
"Lupakan ego!" Hisyam meyakinkan diri saat panggilan telepon mulai tersambung .
Tak lama kemudian terdengar napas seseorang di seberang.
Hisyam menghela cukup dalam sebelum memulai pembicaraan, "I changed my mind..." Ucapnya
"I know you there!" Lanjut Hisyam saat lawan bicaranya tak merespon, namun ia tahu pria itu menyimak tawaran yang di berikannya.
"Mr. Hisyam Al Jaziri Osmand, i like your courage—keberanian, but, aku tak yakin kalau anda masih memiliki sesuatu yang menarik untuk di tawarkan!"
Mr.Lee berkoar dengan begitu angkuh, sehingga Hisyam berusaha meredam emosinya.
"Tak mengapalah, ini semua demi orang yang ku sayangi" Dalam hati ia mencoba melapangkan dada agar bisa tenang menghadapi pria licik seperti Mr,Lee.
"Sepertinya kamu benar-benar sudah putus asa, hah! It's okay, itu bukanlah sesuatu yang mustahil....
Semua orang akan berubah pikiran setelah pundi-pundi harta yang di milikinya terancam bangkrut...." Tambah Mr.Lee dengan sindiran yang berbunyi merendahkan.
"What ever you say!" Hisyam mulai muak mendengar bualan Mr.Lee dan berpura-pura ingin mengakhiri percakapan.
"Baiklah! Apa maumu, aku akan memberimu satu kesempatani!"
Kata-kata di seberang talian sukses membuat lekungan kecil di sudut bibir Hisyam.
"Berikan video asli nona Alia! Semuanya!" Hisyam menekankan.
"Wisshhh!" Mr.Lee memainkan siulan di mulutnya."So, it's still about that girl, hah? Oke, apa yang ku dapatkan dari kesepakatan ini?"
Mr.Lee akhirnya menanyakan keuntungan dari kesepakatan itu.
"Choose.... jalur mana pun yang kamu inginkan!" Tawar Hisyam juga dengan nada angkuh.
"You sure.... how? Bahkan semua pergerakanmu telah di awasi, termasuk jalur air "
"Itu urusanku! Kamu tinggal mengemasnya dan menunggu orang-orangku tiba di dermaga"
Hisyam meyakinkan Mr.Lee yang terdengar acuh padahal tak di pungkiri ia mulai tergiur dengan tawaran yang di berikan oleh papanya Ozan.
Apalagi ketika membayangkan pundi pundi uang mulai mengalir dalam rekeningnya, tentunya pria berperawakan oriental itu akan sulit untuk menolak aroma uang yang begitu menggiurkan .
"Well, aku suka tantangan, tapi... bukankah ini terlalu mudah?"
Mr.Lee tampaknya masih ragu, hanya sebuah video, dan Hisyam akan suka rela beralih bisnis sekaligus mempertaruhkan semua yang telah di capainya selama ini?
"You know where to find me...."
Merasa ada kejanggalan dalam tawaran Hisyam, tanpa sopan santun pria itu mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Meski begitu Hisyam tetap puas, karna pria bermata sipit itu tak menolak bahkan masih sempat mengingatkannya tempat yang baik untuk bernegosiasi.
Hisyam melempar tubuh lelahnya di atas kasur, memang tak mudah mengelabuhi pebisnis kotor seperti Mr.Lee.
Tapi bukan Hisyam namanya jika hanya bermain di zona nyamannya saja, tentunya pria satu anak itu sudah menyusun semuanya dengan sangat rapi agar rencananya tak tercium oleh pria licik itu.
"Cekleek!"
Pintu tiba-tiba terbuka, Alia melangkah masuk, siluet tubuh mungilnya terlihat jelas karena paparan cahaya lampu dari luar kamar.
Hisyam hanya berdiam di tempatnya, memerhatikan gelagat istrinya yang terlihat mengendap-endap ke kamar mandi, mungkin wanitanya itu tak ingin membangunkan dirinya yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur.
Suara gemericik air terdengar, sejenak membuat pikiran Hisyam berselancar ke arah lain namun dengan cepat ia ber-istighfar, "Astaghfirullah...."
Hisyam segera mengusir setan di pikirannya, "Argh! Sering bertemu Daniel membuat pikiranku korslet seperti dia!"
Hisyam merutuki pikirannya yang sudah terkontaminasi dengan cara pikir Daniel, si jomblo karatan itu.
Entah apa salah Dr. Daniel, sehingga ia harus di salahkan atas apa yang menimpa mantan duda itu.
Padahal jika di pikir, akhir-akhir ini dialah yang selalu menghampiri Dr jomblo itu, semenjak Asisten Davis ia tugaskan untuk meng-handle bisnisnya di luar negeri.
Melupakan semua rencana bisnisnya dengan Mr.Lee tak terasa Alia sudah keluar dan mengenakan satu persatu pakaian sholat nya.
Hisyam masih bergeming di tempatnya, memerhatikan Alia yang sedang khusyuk sampai istrinya itu selesai dan kembali berganti kostum dengan setelan celana yang lebih santai.
Alia sudah meninggalkan kamar itu, tapi mantan duda itu masih terlihat uring-uringan.
"Argh!" Hisyam mengacak rambut.
"Memiliki istri yang selalu berkeliaran di depan mata tapi tak mampu untuk di miliki, sama seperti memerhatikan buah apel yang lezat di pohon milik tetangga" Pikiran Hisyam semakin galau saja, dan entah dengan cara apa ia meredakan kegalauannya itu.
