
"Done!" Hisyam akhirnya bersuara setelah terdiam beberapa saat merawat luka di tangan Alia.
"Lain kali hati-hati jika memegang benda tajam seperti itu, memangnya kamu itu wonder woman apa!"
Hisyam menggerutu setelah menempelkan plaster ke jari telunjuk Alia dan berlalu meninggalkan wanita yang masih terpaku, mungkin sedang memikirkan sesuatu.
Sebenarnya Alia merasa aneh jika tiba-tiba mendapat perlakukan manis dari majikannya yang dingin bahkan sering membuatnya bergidik ngeri.
Beberapa menit kemudian Hisyam kembali menghampiri Alia yang masih termenung, dan tersadar setelah pria itu meletakkan sebuah piring lengkap dengan sendok di hadapannya.
"Piring ini untuk siapa, tuan?"
Tanya Alia heran, namun Hisyam tak merespon, pria itu malah membagi separuh makanannya ke dalam piring yang baru saja di letakkannya di hadapan Alia.
"Makanlah, jangan sampai suara perutmu membangunkan semua orang di rumah ini"
Cetus Hisyam, membuat Alia segera memegangi perutnya sembari menunduk menyembunyikan semburat merah muda pada pipinya.
"Emangnya perutku kentongan pos ronda apa, kenapa nggak sekalian yang bangun tu satu kampung!" Alia menggerutu kesal.telah
"Did you say something?"
"Oh...! Um... maksud saya, terima kasih telah mengobatinya" Alia menjawab dengan gelagapan sambil menunjukkan jarinya yang luka.
"Hhmm... tidak perlu berterima kasih, habiskan saja makananmu dan tidurlah di kamarmu, biar bik Ina yang menemani Ozan malam ini"
Usul Hisyam datar, sembari bangkit dari duduknya.
"Uh! Aku lupa memberitahumu... jika menginginkan ponsel itu, kamu bisa mengambilnya di ruang kerjaku"
Lanjut Hisyam sebelum meninggalkan Alia yang baru saja akan memulai makan malamnya.
-
Hisyam melangkah memasuki kamarnya yang di dominasi oleh warna hitam sesuai dengan karakternya yang tertutup.
Pria yang terlihat lelah itu langsung memasuki kamar mandi dan menyalakan water heater dan kembali keluar.
Tanpa ia sadari nyonya Farida sudah menunggunya di tepi kasur setelah menyiapkan kaos putih dan celana selutut untuknya.
"Mom! Sejak kapan mama di sini, dan apa ini? Mama menyiapkan pakaian untukku?"
Tanya Hisyam heran, setelah melihat tingkah aneh mamanya, pasalnya semenjak menikah dengan Renata, mamanya seakan menjaga jarak dengannya.
Bahkan setelah suaminya meninggal pun, waktu mama Farida lebih banyak di habiskan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah ke benua eropa, tempat kelahiran tuan Osmand.
"Kenapa kamu heran begitu? Semua ini kan memang tanggung jawab mama, kecuali, sudah ada yang mengurus keperluanmu, barulah mama akan berhenti melakukan hal ini"
Ucap nyonya Farida lembut, hingga Hisyam yang mendengarnya pun merasa tersentuh dengan ungkapan tulus mamanya.
"Mom i'm really sorry, it's all my fault, selama ini aku selalu membuat mama khawatir, aku tak menyangka pilihanku untuk menikahi Renata malah membuat mama semakin jauh dariku"
Ungkapan pria bermata emerland itu terdengar berat, dengan memegang tangan orang yang paling ia hormati, akhirnya Hisyam bisa mengungkapkan apa yang telah lama ingin di katakannya.
"Sudahlah, tak perlu di sesali apa yang sudah terjadi, yang penting sekarang kamu sudah tahu siapa Renata sebenarnya, mama harap kamu bisa move on dan..."
Nyonya Farida menjeda kata-katanya, mencoba merangkai kata agar niatnya tak membebani putranya, biar bagaimana pun Hisyam lah yang akan menjalaninya dan ia berharap pilihannya adalah yang terbaik untuk putranya.
"Dan apa, mom?" Tanya Hisyam penasaran.
"Menikahlah dengannya!"
Nyonya Farida tersontak kaget hingga kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya, sedang Hisyam yang tak kalah kaget, segera bangkit, menatap mamanya penuh tanda tanya.
"Menikah, aku? Dengan siapa?" Tanya Hisyam lagi.
