Single Parents

Single Parents
PERMINTAAN SANG MERTUA.



Alia salah menanggapi sikap diam Hisyam, baru saja ia memuji-muji pria itu di depan mamamya.


Sekarang ia kembali merasakan kekecewaan karna pria yang belum lama ini menjadi suaminya, sama sekali tak peduli dengan perasaanya sebagai seorang ibu, menurutnya Hisyam begitu egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Dengan sedih Alia berlalu meninggalkan Hisyam yang masih membeku, berselancar dengan pemikirannya sendiri.


Bukan hanya Alia, hisyam pun merasa kecewa dengan sikap istrinya, selama ini dia tau kesalahannya terhadap wanita itu begitu banyak, tapi ia sama sekali tak menyangka bahwa Alia masih belum bisa memaafkannya, hingga apapun yang di lakukannya selalu di tanggapi buruk oleh wanita itu.


Tak ingin di pusingkan dengan hal-hal yang tak bermanfaat, pria itu kembali duduk, menatap laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaan terbengkalai, yang di kirimkan oleh Asisten Davis untuknya.


Bukannya berlibur Hisyam malah semakin sibuk, memeriksa setiap laporan dari Davis tentang perusahaan, maupun pergerakan Mr.Lee yang tak pernah kapok merencanakan berbagai macam trik kotor untuk menjatuhkannya.


Begitulah keseharian Hisyam, berkutat dengan pekerjaannya adalah salah satu caranya menghindari stres dan kebosanannya selama ia berada di kampung Alia yang menurutnya sangat bertolak belakang dengan kehidupannya.


"Tok....! Tok....!"


Suara ketukan di pintu membuat Hisyam sejenak mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.


Sesaat kemudian Hisyam kembali menatap layar laptopnya mengacuhkan Amel yang muncul di balik pintu.


Tak puas dengan sambutan dingin abang iparnya, membuat Amel semakin kesal lalu menghampiri Hisyam dengan gaya tomboynya.


"Hm....!" Amel mendengus kesal melihat Hisyam yang mengabaikannya seakan wujudnya tak terlihat.


"Kalau bukan karna kak Alia, kami tak akan memperlakukan anda seperti seorang raja disini!"


Tanpa bertele-tele Amel menyampaikan ketidak senangannya dengan sikap sombong suami dari kakaknya itu.


"Maka keluar saja, tak perlu berpura-pura jika sikapku tak sesuai dengan keinginanmu"


Balas Hisyam namun matanya masih pokus menatap layar laptopnya.


"Apa tuan selalu bersikap sombong seperti ini....


Hah! Apa, sih, yang di pikirkan oleh kak Alia dengan menikahi pria tua kaku seperti dia"


Umpatan Amel masih terdengar oleh pendengaran Hisyam yang jeli, membuatnya tak tahan dan tanpa berpikir panjang Hisyam menarik lengan wanita muda itu hingga ke pintu.


"Jika sudah selesai mengumpatku, silahkan keluar! Aku masih punya banyak pekerjaan dan kamu sedang mengganggu konsentrasiku!"


"Tuan egois! Bagaimana bisa tuan memisahkan seorang anak dari ibunya! Dasar, tidak punya perasaan!"


Baru saja Amel menyelesaikan kata-katanya, pintu sudah pun di tutup dari dalam, sehingga membuatnya semakin naik pitam.


"Bahkan setelah mendapat perlakuan tak adil, kak Alia masih harus mengurus keluarga anda! Dan sekarang kak Alia sedang menyiapkan makannan, khawatir jika anda kelaparan!"


Amel kembali berteriak saat Hisyam tiba-tiba menutup pintu.


Kalau saja ia tak memikirkan perasaan kakaknya, sudah dari tadi ia masuk dan memaki Hisyam dengan kata-kata pedas.


Benar, tadi ia sedang menguping pembicaraan pasangan suami istri itu, dan mendengar kakaknya memohon agar bisa membawa Assyifa bersamanya.


