
Hisyam melirik tajam ke arah Alia yang masih memerhatikan Adam secara diam-diam lewat kaca spion.
Dengan kesal Hisyam melajukan mobilnya agar wanita di sebelahnya mengalihkan pandangannya dari pria yang mulai bangkit perlahan dari duduknya.
Huft....
Alia menghela napas leganya, setelah melihat Adam mulai bangkit dengan sempoyongan.
Hisyam yang melihat ekspresi itu tiba-tiba menghentikan mobilnya di pos penjagaan.
Menurunkan jendela mobilnya saat dua bodyguard menghampiri mobilnya lalu membungkuk hormat padanya.
"Cepat bereskan sampah itu! Aku tak ingin melihat dia ada di sini!"
Perintah Hisyam dengan tegas hingga membuat Alia spontan menoleh pria berkaca mata hitam di sampingnya.
"Bereskan? Apa itu artinya dia akan melenyapkan Adam...?"
Batin Alia sambil menatap ngeri pria yang ada di sampingnya.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu, kamu tidak rela, jika aku melakukan hal buruk padanya, apa kamu masih mencintainya?"
Hisyam melontarkan pertanyaan dengan nada sinis pada Alia tapi wanita itu hanya terdiam seraya melempar pandangan ke arah lain.
Menurutnya tak ada gunanya menjawab kata-kata Hisyam yang akhirnya akan menyakitkan hatinya saja.
"Kenapa kamu diam saja? Bukankah itu kenyataannya, itu sebabnya kamu melindunginya tadi!" Alia masih terdiam.
"Hm... apa kamu benar-benar sepolos itu, Alia? Tidakkah kamu punya dendam sedikitpun atas semua perlakukannya padamu!"
Lontar Hisyam dengan begitu geram melihat kenaifan yang di tunjukan oleh Alia.
"Tuan benar, aku memang naif, persis seperti yang di katakan mama padaku , aku bahkan tak bisa melakukan apa yang benar-benar ku inginkan....
Tuan pasti tak pernah menyangka apa yang terlintas di benak seorang istri saat mengetahui suaminya menghamili wanita lain? Aku ingin melenyapkan mereka berdua dengan tanganku sendiri!"
Ucap Alia bergetar menahan amarahnya, dan berhenti sejenak, menatap nanar pria di sampingnya, menguatkan hatinya yang begitu terluka saat mengulit semua penghianatan Adam di masa lalu.
"Tapi, lagi-lagi aku tak bisa melakukan hal yang aku inginkan! Apa tuan tahu kenapa? Semua karna Assyifa, kelak ia akan menanyakan tentang ayahnya, lalu aku harus menjawab apa?"
Ucap Alia, dengan suara bergetar wanita itu tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya, hingga ia kembali membuang pandangannya ke luar jendela, berusaha menetralisir rasa sakit yang di rasakannya selama ini.
Keduanya terdiam, Hisyam yang tadi sangat berapi api juga ikut bungkam tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Ia banar-benar tidak menyangka, pengasuh yang selama ini terlihat ceria dan menyebalkan ternyata menyimpan seribu luka yang begitu sulit untuk di sembuhkan.
-
Setelah bebarapa menit berkendara dalam keheningan, tibalah mereka di bandara, terlihat Farhan dan asisten Davis sedang menunggu kedatangan mereka.
Hisyam segera turun dari mobil dan menghampiri Davis yang sedang menunggu dirinya.
"Sorry Davis karna harus meninggalkanmu di saat perusahaan sedang mengalami krisis seperti ini, tapi kamu tahu kan bagaimana mama jika sudah menginginkan sesuatu.... "
"it's okay, nyonya Farida memang selalu antusias jika melibatkan masalah Ozan, lagipula ini ulang tahun pertama Ozan, dan liburan pertamamu setelah sekian lama, so jangan pikirkan tentang perusahaan, just enjoy your vacation"
Pesan Davis sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Thanks, you are the best, Davis! Oya, apa kamu menyiapkan apa yang ku inginkan?"
"Of course" Jawab Davis dan mengeluarka sebuah kotak kecil dan memberikannya pada Hisyam.
"Thanks..."
Ucap Hisyam lalu menyimpannya ke dalam saku jasnya, sedang Davis hanya bisa menautkan alisnya, berharap sahabatnya itu bisa menjelaskan, pada siapa Hisyam memberikan kotak kecil itu.
"Oh come on, ini hanya hadiah biasa... oya, apa kami akan berangkat sekarang dan mama ke mana lagi, aku tak melihatnya di sini?"
Hisyam pura-pura melirik jamnya, berusaha mengalihkan pertanyaan Davis tentang kotak kecil tadi.
Terang Davis, tanpa curuga kalau itu semua rencana nyonya Farida untuk putranya.
"What! Aish... mama berulah lagi, apa dia benar-benar ingin mempemperkenalkan gadis indo itu pada teman-temannya sekarang?" Batin Hisyam.