-
Suara jam terus berdetak seiring berjalannya waktu, fajar pun mulai menyingsing dari ufuk timur, tak ada kantuk yang menyerang mantan duda galau itu.
Dari pada ia merasakan panasnya harsat dalam diri, lebih baik jika ia memulai aktivitas paginya dengan memanaskan tubuh di ruang gym, "Ya, itu jauh lebih baik"
-
Alia turun ke dapur berniat membantu bik Ina sebelum anak-anaknya terbangun dan mebatasi aktivitas paginya.
Lama bermondar mandir tapi bik Ina belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Setelah di cek ke kamarnya, barulah Alia ingat kalau bik Ina sedang cuti hari ini, padahal stok makanan sudah menipis.
Alia bergegas ke kamar mengambil dompet, tak lupa pula ponselnya.
"Mau kemana kamu?"
Alia terperanjat melihat Hisyam sedang melipat tangan di ambang pintu.
"Um, stok makanan sudah hampir habis, bik Ina juga sedang tidak ada, jadi aku ingin...."
"Aku akan mengantarmu, tunggulah di mobil!" Potong Hisyam seraya melepas tank top, di hadapan Alia.
"Kenapa masih disini, ingin menemaniku?" Goda Hisyam sebelum meninggalkan Alia seorang diri.
"Cih! Siapa juga yang ingin menemaninya? Dia, kan bukan Ozan!"
"Hei! Aku bisa mendengarmu!" Teriak Hisyam sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Hm! Dia bersikap manis lagi" Alia kembali bingung dengan sikap lembut Hisyam.
"Padahal mulai sekarang aku sudah bertekat untuk melakukan semuanya sendiri tanpa bantuannya" Gumam Alia.
Dengan bibir yang mengerucut, Alia akhirnya menyerah dan mengikuti apa yang di perintahkan Hisyam padanya.
Di dalam mobil sepasang suami istri itu saling terdiam, seakan tak ada pembahasan yang menarik untuk di obrolkan.
Namun tidak dengan Alia, pikirannya terus menjelajah, lebih tepanya mempersiapkan diri agar keputusan yang akan di ambilnya tidaklah salah.
"Mau berbelanja di mana?" Hisyam membuka obrolan.
"Um, anak-anak akan terbangun senentar lagi, sebaiknya kita berbelanja di sekitar sini saja" Jawab Alia beralasan, takut ia semakin terlena dengan perlakuan lembut suaminya kali ini.
Hisyam mengangguk membenarkan kata-kata Alia.
"Hm, baiklah, kita berbelanja di mini market saja kalau begitu"
Dengan cepat Hisyam menepikan mobilnya di sisi jalan.
"Tuan juga akan ikut masuk?" Alia heran melihat Hisyam juga ikut turun.
"Jadi kamu pikir aku akan menunggumu di dalam mobil seperti seorang supir!"
"Bukan begitu, hanya saja...."
"Kamu ke sini ingin berbelanja atau berdebat... ayo cepat masuk!" Titah Hisyam dan berlalu lebih dulu sambil mendorong troli, sementara Alia hanya mengekor menjaga jarak.
"Selamat datang tuan...."
Wanita di kasir menyapa Hisyam tapi lupa menyapa wanita di belakangnya bahkan melirik Alia pun tidak karna lebih dulu terpesona dengan ketampanan dan kesempurnaan pria beranak satu itu.
"Cih! Apa cuma pria tampan dan wanita cantik yang dialu-alukan di tempat ini, asal kamu tahu, ya, aku ini istrinya. istrinya!" Alia menyombongkam diri dalam hati.
Hisyam terus berjalan di samping Alia, mendorong troli dan berharap Alia yang akan memilih bahan masakan, layaknya sepasang suami istri pada umumnya.
Tapi dasar si Alia memang kaum tak enakan, tak enak memilih ini dan itu, takut Hisyam malah menganggapnya tak tahu diri, di kasih hati sedikit saja sudah memilih seenak jidat, padahal statusnya hanya sebatas istri dengan kesepakatan.
Sudah berapa menit berkeliling namun troli yang di dorong oleh Hisyam hanya berisi beberapa sayuran, itupun Alia hanya mengambilnya jika harga yang tertera di labeli dengan harga murah.
Di angkat, di taruh lagi ke tempat semula jika harganya tak sesuai dan begitulah seterusnya, hingga Hisyam berulang kali menggeleng dan berdecak kesal melihat aksi Alia yang begitu pemilih.
"Ckk! Kapan kita pulang jika terus seperti ini"
Hisyam berguman dan mulai memasukkan sayuran, daging, buah, bumbu dapur, cemilan dan semua yang di laluinya sampai troli penuh bahkan beberapa terjatuh hingga Alia siap tanggap memunguti dan memungutinya lagi.
"Gunakan ini!" Hisyam menyodorkan black card pada Alia yang sedang menunggu di depan kasir.
"Tapi, bik Ina sudah memberiku uang belanja sebelum pergi"
"Uang itu cuma untuk sehari, Alia" Hisyam di buat gregetan dengan sikap polos istrinya.
Sementara Alia hanya menautkan alis, memandang uang pemberian bik Ina yang menurutnya cukup untuk beberapa hari ke depan.
"Hm! Itu cuma pegangan saja, siapa tahu bik Ina butuh sesuatu saat aku tak ada di rumah.... memang kamu tidak tahu tentang hal itu?"
Alia menggelengkan kepalanya, "Tidak..." Jawabnya dengan polos, tapi terlihat menggemaskan bagi Hisyam.