Single Parents

Single Parents
Rencana Clara



Semburat warna jingga terlihat cerah dilangit sore ini. Matahari mulai tengelam keperaduan berganti dengan terangnya rembulan malam.


Saat ini Clara tengah berada disalah sebuah cafe, kedua tangannya saling meremas satu sama lain, terlihat ia menghembuskan nafasnya berkali-kali mencoba menguatkan hatinya.


'tenag Clara.. tenang.. kau pasti bisa!!.' bisiknya dalam hati.


Ia meminum kembali ice chocolate yang tadi ia pesan. Saat pandangan matanya menagkap seseorang yang berjalan kearahnya ia tercekat, minuman yang berada di mulutnya sudah seperti duri yang melewati tenggorokannya, susah ditelan.


Laki-laki itu menarik kursi dihadapan Clara, duduk seenaknya dengan sorot mata tajam siap mengguliti orang yang ada dihadapannya saat ini.


"ja.."


"YL Fashion." Clara menjawab cepat, memotong apa yang hendak laki-laki itu ucapkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kejadian kemaren malam dirumah Dira.


"jadi kamu mengikuti kompetisi ini?." Clara memandangi sketsa gaun yang telah rampung dilukis oleh Dira. Saat ini mereka tengah berada di rumah Dira, tepatnya diruang kerja


"iya, dan waktunya tinggal dua minggu lagi, aku harus kerja extra mulai dari sekarang, ini kesempatan bagus buat aku." dengan penuh semangat Dira menjelaskannya.


'YL Fashion, inikan perusahaan milik keluarga Jovanka, bukankah tahun ini hanya D'will company yang menjadi sponsornya?!.'


'ah.. apakah ini karena tuan Deva dan tuan Dean berteman baik?.'


'yah.. mungkin karena itu. Baiklah aku akan menggunakan ini untuk keluar dari persembunyianku sekarang.' tiba-tiba tersenyum sendiri seperti orang gila. Membuat Dira merinding sendiri.


"Clara.. hallo.." Dira mengibaskan tangannya didepan wajah Clara.


"ah, iya." tersadar dari lamunannya. "baiklah, aku mendukungmu, semoga kau berhasil nanti. Besok aku akan pulang, aku rindu sama papa." senyum semanis gulali.


"hemm.. pulanglah, jika ada waktu senggang aku akan kesana, aku juga rindu sama om Arya." menepuk bahu Clara pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dira ikut kompetisinya, biarkan mereka bertemu secara alami disana. Bukankah D'will company satu-satunya yang mensponsori acara itu?."


'kenapa anda mengalihkan pembicaraan tuan!!.' menahan geram sekaligus takut.


Menarik nafasnya dalam "yah saya tau."


"jadi?!."


"saya bukan menghilang ataupun menghindari anda tuan, saya hanya mencari cara bagaimana Dira bisa bertemu dengan tuan Dean secara alami, tanpa Dira curiga." menjawab dengan fasih.


Hening


Mereka tenggelam dengan fikirannya masing-masing.


"sekarang tinggal bagaimana anda mengatur pertemuan mereka di acara itu nanti, dua Minggu lagi. Anda pasti tau kan?. Saya sudah susah payah membujuk Dira agar mau ikut kompetisi itu, anda tinggal membawa tuan Dean datang kesana, saya tau jika tuan Dean tidak begitu tertarik dengan dunia fashion, jadi bekerja keraslah." tersenyum simpul mengejek asisten Semmy yang duduk tenang dihadapannya.


'aaaa padahal itu keinginan Dira sendiri. Maafkan aku Dira sayang.'


"anda terlalu banyak bicara nona." tatapan tajamnya menghunus hati Clara, membuat nyali dokter muda itu menciut seketika.


"maaf tuan."


"baiklah, saya rasa sudah cukup. Terimakasih atas kerja samanya nona Clara, saya pasti akan bekerja keras sesuai dengan apa yang anda katakan." tersenyum miring, Semmy bangkit dari duduknya.


"kalau begitu saya permisi nona."


Clara masih tengelam dalam diamnya.


'apa maksudnya senyum seperti itu?, apakah dia akan merealisasikan ancamannya?, dia tidak akan memecat aku dan papa kan?!, jika sampai itu terjadi.. tidak tidak.'


Menggeleng pelan, mengusir semua fikiran buruk yang berlarian di otaknya.


"saya harus pulang sekarang." bergumam pelan.


🖤