
Huft....!
Hisyam akhirnya bisa bernapas lega setelah berhasil mengusir Renata dari rumahnya secara halus.
Tapi, semua itu tentu saja setelah membujuk, serta meyakinkan wanita itu dengan iming-iming makan malam di sebuah restoran terkenal dengan fasilitas yang serbah mewah dan romantis.
"Hum..." Tiba-tiba Hisyam tersenyum simpul kala teringat sesuatu tentang istri kecilnya.
Ya, jika di pikir-pikir Alia sama sekali tak pernah meminta hal semewah itu, meski telah menjadi istri sah dari seorang konglomerat seperti Hisyam Al Jaziri Osmand, tak pernah sekalipun ia meminta semua itu, sangat bertolak belakang dengan karakter Renata-mantan istrinya.
Jika di banding dengan wanita itu, Alia bahkan sengaja mengajak dirinya untuk merasakan makanan warung dan merasakan jajanan street food yang membuatnya harus berbaring di ranjang rumah sakit yang menurutnya begitu menakutkan bahkan menyisakan trauma dalam dirinya, padahal sebagai CEO otomatis dia akan mendapatkan layanan serta fasilitas VVIP tanpa harus memikirkan biaya yang akan di keluarkan.
"Hum.... dia bahkan tak pernah meminta barang-barang branded seperti wanita lain pada umumnya...."
Hisyam berbisik lirih, ia merasa bodoh telah menyia-nyiakan wanita langka seperti Alia, bahkan pernah meragukan ketulusan cinta Alia pada keluarganya.
"Akhirnya wanita licik itu pergi!" sindir Farida sinis setelah itu ia mendekati putranya.
"Kamu sembunyikan di mana menantuku?"
"Iya, di mana kakak sembunyikan kakak ipar?"
Nisha ikut menimpali, keduanya terlihat marah dengan melipat tangan di depan dada.
"Bukankah kalian pulang bersama... dia tak mungkin pulang sendiri, kan?"
Hisyam terlihat panik, selama ini ia tak pernah memberi waktu luang pada Alia untuk berlibur, apa lagi bemberikan wanita itu kesempatan mengenal kota ini secara rinci, Alia hanya fokus dengan pekerjaannya mengurus Ozan.
Bahkan setelah mereka menikah Alia sama sekali tak menuntut hak-nya sebagai istri seorang pengusaha yang ingin bersenang-senang menikmati pundi-pundi kekayaan yang ada pada keluarga Osmand.
"Astaga... Hisyam! Setelah sekian lama akhirnya kalian di pertertemu dan sekarang kamu malah melepasnya begitu saja! Dasar pria tidak bertanggung jawab! Kamu ini seorang pria atau bukan, sih!"
Farida begitu geram, ia terus memaki Hisyam dengan tangan yang tak henti-hentinya memukuli lengan putranya tanpa ampun.
"Mom... stop it! Aku ini anakmu atau bukan, sih...." Hisyam meniru kata-kata mamanya, namun hal itu malah semakin mematik emosi Farida.
Belum sempat Hisyam melanjutkan ucapannya, pukulan Farida kembali mendarat di lengannya.
"Di mana hati nurani kamu, Hisyam! Alia itu istrimu, dia wanita yang telah mengabdikan dirinya untuk Ozan-putramu, sebagai seorang suami seharusnya kamu lebih tahu bagaimana hancurnya perasaan Alia saat kamu membiarkannya pergi dan malah memilih wanita lain untuk tetap tinggal"
Hisyam terdiam, ia mencernah setiap kalimat wanita yang telah melahirkannya itu.
Dia pikir setelah memberikan janji pada Alia, semuanya akan selesai dan Alia akan kembali padanya dan melupakan segalanya, tapi, hal itu sepertinys tak semudah yang ia pikirkan.
"Pokaknya, mama tidak mau tau, kamu ingin mencari menantuku sekarang, atau mama yang akan pergi bersama Ozan dan tak akan pernah kembali padamu lagi!" Ancam wanita paruh baya itu.
Farida geram dengan sikap putranya yang tak bertanggung jawab, setelah melihat pengabdian Alia untuk keluarganya selama ini, ia sangat yakin Alia adalah wanita yang tepat untuk menjadi ibu bagi Ozan dan mendampingi putranya yang keras kepala itu.
"Alia wanita yang baik, Hisyam, kamu juga pasti tau itu.... Seharusnya kamu tak menyakiti wanita itu lagi, nak, lupakan rencanamu untuk menghancurkan Renata, sebelum Alia semakin terluka dan kecewa padamu" Bujuk Farida.
Ia tak ingin putranya menyesal di kemudian hari hanya karna dendamnya pada Renata yang telah mengkhianati dirinya dulu.
Hisyam terdiam mendapat pencerahan dari Farida, yang di katakan wanita itu, benar, Alia memang wanita yang baik tapi dia bukan seorang malaikat yang bisa menghapus amal buruk setelah mencatat amal baik seseorang.
