Single Parents

Single Parents
AYO MENIKAH.



"Masuklah kedalam, dan tidurlah setelah mengisi perutmu" Titah Hisyam.


"Ba-bagaimana dengan tuan, apa tuan tidak akan ikut masuk ke dalam" Tanya Alia gugup.


"Tidak, aku belum mengantuk, masuklah dulu, aku akan masuk kemudian" Jawab Hisyam datar.


Sebenarnya ia hanya ingin memikirkan kembali keputusannya untuk meminta Alia menjadi istrinya,


Dia juga tak mungkin bisa memejamkan matanya dengan semua keraguan dalam pikirannya,


Di tambah lagi insomnia yang di deritanya membuatnya sulit untuk mendapat tidur nyenyak tanpa bantuan obat.


Alia berjalan pelan saat langkahnya semakin mendekati pintu utama villa, di satu sisi ia tak ingin membuat Hisyam salah menaggapi dirinya yang seakan ingin terus berada di samping pria itu.


Namun di sisi lain ia juga merasa malu jika harus mengakui bahwa sebenarnya ia takut masuk ke dalam villa yang besar dan gelap itu.


Dengan mengandalkan lilin dan cahaya dari ponselnya, Alia sibuk menyiapkan makanan ke dalam dua buah mangkuk dan dua porsi nasi ke dalam piring.


Setelah semuanya siap ia pun keluar, sambil membawa nampan berisi makanan yang baru saja di siapkannya.


Alia mendekati bosnya yang sedang menjulurkan kakinya ke dalam kolam sambil menikmati kerlipan bintang yang bertaburan.


Terdengar suara merdu Hisyam mengalun sedang, bahkan hampir tak terdengar oleh Alia yang sedang sibuk menata makanan tepat di belakangnya.


Belum puas Alia mendengarkan suara langka dari Hisyam, pria itu pun tiba-tiba terdiam, menyadari kehadiran Alia di sana.


"Whay you stil here? Didn't i tell you, to come in and rest.


(kenapa kamu masih di sini? Bukankah aku sudah bilang untuk masuk dan beritirahat)"


Cetus Hisyam setelah menyadari Alia sedang mengupingnya secara diam-diam.


"A-aku pikir tuan juga pasti lapar, jadi aku membawa makanannya ke sini....


Kalau begitu biar aku membawanya kembali ke dalam"


Balas Alia dengan nada menyesal, karna penolakan bosnya.


Bukannya tak tahu diri, selain takut, ia juga merasa tak enak jika harus menyantap makanan itu seorang diri.


Padahal ia tahu bos besarnya itu juga belum memakan apapun, karna harus menemaninya mendengar keluhannya di saat ia merasa rapuh.


"Cih! Memang apa salahnya, aku kan hanya ingin berterima kasih karna telah menemaniku dan mendengarkan semua keluhanku!"


Cibir Alia sambil memberaskan kembali makanan itu ke dalam nampan, juga tak menyangka kalau Hisyam bisa mendengarnya dari jarak itu.


"Duduklah! Ayo kita makan"


Hisyam mengembalikan piring ke tempat semula tanpa menatap Alia yang ada di hadapannya.


"Bukankah tadi tuan menyuruhku..."


"Apa berdiam di belakangku adalah caramu menawarkan makanan pada seseorang?"


Hisyam berkilah dan tanpa berpikir ia menyendok kuah sup ke dalam piringnya.


Merasa sensasi dari rasa sup itu sangat berbeda ia pun kembali menambahkan sup itu ke dalam piringnya.


Melihat aksi bosnya, Alia yakin pria itu sudah mulai jatuh cinta dengan sup kikil yang di belinya tadi.


"Tunggu!" Cegah Alia, lalu mengeluarkan beberapa isi dari bungkusan sup tadi.


Hisyam heran serta kecewa saat Alia menghentikanya padahal perutnya sudah memulai aksi demo.


"Sebelum memakannya, sebaiknya tuan menambahkan bumbunya terlebih dahulu"


Lanjut Alia sambil memasukkan bawang goreng dan perasan jeruk nipis ke dalam mangkuk Hisyam.


"Tadaaa.... sup kikil sudah siap untuk di santap"


"Apa! Su-sup, kikil?"


Hisyam terkejut dengan nama makanan yang di sebut oleh Alia, yang tentunya tak akrab di pendengarannya.


"Iya! Namanya sup kikil, ini menu paling populer di warung itu"


Jawab Alia bangga karna bisa memperkenalkan kuliner dari negaranya sendiri.


"Wait! Kikil? Apa itu artinya...."


Hisyam menjeda kata-katanya, dengan dahi yang berkerut pria itu menggaruk-garukkan jarinya di atas meja layaknya seekor ayam yang sedang mencari makanan.


