
"Dertt.... dertt..." Sebuah notifikasi terpampang di layar ponsel milik Alia.
Hisyam meraih benda pipih itu secara diam-diam dan mulai membuka video yang di kirim ke ponsel itu tanpa di ketahui Alia yang masih larut dalam kesedihannya.
Hisyam mengepalkan tangannya setelah menonton dua video tersebut secara singkat.
Video yang rata-rata berdurasi kurang dari lima menit itu berisi dirinya saat meng-komandoi pengiriman senjata milik Mr.Lee dan video lainnya menampilkan bagaimana dirinya membujuk ayah dari Sarah untuk membantu pengiriman senjata.
Hisyam menghirup udara berkali-kali, membiarkan oksigen menetralkan kemarahannya agar tak tercium oleh Alia yang masih tenggelam dalam dekapannya.
Hisyam mengelus kepala wanitanya namun tak ada ucapan maupun isakan yang keluar dari mulut Alia, hanya guncangan dan air mata yang bisa menggambarkan betapa keputusannya belum bisa mengalahkan keraguan dan cintanya yang begitu besar pada pria yang sekarang menjadi sandarannya.
Dia pria yang sekarang memeluknya, pria yang telah menggantikan posisi papanya, setelah pria yang di anggapnya ayah selama ini pergi menghadap sang khalik.
Untuk beberapa saat Alia meresapi belaian lembut dari pria bergelar suami, meski begitu menenangkan, tapi Alia berusaha untak tak terbuai dalam kehangatannya, dan tentu saja ia masih teguh pada keputusannya.
Deras air mata semakin tak bisa tertahan lagi, semakin ia meyakinkan diri dengan keputusannya semakin besar pula keraguan yang menghampirinya.
Hisyam meregangkan pelukannya lalu membingkai wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tahu ini berat tapi, bertahanlah sebentar lagi" Hisyam membuka suara setelah beberap saat mereka hanya terdiam.
Lembut suara Hisyam semakin membuat Alia tak kuasa menahan kesedihannya.
"Kamu percaya padaku, kan?"
Tanya Hisyam lagi, namun masih tak ada tanggapan dari Alia, dengan perlahan Hisyam menghapus bekas basah di pipi istrinya.
Alia menggelengkan kepala, "Kita harus mengakhiri ini semua, tuan" Tepis Alia dengan suara serak.
Hisyam menggigit bibir, mata yang ingin di lihatnya sejak tadi kini menatapnya sendu, menyiratkan luka yang teramat sangat.
"Aku dan Assyifa akan pulang ke rumah tante Rima" Suara serak yang keluar dari mulut Alia membuat Hisyam membulatkan mata.
"Kita sudah menikah, Alia, dan kamu masih istriku"
"Pernikahan tanpa cinta dan di bubuhi kesepakatan, apakah layak di sebut pernikahan?" Hisyam merasa tertohok dengan kata-kata Alia.
"Tuan tak perlu khawatir, aku tak akan mempersulit proses perceraian kita, kita memulainya secara diam-diam, kan? Kita juga harus mengakhirinya secara diam-diam"
"Tapi kenapa harus kerumah tante Rima, biar aku yang pergi, kamu bisa di sini bersama mama"
Usulan Hisyam bukanlah ide yang baik, dalang dari samua kekacauan ini belum di temukan, dan sekarang sosok misterius itu sudah mulai melancarkan aksinya dengan mendekati orang-orang terdekatnya.
"Hm" Hisyam mendengus.
"Cuma sementara waktu dan sepertinya ide Alia itu tidak terlalu buruk"
Hisyam berpikir keras, nyatanya bukan dirinya lagi yang di incar, melainkan Alia dan sepertinya orang itu tak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tapi, Alia...."
Alia menggeleng lagi, memotong perkataan Hisyam, "Apa bedanya sekarang atau nanti, pada akhirnya aku akan pergi juga saat waktunya tiba, kan?"
Hisyam terkesiap mendengar jawaban dari Alia.
"Tapi Ozan...." Serak suara Hisyam menyebut nama putranya.
Alia tersenyum getir, mengusir rasa perih di hatinya. nyatanya semua bentuk perhatian yang di tunjukkan Hisyam bukanlah karna takut kehilangan istri melainkan taku kehilangan seorang pengasuh dari putranya.
