
FLASH BECK ON.
"Tuan Adam!"
Sapa seorang pria berotot berwajah gahar sedang berdiri menghadang Adam yang baru saja keluar dari bandara.
"Si-siapa kamu?"
Tanya Adam takut, sambil menyembunyikan satu-satunya tas bawaannya ke dalam ketiaknya.
"Boss ingin bertemu dengan anda" Jawab si pria dengan raut menyeramkan.
"Bo-boss, siapa bos kamu?"
Nyali Adam seketika menciut kala pria di hadapannya menyebut dirinya adalah orang suruhan dari seseorang yang di sebutnya, boss.
"Apa... boss yang di maksud oleh pria ini adalah boss mafia tempatku meminjam uang? Tapi, bagaimana dia bisa mengejarku sampai sejauh ini?"
Adam berfikir keras, ingin saja ia menghindar dan kabur dari tempat itu, tapi hanya dengan satu ayunan tangan, dia bisa mati konyol di tangan pria tegap yang lebih besar dari tubuh sederhananya itu.
"A-ada perlu apa boss mu ingin menemuiku? A-aku bahkan tidak mengenalnya..." Tanya Adam mencoba sesantai mungkin.
"Alia Syafira dan Assyifa Dania, bukankah mereka adalah orang-orang terdekatmu?"
Adam membolakan matanya.
"Kamu mungkin tidak mengenal boss kami, tapi, dia sangat ahli dalam menggali informasi seseorang dari sudut manapun"
"Iya, tapi setidaknya beri tahu dulu, apa yang...."
"Kami akan menjelaskannya nanti, dan saya jamin anda tak akan menyesal.... silahkan"
Pelawa si pria sambil membukakan pintu Jeep untuk Adam.
Dengan berat hati Adam akhirnya menurut saja tanpa bisa membantah lagi, meski ia sama sekali tak tahu masalah apa yang akan menantinya di sana.
FLASH BACK OFF.
Seorang pria berkaca mata hitam terus fokus pada targetnya, pria itu menghentikan mobilnya saat taxi di hadapannya berhenti, mungkin si pengemudi taxi tersebut sudah menyadari mereka sedang di buntuti.
Adam yang tampak sangat jauh berbeda dengan tampilan sebelumnya bergegas merogoh kocek saat ponselnya tiba-tiba berdering.
"(Tell me what you got!)" Suara seorang wanita di seberang talian terdengar penasaran dengan hasil kerja partner barunya itu.
"Alia dan Assyifa baru saja keluar dari kediaman nyonya Farida dan sepertinya mereka menuju ke rumah tante Rima sekarang, apa.... aku harus mengikuti mereka?" Tanya Adam antusias.
"(Tidak perlu! Wanita itu tidak punya kenalan lain selain keluarga pak Farhan di kota ini, kamu pikir, kemana mantan istri kampunganmu itu akan pergi)"
Sindir wanita itu sinis, namun bukannya tersinggung Adam malah tergelak tidak perduli, baginya apa yang di ucapkan wanita itu tak salah sama sekali.
Bahkan ia meninggalkan Alia waktu itu hanya karna satu alasan yang sama, merasa wanita yang telah di nikahinya itu begitu membosankan dan sudah tak menarik lagi di matanya.
Tapi sekarang, ia malah bingung dan penasaran bagaimana bisa wanita membosankan dan sekampungan Alia bisa sangat penting dan di butuhkan oleh seorang Hisyam Al Jaziri Osmand?
"Argh! Persetan dengan Alia, nyatanya, Renata lebih sempurna dan aku rela di perbudak oleh wanita itu asalkan aku bisa hidup mewah tanpa harus bekerja" Pikir Adam sambil menyeringai.
"(Exscuse me! Do you hear me?)" Teriakan manja Renata sukses membuat Adam tercengang.
"Uh, sorry, tapi, sepertinya kita harus bertemu, bukankah begitu nona, Renata?" Pancing Adam.
"(Really, for what?)"
"Um.... Untuk membahas kerjasama kita?"
"(Great, i like your spirit....)" Renata terkesan, "(Owh, by the way, datanglah ke apartemenku, kebetulan aku free malam ini)"
"A-aku?"
"(Yes, kamu tidak keberatan, kan?)
"Tentu saja aku tidak keberatan! Aku pasti akan datang" Sahut Adam kegirangan.
"Oke, see you leter...."
Suara lembut Renata terdengar seperti mengisyaratkan sesuatu, hingga Adam yang sedikit paham pun seolah mendapat lampu hijau dari wanita incarannya itu.
"Argh! Dari pada memikirkan wanita kampungan itu, lebih baik aku memikirkan cara untuk menaklukkan hati Renata" Tekad Adam.
Entah hatinya terbuat dari apa, sampai tak terpikirkan olehnya untuk menjenguk, atau paling tidak menyapa darah daging yang telah di tinggalkannya sedari lahir.
Kode dari Renata telah di terimanya, kini Adam kegirangan, ia kembali memasukkan gawainya ke dalam saku.
Sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri ia melajukan mobil pemberian Renata, mendahului taxi di hadapannya di mana ada putrinya di dalam sana.
-
POV Alia.