"Dengan Alia, mama perhatikan kalian cocok, dan yang paling penting dia akan jadi ibu yang baik untuk Ozan" Ucap nyonya Farida penuh pertimbangan.
"Mom, bagaimana mungkin, dia itu pengasuhnya Ozan, dan hubungan kami hanya sekedar majikan dan pekerja tak ada yang spesial" sanggah Hisyan.
"Maksud kamu, kamu seorang CEO sedangkan Alia hanyalah pengasuh dari putranmu?" Ucapan nyonya Farida terdengar kecewa.
"Bukan bagitu mom, hanya saja, hubungan kami tak sedekat yang mama pikir, dan, apa mama yakin Alia bisa bahagia bersamaku?"
"Jadi menurutmu Alia bahagia sekarang setelah melalui semua ini? Huft..."
Nyonya Farida menghela napas beratnya sambil mengelengkan kepalanya wanita itu sangat mengharapkan Alia yang menjadi menantunya.
"Ma, aku memang bersalah pada gadis indo itu, tapi bukan berarti aku harus menebus kesalahanku dengan menikahinya, dan...
mengenai Ozan, pengasuh itu sudah menanda tangani kontrak selama tiga tahun, itu artinya dia akan terus bersama Ozan, setidaknya sampai Ozan tak membutuhkan ASI lagi darinya, jadi mama tak perlu menghawatirkan tentang masalah itu" Jelas Hisyam.
"Masalahnya, ibu susu tak sesederhana itu Hisyam, ikatan mereka sudah terjalin begitu erat tanpa kamu sadari dia juga memiliki seorang anak yang membutuhkan kasih sayang darinya
Dan satu hal yang sudah kamu ketepikan, apa kamu bisa memastikan tuan Lee tak akan mengganggunya lagi, pikirkanlah baik-baik tentang Ozan dan keselamatan Alia, namun mama tak akan memaksamu, semua keputusan ada di tanganmu!"
Nyonya Farida bangkit setelah menepuk lembut tangan Hisyam yang sedari tadi di genggamnya.
Tak puas dengan sikap egois Hisyam, wanita itu berlalu dengan perasaan hampa, namun masih berharap putranya bisa mewujudkan keinginannya.
-
Hisyam mulai berpikir keras, semenjak mamanya meninggalkannya seorang diri di kamar itu ia pun memutuskan untuk mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower.
"Huft... mama pasti bercanda, bagaimana bisa dia menyarankan pernikahan ini sebagai solusi dari masalahku"
Bisik Hisyam seraya mematikan kran dan berlalu meninggalkan kamar mandi.
-
Alia membuka perlahan pintu ruang kerja majikannya, setelah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut di kamar itu.
Akhirnya ia menemukan paper bag yang di maksud oleh Hisyam, terletak di antara map dan laptop yang biasa di gunakan majikannya untuk menyelesaikan setiap masalah kantornya.
Dengan antusias Alia mengeluarkan ponsel dari dalam paper bag tersebut, dan tak sengaja matanya tertuju pada surat kabar daily business yang menampilkan wajah Hisyam dan Mike terpampang di halaman depan.
Segera di raihnya news paper itu dan mengamati isi dari artikel tersebut, seketika membuat tulangnya terasa telah hilang dari persendiannya.
"Jadi tuan Lee dan Mike benar-benar membawa masalah ini ke jalur hukum! Bahkan tuan Hisyam dan Davis pun sudah mendapat surat panggilan dari kantor polisi...." Alia berpikir sejenak.
"Tidak! Padahal tuan Hisyam dan asisten Davis hanya berniat untuk menolongku!"
Alia bergegas keluar dan menghampiri kamar tuannya, berniat menanyakan kebenaran dari cerita yang di bacanya.
"Tapi... kalau memang benar, bagaimana dengan foto fotoku? Bagaimana kalau mereka menyebar luaskannya setelah tahu aku akan memberi kesaksian tentang tuduhan itu, dan Mike..."
Alia seketika menarik tangannya yang sudah siap untuk mengetuk pintu setelah bayangan bringas Mike kembali terlintas dalam benaknya.
Wanita itu terlihat ragu, lalu mundur beberapa langkah setelah mempertimbangkan masalah yang di hadapinya akan semakin rumit nantinya, terlebih lagi mengakui dirinya sebagai korban pelecehan s******l di khalayak umum adalah salah satu kelemahan terbesar bagi dirinya.
"Ehm....!" Suara Hisyam yang baru saja kembali dengan air mineral di tangannya menggelegar mengagetkan Alia yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Need something?" Hisyam kembali bertanya saat Alia masih menatapnya kaget.
