Single Parents

Single Parents
BERHARAP ADANYA CINTA.



Aku mengeliat cukup pelan, tidur di sofa membuat pergerakanku begitu terbatas.


Dengan mata yang masih terpejam, aku membalikan tubuh agar rasa kebas di sisi kanan sedikit meregang.


Karna terasa begitu nyaman, membuatku semakin membenamkan wajah pada sandaran sofa yang terasa hangat menentramkan jiwa ini.


Entah berapa lama aku meresapi momen nyaman itu, hinggalah terasa ada yang janggal kala aroma mint yang tadinya samar kini semakin menusuk ke indera penciuman.


Kuhirup dan raba sofa empuk yang nyaman ini, namun masih tak kutemukan kemiripan dari benda itu.


Segera ku bulatkan mata saat tangan ini menyentuh bulu kasar yang menusuk jemari.


"Astaghfirullah!!"


Dengan spontan aku segera duduk dan hampir terjatuh ke lantai.


Beruntung tangan kekar tuan Hisyam dengan reflek meraihku dan menarikku kembali ke dalam pelukannya dan untuk sepersekian detik kami saling bertatapan.


Kami berpandangan cukup dekat, hingga nafas tuan Hisyam terasa hangat menyapu wajah polosku.


"Ke-kenapa aku bisa ada di sini?"


Kata-kata itu spontan leluar dari mulutku sementara degupan jantungku semakin tak beraturan hingga terasa akan copot dari tempatnya.


"Kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam?"


Aku menggeleng, "M-memang apa yang terjadi?" Tanyaku bingung.


"Bukankah kamu sangat kedinginan? Aku pikir kamu sengaja tidur di sini karna kedinginan"


Tuan Hisyam sepertinya sengaja ingin mengerjaiku lagi.


"Ma-maksud tuan, aku sendiri yang datang dan ikut tidur di ranjang ini?"


"Bukan itu maksudku, jangan salah paham dulu" potong Hisyam sambil membekap mulutku yang tak bisa berhenti bicara, mungkin karna terlalu gugup.


"Oh, maaf" Hisyam segera menarik tangannya dari mulutku, meski begitu kami masih dalam posisi yang begitu dekat tak berjarak.


"Sebenarnya aku yang membopongmu, maaf, tapi kupikir kamu sedang kedinginan, jadi aku terpaksa...."


"Itu cuma alasan tuan saja, ingat terakhir kali tuan mengatakan aku mengalami sleepwalking" Ungkitku.


"Um, itu.... terserah padaku! Saat itu kan, aku masih majikanmu" Hisyam berusaha membela diri.


"Lalu, bagaimana dangan sekarang?" Pancingku dengan raut wajah serius.


"Um, itu...."


Hisyam terdiam, tak melanjutkan kata-katanya lagi, bahkan rangkulan tangannya kini turut menjauh dari tubuhku, padahal aku ingin sekali mendengar jawaban dari pertanyaanku itu.


"Wow! Ehm.... sorry! But, we didn't see anything!"


Teriak nyonya Farida yang tiba-tiba muncul sambil membelakangi kami, tak lupa pula ia menutupi mata Ozan dan Assyifa.


"Mah! I-ini tidak seperti yang mama pikirkan" Ucapku gugup, berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"It's okay, darling.... we can wait!" Ucapan nyonya Farida terdengar seperti sedang menggodaku.


Mungkin mertuaku itu berpikir kami sedang melakukan hal yang....., mengingat kami berdua masih di tempat tidur dan masih dalam balutan selimut yang sama.


"Argh....! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ucapku sambil melirik Hisyam yang tampak biasa saja, padahal situasiku sekarang sudah begitu panik.


Tak mendapatkan solusi dari Hisyam, akhirnya aku berlari ke kamar mandi dan merutuki diri di hadapan kaca, hingga akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang baru saja ku lewatkan.


"Handuk ini?" Ku raih handuk yang masih menutupi kepalaku dan seketika aku teringat kata-kata Hisyam tadi.


"Jadi semalam, tuan Hisyam benar-benar berpikir kalau aku hanya kedinginan? Dan, memang tak ada maksud lain?" Gumamku sambil menggigit bibir.


