Single Parents

Single Parents
PRIA MISTERIUS.



Sudah hampir sepuluh menit Alia bermondar-mandir di depan toko sambil menunggu Hisyam yang tak kunjung keluar dari tempat itu, Alia terlihat menggerutu, entah apa yang membuatnya terlihat begitu gelisah.


"Tuan, soal baby girl tadi...


Argh semua yang di katakan pelayan tadi cuma salah paham....


Tidak, tidak! itu sungguh memalukan, tak mungkin aku langsung membicarakan soal baby girl itu pada tuan Hisyam tanpa basa-basi!"


Sambil meremas handle stroller milik Ozan , pengasuh itu tak henti-hentinya berkomat kamit , merangkai kata yang tepat untuk di jadikan alasan atas kesalah pahaman yang terjadi.


"Ehm... maaf membuatmu menunggu lama" Suara bariton Hisyam membuat Alia tersontak kaget, hingga ponsel di tangannya hampir terlepas dari genggamannya.


"Tidak juga! Am.... tuan sa... saya..."


"Alia!" Hisyam memotong kata-kata pengasuh itu.


"Ya!"


"Pergilah bersama Ozan ke sana, mungkin dia akan senang bila bermain di playground itu"


Usul Hisyam sambil menunjuk ke arah tempat bermain yang ramai di penuhi anak-anak beserta keluarga mereka.


"Tapi tuan, saya ingin..."


"Jangan khawatir, aku akan menyusul setelah urusanku selesai, oya, gunakan ini jika membutuhkan sesuatu"


Potong Hisyam lagi, seraya mengeluarkan card no limit dari dompetnya dan memberikannya pada gadis indo itu.


Alia mulai mengatur langkah ragunya, setelah mematung memerhatikan Hisyam yang hampir hilang dari pandangannya.


Meski ada rasa khawatir bertemu dengan orang asing, tapi itu perintah dari majikan yang tak bisa di tolaknya, untung saja sekarang dirinya sudah memiliki ponsel hingga kapan saja ia bisa menghubungi Hisyam jika sesuatu hal buruk terjadi padanya.


Alia mengikuti apa yang di perintahkan oleh Hisyam dan memutuskan untuk menunggu majikannya sambil membantu Ozan yang tengah merangkak ria, sesekali bocah itu berdiri mencoba dua, tiga langkah dan jatuh, bangkit lagi hingga tertawa riang bersama anak-anak lain yang juga menikmati semua permainan yang ada.


Lelah mengikuti Ozan ia pun memutuskan untuk membeli minuman dan beberapa cemilan di sebuah vending machine yang tak jauh dari tempat Ozan bermain.


Saat kembali mendapati Ozan tak sengaja pandangannya tiba-tiba tertuju pada sekelibat pria yang sedari tadi memerhatikan gerak geriknya tak jauh dari tempatnya kini berada.


Setelah memutar otak, Alia berusaha mengumpulkan ingatannya, dan seketika ia tersadar pria bertopi hitam dan memakai masker itu telah mengikutinya sejak ia keluar dari toko tadi.


Pengasuh itu mulai mengayun langkahnya menuju ke arah pria misterius itu berada, dirinya begitu penasaran dengan pria berpakaian serba hitam itu, namun ia tersadar saat suara tangis Ozan memecah keramaian.


Dengan spontan Alia menghentikan langkahnya dan bergegas menghampiri Ozan yang tersungkur, untung saja semua permainan di tempat itu memang di rancang aman untuk anak anak, hingga Alia bisa bernapas lega karna tak terjadi apa-apa pada bocah gembul itu.


"Cup.... cup.... Ozan sayang, jangan menangis sayang"


Alia meraih tubuh gembul Ozan dan menggendongnya, dengan rasa penasaran pengasuh itu terus menepuk bokong Ozan, sementara ekor matanya masih mencari keberadaan pria misterius tadi.


"Kemana dia pergi? Aku yakin dia pria yang sama, tapi untuk apa dia mengikutiku? Mungkinkah pria itu..."


Pikiran Alia sudah kemana-mana, ia mulai mengingat kembali wajah Mike yang menyeramkan, hingga kejadian di hotel waktu itu kembali terlintas di ingatannya.


"Exscuse me? Apa dia baik-baik saja?" Alia tersontak hingga kembali ke alam sadarnya saat seorang pria muda berparas indo datang menghampirinya.


"Ya! Dia baik-baik saja, tadi Ozan sempat terjatuh, jadi sedikit rewel" Jawab Alia ramah dan terus menenangkan Ozan.


"Biar aku coba menenangkannya, ya"


"Apa! Tunggu! Kenapa?" Alia curiga, hingga memicingkan mata penuh selidik.


"Oh, maaf, aku tak bermaksud menakutimu, aku hanya ingin membantu wanita senegaraku... kamu dari indonesia, kan? Aku bisa tau dari cara bicaramu" Jelas pria itu.


"Ah... maaf, tadi aku sempat berpikir buruk" Jawab Alia ramah.


"Tidak perlu minta maaf, aku bisa paham, tak mudah mempercayai orang asing di kota sebesar ini... oya, apa aku bisa duduk di sini, kalian hanya berdua, kan?"


