Single Parents

Single Parents
PERSIAPAN PARTY.



Samar-samar terdengar suara bik Ina membangunkan Alia yang masih enggan membuka matanya.


Lama mengungmpulkan roh yang telah hilang dari tubuhnya, pengasuh itu pun bangun seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang terlihat asing baginya.


"Apa kamu sudah bangun?"


Tanya bik Ina sambil memerhatikan wajah Alia yang masih kebingunga hingga wanita itu hanya menjawab pertanyaan bik Ina dengan anggukan.


"Baguslah, kalau begitu pergilah temui tuan Hisyam, beliau sudah menunggumu sejak tadi"


"Ya, baiklah, aku akan menemuinya seka... apa! Menungguku? Tapi aku bahkan belum siap! Ah... bukannya mendapat solusi, aku malah ketiduran"


Umpatnya pada diri sendiri seraya bangkit dan bergegas menuju ruang kerja majikannya.


Alia menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, hingga Hisyam spontan bangkit dari kursinya dengan wajah kaget.


"You! Ah... kamu membuatku kaget saja, tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu?"


Protes Hisyam kesal, sementara Alia yang baru saja melakukan lari marathon, berusaha menjawab pertanyaan tuannya, meski napasnya terasa hampir terputus.


"Huft... maaf karna mengagetkan tuan, tapi ada sesuatu yang ingin ku beritahu..."


"Menyampaikan apa? Ah... kita sudah terlambat, kamu bisa memberitahuku saat di mobil nanti dan turunlah setelah menemui Ozan aku akan menunggumu"


Sambung Hisyam yang terus memandangi ponselnya saat Davis tak henti-hentinya mengirim arahan padanya untuk segera bertolak.


Tak peduli keberadaan Alia di ruangan itu, pria itu lalu pergi meninggalkan si pengasuh yang sedang mendengus kesal atas sikapnya yang tak memberi ruang padanya untuk mengutarakan keinginannya.


"Tadi asistennya, sekarang bosnya yang mengabaikanku, apa mereka terbuat dari bahan yang sama!


Ups... nyonya Farida akan menguliti aku hidup-hidup jika mendengar umpatanku pada putranya"


Alia terus mengumpat dan akhirnya iapun ikut beranjak dengan kesal menuju kamar Ozan seperti yang di perintahkan bosnya.


-


Hisyam melangkah tegas menuju kamar Ozan saat kesabarannya mulai habis menunggu Alia yang tak kunjung datang nenghampirinya.


Tanpa mengetuk lagi, kali ini giliran Hisyam yang menerobos ke kamar Ozan, beruntung Alia sedang memberi ASI hingga tubuh mungil Ozan bisa menutupi bagian dada si pengasuh yang sedang menyusuinya.


Terlihat pinggang putih milik Alia tanpa lekukan, Hisyam mematung, dengan susah payah ia menelan liur saat sesuatu yang langkah pada pengasuh itu menjadi tontonan gratis di hadapannya.


Terkejut dengan kehadiran Hisyam yang tiba-tiba muncul di hadapannya, pengasuh itu spontan menarik selimut bukan hanya bagian yang terekspose, Alia hampir menutupi tubuhnya hingga kepala.


Melihat hal yang tak sepantasnya ia lihat, pria itu berusaha bersikap biasa, dengan jantung yang seakan ingin meledak Hisyam segera memunggungi Alia berharap tabuhan jantungnya tak di sadari oleh pengasuh itu.


"Ke...kenapa tuan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahu..."


Alia menghentikan aksi protesnya saat Ozan yang terlelap terlihat terganggu dengan suaranya yang sedikit meninggi.


"Ah... aku berpikir kamu tertidur kembali, jadi aku berniat ingin membangunkanmu... baiklah kalau begitu, bergegaslah ke bawah, aku akan menunggumu di mobil"


Perintah Hisyam, tanpa menoleh lagi, pria itu berlalu meninggalkan Alia yang masih bersembunyi di balik selimut.


"Huft... apa dia melihatnya? Aaiishh, seharusnya aku mengunci pintu saat menyusui Ozan"


Gumam Alia sambil memukul-mukul kepalanya saat semua masalah yang di hadapinya seakan membuatnya hilang akal dan hampir gila.


-


Alia melangkah mendekati pintu utama setelah mempercayakan Ozan kepada bik Ina, dengan rasa ragu wanita itu terus menghela napas beratnya sambil merapikan rambut ponytailnya.


Kali ini bukan hanya tuan Micheal atau kepantasannya berada di pesta itu yang ia khawatirkan, tapi sesuatu yang lebih memalukan baru saja terjadi padanya.


Membuatnya merasa ragu dan malu untuk menemui apalagi duduk satu mobil dengan majikannya.


"Aargghh... semua ini membuatku hilang akal dan hampir gila saja!"


Alia kesal sambil memikirkan peristiwa memalukan yang baru saja terjadi pada dirinya.


Sementara di dalam mobil, Hisyam terus mengumpat diri sendiri atas keteledorannya tadi, hingga ia kembali membayangkan apa yang baru saja di alaminya saat wanita yang ada dalam pikirannya kini berjalan mendekati mobil.