"Argh! Aku salah paham lagi"


Lagi-lagi aku kecewa dengan diri sendiri, kenapa aku terus berharap bahwa kata-kata asisten Davis semalam tidak akan berlaku dalam hubungan kami.


Padahal semuanya sudah sangat jelas, tuan Hisyam bahkan tak ingin menjawab, kala ku tanyakan apa perbedaan hubungan kami dulu hingga sampai saat ini aku telah resmi menjadi istrinya.


"Tok.... tok.... tok....!" ketukan di pintu membuatku kembali ke alam sadar dan segera keluar setelah menghela napas cukup dalam.


"Ma-mama?" Ucapku kecewa setelah mengetahui sosok yang ada di balik pintu bukanlah yang ku harapkan.


"Alia, Kamu tampak pucat sayang, ada apa, nak?" Tanya nyonya Farida sambil menempelkan tangannya pada pipiku.


"Apa tadi.... mama membuatmu kaget? Mama minta maaf, ya, mama janji, setelah ini mama akan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum...."


"Mah, bisakah mama...."


"Oke, oke, mama mengerti, mama kan juga pernah muda"


"Mah...."


"Oke! Hm... by the way, im verry verry happy for you" Bisik nyonya Farida sebelum membibingku keluar dari kamar mandi.


-


Aku dan mama keluar beriringan, di sofa, tuan Hisyam dan dua sahabatnya sedang berbincang, entah apa yang mereka bahas.


Namun seketika Davis senyap saat kami berdua ikut duduk di antara mereka, hingga mama yang sedikit merasa janggal segera mencairkan suasana.


"Um, Daniel, bagaimana keadaan Hisyam hari ini, apa dia sudah bisa pulang?"


Tanya mama sembari mengusap rambut Assyifa, sementara Ozan bergelayut manja di pangkuanku.


"Benar, aunty, Hisyam sudah boleh pulang hari ini"


"Syukurlah...."


Mendapat tatapan aneh dari Hisyam, membuatku sadar, Davis tak senang dengan hal itu.


"Alia, mau kemana, sayang?" Tanya mama yang tampak heran melihatku tiba-tiba ingin beranjak.


"Um... aku harus mengemasi barang-barang dulu, bukankah tuan Hisyam sudah bisa pulang hari ini" Ucapku beralasan sambil mendudukkan Ozan di samping papanya dan segera berlalu.


-


Aku mengeluarkan pakaian yang akan di kenakan tuan Hisyam dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Sembari mengemasi pakaianku ke dalam mini koper, pikikiranku tak henti-hentinya mengingat bagaimana sikap asisten Davis padaku hari ini, di tambah lagi kata-katanya semalam membuatku semakin bingung harus bersikap seperti apa pada Hisyam setelah ini.


Kutarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, sepertinya ada yang terluka di dalam sana, namun aku berusaha untuk tak menanggapinya.


Mungkin memang sebaiknya jika aku mengakhirinya sekarang, sebelum perasaan ini semakin dalam dan susah untuk ku kendaluikan.


Lagi pula, apa yang ku harapkan dari pernikahan seperti ini, bukankah dari awal kami sudah sepakat untuk menjalaninya demi anak-anak?


Ah, kepalaku mulai pusing memikirkan masalah ini, meski perasaan ini sudah benar-benar nyata, tapi apa yang bisa ku lakukan, bak kata pepatah.


"Maksud hati ingin memeluk gunung tapi apakan daya jika tangan tak sampai"


"Hah, kisah cintaku begitu tragis dan mengenaskan" Ejekku dalam hati.


Dan dengan kata-kata puitis aku berusaha menyadarkan diri sambil mengelengkan kepala berkali-kali.


"Ada apa denganmu?" Suamiku itu tiba-tiba muncul dan mengagetkanku dengan suara datarnya.


"Oh, bu-bukan apa-apa, tuan kenapa kesini?" Tanyaku cengengesan.


"Aku ingin mengambil pakaianku, apa sudah kamu siapkan?"


Aku mengangguk, "Mm, sudah" Jawabku ragu, takut pilihanku tak sesuai dengan seleranya.


"Baiklah, bawalah ke dalam"


"Ke-dalam?"


Tanyaku tak mengerti, masa iya pekerjaan semudah itu harus aku juga yang melakukannya.


