
Setelah menyelesaikan segala urusannya di bank, akhirnya Alia dan Hisyam keluar dan melanjutkan perjalanan mereka.
Deru mesin mobil yang di kemudikan Hisyam seakan mengisi keheningan sepasang suami istri itu.
Sejak pembahasan yang mengarah pada fisik Alia yang serba mini, membuat tingkah wanita itu mulai berubah, ia mulai menutup diri dan berbicara seperlunya saja.
Hisyam yang baru menyadari perubahan sikap Alia, kini bertanya-tanya dan mulai mencari kesalahannya.
"Um.... sepertinya kita tidak bisa menjemput Hamish hari ini...."
Ucap Hisyam namun tak mendapat respon dari Alia yang sedari tadi terdiam, hanya memandang keluar jendela.
"Mungkin lebih baik tuan Farhan yang menjemput Hamish ke bandara....
Bukan begitu, Alia?" Tambah Hisyam lagi.
"Terserah tuan saja..." Jawab Alia singkat.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat Hari ini...."
"Baiklah...."
Jawab Alia lagi, tetap sama, singkat dan datar.
Karna merasa di abaikan, Hisyam pun kembali pokus mengemudikan mobil sportnya, membiarkan Alia larut dalam dunianya sendiri.
Setelah beberapa menit berkendara mobil Hisyam pun memasuki kawasan pusat perbelanjaan yang terlihat megah dan ramai oleh para pengunjung.
Alia yang masih tak peduli dengan sekitar, masih larut dalam pemikirannya sendiri.
"Alia, kita sudah...."
"Selama ini tuan memanggilku kerdil, apa menurut tuan, aku memiliki fisik dan wajah yang seiras dengan ayah kandungku?"
Alia yang tadinya hanya terdiam tiba-tiba memberikan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di benaknya.
"Huh.... lupakan saja"
Alia tergelak menyadari kekonyolannya, bagaimana Hisyam bisa menjawab pertanyaannya, sedangkan dia sendiri sama sekali belum pernah melihat wujud dari ayah kandungnya itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" Hisyam menempelkan tangannya di kening istrinya, namun secepatnya di tepis oleh wanita itu.
"Maaf jika kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu, " Ucap Hisyam tulus.
Mendengar pertanyaan Alia tadi, Hisyam kini menyadari kesalahannya, telah mengejek fisik wanita yang menurutnya serba mini itu.
Sementara Alia yang dapat merasakan penyesalan dari nada bicara hisyam, kini kembali menatap suaminya yang masih menatapnya dengan rasa bersalah.
"Aku tidak tersinggung sama sekali.... oya, kita ada dimana dan, tempat apa ini?"
Alia mengalihkan pandangannya setelah bersitatap dengan suaminya beberapa detik dan saat itu ia baru sadar mereka kini berada di kawasan pusat perbelanjaan.
"Aku ada janji dengan seseorang, kamu tidak apa-apa, kan, jika aku menemuinya dulu?"
Hisyam beralasan hingga Alia pun hanya mengangguk mengikuti langkah panjang suaminya menuju lift.
"Oya! Lalu, bagaimana dengan Hamish, bukankah sebentar lagi dia akan tiba di bandara?"
Tanya Alia polos, dan benar saja, sejak tadi wanita itu hanya menjawab tanpa menyimak perkataan Hisyam.
Dengan berlari kecil, wanita itu berusaha mensejajarkan langkanya dengan Hisyam yang sudah berbelok memasuki salah satu sebuah toko pakaian di mall itu.
"Soal itu kamu tak perlu khawatir, aku sudah meminta tuan Farhan menjemputnya, jadi kamu hanya perlu bersiap, karna kita akan pergi ke suatu tempat"
Jelas Hisyam sembari menilik satu persatu gaun mewah yang di peragakan oleh beberapa patung manekin.
"Suatu tempat? Kemana?" Tanya Alia penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri" Jawab Hisyam lagi.