"Ada apa, Amel!" Buk Retno nampak tergopoh-gopoh menghampiri putrinya.


"Tadi mama dengar ada suara ribut-ribut, apa yang terjadi?"


"He... he... bukan apa-apa, ma... oya, apa makan malamnya sudah siap?" Amel coba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, bantu sana kakakmu, dia kerepotan menyiapkan makanan sambil menjaga Assyifa" Titah buk Retno.


"Baiklah, kalau begitu mama saja yang panggil menantu sultan mama itu, ya, dah..."


Lanjut Amel, dan segera menderapkan langkah kakinya, tak ingin kembali berurusan dengan abang iparnya yang ketus itu.


-


Di meja makan, terdengar dentingan sendok saling beradu dengan piring, serta suara Assyifa yang tak henti-hentinya mengoceh meminta ini dan itu untuk di jadikan mainan.


Dan dengan sabar pula Alia menuruti kehendak putrinya meski dia sendiri belum menyentuh makanannya sama sekali.


Buk Retno diam-diam memerhatikan gelagat kedua putrinya yang tak sekalipun memperdengarkan suaranya.


Berbeda dengan Alia yang hanya melayani tingkah putrinya, Amel juga terdiam, tapi dengan tatapan tajam mengarah pada Hisyam yang sedang mencuri pandang raut wajah istrinya yang sedari tadi tertekuk murung.


"Huft...." Hisyam menghela berat, seraya meletakkan sendoknya.


"Karna semua sudah di sini, saya ingin memberi tahukan sesuatu"


Hisyam tiba-tiba memulai pembicaraan, hingga Alia terlihat semakin resah, berpikir Hisyam benar-benar akan membawa dirinya jauh dari Assyifa.


"Apa itu nak Hisyam, katakanlah"


Buk Retno memindai wajah menantunya, meski pria di hadapannya hanya menikahi putrinya atas kesepakatan dan keinginan dari nyonya Farida, tapi ia berharap tak ada batasan komunikasi di antara mereka.


"Um... besok pagi-pagi sekali, kami bertiga akan bertolak ke Airport"


"Saya minta maaf jika keputusan saya begitu mendadak dan mengejutkan kalian, tapi ada masalah di perusahaan induk, jadi aku harus turun langsung untuk menyelesaikannya"


Tambahnya lagi, hingga terlihat buk Retno manggut-manggut membenarkan ucapan menantunya.


"Ck.... sok sibuk! Bilang saja kamu tak ingin berlama-lama berada di kampung ini, dasar sombong!"


Gumam Amel yang langsung mendapat hadiah sikut dari kakanya, hingga dengan kesal gadis muda itu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan kasar.


Makan malam telah pun selesai, tinggal Alia dan Amel yang masih berkutat dengan peralatan dapur yang masih kotor.


Sedang Alia pokus mencuci piring yang bertumpuk di hadapannya, Amel tiba-tiba menyela, menyuarakan isi hatinya.


"Amel, ndak habis pikir, kak, bagaimana kakak bisa jatuh cinta dan menikah dengan pria dingin dan sombong seperti tuan Hisyam?"


Ungkap Amel sambil menerawang jauh.


"Mel, kadang apa yang terlihat tak seburuk yang di pikirkan"


"Maksud kakak dia pria baik! Lantas kenapa ia tak mengijinkan Assyifa ikut, padahal kakak sudah memohon" Amel geram dengan sikap lugu kakaknya.


"Mel, seperti yang kakak bilang sebelumnya, jangan menilai seseorang dari sampulnya tapi nilailah apa yang selama ini kamu rasakan saat berada di dekatnya"


Ungkapan Alia seperti apa yang tengah ia alami selama ini, walaupun Hisyam terlihat kaku dan sering menyakiti hatinya tapi....


Di saat ia merasa terpuruk oleh rasa takut yang selama ini ia alami, kehadiran Hisyamlah yang selalu membuatnya merasa tak sendiri melaluinya.