"Benar! Bukankah rasanya sangat..."


"Hueekk.... Hueekk...!"


Belum sempat Alia menyelesaikan kata-katanya, Hisyam hampir saja memuntahkan isi perutnya setelah mengetahui sup yang baru saja di cicipinya berisi sesuatu yang tak pernah terlintas di pikirannya.


"Oh! Tuan kenapa? Apa tuan alergi terhadap sesuatu!"


Tanya Alia panik lalu menyuguhkan segelas air putih pada bosnya itu.


"Apa tuan tidak apa-apa? Maaf, aku nggak tau kalau tuan alergi dengan sup kikil..."


Alia menyesal lalu mengeluarkan minyak kayu putih dari tasnya.


"Tapi aneh, ini pertama kalinya ada orang yang alergi dengan sup kikil...."


Gumam Alia, namun Hisyam tetap berpura-pura tak mendengarnya.


"Aku tak apa-apa, sebaiknya lanjutkan saja makananmu dan habiskan saja punyaku, aku sudah tidak berselera lagi"


"Baiklah, kalau begitu aku lanjut makan dulu ya..."


Alia kembali ke meja di mana makanannya sudah menunggu untuk di santap.


Karna terlalu lapar Alia pun menyantap makananya dengan lahap hingga makanan milik Hisyam pun ludes tak tersisa.


"Cih! Dengan porsi sebanyak itu bagaimana dia bisa sekerdil ini? Bahkan tak peduli dengan menu aneh yang di santapnya"


Batin Hisam yang sedang menatap ngeri wanita di hadapannya tanpa berkedip.


"Tuan kenapa menatapku seperti itu"


Alia yang sedang menyesap kuah supnya langsug dari mangkuk tiba-tiba menghentikan aksinya setelah menyadari bosnya sedang memperhatikan dirinya.


"Bukan apa-apa, aku cuma heran, bagaimana tutubuhmu bisa sekerdil itu dengan porsi makanan yang..."


Hisyam menggantung kata-katanya saat menyadari raut wajah Alia seketika berubah kesal.


"Forget it! Ayo bereskan semuanya dan masuklah ke dalam"


Titah Hisyam, sedang tangannya mulai lihai mengumpulkan piring kotor di atas meja dan membawanya ke dalam, di ikuti Alia dari belakang.


"Kenapa kamu terus mengikutiku, bukankah aku menyuruhmu untuk kembali ke kamar!"


Jelas Hisyam saat menyadari Alia terus mengikutinya dari tadi.


"Hm, jangan pikirkan aku, aku belum mengantuk, jadi kembalilah ke atas dan istirahat"


"Um.... apa karna ini tuan tidak bisa tidur"


Alia mengeluarkan sebotol obat dari tasnya.


"Aku menemukannya di kamar tuan, aku ingat bik Ina pernah mengatakan bahwa tuan harus meminumnya sabelum tidur, jadi aku membawanya, karna ku pikir tuan akan membutuhkannya nanti"


Jelas Alia setelah melihat wajah penasaran Hisyam, mungkin ingin tahu bagaimana obat itu bisa ada padanya.


"Ini hanya obat biasa, bukan apa-apa, berikan obat itu dan naiklah ke kamarmu!"


Titah Hisyam lalu mengambil botol obat dari tangan Alia.


"Bisakah.... bisakah tuan memberiku sebutir saja"


Hisyam menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar permintaan Alia yang mengejutkannya.


"Apa kamu tahu ini obat apa?"


"Aku ingat bik Ina pernah memberi tahuku bahwa tuan sangat sulit untuk mendapatkan tidur nyenyak tanpa bantuan obat ini....


Jadi ku mohon, izinkan aku menggunakannya hanya untuk hari ini, please..." Ucap Alia dengan ekspresi memelas.


"Sejak kapan?"


"Ma-maksud tuan...?"


"Apa karna itu, kamu selalu mencari alasan setiap kali aku menyuruhmu kembali ke kamarmu?"


Tanya Hisyam sedikit mendekatkan wajahnya saat Alia hanya menunduk.


"Kalau tidak mau bilang saja tidak mau, kenapa harus mengintrogasiku segala sih!"


Cetus Alia dengan nada pelan, sedang Hisyam masih bisa mendengar gumaman itu.


"Hm.... sebaiknya kamu menemui dokter terlebih dahulu, kamu tidak boleh mengkonsumsinya tanpa resep dari dokter....


Tidurlah aku akan menemanimu sampai kamu tertidur"


"A-apa! Menemaniku di kamar?" Alia kaget dengan solusi bosnya.


"Memang apa yang kamu pikirkan, maksudku tidurlah di sini, aku akan mengerjakan pekerjaanku di sofa itu"


Usul Hisyam dan berlalu ke arah kursi malas yang menghadap ke kolam renang, jaraknya pun terletak tak jauh dari sofa tempat Alia sekarang.