"A...aku tak tahu cara menggunakannya!" Alia spontan mengulurkan ponselnya, namun Hisyam hanya mengernyitkan keningnya tanda heran.
"Bisakah tuan mengajariku caranya?"
Alia kembali meyakinkan Hisyam bahwa dirinya benar-benar tak tahu cara menggunakan smartphone limited edition pemberian tuannya.
"Baiklah..."
Baru saja Hisyam meraih smartphone di tangan pengasuh itu, suara Ozan tiba-tiba terdengar mengagetkan keduanya.
"Aku akan melihat Ozan!" Ucap Alia sebelum berlari ke kamar Ozan, dan meninggalkan ponselnya begitu saja pada Hisyam.
Alia yang sigap kemudian mendapati Ozan yang berusaha memanjat ranjang bayinya, mungkin ingin keluar, setelah sadar tak seorang pun yang menungguinya saat ia terjaga dari tidurnya.
"Astaghfirullah Ozan!"
Alia bergegas meraih tubuh gembul Ozan yang hampir terjatuh dari ranjangnya dan mendekapnya dengan rasa khawatir.
Sedang Ozan yang merasa sedang di manja oleh Alia, kini tertawa riang dengan kehadiran pengasuhnya yang tak henti-hentinya menghujami ciuman di wajahnya yang menggemaskan.
Setelah cukup mendapat ASI dari Alia, Ozan pun terlelap kembali dengan tenang, sehingga Alia yang berusaha bangkit dari pembaringannya pun berusaha tak menimbulkan suara, takut jika Ozan kembali terbangun dan sulit untuk menidurkannya kembali.
"Tok... tok...! Cant i get in?"
Teriak Hisyam dari balik pintu, sehingga Alia yang belum sempat merapikan pakaiannya setelah menyusui Ozan bergegas membelakangi pintu untuk memasang kancing bajunya.
"Sorry, aku akan kembali lagi nanti..."
"Tu...tunggu! Aku sudah selesai, um... apa tuan membutuhkan sesuatu?"
Cegat Alia yang baru saja membalikkan tubuhnya menghadap Hisyam.
"Ah... aku hampir lupa untuk mengembalikan ponselmu"
Ujar Hisyam sambil mengulurkan ponsel pada Alia sedang tangan lainnya masih di sembunyikan di dalam sakunya.
"Uh... semua kontak yang kamu butuhkan ada di dalam kecuali kontak keluargamu"
Terang Hisyam lagi, namun Alia hanya menunduk serius sambil mengecek ponsel barunya, hingga Hisyam pun ikut membungkuk mencari tahu apa yang sedang di lakukan pengasuh itu.
"Apa kamu sama sekali belum pernah memiliki ponsel sebelumnya?"
Tanya Hisyam lagi, sedang Alia yang tadi sedang fokus kini mengangkat wajahnya, membuat keduanya bersitatap untuk beberapa detik.
"Jadi kamu benar-benar tidak tahu cara menggunakannya tapi, di jaman modern seperti ini... ah! forget it... duduklah, akan ku ajarkan cara menggunakannya"
Seru Hisyam mengalihkan pandangannya lalu menarik tangan Alia untuk duduk di sofa yang sama dan mulai mengajarkan wanita itu cara menggunakan smartphone nya.
Satu menit... dua menit... hingga berapa menit berlalu Hisyam masih menunjukkan bagaimana menggunakan smartphone dan social media yang baik dan bermanfaat.
"Apa kamu sudah mengerti sekarang?"
Tanya Hisyam saat menyadari Alia sudah tak bertanya lagi, hingga ia pun segera beralih menghadap Alia yang rupanya sudah tertidur di sampingnya dengan posisi duduk.
"Hm... pada akhirnya dia tertidur lagi" Bisik Hisyam seraya meletakkan smartphone di tangannya dan membaringkan tubuh Alia ke posisi yang lebih nyaman.
"Maaf, karna tak mempercayaimu selama ini, bahkan aku menuduhmu menghubungi Renata secara diam-diam dan menghukummu atas kesalahan yang tidak kau lakukan"
Ungkap Hisyam menyesal, ia menatap wajah teduh wanita yang sering ia sakiti perasaannya satu ketika dulu hingga membuatnya begitu merasa bersalah pada gadis indo itu.
Lama menatap wajah polos wanita yang tengah berbaring di hadapannya saat ini, hingga seketika ia teringat permintaan mamanya untuk menikahi wanita itu.