"Ozan akan baik-baik saja tanpaku, semua keperluan Ozan sudah ku siapkan untuk sebulan kedepan"
"Tapi, apa kamu yakin, bagaimana dengan Assyifa? Dia masih sangat kecil untuk melalui ini semua"
"Yakin? Jika tuan menanyakan kesiapanku, jawabanku adalah, tidak, bahkan jauh dari kata siap, namun, aku akan berusaha semampuku, menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuknya"
"Tapi, Alia, aku bisa menjadi ayah yang baik untuk Assyifa dan, aku masih sangat membutuhkanmu di sini"
Alia meremas ujung kaos yang di gunakannya, terdengar semakin sakit penuturan kedua Hisyam menyapa telinganya.
"Ayah yang baik bukan ayah yang selalu mencukupi kebutuhan anak-anaknya dengan materi, tapi ayah yang baik adalah ayah yang selalu memberikan cinta kasih pada anak-anaknya tanpa pamrih, bukan cinta atau pun kasih sayang karna adanya kesepakatan, aku permisi"
Tutur Alia penuh makna dan tanpa memperdulikan Hisyam yang tampak ingin mengatakan sesuatu, ia berlalu begitu saja.
Mendengar pengakuan Hisyam tadi, membuat Alia semakin mantap dalam mengambil keputusannya
Setelah pembahasan tadi, Alia kembali ke kamar anak-anaknya dan menghempaskan bobotnya di samping Ozan yang sudah tertidur pulas.
Di belainya rambut pirang milik Ozan dan menciuminya dengan sayang.
"Maafkan mama karna tak bisa lagi mendampingimu.... kamu akan baik-baik saja tanpa mama, sayang...." Tutur Alia dengan deraian air mata, hingga ia pun tertidur sambil memeluk erat tubuh Ozan.
-
Alia kembali ke kamar Hisyam saat adzan subuh mulai berkumandang, lagi-lagi ia menunaikan shalat subuh tanpa seorang imam yang di sebut suami.
"Biarlah, setidaknya aku sudah mengarahkannya pada kebaikan itu, aku harap suatu saat nanti tuan bisa mengarahkan kebaikan itu juga pada istri tuan kelak" Ucapnya sambil mengamati wajah tenang suaminya untuk yang terakhir kalinya.
Alia turun ke dapur setelah membereskan barang-barang Assyifa ke dalam tas.
Agak kesiangan, jadi ia sekaligus menyiapkan menu makan siang untuk terakhir kalinya untuk keluarganya.
Tak butuh waktu lama sarapan pun telah siap di atas meja, tinggal menu selanjutnya yaitu tumis kangkung kesukaan nyonya Farida dan menu ala barat kesukaan suaminya yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling.
Beruntung Alia sering membantu bik Ina saat menghidangkan makanan ala barat kesukaan Hisyam, jadi ia bisa belajar beberapa menu makanan barat yang simple seperti spaghetti bolognese dan mi carbonara seperti yang biasa bik Ina hidangkan untuk Hisyam.
Menu makan siang telah siap, saatnya ia memerintahkan pelayan untuk memanggil suami serta mama mertuanya untuk sarapan karna ia sendiri harus mengurus dua anak balitanya.
Di kamar, Alia memandikan putra dan putrinya dengan telaten dan penuh kasih sayang, sengaja ia tak meminta bantuan pelayan agar ia bisa menikmati momen kebersamaannya dengan Ozan untuk yang terakhir kalinya.
Setelah semuanya siap, pelayan membawakan tas Alia ke bawah, karna masih ada kewajiban terakhir yang harus ia lakukuan, yaitu melayani suaminya di meja makan sebelum dirinya benar-benar pergi untuk selamanya.
Alia menggandeng tangan Ozan dan Assyifa ke lantai bawah, menghampiri meja makan yang hanya di huni oleh Hisyam, sementara nyonya Farida sama sekali tak terlihat di sana.
Alia menarik kursi di samping Hisyam, mendudukkan Ozan dan Assyifa di sana sementara dirinya hanya berdiri menunggu kedatangan mertuanya.
"Mama sedang tidak enak badan" Mendengar suara Hisyam, membuat Alia terkesiap.