Perjalanan ke rumah tante Rima memakan waktu sekitar tiga puluh menit, Alia yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba tersadar saat sang sopir memberi tahukannya bahwa sebuah mobil mengikuti mereka sejak keluar dari kediaman besar nyonya Farida.
Alia seketika menoleh berharap orang yang ada di mobil itu, adalah orang yang di harapkannya.
Alia membuyarkan angannya, "Huh, apa mungkin itu dia?Bahkan tadi dia sama sekali tak menawarkan diri untuk mengantarku"
Alia menepis secuil harapannya yang tertinggal dan menyuruh sang supir untuk melajukan kendaraannya.
"Cekiiiitttt!!"
Baru saja sang sopir ingin menginjak pedal gas, mobil di belakang tiba-tiba menyela dan berlalu begitu saja.
"Nona tidak apa-apa, kan?"
Tanya si sopir yang juga terlihat sangat kaget.
"Uh, iya, kami tidak apa-apa, bapak lanjut saja"
"Baik, nona" Jawab si sopir lalu mengarahkan mobilnya ke alamat yang di berikan oleh Alia, namun di tengah perjalanan Alia tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
"Tunggu! Bisa berhenti sebentar, aku akan menelpon seseorang"
Permintaan Alia di turuti si sopir dan langsung menepikan kendaraannya ke sisi jalan.
Alia mencari kontak seseorang di ponselnya dan menghubungi nomor tersebut.
"(Halo....)" Terdengar suara seorang wanita di balik talian.
"Halo, Nisha, ini aku Alia, kamu masih ingat padaku, kan?" Tanya Alia ragu, takut kalau Nisha sudah lupa atau marah padanya karna setelah pertemuan singkat mereka di rumah sakit waktu itu, Alia sama sekali tak pernah menghubungi sahabatnya itu.
"(Alia? Whos Alia?)"
"Um, i must have the wrong number, sorry...." Alia meminta maaf.
"(Hahaha! Oh, come on, Alia, i'm just kidding, tentu saja aku mengenalmu, bahkan aku sangat-sangat merindukanmu)"
Canda Nisha yang tak henti-hentinya terkekeh dengan kepolosan sahabatnya itu.
Susah payah Nisa meredam tawanya, "Kamu masih sepolos dulu, ya...." Masih terkekeh.
"Mm, sebenarnya aku berpikir, kamu sengaja melakukannya karna kamu marah padaku"
"(Marah? Why?)" Nisha menautkan kening.
"Kamu memberikan nomor telepon padaku tapi aku sama sekali tak pernah menghubungimu, tapi malah menghubungimu saat sedang membutuhkan bantuanmu" Alia merasa buruk.
"(No! Itu, aku hanya bercanda, Alia, aku malah senang kamu masih mengingatku, so, tell me, apa yang bisa aku bantu?)"
"Um.... apa aku dan Assyifa bisa menginap di rumahmu sementara waktu" Pinta Alia ragu.
"(Of course, untuk selamanya pun bisa, jadi aku tidak kesepian lagi saat Nathan ku titipkan ke tempat penitipan anak, soalnya aku tak bisa mengurus Nathan jika sedang bekerja)"
"Aku bisa mengurusnya!"
"(Jangan Alia, kan ada Assyifa, kamu akan kewalahan nanti, lagi pula kamu kan tamuku....)" Tolak Nisha, tak ingin di anggap memperalat sahabatnya.
"Anggap saja itu tanda terima kasihku karna kamu mau..."
"(Kita bahas itu nanti saja setelah kamu sampai ke sini, oke, aku akan mengirim alamat apartemenku sekarang)" Ucap Nisha dan menutupnya sebelum Alia sempat berterima kasih padanya.
Setelah mendapat alamat apartemen Nisha, sang sopir langsung melajukan mobil ke alamat , namun sepertinya ada yang aneh dengan tingkah si sopir yang sepertinya lebih fokus pada sesuatu.
"Ada apa, pak?" Tanya Alia penasaran.
"Uh, itu, sepertinya mobil tadi mengikuti kita lagi" Jawab si sopir masih ragu, tapi belum sempat Alia menoleh, mobil Adam telah pun hilang entah kemana.
"Maaf nona, sepertinya saya salah mengira, mungkin saja mobil itu hanya kebetulan searah dengan kita" Ucap si sopir tak ingin membuat penumpangnya takut.
Mendengar penjelasan si sopir, Alia hanya mengangguk, meski sebenarnya ia juga merasa ada yang ganjil sejak ia meninggalkan kediaman nyonya Farida.
-
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba di gedung apartemen Nisha.
"Masuklah"
Pelawa Nisha saat mereka tiba di unit apartemen miiknya dan dengan segan Alia juga mengikuti sahabatnya itu dari belakang.
"Di sini hanya ada dua kamar jadi, maaf ya, karna kamu harus berbagi kamar dengan Assyifa"
Alia tersenyum haru menerima perlakuan baik dari sahabatnya, "Ini juga sudah lebih dari cukup, Nisha, dan aku sangat berterima kasih padamu, kalau bukan karnamu, aku tak tahu lagi harus meminta bantuan ke siapa lagi'"
Dengan netra berkabut ia tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya, hingga Nisha yang melihatnya pun dapat merasakan ada sesuatu hal buruk sedang terjadi dalam rumah tangga sahabatnya itu.