Single Parents

Single Parents
KECEWA LAGI.



Setelah menyiapkan perlengkapan anak-anaknya, Alia kembali ke kamar lamanya, membersihkan tubuhnya dari keringat yang menempel setelah bergulat dengan dua balitanya yang begitu aktif.


Meski dirinya sudah menjadi istri dari pemilik rumah itu, ia masih merasa tak nyaman jika harus menggunakan semua fasilitas di mansion itu, termasuk kamar mandi milik suaminya yang serba mewah bak kamar mandi hotel berbintang lima.


Setelah merasa cocok dengan celana jeans kulot yang di padankan dengan blouse putih tulang ia mulai menilik penampilannya di hadapan kaca, memakai riasan tipis pada wajahnya dan sedikit lipgloss untuk melembabkan bibirnya.


"Ya.... ampun, apa yang sedang kamu lakukan di sini, sayang?"


Seloroh Farida yang sedari tadi mencari keberadaan menantunya dan sekarang malah menemukannya di kamar belakang, khusus untuk para pekerja di mansion itu.


"Mah...." Sambut Alia dengan senyuman hangat.


"Kenapa kamu kembali ke sini lagi, nak? Kamu kan, sudah menjadi menantu mama sekarang, apa kata orang jika melihatmu ada di sini, bisa-bisa orang berpikir kalau mama mertua yang buruk...."


Farida begitu heboh tak enak hati melihat menantunya kembali ke kamar lamanya.


"Nggak apa-apa mah, kan cuma mandi, lagi pula Alia juga kadang rindu dengan kamar ini...."


Tutur Alia sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya, masih tertinggal barang-barang lamanya di situ, termasuk foto dirinya bersama Assyifa.


"Ya, sudah, kalau kamu sudah siap keluarlah, jangan buat suamimu menunggu terlalu lama dan....


Gunakan waktu kalian sebaik mungkin, jangan sampai kencan kalian sia-sia kali ini...." Bisik Farida di telinga menantunya.


Mendengar saran mertuanya, membuat Alia membelalakkan matanya pada wanita yang sedang menggandeng tangannya itu.


"Kencan apa, sih, mah.... tuan Hisyam mengajak keluar karna ingin meluangkan waktunya bersama anak-anak, tidak ada kaitannya dengan kencan yang mama maksud" Sanggah Alia.


"Tapi, kan mama sangat berharap kalian bisa menghabiskan waktu berdua....


Tunggu! Apa sebaiknya Ozan dan Assyifa tidak perlu ikut, jadi kalian bisa dinner sambil menikmati segelas wine, oh.... how romantic isn't it..."


Ucap nyonya Farida penuh penghayatan, seolah sedang memerankan adegan romantis di sebuah film titanic.


Sementara Alia yang masih setia mendengarkan ocehan mertuanya hanya bisa mengelengkan kepala sembari memeluk lengan wanita itu.


Setelah tiba di ruang tamu Alia dan Farida hanya bisa terperangah saat tak bisa menemukan Hisyam dan kedua anak-anaknya di ruang tamu.


"Bik! Bibik!" Panggil nyonya Farida.


"Hisyam dan anak-anak mana, bukankah tadi mereka menunggu di sini?" Tanya Farida pada bik Ina yang baru saja kembali dari lantai dua.


"Owh, anak-anak baru saja tertidur setelah lelah menangis"


"Apa yang terjadi! Mengapa mereka menangis?" Tanya Alia panik.


"Jadi tuan Hisyam sempat membawa Ozan dan Assyifa ke dalam mobil, tapi pas di mobil, tuan Hisyam malah mendapat telpon dari seseorang, jadi terpaksa ia harus membawa anak-anak kembali ke dalam rumah, katanya ada pekerjaan penting yang tak bisa di...."


"Argh....! anak itu memang tak punya perasaan, apa hatinya terbuat dari batu....!"


Farida bergumam kesal, hingga bik Ina pun tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.


Farida menatap menantunya yang sedari tadi terdiam mendengar cerita dari bik Ina.


Hanya dengan menatap ibu muda di sampingnya, ia dapat merasakan ada gurat kekecewaan pada wajah teduh menantunya itu.


"Alia, mama tak tahu harus bicara apa sekarang karna Hisyam benar-benar sudah sangat...."


"Tidak apa-apa, mah, mungkin saja memang ada pekerjaan penting yang tak bisa ia tunda..." Potong Alia dengan senyum yang di paksakan.


Dengan lembut Alia berusaha membujuk mertuanya, takut jika darah tinggi wanita paruh baya itu kambuh lagi jika terlalu mengikuti amarahnya.


"Tapi Alia, mama merasa sangat kecewa dan malu atas perbuatan Hisyam kali ini" Ungkap nyonya Farida.