"Kami bertiga! Dan maaf, saya tak terbiasa duduk semeja dengan orang asing, so cant you leave us"


Potong Hisyam , hingga Alia dan pria indo itu kompak menatap Hisyam yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Um... maaf, anda siapa, ya? Dan apa kalian saling kenal?" Tanya pria indo itu sambil menatap Alia dan Hisyam secara bergantian.


"Perkenalkan, Hisyam Al Jaziri Osmand, Ozan's father"


"Apa itu artinya, kalian..."


"Thats right! Dan sekarang kami sudah sepakat untuk program bayi kedua, yaitu seorang baby girl, bukan begitu, honey?"


Hisyam lagi-lagi mengerjai wanita dan pria muda di hadapannya, hingga Alia shock mendengar candaan Hisyam yang sukses menambah rona pada pipinya.


"Hah, um... kalau begitu saya permisi dulu, maaf telah merusak momen kebersamaan anda"


Ucap si pria indo itu sembari melempar pandangan kesalnya pada Alia dan berlalu dengan gurat kekecewaan yang jelas tergambar di wajahnya.


"Hey, tunggu...!" Teriak Alia tak puas.


Ingin saja Alia menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, namun tidak ada gunanya karna pria muda itu telah pergi, lagi pula ada masalah yang lebih serius dari itu, yaitu kesalahpahaman antara dirinya dan pria berparas dingin di sebelahnya.


"Ada apa? Apa kalian saling mengenal sebelumnya" Tanya Hisyam pura-pura, sembari ikut duduk di hadapan Alia yang sedari tadi berusaha menenangkan Ozan yang rewel.


"Tuan, saya pikir, kita perlu bicara..."


"Baiklah, tapi sebaiknya kita bicara sambil makan siang, Ozan juga pasti sudah lapar dan apa ini, aku memberimu card bukan untuk membeli makanan berbahaya seperti ini! Alia ini semua tidak baik untuk Ozan!"


Protes Hisyam dan mengeluhkan tentang kebiasaan buruk Alia yang sangat suka dengan cemilan, seperti yang sekarang berserakan tepat di hadapannya.


Mendengar semua omelan Hisyam, Alia hanya bisa menunduk pasrah, karna ia juga sadar apa yang di katakan oleh Hisyam tadi ada baiknya juga, karna ia sangat mengerti sikap over protektif Hisyam saat ini juga sering di alaminya.


Setelah menyaksikan semua cemilan yang di belinya tadi masuk ke dalam tempat sampah, Alia hanya terdiam mengekori Hisyam yang sedang menggendong Ozan sambil memilih restoran yang cocok untuk seleranya.


"Apa! Chinese food lagi, apa istimewanya sih, makanan itu, lama lama dia bisa tau kalau waktu itu aku menolak makanan yang dia pesan karna tak bisa menggunakan chopstick, argh... mau di taruh di mana mukaku"


"Thank you..." Ucap Hisyam datar pada pelayan restoran.


Sedang Alia yang asyik dengan kekhawatirannya, baru menyadari Hisyam telah pun memesan makanan yang jauh dari ekspektasinya.


"Bukankah ini restoran chinese?"


Tanya Alia dalam hati saat menu yang tertata di depannya berupa köfte atau daging sapi giling dan berbagai macam makanan khas ala timur tengah kini tersaji di atas meja.


"I think you have a problem with chinese food, so, aku membawamu ke restoran ini"


Jelas Hisyam seraya memperbaiki posisi duduk Ozan yang sudah siap dengan sebotol susu di tangannya.


"Oya, kamu bilang kamu ingin menjelaskan sesuatu, tentang apa itu?" Hisyam tiba-tiba mengungkit masalah di toko tadi.


"Aa... soal itu... lupakan saja"


Alia kembali terdiam, jujur tentang keinginannya untuk membelikan gaun tadi untuk putrinya juga tak akan menyelesaikan masalah, malah ia akan terkesan mengharap uluran tangan dari Hisyam jika mengatakan yang sebenarnya.


"Aish, bagaimana ini, tak mungkin juga kan kalau aku jujur mengenai gaun itu, bisa-bisa dia akan mengira aku mengharap bantuan darinya lagi"


"Kenapa kamu tidak protes saat aku mengaku sebagai suamimu di depan pria muda tadi?"


Pancing Hisyam, sekadar ingin melihat bagaimana reaksi wanita muda itu, tentang tindakannya tadi.


"Kenapa harus protes, kami tidak kenal sama sekali dan bertemu secara tak sengaja, lagi pula siapa yang akan percaya kalau tuan adalah suami saya"


Jelas Alia tanpa ekspresi kali ini dirinya banar-benar mencari aman saja, sedang Hisyam yang mendengar alasan Alia tiba-tiba meletakkan sendoknya.


"What! Jadi pikirnya aku cukup tua, hingga tak ada yang akan percaya kalau aku adala3h suaminya...."


Batin Hisyam.


"Tuan! Makanannya..." Alia mengagetkan tuannya yang sedang kesal hingga daging di piringnya yang kini jadi sasaran.


"Habiskan makananmu! Aku akan kembali setelah membawa Ozan berkeliling!"


Ujar Hisyam sebelum berlalu meninggalkan Alia.


"Hm... sudah aku duga, rencana mama untuk menjodohkan kami tak akan berjalan lancar, dan bagaimana aku bisa menganggapnya seorang istri, jika tingkah lakunya kekanak kanakan begitu!"


Cibir Hisyam sambil mendorong stroller putranya keluar dari restoran itu.