
Alia berjalan menyusuri lorong lantai dua di mana kamar Ozan sekaligus kamar Assyifa berada.
Dengan ragu Alia membuka pintu kamar Ozan dengan perlahan.
Saat itu tak terdengar satupun suara dari kamar itu.
"Huft.... baguslah sepertinya tuan Hisyam sudah tidur lebih dulu, itu artinya kami tidak akan melewati malam ini dangan situasi yang canggung"
Alia bernapas laga melihat Hisyam sudah tertidur pulas bersama Ozan dan Assyifa.
Bisa di lihat bagaimna Hisyam sama sekali tak sadar kehadiran Alia di kamar itu.
Setelah menyelimuti suami dan anak-anaknya Alia pun kembali keluar dengan hati-hati dan kembali mendapati keluarganya yang telah menanti kedatangannya.
"Lho, Alia, kamu sudah di sini, Ozan dan Assyifa mana?" Tanya nyonya Farida heran melihat Alia hanya turun seorang diri.
"Ozan dan Assyifa sudah tidur... ma" Jawab Alia singkat.
Sengaja dirinya menjawab seperlunya saja, tak ingin mengungkit soal Hisyam, karna bisa saja urusan akan semakin panjang jika mertuanya sampai tahu kalau suaminya tak akan ikut makan malam bersama mereka..
"Owh, begitu... padahal Farah datang ke sini karna ingin sekali bertemu dengan Assyifa, kakak tahu, kan, selama ini kita hanya bertemu lewat video call saja...."
Nada gadis itu terdengar kecewa.
"Sudahlah Farah, Assyifa kan udah tidur, kasian juga jika harus membangunkannya, kan masih ada tuan Hisyam, kita juga belum pernah bertemu dengannya, iya kan, Alia?" Tanya Rima pada keponakanya.
"Uh! Um, itu.... mereka semua sudah tidur dan sangat pulas, jadi Alia tidak tega untuk membangunkannya...."
Jawab Alia sambil melirik mertuanya.
"Ya, padahal Farah juga ingin berkenalan dengan kakak ipar" Lagi-lagi Farah mengungkapkan kekecewaannya.
"Begini saja, bagaimana kalau kalian menginap saja malam ini, jadi kalian bisa bertemu dengan Hisyam dan juga Assyifa besok pagi"
Usul nyonya Farida yang sadari tadi hanya diam mendengar kekecewaan tamunya.
"Benarkah kami boleh menginap!" Seru Farah penuh semangat.
Saking bahagianya Farah berjingkrak kegirangan lalu memeluk Alia, meski mendapat kerlingan tajam dari mamanya gadis itu benar-benar tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Farah!"
Bisik Rima sambil mencubit pinggang putrinya yang tak mengindahkan tegurannya.
-
Suasana makan malam berlangsung penuh gelak tawa, kehadiran Rima dan Farah di sambut baik oleh nyonya Farida.
Makan malam telah pun selesai namun pembicaraan antara Farida dan Rima berlangsung hangat.
Ada banyak hal yang ingin di tanyakan nyonya Farida mengenai kehidupan menantu barunya itu, hingga dengan berat, Rima kembali menceritakan semua hal buruk yang di alami keponakannya itu.
"Begitulah lika-liku kehidupan yang Alia jalani selama ini, jalan hidupnya seakan telah di gariskan untuk menanggung semua penderitaan....
Tapi dengan pernikahannya kali ini, saya sangat berharap tuan Hisyam bisa memberikan kebahagiaan yang layak untuk dia dapatkan"
Ungkap Rima dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan khawatir, meski Hisyam belum memiliki perasaan untuk Alia, saya yakin, lambat laun Hisyam akan luluh dengan kebaikan dan ketulusan hati Alia"
Janji Farida, sambil menggenggam erat tangan besannya.
Selesai berbincang, nyonya Farida dan Alia mengantarkan Rima dan Farah ke kamar tamu yang sudah di siapkan oleh pelayan.
Karna terlalu gembira Farah yang takjub dengan kemewahan kamar yang akan di tempatinya, gadis energik itu tiba-tiba memeluk sepupunya.
"Terima kasih banyak, kak, kalau bukan karna kakak, Farah tak akan pernah bisa merasakan tidur di kamar mewah seperti ini!"
Seru Farah sambil bergelayut di lengan Alia.
"Farah, jangan gitu, ah, nggak enak sama nyonya Farida!"
Tegur Alia dengan suara pelan, namun sepupunya itu tak memperdulikan kata-katanya, malah gadis itu semakin mendekat seolah menghidu sesuatu aroma di tubuh Alia.
"Hmm.... kakak belum mandi, ya?" Tanya Farah.
Gadis itu semakin mendekatkan hidungnya seperti anjing pelacak.
"Sudah, memang kenapa?" Tanya Alia heran.
"Kakak bau keringat, tauuu... hati-hati, kak, tuan Hisyam bisa kabur jika kakak seperti ini"
Ancam Farah sambil memicingkan matanya ke arah kakak sepupunya itu.
"Sudah, sudah, ini sudah larut, biarkan nyonya Farida dan Alia beristirahat, jangan di goda terus Alianya"
Rima melerai tangan putrinya yang terus bergelayut di lengan sepupunya, hingga gadis energik itu terpaksa merelakan Alia padahal masih banyak hal yang ingin ia ceritakan pada sepupunya itu.
"Ya sudah, kita lanjut mengobrolnya besok saja, selamat malam adikku yang bawel...."
Ucap Alia sebelum meninggalkan sepupu yang sudah seperti adik kandung baginya.
-
Panggil Alia sesaat setelah mereka keluar dari kamar yang di huni tante Rima dan sepupunya itu.