"Mama, tak perlu kecewa, kami bisa mengajak anak-anak saat tuan Hisyam ada waktu luang, lagi pula cuaca di luar sepertinya sedang mendung, tidak baik jika mengajak anak-anak keluar di cuaca dingin seperti ini"


Alia berusaha menghibur mertuanya, meski ia sendiri merasa marah dan kecewa atas tindakan suaminya kali ini.


-


Sejak sore tadi, dua balita itu tak henti hentinya merengek, tak puas dengan ini dan itu, hingga Alia pun di buat kewalahan


dan melakukan berbagai macam cara agar anak-anaknya bisa kembali ceria lagi.


Meski kedua balitanya belum bisa mengekspresikan kekecewaannya secara langsung, tapi ia dapat tahu puncak dari sikap rewel anak-anak itu ada pada Hisyam yang seenak jidatnya membatalkan rencana jalan-jalan mereka.


Ozan dan Assyifa sudah pun tertidur, Alia kembali ke kamar suaminya dengan langkah gontai, sambil memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk pria yang gila kerja seperti Hisyam.


Setelah menunaikan sholat isya, Alia hanya terdiam di dalam kamar, menyalakan televisi yang sama sekali tak menarik perhatiannya.


Sesekali ia melirik jam di dinding yang mulai merangkak ke angka dua belas.


Tak ada tanda-tanda bahwa suaminya akan segera pulang, Alia pun bangkit dari duduknya dan beralih mendekati balkon.


Baru saja ia menengadakan wajahnya, merasakan hembusan angin malam yang bisa menentramkan pikirannya, sebuah mobil yang di kendarai oleh Hisyam pun akhirnya melaju memasuki kawasan mension.


Melihat Hisyam keluar dari kursi pengemudi, menandakan pria itu pergi dengan terburu-buru tanpa ada om Farhan yang mengantarkannya.


"Cih....! Dari mana saja dia? Tidak biasanya dia pergi tanpa om Farhan..." Alia berdecak kesal, namun tetap penasaran.


Mendengar suara langkah semakin mendekati kamar membuat Alia bergegas kembali ke dalam dengan perasaan tak karuan.


Lama menuggu kedatangan Hisyam di kamar itu, namun pria itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya, bahkan suara langkah yang tadi sempat di dengarnya pun seakan menjauh dari dugaannya.


"Argh.... kenapa jadi ragu seperti ini, sih?"


Alia keluar mencari keberadaan Hisyam, dengan langkah yang tertahan ia memaki diri sendiri, bagaimana bisa nyalinya kembali menciut setelah ia mantap menyusun kata-katanya sebagai tanda protes akan sikap Hisyam yang semena-mena pada putranya sendiri.


"Tidak! Aku tak boleh ragu untuk menegurnya, aku melakukan ini untuk kebaikan Ozan juga"


Alia bermunolog sendiri sambil mendekati Hisyam yang diam-diam menghampiri putranya, mengecup kedua balita itu secara bergantian.


"Apa tuan merasa menyesal setelah mengecewakan Ozan, anak tuan satu-satunya?" Sindir Alia dengan nada bergetar.


"Aku lelah dan tak ingin berdebat denganmu sekarang!"


Hisyam menjawab seadanya, tanpa memandang istrinya ia harus ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Alia merasa heran dengan sikap suaminya, apa lagi saat memperhatikan pakaian yang di kenakan suaminya yang kusut, membuat Alia semakin penasaran dari mana sebenarnya pria itu.


"Bisakah tuan....!"


"Braaakkkk....!"


Suara pintu kamar mandi baru saja tertutup, hingga Alia pun tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.


Tak puas dengan jawaban suaminya, Alia masih menunggu di depan pintu hinggalah Hisyam keluar dari kamar mandi.


"Bisakah tuan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi?"


Sosor Alia, tak perduli jika pria yang hanya berbalut sehelai handuk di hadapannya menatap tak suka dengan pertanyaannya.


"Minggir! Kamu tak perlu tahu apa yang sedang terjadi...." Jawab Hisyam datar.


"Kenapa! Apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun? Apa kamu tak perduli dengan perasaan orang-orang yang mengharap kasih sayang darimu?"


"Apa maksudmu?"


Hisyam berbalik dan kembali menghampiri Alia, tertarik dengan ungkapan istrinya kali ini.


"Um.... jadi tuan benar-benar belum mengerti juga? Apa hati tuan benar-benar terbuat dari batu...."


Hisyam mengenyitkan mata mendengar ungkapan istrinya.


"A-apa tuan tahu bagaimana rewelnya Ozan hari ini? Dan.... dan nyonya Farida, sampai sekarang dia belum memakan apa-apa, dan.... dan itu semua gara-gara tuan....!"


Alia benar-benar gugup, hingga semua kata-kata kasar yang sempat di susunnya, kini buyar saat Hisyam semakin mendekat padanya.