Apalagi setelah Hisyam mengizinkannya untuk membawa Assyifa ikut bersamanya, membuatnya semakin tak punya alasan lain lagi untuk menolak kesepakatan pernikahan yang mereka jalani.


Meski posisinya sebagai ibu sambung akan semakin sulit, mengingat apapun yang terjadi ia harus bisa bersikap adil bukan cuma untuk Assyifa tapi juga untuk Ozan.


Tapi kembali lagi dengan dampak positif dari keputusannya, Assyifa dan Ozan untuk pertama kalinya bisa merasakan sebuah keluarga yang utuh layaknya keluarga lain pada umumnya.


"Padahal kalau di pikir-pikir kelebihan tuan Hisyam hanya pada kekayaannya, sudah jelas dengan sikap dingin dan kakunya tak ada hal lain lagi yang bisa membuat wanita jatuh cinta apalagi merasa nyaman bersamanya" Pikir Amel lagi.


Meski kakaknya telah menjelaskannya dengan panjang lebar, gadis muda itu tetap kekeuh, merasa tak puas dengan keputusan kakaknya untuk menikahi Hisyam.


-


"Tok.... tok....! Apa mama boleh masuk?" Suara buk Retno memecah konsentrasi Hisyam.


Setelah mendapat izin, buk Retno mendekati menantunya, hingga dengan terpaksa Hisyam meninggalkan kesibukannya dan mencoba untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh mertuanya.


"Mama sudah tahu permasalahan kalian" Buk Retno membuka suara.


"Maksud anda?"


Hisyam seketika memperbaiki duduknya, tertarik dengan topik yang di bahas oleh buk Retno.


"Saya sudah tahu kalau kamu menikahi Alia atas permintaan nyonya Farida dan Alia....


Akh... lagi-lagi dia mengorbankan kebahagiannya sendiri demi kebahagiaan orang lain"


Buk Retno memukul dadanya yang terasa sesak, ia kembali merasa sakit jika mengingat putrinya kembali terjerumus ke dalam situasi yang sama.


"Um.... perlu anda ketahui, kami sama sekali tak pernah memaksa Alia untuk menerima pernikahan ini, dia...."


"Aku tau! Alia anak yang baik, selama hidupnya ia tak pernah menyusahkan siapa pun dan tak ingin menjadi beban bagi orang lain, maka dari itu....


Hingga Ozan tak bergantung lagi padanya.... bisakah kamu tetap menjaga kehormatannya sampai kesepakatan ini berakhir"


Hisyam tercengang mendengar permintaan buk Retno.


"Huh! Apa maksud anda..." Hisyam tergelak kecil tak tahu harus bagaimana menanggapi permintaan mertuanya itu.


"Saya tau ini tidak benar, melarang seorang suami menyentuh istrinya adalah hal yang sangat tak di benarkan, tapi....


Setelah mengetahui kalian sudah sepakat untuk tak mengumumkan pernikahan di depan publik, saya berpikir ini tak adil bagi Alia, bagaimanapun juga kalian sepasang suami istri, bagaimana kalau kalian tak bisa menahan diri, tentu saja Alia lah yang akan di rugikan....


Maka dari itu, saya mohon pengertian anda"


Buk Retno terus memohon hingga terlihat matanya berkaca-kaca.


Melihat kesungguhan mertuanya, tentu saja ia merasa tergerak hatinya untuk menuruti permintaan wanita paruh baya itu, namun ia sendiri mulai ragu apakah dirinya bisa menahan diri.


"Mama di sini!"


Tanya Alia yang tiba-tiba muncul, membuat buk Retno segera menghapus bekas basah di pipinya.


"Mama kesini ingin....."


"Benar, sayang, besok kalian akan berangkat, jadi tidurlah bersama mama dan Assyifa malam ini...."


Buk Retno memotong kata-kata Hisyam yang terdengar gugup, lalu menarik putrinya keluar dari kamar, meninggalkan Hisyam seorang diri.