Hisyam merogoh koceknya, mengeluarkan ponselnya, "Berikan nomor ponselnya" Pinta Hisyam sembari menatap Nisha serius.
"Kak, selama ini Alia berusaha lari dari masa lalunya yang penuh dengan hal buruk dan, dia tak ingin siapa pun tau keberadaannya, termasuk kakak....
Apa menurut kakak, Alia akan sengaja menggunakan ponsel saat berusaha lari dari seorang Hisyam yang bisa mendapatkan informasi apapun dengan mudah?"
Hisyam menelan ludah sendiri, ia terlihat linglung, bahkan hal sesepele itu tak terpikirkan olehnya saat ini.
Hisyam menghelah napas, benar kata mamanya, Alia mungkin sudah memaafkannya tapi rasa sakit yang dulu pernah ia berikan tidak akan terhapus begitu saja dalam hatinya.
Hisyam kembali fokus pada benda pipih di tangannya lalu menekan nomor Asisten Davis di sana.
"Aku mau kamu kerahkan semua orangmu untuk mencari Alia! Saat ini aku tidak ingin mendengar kegagalan lagi!"
Hisyam mengakhiri panggilan secara sepihak hingga Davis yang tadi begitu sibuk mengumpulkan bukti kejahatan Renata, harus berhenti sejenak dan fokus pada perintah sahabat sekaligus atasannya itu.
Hisyam bermondar-mandir di depan mansion, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, ekspresinya terlihat begitu prustasi, besok adalah jadwal keputusan persidangan Mr.Lee dan Mike tapi ia malah kehilangan Alia untuk yang kedua kalinya.
Seandainya saja ia lebih peka dengan perasaan wanita itu, pasti saat ini perasaanya tak akan sekacau dan serumit sekarang.
"Argh....!"
Hisyam kembali mengacak rambutnya kala Davis belum kunjung memberi kabar baik padanya.
Tahu Hisyam benar-benar telah menyesali kesalahannya, Farida pun kembali mendekati Hisyam, meraih tangan putra sulungnya itu dan menatapnya dengan aura keibuan.
"Hisyam, berjanjilah kamu tak akan menyakiti perasaan Alia lagi, nak...
Dia telah melalui banyak hal buruk karna keluarga ini, mama tak ingin ia semakin berpikir keluarga ini hanya mengambil keuntungan darinya, kamu ingat, kan, terakhir kali kamu memanfaatkan kepolosannya hingga berakhir dengan pelecehan itu...."
"Mom!"
Hisyam meralat ucapan yang di lontarkan mamanya, karna jelas-jelas itu bukan sebagian dari rencananya.
"Ya, secara tidak langsung, tapi gara-gara permintaan konyol rekan bisnismu yang licik itu, Alia sampai harus mengalami pelecehan, apakah kamu pikir hal itu tidak akan meninggalkan trauma baginya, hah!"
Farida kembali berkaca-kaca, ia begitu emosi jika membayangkan penderitaan yang di lalui wanita muda itu, jika itu adalah orang lain, mungkin wanita itu sudah berputus asa atau bahkan memilih mengakhiri hidupnya sebagai jalan pintas bagi masalahnya.
"Taman!" Hisyam tiba-tiba teringat sesuatu, "Ya, dulu, Alia sering ke sana bersama Ozan!" Seru Hisyam sambil menatap wajah mamanya yang mulai memancarkan harapan.
Mendapat anggukan dari Farida, tanpa membuang waktu lagi Hisyam pun berlari menghampiri mobil-nya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Taman yang di maksud hanya berjarak beberapa blok dari mansion-nya, hingga tak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
Hisyam menepikan mobilnya saat melalui kawasan lapang yang agak gelap dan hanya terlihat beberapa pasang muda mudi yang sedang menikmati kilauan senja.
Saat ini suasana hampir gelap dan sunyi, hanya pancaran lampu taman yang mulai menghiasi taman, berpadu dengan biasan cahaya matahari yang hampir tenggelam kini samar menyinari pemandangan sekitar.
Hisyam bergegas turun dari mobilnya, menyusuri jalanan kecil berkerikil dan hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki.
Hisyam terus melangkah mengecek satu persatu penghuni taman, sekaligus menanyakan adakah di antara mereka yang melihat wanita seperti ciri-ciri yang di sebutkannya.
Sepertinya usahanya hanya akan sia-sia, atau mungkin Alia memang sengaja mengasingkan diri dari orang-orang terutama dari Hisyam.
Hisyam tak akan pernah menyerah, ia terus menyusuri setiap sudut taman dan tak akan berhenti sebelum menemukan wanitanya.
Di tepi sebuah kolam, tampak siluet seorang wanita bertubuh mungil sedang duduk termenung seorang diri.
Hisyam mempercepat langkahnya saat terlihat begitu jelas wanita itu adalah Alia-istri kecilnya.
