
Lama memilih pakaian Renata yang sudah tak terpakai lagi, Alia akhirnya menemukan sebuah dress berwarna pink dengan kerah sedikit terbuka di bagian dadanya.
Sebuah dress di atas lutut akan terlihat sangat sexy jika di kenakan oleh Renata yang tinggi semampai, berbeda dengan postur tubuh Alia yang mungil akan jauh dari kata sexy bila di kenakan olehnya.
Meski sudah memantapkan pilihannya pada dress itu, tapi ia masih belum puas dengan kerah terbuka yang menampilkan belahan dadanya, hingga ia terus berusaha mencari cara untuk menutupi bagian yang terdedah itu.
Tak berselang lama Alia akhirnya menemukan sebuah bross mewah bertabur berlian terselip di antara pakaian bekas milik Renata.
"Pakai ini saja dulu, akan ku kembalikan saat aku mendapatkan pakaianku kembali"
Ucapnya seraya memasang bross mewah itu ke kerah dress yang di kenakannya, setelah selesai Alia pun turun mendapati Hisyam yang masih sibuk dengan laptopnya dan membiarkan Ozan bermain dalam strollernya.
Alia hanya mengeleng protes melihat kesibukan majikannya, mengabaikan putranya demi pekerjaan.
Ingat dengan pesan bik Ina sebelum berangkat, Alia pun bergegas menuju pantry sambil mendorong stroller Ozan.
"Ozan jangan nakal, ya, kita siapin sarapan dulu..." Ucap Alia pada balita itu, sementara Hisyam masih dengan laptopnya.
Pria itu hanya mengekori tingkah ibu muda itu dengan ekor matanya tau jika pengasuh itu sedang menyiapkan coffee turkish untuk dirinya.
Hanya butuh beberapa menit, coffee turkish buatan Alia kini tersaji di atas meja, tak lupa pula roti dengan selei kacang persis seperti yang di rekomendasikan oleh bik Ina sebelum berangkat.
Sedang Hisyam yang mulai mencium aroma coffee favoritnya, kini mengalihkan perhatiannya dari laptop dan dan menatap cangkir di hadapannya.
Seketika ia tersadar akan perubahan Alia yang begitu berbeda dari biasanya, wanita itu memilih dress sederhana di antara dress yang mewah milik Renata, namun tetap berkelas dan tentunya sangat cantik dengan bross mewah bertabur berlian bertengger di dadanya.
Meski bross yang di gunakan Alia terlihat sangat cocok di kenakannya, tapi karna bross itulah air muka Hisyam jadi berubah.
Alia menyadari tatapan Hisyam yang menunjukkan ketidak senangannya pada bross tersebut, hingga dengan perlahan Alia meletakkan roti yang baru saja di ambilnya.
"Maaf karna memakainya tanpa izin dari tuan, tapi kerahnya sedikit menggangguku, jadi..."
"Cepat habiskan makanan kalian, kita akan terlambat ke bandara!" Titah Hisyam datar dan kembali menyeruput kopinya.
"Apa mungkin berlian yang jadi daya tarik dari bross yang ku kenakan ini adalah berlian asli?"
Alia yang tadi mengira bross yang di gunakannya cuma bross biasa kini berpikir sebaliknya saat Hisyam tak henti hentinya memandangi bross itu.
Alia yang terus di pandangi sedemikian rupa, kini semakin canggung dan tak dapat lagi melanjutkan sarapannya.
"Aku akan membawa tas Ozan ke mobil"
Ucap Alia seraya bangkit, menggapai tas yang sudah di siapkan sebelumnya, dan membawanya ke luar.
Usai memasukkan tas ke dalam mobil, Alia pun berniat kembali ke dalam rumah, namun karna sebuah mobil sport yang baru saja berhenti tepat di hadapannya, membuatnya tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Alia membelalak saat melihat Adam turun dari mobil mewah tersebut sambil memainkan kunci di tangannya.
Adam begitu tertegun dengan penampilan baru Alia yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya tak dapat lagi mengalihkan perhatiannya.
Pria itu pun melur ke arah Alia dan tanpa segan silu pria itu langsung memeluk tubuh mantan istrinya dengan percaya diri.
Alia yang kaget dengan perlakuan Adam, segera melepaskan diri dan mendorong pria itu menjauh darinya.
"Alia! Ada apa? Aku ke sini untuk menepati janjiku, aku datang untuk membawamu pergi dari orang-orang yang memanfaatkanmu"
Ucap Adam heran, pria itu semakin takjub dengan perubahan mantan istrinya itu, dan semakin tertantang untuk mendapatkan kembali berlian yang telah ia sia siakan selama ini.
Tapi ia mulai takut melihat sambutan dingin Alia yang sangat jauh dari ekspektasinya.
Pasalnya ia sudah memastikan kali ini wanita itu akan ikut bersamanya, tapi apa yang terjadi, semuanya tak berjalan seperti janjinya kepada Renata.