"Uh, kalau begitu biar ku antarkan...."
"Aku sudah menyuruh pelayan mengantarkan makanan untuknya"
Alia ber-oh ria saja sembari memilih kursi yang agak jauh, sengaja ia mengambil posisi yang di batasi kedua anaknya.
Suasana canggung mulai terasa saat hanya dirinya, Hisyam dan kedua anak-anaknya di sana, sementara nyonya Farida entah kapan akan bergabung bersama mereka.
Saat meletakkan roti lapis ke dalam piring Ozan dan Assyifa, barulah Alia menyadari bahwa Hisyam sama sekali belum memasukkan makanan apapun ke piringnya, sehingga Alia berinisiatif mengusir kecanggungan dengan mengisi piring Hisyam dengan roti lapis yang di buatnya tadi.
Alia menunduk menghindari tatapan itu, "A-aku harus membuat susu untuk anak-anak"
Alia mengalihkan pandangan, berusaha menguatkan hatinya yang begitu berat meninggalkan semua tentang pria itu.
"Habiskan sarapanmu, biar aku saja!"
Hisyam menyambar botol di tangan Alia tapi di ambil lagi olah wanita itu, "Biarkan aku melakukannya untuk Ozan.... untuk yang terakhir kalinya"
Tolaknya dengan suara yang bergetar.
Hisyam menghela napas, meski hanya menunduk Hisyam tahu wanita itu sedang menyembunyikan lukanya yang cukup dalam dan karna merasa bersalah, Hisyam pun kembali ke kursi dan melanjutkan sarapannya bersama Ozan dan Assyifa.
Selesai sarapan Alia membersihkan meja dan mencuci piring bekas mereka.
Karna bik Ina sedang berbelanja kebutuhan dapur dan para pelayan pun sudah pulang setelah pekerjaan mereka selesai, jadi Alia harus mengerjakan semuanya sendiri sekaligus menunggu bik Ina pulang, karna biar bagaimana pun wanita itu juga ikut berperan penting dalam hidupnya.
Tinggal sedikit waktu lagi, Alia menggunakan kesempatan terakhirnya untuk mengelilingi kolam yang berisi berbagai macam ikan hias di dalamnya.
"Alia...."
Alia terkesiap saat Hisyam tiba-tiba muncul di sebelahnya.
"Apa tuan membutuhkan sesuatu?" Tanya Alia sambil menunduk, menempatkan dirinya seperti saat masih menyandang status pengasuh.
Hisyam mendengus melihat reaksi Alia yang terasa semakin jauh dan berbeda sejak dirinya kembali.
"Tuan ada apa mencariku" Tanya Alia saat Hisyam hanya menatapnya dengan tatapan yang ia sendiri tak mengerti.
"Kalau tidak ada yang penting, aku permisi" Alia berbalik ingin berlalu tapi di cegah oleh Hisyam.
"Kamu melupakan ini"
Hisyam meraih tangan Alia dan meletakkan sebuah amplop dan kotak berisi perhiasan yang pernah Alia gunakan saat menghadiri undangan Mr.Lee di malam terkutuk itu.
Alia menggeleng seraya memberikannya kembali pada Hisyam, "Aku tak akan menerimanya, aku tak punya hak lagi atas ini semua"
"Kamu masih istriku, Alia dan kamu masih berhak atas semua ini, kamu bisa menjualnya dan menggunakannya untuk keperluanmu nanti"
Alia menggeleng lagi dan seulas senyum terlihat di bibirnya, "Aku tak ingin berhutang apa pun lagi, ku harap tuan bisa menghargai keputusanku ini"
Jawab Alia sebelum ia benar-benar berlalu meninggalkan Hisyam yang masih mematung tak bisa berkata-kata.
"Hm... aku rasa dia benar-benar sudah dewasa sekarang.... pergilah, Alia, menjauhlah sementara waktu dan aku akan menjemputmu saat waktunya tiba "
Gumam Hisyam dengan pandangan yang masih melekat memerhatikan kelibat istrinya yang hampir tak terjangkau lagi oleh pandangannya.
Alia berlari kecil ke arah dapur sambil menghapus buliran bening yang tak bisa di tahannya lagi, ia berhenti di sudut ruangan sepi dan meringkuk menumpahkan segala kesedihannya.