Beberapa menit berlalu namun tetap saja Alia masih belum bisa memejamkan matanya meski Hisyam sudah duduk tepat di hadapannya.


Bukannya tenang dan tidur nyenyak pengasuh itu malah terlihat gelisa hingga membolak balikkan tubuhnya di atas sofa.


Merasa risih dengan tatapan bosnya setiap kali dirinya menunjukkan gerakan, Alia pun menutupi tubuhnya hingga kepala dan berpura-pura tertidur.


Hisyam bangkit setelah yakin Alia sudah tertidur pulas, dengan perlahan pria itu meninggalkan tempatnya dan memutuskan untuk duduk di tepi kolam.


Dalam kesendiriannya Hisyam terdengar bersenandung, dengan lagu Photograph, yang di populerkan oleh Ed Sheeran.


So you can keep me....


(Jadi kamu bisa menyimpanku)


Inside the pocket of you ripped jeans....


(Dalam saku celanamu yang robek)


Holding me closer until our eyes meet....


(Mendekapku erat hingga mata kita bertemu)


You won't ever be alone, wait for me to come home....


(Kau tak pernah sendirian, tunggulah aku pulang.... 4×)


.....


Alia terhipnotis dengan suara merdu Hisyam, di tambah lagi makna yang tersirat dalam lagu itu begitu romantis, membuatnya tak sadar telah berdiri tepat di belakang bosnya.


"Kenapa tidak mengiringinya dengan suara gitar, pasti akan terdengar lebih merdu"


Ucap Alia, wanita itu memang tak bisa menahan mulutnya untuk tak berkomentar.


"Hm...! Jadi kamu belum tidur juga?" Tanya Hisyam.


"Maaf, tapi aku sudah berusaha.... karna itulah aku menginginkan obat itu!" Ungkapnya geram.


"Dan aku sudah menjelaskan alasannya!"


Hisyam dengan nada sedikit meninggi, hingga keduanya pun terdiam sejenak.


"Apa sejak insiden itu kamu mulai susah untuk mendapatkan tidur yang nyenyak?" Hisyam kembali bersuara.


"Apa! Uh, itu...."


Alia tak dapat menjawab pertanyaan Hisyam, menurutnya insiden di kamar hotel malam itu adalah hal yang sangat memalukan, dan menjadi sensitif untuk di kenangnya.


Selain itu, memang benar Alia pernah mengalami baby blues dan kepanikan, tapi hal itu sudah lama berlalu.


Namun setelah terlibat dalam insiden tersebut dan tahu videonya sudah menyebar, bahkan di saksikan oleh banyak orang, membuatnya kembali merasakan kepanikan dan kekhawatiran yang berlebihan seperti dulu.


"Ayo kita menikah!"


Kata-kata Hisyam terlontar begitu saja, hingga Alia yang hanya terdiam di sampingnya kini menatap heran dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Memang hal ini terdengar aneh, tapi setelah mempertimbangkan keinginan mama dan dampak bagi Ozan jika suatu saat kamu meninggalkannya, aku pikir tak ada salahnya untuk mencoba, bagaimana menurutmu?"


Tanya Hisyam kali ini pria itu sudah berbalik dan menatapnya.


"Mencoba? Hah.... apa menurut tuan sesuatu yang di lakukan tanpa keikhlasan akan membawa hasil yang baik ?


Tidak, aku pernah melalui hal separti ini sebelumnya dan kenyataanya begitu menyakitkan buatku"


Ungkap Alia, tak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta lagi seperti yang di alaminya dulu.


"Alia, pikirkan lagi tentang


hal ini, aku akan mengurus semua keperluan keluargamu begitupun putrimu but please, tetaplah bersama Ozan, menyayanginya seperti apa yang kamu lakukan selama ini"


Hisyam memohon dengan tulus namun Alia hanya terdiam sambil menggigit bibirnya, tak tahu harus menjawab apa permintaan bosnya.


"Apa yang harus aku lakukan?Haruskah aku mengorbankan perasaanku lagi, demi kebahagiaan orang lain....


Jujur saja ini kesempatan emas buatku tapi, menjadi seorang istri dari Tuan Hisyam Al Jaziri Osmand, apa aku pantas dan tak akan menjadi benalu di keluarga ini?


Dan yang paling ku takutkan adalah, apa aku bisa menjamin mereka akan menerima putriku, dan tak akan mengungkit semua bantuan dan kebaikan yang mereka berikan suatu saat nanti?"


Berbagai keraguan dan tanda tanya muncul dalam benak Alia, namun tentu saja hal itu tak akan bisa ia ungkapkan pada pria di hadapannya saat ini