"Cancel penerbangan ini! Dan siapkan private jet untukku!"
"What! Why?"
Tanya Davis heran mendengar keputusan Hisam yang tiba-tiba.
"Um... kamu tahu kan, bagaimana reaksi teman-teman mama saat melihatku, mereka akan menawarkan anak gadisnya padaku tanpa rasa malu" Hisyam beralasan.
"Itu karna kamu adalah calon menantu yang perfect untuk keluarga sultan seperti mereka"
"Cih... keluarga sultan, tapi mereka lebih rendahnya dari pemilik rumah bordil yang menawarkan gadis-gadis pada pria hidung belang"
Hisyam mencibir kesal, hingga Davis hanya bisa menggelengkan kepala mendengar pendapat sahabat sekaligus atasannya itu.
Sedang kedua sahabat itu asyik berbincang, Farhan mengambil kesempatan itu untuk berbicara, dan menarik tangan Alia sedikit menjauh dari tempat Hisyam berada.
"Alia, perasaan paman tidak enak, nak, apa kamu akan baik-baik saja selama liburan ini?"
Tanya Farhan dengan gusar, apalagi sampai sekarang mereka berdua hanya tahu kalau keluarga Osmand akan berlubur ke sebuah pulau, entah itu pulau bagian mana.
"Paman tidak perlu cemas, Insya Allah, Alia bisa jaga diri, hanya saja...."
Alia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi, mengenai kekhawatiranya pada papanya akhir-akhir ini memang mengganggu pikirannya.
Tapi, tak mungkin ia membebani keluarga tante Rima lagi, terlalu banyak yang mereka lakukan untuk membantu keluarganya selama ini,
"Ada apa, kamu tak apa-apa kan?" Tanya Farhan, melihat Alia sedang melamun.
"Hmm.... Alia, dengarkan apa yang ingin paman sampaikan, tolong bersikaplah dengan semestinya, paman hanya tak mau kamu merasakan sakit yang sama lagi....
Ingat nak, kita tak setara dengan mereka, sekeras apapun kamu berusaha, air tak akan pernah menyatu dengan minyak, maaf mengatakan ini, tapi, paman melakukan ini demi kebaikanmu, kamu mengerti kan maksud paman?"
Sambil menasehati Alia, pak Farhan mengelus pucuk rambut ibu muda itu dengan penuh kasih.
Meskipun Alia hanya keponakan dari istrinya, tapi ia sudah menganggap Alia seperti anak kandungnya sendiri.
Mengingat sebelum Alia beranjak dewasa Alia sempat ikut dengannya selama beberapa tahun, dan barulah ia kembali ke keluarganya setelah mamanya memutuskan untuk menerima lamaran dari Adam.
-
Alia termenung memikirkan kata-kata pamannya tadi, ia terus berjalan mengekori langkah Hisyam dari belakang, tanpa menyadari tak ada nyonya Farida maupun bik Ina ikut bersama mereka.
Ia tercengang saat menyadari dirinya sudah berada di sebuah kabin berukuran 36,24 m panjangnya, dengan tampilan mewah, kabin itu juga menyediakan semua yang di butuhkan saat berpergian.
Sebuah jet pribadi yang memiliki fasilitas lengkap seperti Queen-zize bed, walk-in shower, dan beberapa fasilitas mewah lainnya layaknya hotel berbintang lima.
Karna tak melihat adanya nyonya Farida maupun bik Ina di kabin itu, membuatnya berpikir tentang pesan Farhan padanya.
"Kenapa aku selalu kepikiran tentang perkataan paman tadi, aku bahkan tak menyadari, kalau nyonya Farida dan bik Ina tidak ikut naik ke pesawat ini "
Batin Alia, dengan gusar pengasuh itu terpikirkan satu ide bagaimana caranya agar dirinya bisa memastikan kedatangan nyonya Farida di tempat itu, yaitu menelponnya.
Tapi baru saja ia mengeluarkan ponselnya, terdengar bunyi notifikasi dari benda pipih itu lebih dulu, menandakan dirinya menerima sebuah pesan dari nama yang sangat di kenalnya.
Alia mengurungkan niatnya, jika di ikutkan hati, ingin saja ia menanyakan keterlambatan nyonya Farida saat ini, tapi Hisyam masih terlihat sibuk dengan asisten Davis dan seorang pria yang di yakininya sebagai KRU atau lebih tepatnya seorang pramugara.
Sambil menunggu Hisyam selesai, Alia kembali beralih mengecek pesan yang baru saja di terimanya.
"INI BARU AWAL! KAMU BARU SAJA MENGAMBIL LANGKAH YANG SALAH, ALIA...."
Bunyi pesan dari Adam terdengar seperti ancaman, hingga Alia yang sedang menggendong Ozan seketika terduduk lemah dengan segala kemungkinan di pikirannya.