"Hm... bahkan sampai detik ini dia masih saja menganggapku sebagai pelayannya!" Gumamku dalam hati.


"Tunggu apa lagi! Tidak mau membantuku! Hm, aku ada di rumah sakit ini juga karna dia!"


Ungkitnya sebelum berlalu tanpa membawa bajunya ke kamar mandi, gerutunya juga terdengar jelas di telingaku, hingga dengan terpaksa aku harus mengikutinya ke dalam.


"Tunggu apa lagi, apa kamu juga ingin menemaniku berganti pakaian?"


Ujarnya sambil membuka kancing piyama yang di pakainya hingga memperlihatkan dada bidangnya yang berotot.


"Um.... a-aku akan menunggu di luar, tuan bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu" Ucapku sebelum bergegas meninggalkannya seorang diri.


Di luar terdengar riuh, tawa dan candaan Dokter Daniel yang memang memiliki karakter yang ceria terdengar memenuhi seisi raungan.


Dua perawat yang di tugaskan untuk mengantar Hisyam ke mobil, baru saja masuk sambil mendorong kursi roda.


Selang beberapa menit, Hisyam keluar, pria yang tadinya terlihat brewokan, kini kembali fresh di banding dengan tampilan sebelumnya, bahkan bulu halus yang sempat menusuk jemariku , sudah tak terlihat lagi di wajahnya.


"Benar-benar aneh, masih sempat-sempatnya dia melakukan hal itu saat semua orang sedang menunggunya di sini, dia pikir rumah sakit ini punya dia, apa!" Cibirku dalam hati.


Namun masih tak dapat ku pungkiri pria di hadapanku saat ini telah meruntuhkan keteguhan hatiku yang selama ini menolak keras untuk merasakan cinta lagi.


"Bisa kita pergi sekarang?" Ucapannya seketika membuatku terkesiap.


Ah, aku tertangkap basah saat sedang mengaguminya.


"Silahkan, tuan" Ajak si perawat sembari menyiapkan kursi roda untuk suamiku.


"Akhirnya aku bisa pulang, berada di rumah sakit ini hampir saja membuatku stres"


Umapat Hisyam sembari melabuhkan bobotnya di atas kursi roda, namun, baru saja ia ingin memperbaiki posisi duduknya, tiba-tiba Asisten Davis muncul dan mengabarkan bahwa para wartawan sudah mengetahui kepulangan Hisyam dan mereka sedang menunggu di lantai bawah.


"Saya akan membereskan kekacauan ini, sebaiknya kalian keluar setelah keadaan kembali normal" Usul Davis sembari menatap tak senang ke arahku.


"Tidak usah!" Cegatku, "Kami akan keluar terpisah dan, saya akan pastikan tak akan ada satu orang pun yang menyadarinya"


"Tidak! Kamu tak perlu melakukan hal itu, Alia" Potong mama sambil melirik putranya dengan tatapan memelas.


Bukan hanya mama, sebenarnya aku juga berharap tuan Hisyam menolak usulku dan memintaku untuk tetap berada di sisinya.


"Pergilah!" Titah Hisyam tanpa melirikku sedikit pun.


"Hisyam!" Protes mama. "Mama juga ikut dengannya!"


"Mom! Jika mama ikut, orang-orang akan lebih mudah mengenali kalian"


Mama terdiam, sepertinya ancaman mama tak berpengaruh bagi pria seegois tuan Hisyam.


Tak ingin perdebatan antara ibu dan anak itu semakin berlarut, aku pun segera meraih tangan mama sambil menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa aku akan baik-baik saja.


"Tapi, Alia...."


"Alia dan Assyifa pergi dulu, ya, mah"


Pamitku, sambil mengarahkan Assyifa untuk menyalami nyonya Farida.


Tapi saat kami ingin pergi, Assyifa tiba-tiba beralih mendekati Hisyam dan mencium tangan papanya penuh takzim.


"Wait for me in the car, oke" Pesan Hisyam pada Assyifa kemudian membalas ciuman Assyifa di ubun gadis kecilku itu.


Assyifa berlari anak ke arahku namun tak segera ku sambut putri kecilku itu karna aku harus menyapu cairan basah pada pipiku saat menyaksikan momen haru tadi.