"Adam maaf, tapi aku tak pernah mengatakan akan ikut denganmu dan... siapa yang memanfaatkanku? Semua orang di rumah ini memperlakukanku dengan baik"
"Huh...! Apa kamu masih wanita yang polos seperti dulu, Alia? Buka matamu, kamu sudah tertipu dengan kebaikan mereka" Adam mencoba memprovokasi.
"Adam, kamu salah paham, aku sudah memberi tahumu tak ada yang di manfaatka disini, ku mohon pulanglah, aku tak akan kemana-mana"
"Apa maksudmu?" Tanya Alia tak mengerti arah pembicaraan Adam.
"Jujur saja, Alia, kamu sebenarnya tahu kemana arah pembicaraan kita, tapi kamu pura-pura menutup mata dan telingamu dengan semua kemewahan yang kamu dapatkan dari pria kaya itu, iya kan!" Hina Adam.
"Cukup, Adam! Kamu tidak berhak mengatakan hal itu padaku, karna kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku!, setidaknya mereka menghargaiku disini" Balas Alia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Huh! Mereka menghargaimu? Berapa? Uh... dengan semua kemewahan yang kamu dapatkan darinya, itu bisa menjelaskan bahwa kamu bukan lagi Alia polos dan membosankan seperti dulu..."
"PLAKK....!"
Alia melayangkan tamparannya ke wajah Adam saat kata-kata mantan suaminya itu mulai menyakitkan hatinya.
"Kamu benar! Aku memang bukan Alia seperti yang kamu kenal dulu, itu sebabnya aku lebih baik menjadi pengasuh semumur hidupku, dari pada harus menjadi istrimu kembali!"
"KAU....!"
Hisyam yang sedari tadi hanya menguping dan tak ingin ikut campur masalah pribadi Alia kini tak bisa menahan amarahnya saat melihat Adam mencengkram kuat tangan Alia, hingga wanita itu meringis kesakitan.
Tanpa berpikir lagi Hisyam menghampiri pria itu dan dengan pantas melayangkan tinjunya ke tulang pipi Adam dan...
"BRUKK....!"
Adam terkapar ke tanah, dengan meringis kesakitan pria itu menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.
"Get up! I said get up!"
Bentak Hisyam, dengan rahang yang mengeras Hisyam kembali menarik kerah kemeja Adam dan mendorongnya menjauh dari tempat itu.
"Anda jangan ikut campur tuan! Saya ini mantan suaminya ayah dari putrinya..."
"Oh yeah? This is my house! Alia tinggal di rumah saya dan saya berhak mengizinkan siapa saja yang bisa masuk dan menemuinya, jadi saya minta anda pergi dari sini!"
"Anda salah tuan, mungkin anda berhak atas tubuhnya, tapi tidak untuk...."
"BRUUKK...! BRUUKK...!"
Hisyam kembali memberi pelajaran untuk perkataan Adam yang tak mengenakkan itu, tapi kali ini bukan cuma sekali tapi berkali kali.
Hingga pria yang memiliki nyali yang cukup besar itu kini terkapar bersandar pada mobil sportnya.
"Kalian akan menyesal, telah melakukan ini padaku..."
Ucap Adam lemah, namun tetap menatap tajam ke arah Alia yang tak henti-henti menangis menyaksikan kekerasan yang terjadi di depan matanya.
"You b*st*rd...!!"
Umpat Hisyam dengan geramnya, dan kembali berjongkok mendekatkan wajahnya ke wajah Adam yang sudah babak belur.
"I warn you! Jangan pernah memperlihatkan wajahmu di depanku lagi atau kamu tak akan tahu siapa yang akan lebih menyesal setelah ini...!"
Hisyam memberi peringatan pada Adam. sedang Alia yang sudah tak kuat melihat kekerasan itu kini mendekati kedua pria itu, berniat untuk melerai.
"Tu-tuan, kumohon hentikan..."
Rayu Alia dengan linangan air mata, bukannya ia masih sayang, tapi biar bagaimana pun Adam pernah jadi bagian dari hidupnya dan tak mungkin jika dirinya membiarkan ayah dari putrinya mati di depan matanya.
Mendengar Alia memohon untuk pria yang sudah menyakitinya, membuat Hisyam kembali emosi dan bangkit menghadap wanita naif yang sedang berlutut di belakangnya.
"Ckk...! Kamu berlutut untuknya? Get up! I said get up!" Bentak Hisyam, geram melihat sikap polos Alia.
Hisyam yang berang lalu menarik tangan Alia dengan kasar menuju ke arah mobil.
"Masuk...!" Gertak pria itu lagi.
Tanpa peduli pria yang sedang tergeletak itu mati atau masih bernapas, Hisyam pun berlalu mendapati putranya dan membawanya ke dalam mobil.