Walau hanya mengenakan kaos putih berlengan panjang yang di padankan dengan rok plisket berwarna hitam, wanita itu masih terlihat cantik alami tanpa sentuhan make up sedikitpun di wajahnya.


"Duduklah di sini... di sampingku"


Ucap Hisyam saat melihat Alia hanya berdiri memerhatikan mobil yang di pilihnya tak memiliki jok belakang.


"Masuklah, kita akan terlambat menghadiri pestanya!"


Teriak Hisyam sekali lagi, membuat Alia tak punya pilihan lain selain menuruti perintah majikannya.


Dalam suasana hening, Hisyam men-starter mobilnya dan meluncur meninggalkan pekarangan mansion, Alia tersadar kemudian akan sesuatu yang ingin di sampaikannya sejak tadi.


"Sorry about that i... um..."


"Aku tak ingin membahasnya dan... bisakah kita membatalkan..."


"What! Apa suasana hatimu memang sering berubah-ubah seperti ini? Baru saja kamu memutuskan untuk pergi dan sekarang"


Tanya Hisyam, bingung dengan sikap Alia yang tak konsisten dengan pilihannya sendiri.


"Ck... anak muda sekarang, tak bisa menentukan pilihannya pada satu hal saja, memang apa yang kamu khawatirkan?"


Hisyam berdecak kesal, hingga Alia yang mendengarnya pun hanya bisa meremas ujung bajunya, berusaha merangkai isi hatinya dengan kata-kata.


"Apa tuan Mike juga...."


Alia seketika menghentikan kata-katanya ingin saja ia memberi tahu Hisyam tentang Micheal yang membuatnya risih, namun takut jika Hisyam menganggapnya tak tau diri dan ke geer an menaggapi sikap Tn, Micheal selama ini.


"Apa kamu mengatakan sesuatu, Mike, siapa dia?"


Tanya Hisyam pura-pura tak mendengar, saat Alia menyebut nama Mike pelan dan hampir tak terdengar olehnya.


"Ah, bukan apa-apa, maksudku mewah, ya, pesta itu pasti sangat mewah kan, tidak kah tuan berpikir tempat itu tak..."


Alia menghentikan kata-katanya saat menyadari Hisyam memasukkan mobilnya ke sebuah gedung pusat perbelanjaan yang berdiri megah dengan arsitektur timur tengahnya.


Takjub saat keluar dari lift , wanita itu tak henti-hentinya berdecak kagum setelah pandangannya tertuju pada deretan toko dengan merek kelas dunia yang menyediakan berbagai macam keperluan wanita di dalamnya.


Hingga ia berhenti di sebuah toko yang menyediakan berbagai macam keperluan anak seusia putrinya.


Di tatapnya sebuah gaun pink berukuran mini sedang terpajang sebagai ikon toko tersebut, wanita itu mulai berandai-andai putrinya sedang memakai gaun itu dengan girang, membuatnya ikut tersenyum bahagia, walau ia begitu sadar hal itu hanyalah sebuah fatamorgana baginya.


Sementara Hisyam yang baru menyadari Alia tertinggal di belakang, pun kembali menghampiri pengasuh yang masih mematung di hadapan toko.


"You okay?"


Ucap Hisyam yang sudah berdiri mensejajarkan dirinya dengan pengasuh itu, membuat Alia terkesiap dan tersadar dari lamunannya.


"Apa kamu akan terus berdiri di sini?"


"Uh! Maaf, aku hanya bingung kenapa kita harus kesini, apa pestanya ada di sini?"


Tanya Alia polos, sedang tanggapan Hisyam hanya sekadar mendengus sambil menggelengkan kepala dan berlalu pergi meninggalkan Alia.


"Apa yang salah? Aku kan hanya bertanya..."


Gumam Alia yang terpaksa mengekori tuannya dengan rasa penasaran.


Melihat bosnya telah jauh meninggalkannya dan masuk kesebuah toko pakaian, Alia pun sedikit mempercepat langkahnya mengekori Hisyam yang napak berbincang dengan seorang wanita cantik berpenampilan rapi.


Tak ingin mengganggu pembicaraan Hisyam dengan owner cantik itu, Alia pun beralih menilik gaun merah yang di peragakan oleh patung manekin.


Gaun merah yang bertaburkan swarovski di bagian pingganya menambah kemewahan pada gaun itu, hingga Alia bisa menebak gajinya sebagai pengasuh tak akan cukup untuk membeli gaun dengan merek terkenal itu.


Alia mundur selangkah sambil tersenyum setelah menyadari kekonyolannya yang berandai-andai bisa memiliki salah satu gaun di toko itu.


"Cih... khayalan ini terlalu berlebihan buatmu Alia, ingat, Assyifa lebih penting dari apapun, jangan pernah lalai dalam tanggung jawabmu sebagai seorang ibu"


Batin Alia yang seketika sadar tak seharusnya dia mementingkan kebahagiaannya sendiri saat dirinya tau alasannya datang ke negara itu semata-mata untuk memastikan kehidupan putrinya lebih bahagia dan tak akan sesulit apa yang ia jalani selama ini.