
Sudah dua hari ini Dira hanya berdiam diri dirumah, ia enggan melakukan aktivitas apapun.
Dan selama dua hari juga Clara selalu mengunjunginya. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Tok.. tok.. tok..
"Dira..." seru Clara dari luar. Seperti biyasanya, setiap pulang kerja, ia akan mengunjungi sahabatnya dulu.
Ceklek..
"masuk Cla.."
Kini keduanya duduk diruang tamu, tak mewah memang, tapi selalu bersih dan rapi. Walaupun hanya berdiam diri dirumah, Dira tetap rajin membersihkan dan merapikan rumahnya.
"mau minum apa?." Dira beranjak dari duduknya, menuju dapur.
"jus mangga kalo ada.." teriak Clara dari ruangan tamu.
"ada, tadi habis di kasih tetangga yang baru panen, kebetulan ada yang mateng."
Tak butuh waktu lama, dua gelas jus mangga telah tersaji diatas meja.
"wah... enak nih kayaknya.." dengan tak tau malunya Clara menyambar satu gelas jus dan langsung meminumnya.
"akh.. seger.." Clara meletakkan kembali jus yang ada ditangannya.
"iyalah seger, geratisan juga.." Dira terkekeh.
Begitulah mereka, keduanya saling ngobrol, bercanda. Setidaknya masih ada Clara sahabatnya yang selalu mendukung apapun keputusan Dira, dan selalu membantunya.
"Dir, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"kamu dari tadi juga udah ngomong kalik Cla, mau ngomong apa sih?." jawab Dira santai.
"em.. Dir, kalo kamu pindah keluar kota aja gimana?, perut kamu setiap hari bakal membesar Dir, aku gak bisa ngebayangin jika suatu saat nanti kamu bakal dihujat ibu-ibu sini." lirih Clara, ia tak mau jika sahabatnya salah paham.
Dira menghela nafasnya berat, "sebenarnya aku juga mikir gitu Cla, tapi aku mau kemana?, dengan kondisi aku kaya gini, bakal susah nanti aku cari kerjaan, aku juga butuh makan dan biaya hidup kan dikota orang?!." keluh Dira.
"ini aja aku udah izin gak kerja dua hari." lanjutnya.
Clara mengembangkan senyumnya, "bagus kalo kamu berfikir gitu. Jadi kamu bisa langsung pindah, soal kerjaan kita pikirkan nanti saja."
"Cla, aku mau Pindak kemana?, aku gak punya sodara, tabungan aku juga sedikit, aku gak mau cairin cek itu." tegas Dira, pasalnya Clara selalu membujuk dirinya untuk mencairkan cek itu agar dirinya bisa pindah dari kota ini. Cek itu akan ia gunakan saat mendesak saja.
"terus?."
"kamu pindah ke Bandung, nemenin mama aku disana, aku udah bilang sama papa dan mama aku akan kondisi kamu, dan orang tua aku gak keberatan akan hal itu." jelas Clara.
Dira membulatkan matanya, "gila kamu Cla!!," pekik Dira.
"kamu bilang sama orang tua kamu kalo aku hamil karena jual diri gitu?!, astaga.. astaga.." tiba-tiba saja kepala Dira berdenyut nyeri, ia menyandarkan punggungnya dan memijit keningnya pelan.
Clara menepuk dahinya pelan. "aduh.. payah, ya gak lah Dir!. Ya kali aku ngomong gitu.."
"terus??."
"aku ngomong kalo kamu itu diperkosa dan kamu sekarang hami dan sekarang kamu mengalami depresi berat dan..."
"..dan sekarang aku gila, gitu?!." potong Dira.
"hehe.. bukan gitu Dir." Clara memamerkan gigi putihnya pada Dira.
"hah.."
"jadi gimana?, kamu mau kan?!."
Hening.
Dira menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Clara.
Benar juga, semakin lama perut ini semakin besar, aku gak mungkin bisa menyembunyikannya.
Tapi kerjaan aku nanti gimana?, masa aku cuman numpang aja, kan gak enak. Duh..
"udah gak usah mikirin macem-macem, gak usah merasa gak enak. Kamu resain aja dari kerjaan kamu, nanti di Bandung kamu cari kerjaan lagi yang enak, yang gak berat-berat, kasihan tuh bayi kamu." Crocos Clara.
"besok pagi aku kesini lagi, kita berangkat ke Bandung pagi, kamu siapin barang yang perlu kamu dibawa, aku mau pulang dulu." Clara beranjak dari duduknya.
"eh.. eh.. kamu ngambil keputusan seenak jidat aja, gak minta pendapat aku dulu.." gerutu Dira.
"ini juga untuk kebaikan kamu Dir, udah ah, sampe ketemu besok, bye."
🖤