Sementara bik Ina yang baru saja kembali dari berbelannja tampak heran melihat Alia yang tengah terduduk membenamkan wajahnya di balik kedua lengannya.
Bik Ina mendekat, terdengar isakan yang begitu lirih membuat wanita itu semakin khawatir, "Alia, sayang...."
Bik Ina memegang bahu Alia yang terguncang dan tanpa berpikir panjang Alia langsung memeluk bik Ina yang masih tak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Ada apa, sayang?" Bik Ina bertanya setelah tangisan Alia mulai mereda.
Dengan sesegukan Alia mulai menyampaikan keputusannya sekaligus berpamitan pada wanita yang sudah seperti ibu kandungnya itu.
Bahkan saat Hisyam memperlakukan dirinya seperti seorang pesalah bik Ina lah, yang berusaha mempertahankannya dan meyakinkan Hisyam bahwa dirinya tidaklah seburuk yang Hisyam duga.
"Kamu yang sabar sayang, ya, kalau memang berjodoh, kalian pasti akan di pertemukan kembali di hari yang baik dan waktu yang tepat" Pesan bik Ina sembari mengusap punggung Alia dengan lembut.
*
Selesai berpamitan dengan bik Ina, sekarang Alia sedang berdiri tepat di depan kamar nyonya Farida yang sejak semalam hanya mengurung diri di kamarnya.
Alia mengetuk pintu kamar mertuanya berkali-kali namun tak ada jawaban dan sepertinya pintu juga terkuci dari dalam.
"Mah, Ini Alia, mah!" Panggilnya, namun tak ada jawaban dari dalam.
"Mah, Alia pamit, ya, maafkan Alia karna belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mama!" Masih sepi.
Alia lagi-lagi menghelah nafas cukup dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ma! Maafkan semua kesalahan Alia dan.... ikhlaskan makan minum Alia selama disini, ya, terima kasih karna telah menjadi ibu yang baik untuk Alia!"
Teriak Alia panjang lebar, namun nihil, masih tak ada jawaban.
"Mah, jangan seperti ini! Tolong buka pintunya, mah, sebentar lagi Alia akan berangkat!" Masih sunyi. "Kalau begitu Alia pamit, ya! Mama jaga kesehatan! Assalamualaikum...."
Dengan raut ksedihan Alia benar-benar pergi meninggalkan semua kenangannya bersama mertuanya.
Karna taxi sudah menunggunya di luar, Alia pun bergegas keluar, menghampiri Assyifa yang sedang bermain bersama Ozan, sementara Hisyam memantaunya dengan perasaan berat.
"Assyifa.... ayo, sayang" Panggil Alia sambil merentangkan tangannya.
Bukan Hanya Assyifa, Ozan pun turut berlari ke dalam pelukannya, hingga membuat pasangan suami istri itu bersitatap untuk sepersekian detik.
Alia mengalihkan pandangannya, takut jika ia semakin tak bisa meninggalkan pria di hadapannya.
"Kita berangkat sekarang, nona?"
"Uh? Ba-Baiklah" Jawab Alia gugup, apa lagi saat ia harus berpamitan dengan suaminya.
"Hati-hati di jalan"
"Mm..." Alia hanya mengangguk menyembunyikan wajahnya.
"Ingat, jangan pernah mengabaikan telpon dariku"
"Mm...." Alia masih mengangguk sembari merai tangan Hisyam dan menciumnya penuh takzim.
Dan di moment itulah air matanya tak bisa lagi di bendung, hingga ia harus menyembunyikannya dengan beralih menciumi Ozan dalam gendongan daddy nya.
Tau tak ada yang bisa di sembunyikan dari Hisyam, Alia perlahan meredam tangisannya dan menatap Hisyam dengan sedikit mendongak.
"Aku akan datang begitu pengadilan menentukan tanggal persidangan cerai kita" Ucap Alia setelah menghapus bekas basah di pipinya.
"Tapi, Alia, aku tidak pernah mengatakan bahwa kita akan bercerai"
"Ku harap, tuan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan.... cobalah menghabiskan banyak waktu lagi bersama Ozan"
Pesan Alia sebelum ia benar-benar melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil Ozan.