
Matahari mulai merangkak naik, mengusir setiap tetes embun yang membasahi bumi.
Disebuah hotel yang cukup ternama dikota Bandung, terlihat seorang pria yang sudah rapi dengan setelah jas mahalnya.
Tatapannya yang dingin seolah menusuk siapa saja yang melihatnya. Kaki jenjangnya melangkah lebar keluar dari hotel tersebut dengan diikuti seorang pria yang tak kalah menakutkannya.
"Sem, berapa lama lagi kita disini?." Dean membuka suara ketika mereka telah memasuki mobil.
"dua atau tiga hari lagi bos, kita perlu memantau langsung pekerja agar tidak menimbulkan kecurangan lagi." Semmy memacu kendaraannya menuju lokasi proyek pembangunan.
Sudah satu minggu ini mereka berada di Bandung, menyelesaikan semua masalah dari mengunjungi korban kecelakaan, memberi santunan, menangkap tikus kecil yang membuat onar dan memulai proyeknya dari awal lagi.
"hah.. kau sudah mencari tahu tentang dia?." Dean menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata.
"dia?."
"Dira."
"a.. belum bos, setelah ini saya akan mencari tau tentang nona Dira secepatnya."
"lebih cepat lebih baik."
"siap bos."
🍴
🍴
🍴
Seperti biyasa, Dira dengan semangat '45 melakukan pekerjaannya tanpa mengeluh.
Pekerjaan yang kita lakukan dengan suka cita akan lebih menyenangkan bukan?!.
Sore ini, ia ada janji dengan Clara untuk jalan-jalan bersama, untuk melepas beban hidup barang sebentar. We time lah!!. kamu dan aku, gak cuman kerja kerja dan kerja terus, sesekali refreshing lah, biar otaknya seger. Gak papa kan?!.
Detik jam pun berlalu begitu cepat, tak teras kini sudah waktunya ia pulang.
Dira memegang pintu lokernya dengan kuat, salah satu tangannya yang lain memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
"Dir, loe gak papa?." Anis menepuk bahu Dira.
"iya aku gak papa kok."
"yakin?, muka kamu pucet banget loh.." terlihat raut khawatir pada wajah Anis.
"kerumah sakit aja yuk, kamu pasti kelelahan ini." Anis menopang tubuh Dira yang mulai tak seimbang, menuntunnya duduk.
"Dira kenap An?!." seloroh Radit yang tiba-tiba saja masuk.
"gak tau."
"astaga!, pucet banget, kita bawa kerumah sakit sekarang." Radit hendak membantu Dira berdiri tapi tangannya ditepis halus oleh Dira.
"gak usah Dit, aku gak papa kok." lirih Dira, ia mencoba berdiri dari duduknya dengan menahan rasa sakit di kepalanya.
Brugh..
Tubuh Dira jatuh kelantai, ia tak sadarkan diri. Radit dan juga Anis panik seketika.
"sini biar gw gendong, loe bantuin gw, kita bawa kerumah sakit sekarang." Radit mengangkat tubuh Dira dan hendak keluar dari ruang ganti, tapi langkahnya terhenti karena ada sebuah suara yang menghalanginya.
"Dira!!." pekik Clara.
"ada apa ini?, Dira kenapa?!. Kenapa bisa begini?!." Clara memberondong pertanyaan pada dua orang didepannya.
"gak tau mbak, tadi bilangnya pusing, terus tiba-tiba saja pingsan." jelas Anis.
"ya udah bawa kemobil saya aja, biar saya yang membawanya kerumah sakit." pinta Clara.
"iya mbk."
🏩
🏩
🏩
Sesampainya di rumah sakit, Dira dibawa keruang praktek milik Clara. Ia memeriksa sendiri kondisi Dira.
Tak selang berapa lama akhirnya Dira sadar juga. Ia mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan keadaan sekitar.
"kamu udah sadar Dir.." Clara meletakkan hasil pemeriksaan Dira dan berjalan kearahnya.
"Cla.."
"minum dulu Dir.." Clara memberikan segelas air pada Dira.
"makasih Cla.."
"Dir, kita sahabat kan?!." tanya Clara tiba-tiba usai Dira minum.
Dahi Dira berkerut "kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu Cla?, tentu saja kita sahabat."
"kalo kita sahabat, kamu jujur sama aku, apa kamu pernah melakukan hubungan ****m?!." Clara menatap tajam pada Dira.
"a apa maksudmu Cla?. a aku gak ngerti." Dira mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan tajam dari Clara.
Terdengar helaan nafas berat dari Clara, ia pergi mengambil berkas hasil pemeriksaan dan memberikannya pada Dira.
"kamu tau kan apa maksudnya itu."
Dira mengambil berkas yang ada ditangan Clara dan membacanya.
"a aku.."
"iya Dir, kamu hamil.."
Duar...
like nya
like nyA
jangan lupa
🖤😇