
Tetes embun dipagi hari serasa menusuk sanubari. Hembusan angin sepoi-sepoi berpadu dengan dinginnya embun pagi, tak menyurutkan tekad Dira untuk berangkat bekerja pagi ini.
Setelah menitipkan sang mama tercinta pada Clara, kini Dira berlalu menuju cafe dimana ia bekerja.
Tak butuh waktu lama, kini ia sudah sampai ditempat tujuan.
Yakinlah, kita tidak akan pernah bosan menjalankan pekerjaan yang kita sukai.
Dengan semangat 45, kini Dira memulai pekerjaannya setelah berganti pakaian.
Pagi berganti siang, siang berganti sore. Dan kini waktunya Dira untuk pulang, karena jam kerjanya telah usai.
"Dir, tolong anter pesanan ini ke ruang VIP mawar ya, pliss aku kebelet nih.." salah seorang rekan kerja Dira menyodorkan sebuah nampan padanya.
"orang penting ini, jangan sampai salah, VIP mawar.." seru rekan kerjanya seraya berlalu menjauh.
"huh, dasar.. padahal kan jam aku udah selesai.." Dira hanya bisa menggerutu sebal sepanjang perjalanan ketempat sang pelanggan.
Tok tok tok
"permisi pesanan anda tuan.."
"masuk!."
Perlahan Dira membuka pintu coklat yang ada dihadapannya.
Terlihat didalam sana ada tiga orang pria, sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"pokoknya saya tidak mau tahu!, malam ini kau sudah harus mendapatkannya!, berapapun harganya saya akan berikan!."
Terlihat salah seorang pria didalam sana memaki seseorang yang ada diseberang sana melalui smartphonenya.
"..."
"saya mau yang bersegel dan jelas sehat!. saya tidak mau tertular penyakit! kau tahu!!."
Tut
"hah..."
"astaga!!." Dira yang tengah menyajikan pesanan mereka terlonjak kaget ketika seorang pria yang tengah menelfon tadi melempar henfonnya keatas meja secara kasar. Helaan nafasnya pun terdengar berat.
"Dean, apa kau yakin dengan keputusan mu ini?."
"tentu saja."
"bukankah kau mau memberikan keperjakaanmu itu pada istrimu kelak?."
"belum tentu istriku kelak masih bersegel."
"astaga.." lirih Dira, ia tak menyangka ternyata yang ketiga pria ini bicarakan adalah soal wanita.
Tunggu!!
Ya Tuhan.. apakah ini jalan yang kau berikan agar aku bisa menyelamatkan mamah?.
Dira memejamkan matanya sejenak. Menimbang-nimbang apakah ia harus berbalik dan menawarkan diri atau terus melangkah keluar.
"nona pelayan, kalau kau sudah selesai silahkan keluar. Kenapa berdiri disitu?!."
Sebuah suara menyadari Dira pada lamunannya. Ia berbalik, melangkah mendekat pada ketiga pria disana.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, ia akhirnya menawarkan diri untuk melakukan ONS pada pria yang sama sekali tidak ia kenal.
"apakah kau yakin?."
"i-iya tuan."
"apa kau masih bersegel?."
Dengan degup jantung yang bergemuruh Dira mengangguk pelan. "i-iya tuan."
"apa kau sehat?."
"i-iya tuan."
"berapa bayaran yang kau minta?. 1M?, 2M?."
cih, sombong sekali, baiklah aku akan meminta lebih dari apa yang aku butuhkan. batin Dira kesal.
"100 juta tuan." lirih Dira.
"hanya 100 juta?."
"iya tuan."
"baiklah, angkat wajahmu!, dibawah tidak ada uang."
Yah, sedari tadi Dira hanya menunduk, tidak berani menatap wajah lawan bicaranya.
Perlahan ia menegakkan kepalanya. Mata coklat bulatnya bertemu dengan mata elang pria didepannya, buru-buru Dira kembali menunduk lagi.
"oke. Sem, kau tau kan apa yang harus kau lakukan."
"yah, saya tau. Mari nona ikut dengan saya." Pria yang dipanggil Sem itu berdiri, ia membawa Dira keluar dari ruangan itu.
Dira hanya bisa pasrah. Mengikuti langkah pria yang tidak ia kenal.
Hah.. semoga saja pengorbanan ku tidak sia-sia. Mama, mama haru sembuh. batin Dira.
**makasih udah mau mampir
jangan lupa like nya yaa..
🖤**