
Bangunan berlantai dua itu terlihat sederhana tapi terlihat elegan dan menawan. Interior yang didesain sedemikian rupa, dan didominasi warna rose gold menimbulkan kesan mewah.
Dilantai dasar, berjejer rapi aneka pakaian wanita dan pria, dari model santai hingga model formal tersedia disana.
Di sebelah kiri, ada sebuah mini cafe untuk sekedar istirahat atau untuk orang yang menemani belanja. Disana juga tersedia berbagai macam minuman dan mini cake.
"selamat siang, selamat datang di El butik nyonya." sapa Maya, salah satu karyawan yang sengaja Dira bawa dari Bandung kala itu.
"siang." senyum ramah tersungging dari bibit Emily, tapi tidak dengan pria yang berada dibelakangnya. Wajahnya terlihat masam, seperti asam Jawa.
"silahkan nyonya, ada yang bisa saya bantu?."
Emily melihat beberapa dress yang berjejer rapi disana. Kakinya dengan ringan melangkah mengikuti keinginannya.
"bagus." satu kata yang keluar dari mulut Emily, membuat dahi Maya berkerut dalam.
"apakah saya bisa bertemu dengan pemilik butik ini?."
"maaf nyonya, saat ini beliau sedang tidak ada ditempat, beliau sedang ada urusan diluar." jawab Maya sopan.
Emily terlihat mengangguk pelan, tangannya masih sibuk memilih dan meneliti pakaian disana.
"kemungkinan sebentar lagi beliau tiba disini, jika berkenan anda bisa menunggu di sana nyonya." Maya menunjuk mini cafe di sebelah kiri pintu masuk.
"baiklah, saya akan menunggu sebentar."
Tak selang berapa lama, dua manusia beda usia memasuki butik tersebut. Mereka berjalan beriringan menuju lantai dua.
"mbak Dira!." seru Maya. Langkah kaki Dira berhenti di anak tangga pertama, begitu pula dengan bocah kecil yang berada disampingnya.
"ya?, ada apa May?."
"ada yang ingin bertemu dengan mbak Dira."
Dahi Dira berkerut, "siapa May?."
"jika aku tidak salah menebak, sepertinya beliau lup YL Fashion mbak."
"apa?!." kedua mata Dira membulat sempurna.
"pemilik YL Fashion?. yang benar saja, kamu gak salah lihat kan May?." Dira memastikan.
"enggak mbak, mana mungkin aku salah lihat, udah deh, mendingan mbak Dira temuin beliau dulu, gak enak tau, biar El aku yang anter keatas."
"oke, makasih May."
Dira terlihat menghembuskan nafasnya pelan sebelum menghampiri dua manusia yang begitu berpengaruh di dunia fashion itu.
Siapa sih yang tidak kenal dengan mereka?.
"selamat siang nyonya Emily dan tuan Deva." sapa Dira ketua ia sudah sampai di meja tempat mereka duduk.
Emily terlihat berdiri, ia mengulurkan tangan pada Dira dan mempersilahkan bergabung dengannya.
"suatu kehormatan bagi kami nyonya, anda mau datang ke butik sederhana kami." Dira menyambut uluran tangan itu, bergantian dengan Deva.
"anda memang pantas mendapat julukan queen of the fashion nyonya."
"ini adalah butik pertama saya nyonya, tapi sebelumnya saya juga punya sedikit usaha dibidang ini, tapi hanya memproduksi barang lokal dan menengah kebawah." jelas Dira.
"ya ya saya paham. Dan saya ingin menawarkan anda sesuatu." Emily mengambil selembar kertas dari dalam tas nya dan memberikan pada Dira.
"kompetisi?."
"ya kau benar, itu akan diadakan dua Minggu lagi, jika anda tertarik, anda bisa datang langsung ke YL Fashion untuk mendaftar." jelas Emily. Ia melirik anaknya yang tak berkedip menatap Dira.
"ah nyonya, saya tidak percaya diri untuk mengikuti kompetisi ini, apalagi waktunya sangat terbatas."
"apakah disini ada mesin cetak?, anda bisa mendaftar sekarang, saya ada formulirnya." sela Deva, ia menggoyangkan henfonnya didepan Dira.
"tapi tu..."
"anda pasti bisa." sela Deva cepat.
"sekarang tunjukkan pada saya dimana saya bisa mencetak formulir ini agar anda bisa mengisinya nona."
"baiklah, mari ikut saya tuan."
Deva dan Emily senantiasa mengekor Dira menuju lantai dua.
"sayang, kenapa tidak istirahat." Dira menghampiri El yang berada disofa, bocah itu tengah asik membaca sebuah buku.
Seketika raut wajah Deva terlihat kecewa, dan itu tertangkap jelas oleh Emily.
"jangan menggodanya, dia sudah punya anak." bisik Emily, wanita paruh baya itu tersenyum mengejek pada anaknya.
"mi.." keluh Deva pelan.
"sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya mi.."
"setiap bertemu dengan wanita cantik juga kau bilang begitu Deva."
"tapi ini beda mi.."
"iya beda, karena dia sudah punya anak, awas, jangan jadi pebinor!."
Ibu dan anak itu menghentikan acara bisik berbisik ketika Dira datang menghampirinya.
Ia mempersilahkan Deva menggunakan ruang kerjanya.
Setelah Dira mengisi formulir pendaftaran itu, ia menyerahkan kembali pada Emily.
"semoga berhasil nona."
"terimakasih atas kesempatannya nyonya, sejujurnya saya tidak begitu percaya diri."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Emily dan Deva pamit undur diri.
🖤