"Ada apa Alia?" Farida menghentikan langkahnya.
"Terima kasih karna menyambut keluargaku dengan sangat baik dan.... maaf, lagi-lagi Alia merepotkan...."
"Bicara apa kamu Alia, come here..."
Ucap nyonya Farida sambil merentangkan tangannya mengizinkan menantunya masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu tahu Alia, mama sudah lama menantikan momen ini, momen di mana mama bisa merasakan bahagianya memiliki seorang anak perempuan yang baik, lembut dan cantik sepertimu"
Ungkap Farida sambil mengelus rambut menantunya.
"Berjanjilah, kamu tidak akan pernah meninggalkan Ozan dan Hisyam"
Gleekk....
Alia menelan saliva dan seketika melerai pelukannya.
"Kenapa Alia? Apa kamu sudah tidak menyayangi Ozan lagi?"
Farida kecewa dengan reaksi Alia.
"Bu-bukan begitu, Alia hanya tidak yakin bisa menjadi ibu dan.... menjadi seorang istri yang di inginkan oleh tuan Hisyam" Jawab Alia pelan dengan kepala yang menunduk.
"Kamu ibu yang baik, Alia, sedingin dan sekeras apapun hati seorang pria, pada akhirnya ia juga akan melembut dan luluh dengan perlakuan yang tulus dari wanita, percaya sama mama, oke"
Nyonya Farida meyakinkan menantunya.
"Tapi, ma, Alia hanyalah seorang wanita desa dan tidak ada apapun di diri Alia yang bisa meluluhkan hati pria, bahkan saat Alia mengandung Assyifa, Adam sama sekali tak luluh dengan semua pengorbanan Alia"
Ucap Alia dengan mata berkaca-kaca, hingga wanita paruh baya itu ikut merasakan trauma yang di alami oleh ibu muda itu di masa lalu.
"Itu karna mantan suamimu itu tak punya hati" Cibir nyonya Farida sambil mengusap bekas basah di pipi menantunya.
Bukan karna simpati dengan kehidupan Alia sebelumnya, tapi semakin dia mengenal Alia, wanita paru baya itu semakin yakin bahwa kelembutan yang Alia miliki dapat meluluhkan hati putranya yang membeku layaknya es.
Karna itulah ia tak akan rela jika putranya sampai melepas wanita sebaik Alia hanya untuk kembali bersama Renata yang sudah cukup membuat hidup cucu kesayangannya dalam bahaya.
"Ya sudah, kembalilah ke atas untuk membersihkan diri, mama juga sudah tidak tahan dengan aroma yang di maksud Farah tadi"
Goda Farida lagi sembari memutar handle pintu kamarnya.
Karna merasa malu Alia dengan perlahan memeriksa aroma yang di maksud oleh mertuanya.
"Argh... pantas saja semua orang meledakku...." Gumam Alia dengan hidung kembang kempis.
"Mm... ma!" Panggil Alia ragu, "Tadi tak sengaja menemukan beberapa pakaian wanita di walk in closet, um.... maksudku bisakah aku mengenakan salah satu dari pakaian itu?"
Nyonya Farida membelalak, tak percaya dengan penuturan menantunya yang begitu polos.
"Um, sebenarnya, karna terlalu fokus menyiapkan keperluan Assyifa sebelum ke sini, aku jadi lupa menyiapkan pakaianku sendiri" Alia dengan semangat menjelaskan duduk permasalahannya.
"Alia janji akan mengembalikannya.... maksudku, jika mama mengizinkannya" Tambahnya lagi dengan nada kecewa.
"Kamu jangan salah paham dulu, mama hanya tidak rela jika menantu mama memakai pakaian bekas, apalagi pakaian itu milik Renata, sampai kapanpun mama tidak akan sudi!"
Ucap Farida geram sembari menuntun Alia ke kamar putranya dan mendudukkan menantunya itu di atas tempat tidur yang luas itu.
"Tunggu di sini...."
Ucap nyonya Farida sebelum berlalu ke arah walk in closet dan kembali beberapa saat kemudian dengan sejumlah paper bag di tangannya.
"Apa ini ma?"
Tanya Alia setelah nyonya Farida mengulurkan peper bag itu padanya.
"Bukalah, mama membelikan beberapa lingerie, pasti terlihat cantik untuk...."
"Ling- lingerie? Maksud mama pakaian? Untukku?" Tanya Alia antusias.
Farida mengangguk, "Tapi mama tidak yakin kalau kamu akan menyukainya"
"Mama ngomong apa, sih, ini kan pemberian dari mama, tentu saja Alia menyukainya" Ucap Alia sembari bangkit.
"Kalau begitu Alia akan memakainya sekarang, Alia juga sudah tidak tahan dengan aroma ini" Tambah Alia dengan senyuman manis di bibirnya.
Meski terasa kikuk, Alia tetap berusaha membuat dirinya senyaman mungkin seperti yang di inginkan mertuanya.
Tapi bukannya di buat-buat, kali ini Alia benar-benar senang dengan hadiah pemberian mertuanya, mengingat dirinya tak punya pakaian lain lagi untuk di gunakan, apalagi setelah Hisyam sengaja meninggalkan semua tasnya di mobil Doni kemarin.
"Ya sudah kamu mandi sana, mama juga sudah mengantuk mau istirahat" Pamit nyonya Farida pada menantunya.
Sebelum pergi wanita paruh baya itu sempat mencubit hidung menantunya dengan gemas.
Sementara Alia, tanpa ia sadari sebuah senyuman nakal tersungging di bibir mertuanya, mungkin sedang memikirkan hal yang sama sekali tak terlintas di pikiran ibu muda itu.