam lagi, aku akan menunggunya di kamar Ozan"


Pesan Hisyam, sebelum berlalu pria itu melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka, hingga ia bisa melihat, Alia benar-benar sedang tertidur pulas di kamar itu.