Mendengar jawaban Hisyam membuat Alia berpikir, bahwa Hisyam memang sedang merencanakan kencan pertama mereka dan bersungguh-sungguh ingin membuka hati untuknya, karna jujur saja Alia kini mulai luluh setiap kali melihat Hisyam memperlakukan Assyifa dengan penuh kasih sayang.
Mengingat hanya Assyifa lah satu-satunya tujuan hidupnya, tentu saja ia tak akan sanggup jika harus memisahkan Assyifa dari pria yang ia kenal sebagai ayah kandungnya itu.
Apa lagi jika memikirkan dirinya harus menjadi seorang single parent untuk yang kedua kalinya, tentu saja Alia merasa merinding membayangkan bagaima taggapan orang-orang saat dirinya menyandang status itu lagi.
Setelah memerhatikan gerak gerik suaminya, Alia pun mendekati Hisyam, ingin memastikan apakah feeling-nya kali ini benar-benar tepat.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
"About what...."
"Sebenarnya kita mau kemana, sih, dan untuk apa semua gaun ini?"
"Kamu akan tahu nanti...." Hisyam masih merahasiakannya.
Dengan acuh, Hisyam mengabaikan pertanyaan Alia dan kembali berbincang dengan owner toko.
Terlihat Hisyam sedang menunjukkan sebuah gaun berwarna biru kepada seorang pelayan toko yang sedari tadi mengikuti mereka sambil menjelaskan detail beberapa gaun yang di pilih oleh Hisyam.
Meski tak mendapat jawaban yang di inginkan dari Hisyam, Alia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi.
Apa lagi saat seorang pelayan toko membawanya pergi ke ruang ganti yang lebih luas dan pribadi, kesempatannya untuk bertanya lebih lanjut pun di urungkannya.
Sedang Alia sibuk mencoba beberapa gaun yang di pilih Hisyam untuk ia kenakan, ponsel milik Alia yang di letakkan di atas meja pun menjerit meminta untuk segera di angkat.
Alia berlari kecil mendapati ponselnya, karna gaun yang di kenakannya terlalu sempit dan terdapat belahan pada salah satu kakinya membuatnya sulit untuk bergerak bebas.
"(Alia! Kalian kemana saja? Baru saja Hamish menghubungi mama, katanya kalian belum juga sampai)"
Baru saja Alia menempelkan ponsel itu ke telinganya, suara nyonya Farida yang tanpa jeda itu pun seketika memekik hingga memekakkan telinganya.
"(Lalu apa! Ujung-ujungnya mereka tak aka berbaikan, kan? Sudah, Berikan saja ponselnya pada Hisyam, biar mama yang bicara dengannya!)" bentak Farida tegas.
"Tapi, mah, tuan Hisyam sedang sibuk dan tak bisa di ganggu...."
"(Alia.... apa kamu sekarang sedang memihak suami keras kepalamu itu? Atau, kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari mama?)" Tanya Farida menyelidik.
"Mah, bukan seperti itu,Alia hanya...."
"(Alia! Ayo lakukan video call, biar mama menghadapi anak pembangkang itu!)"
Titah Farida yang serta merta mematikan panggilan teleponnya dan beralih ke panggilan video.
"Mah, jangan sekarang, ya, Alia nggak enak sama tuan Hisyam, sepertinya tuan Hisyam sedeng membahas sesuatu yang penting dengan owner tokonya...."
Ucap Alia panik, tanpa basa-basi ia langsung mengarahkan ponselnya pada Hisyam.
"(Alia, wait! Mama tahu toko itu! Um, bisakah kamu mengarahkan kameranya ke tempat lain)"
"Apa! Kenapa?"
Meski bingung Alia tetap menuruti kata-kata mertuanya.
"(Alia, apa kamu tahu, toko itu adalah toko langganan Hisyam, setiap kali ingin menghadiri acara penting Hisyam pasti akan fitting baju di toko itu....
Atau jangan-jangan.... Hisyam sedang merencanakan sebuah acara spesial untuk hubungan kalian?)"
Sama seperti Alia, nyonya Farida juga punya pemikiran yang sama tentang gerak-gerik Hisyam yang mencurigakan itu.