Angin berhembus sepoy, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya, Alia bangkit sembari mengusap pundaknya yang mulai terasa dingin.
Tiba-tiba sebuah tangan terulur mengalungkan sebuah jas di bahunya.
Alia mendongak seketika, "Tuan?"
Alia bergegas bangkit lalu memeriksa keadaan, "Cari apa?" Tanya Hisyam.
"Apa nyonya Renata.... tidak akan tau kalau tuan ada di sini bersamaku? Bisa-bisa dia semakin marah dan rencana tuan menjadi berantakan karna aku" Alia merasa khawatir.
Hisyam tersenyum lembut, "Aku saja sangat kesulitan mencari tahu keberadaanmu, apa lagi dia"
Canda Hisyam di tengah rasa bersalahnya.
"Bagaimana wanita ini bisa memikirkan perasaan orang lain, padahal dia juga seorang wanita yang akan merasa sakit saat suaminya lebih mendahulukan wanita lain di banding dirinya yang jelas-jelas telah menjadi istri sah-ku"
"Um.... Apa, makan malamnya sudah selesai?" Alia hanya berbasa-basi ketika Hisyam terus menatap lekat ke arahnya.
"Hum...." Jawab Hisyam dengan anggukan.
"Kalau begitu aku akan pulang, Nisha pasti sedang menungguku"
"Nisha sudah pulang duluan!" Hisyam menyerukan akal bulus yang baru saja muncul di kepalanya, padahal pada saat ia pergi Nisha masih berada di mansion-nya.
"Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku akan mencari taxi saja"
"Sangat jarang ada taxi yang melewati kawasan ini!"
"Oh...." Alia menjawab singkat dan kembali mencari solusi agar bisa pulang tanpa membebani siapapun.
"Mau pulang ke rumah bersamaku?" Tawar Hisyam saat wanita itu terlihat kebingungan.
"Apa! Uh, tidak! Tapi, kalau tuan ingin membantuku, tuan.... bisa memberikan bantuan lain?"
Tawar Alia dengan menepikan rasa malu, tentu saja dia tak mungkin terus berada di sini sampai larut malam, kan?
"Kalau tuan mau, tuan bisa membantuku dengan cara lain"
Hisyam mengerutkan dahi, "Apa?"
"Bisakah tuan memesankan taxi untukku?" Pintanya dengan pandangan yang di turunkan.
"Aku.... tidak punya ponsel untuk memesannya sendiri" Ucapnya lagi dengan malu-malu.
Melihat kelakuan Alia yang masih belum terbuka dan menjaga jarak darinya, membuatnya semakin yakin Alia belum benar-benar berbaik dengan keadaan meski telah menerima permintaan maafnya seperti yang di katakan mama-nya.
"Um, kalau tuan tidak bisa membantuku, tidak apa-apa" Ucap Alia sembari meraih tasnya
"Kamu mau kemana? Kenapa tidak pulang saja bersamaku ke rumah?" Cegah Hisyam dengan mencekal langan Alia.
"Aku menitipkan Assyifa dan berjanji akan pulang sesegera mungkin"
"Apa kamu hanya pura-pura memaafkanku? Kenapa aku malah merasa kamu sengaja menghindariku" Tebak Hisyam saat merasa Alia semakin menjaga jarak darinya.
"Aku hanya tidak ingin bergantung pada siapapun lagi dan berakhir dengan kecewa lagi"
"Gleek!" Hisyam menelan ludah saat merasa sindiran itu di tujukan padanya.
Tanpa aba-aba Hisyam tiba-tiba berlutut di hadapan Alia.
"Apa yang tuan lakukan!" Alia mundur sembari melirik sekeliling.
"Aku akan berhenti berlutut! Hanya jika kamu memaafkanku dan berjanji untuk tidak menghindariku lagi!" Tawar Hisyam dengan suara yang sedikit di naikkan.
"Apa ini, tuan sengaja ingin semua orang memerhatikan kita!" Alia sungguh di buat malu dengan tingkah laku Hisyam yang menurutnya sangat lebay, apa lagi hal itu sama sekali bukan gaya Hisyam.
"Apa kamu berjanji! Akan memaafkanku dan tidak akan menghindariku, lagi!"
Hisyam kembali berulah dan malah semakin menaikkan nada suaranya.
Alia yang sudah bisa melihat orang-orang semakin mendekat ke arahnya hanya bisa berdecak sebal dan terpaksa mengikuti apa yang di inginkan pria menyebalkan itu.
"Oke! Oke! Sekarang bangkit saja dulu sebelum orang-orang menghampiri kita!" Bisik Alia sambil menarik tangan suaminya.
Hisyam tersenyum puas mendengar keputusan terakhir Alia, hingga pada saat Alia masih memerhatikan keadaan sekitar Hisyam bergegas menarik tangan Alia dan berlari meninggalkan tempat itu.