"Haha.... mama bicara apa...." Alia tergelak.
Meski kata-kata Farida membuat hatinya berbunga-bunga, namun sebisa mungkin di sembunyikannya takut nantinya ia akan malu sendiri jika apa yang di rencanakan Hisyam tak sesuai dengan harapannya.
"(Alia....! Kalau begitu mama tutup dulu, ya, tapi ingat, terus kabari mama, oke, tutt.... tutt.....)"
Goda Farida.
Belum sempat Alia menjawab, mertuanya itu sudah pun mengakhiri panggilannya.
"Benarkah yang di katakan nyonya Farida tadi? Apa kali ini tuan Hisyam benar-benar akan membawa hubungan ini ke tahap yang lebih serius"
Alia berangan-angan hingga tak sadar wajahnya kini bersemu merah.
"Nona!"
Panggil seorang pekerja yang kemudian menuntunnya ke arah Hisyam yang kini sibuk dangan ponselnya.
"What do you think, sir?"
"Perfect....."
Jawab Hisyam sembari bangkit tanpa mengedipkan matanya sama sekali.
"Um, i mean.... itu terlalu dewasa untuknya"
Hisyam merubah pendapatnya yang spontan tadi, meski sebenarnya jawaban 'perfect' yang di sematkan untuk Alia adalah jawaban yang sesuai untuk penampilan istrinya yang anggun dan glamour, tapi karna gengsinya yang begitu tinggi membuat Hisyam merubahnya menjadi 'dewasa'.
"Hm.... Dasar egois, dia tak tau saja kalau aku memilih gaun yang lebih dewasa untuk menyeimbangkan umurnya yang sudah tak muda lagi"
Gumam Alia tak terima, sambil memasang muka bebeknya Alia pun berniat untuk kembali ke ruang ganti namun segera di cegah oleh Hisyam.
"Tunggu! Mau kemana?" Cegat Hisyam.
"Cih! tentu saja ingin mengganti gaun pilihan tuan ini" Sindir Alia pelan.
sambil menatap tangan kekar Hisyam yang bertengger di pundak polos istrinya yang mengenakan gaun bermodel sabrina itu.
Menyadari tangannya berada di tempat yang tak seharusnya, secepatnya Hisyam menarik tangannya dan kembali melipatnya di depan dada.
"Tidak perlu menggantinya!
Um.... sebaiknya kamu kembali ke dalam, seseorang akan mendandanimu...."
"Tapi tuan bilang gaun ini...."
"Kita tak punya waktu untuk itu, masuklah ke dalam, aku akan menunggumu di sini!"
Titah Hisyam sembari melirik jam di tangannya.
Sementara Alia yang tadinya ingin protes, hanya bisa mengikuti kehendak suaminya dengan muka cemberut.
Selang beberapa menit Alia telahpun kembali menghadap Hisyam yang tak menyadari kehadirannya di sana.
"Ehm....!"
Deheman Alia mengalihkan perhatian Hisyam yang seketika bangkit dan menatap istrinya yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun sabrina berbahan satin melekat pada tubuh mungilnya.
Apa lagi saat rambut Alia yang sering bergaya ponytail kini di gerai dengan hiasan berwarna silver di rambutnya yang hitam legam, semakin menambah keanggunan ibu muda itu.
"Tuan....!"
Panggilan Alia serta merta menyadarkan Hisyam yang masih mematung menyaksikan ciptaan tuhan yang begitu sempurnah untuk dirinya.
"Ya! Um.... sebaiknya kita berangkat sekarang"
Hisyam terlihat tak karuan, namun sebisa mungkin di tutupinya agar tak terlihat gugup di hadapan owner toko dan beberapa karyawan yang ada di sana.
Setelah berpamitan dengan owner toko, keduanya pun keluar dan meninggalkan gedung raksasa tersebut.
Hingga mobil yang di kemudikan Hisyam meninggalkan mall, Hisyam hanya bisa mencuri pandang wanita di sampingnya, meski begitu, sepasang suami istri itu masih saja terdiam membiarkan keheningan menjadi teman perjalanan mereka.