Single Parents

Single Parents
BATASAN.



Setelah memeriksa anak-anaknya yang sudah tertidur pulas di tempat tidurnya masing-masing, Alia kembali mendapati Hisyam setelah menerima pesan singkat dari pria itu yang memintanya untuk menemaninya di meja makan.


Makan malam yang agak sedikit larut terasa canggung saat sepasang suami istri itu saling berdiam menyantap makanannya masing-masing.


Hisyam yang terlihat begitu santai menyantap makan malamnya, sangat jauh berbeda dengan Alia yang tampak tak berselera dan hanya beberapa kali saja ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Sesekali Alia melirik Hisyam yang seakan tak terusik dengan situasi canggung di antara mereka.


"Maaf...." Alia tiba-tiba memecah kesunyian.


"Maaf karna telah menyebabkan semua kekacauan ini...." Ungkapnya lagi.


Namun Hisyam masih saja bergeming, seolah permintaan maafnya hanyalah hembusan angin lalu yang tak ber-arti apa-apa baginya.


"A-aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan semuanya seperti semula"


Ucap Alia dengan berat hati, takut jika Hisyam menuntut sesuatu yang tak mampu ia berikan.


Hisyam meneguk segelas air putih sambil menatap Alia dengan tatapan elang.


"Apa kamu yakin bisa melakukan apapun, untuk mengembalikan semuanya seperti sebelumnya?" Tanya Hisyam sembari bangkit.


Alia menelan saliva seiring anggukannya yang terlihat ragu, apalagi saat Hisyam semakin dekat menghampirinya .


Hisyam mengitari meja dan berhenti tepat di belakang Alia yang bergeming di tempat duduknya.


Perlahan tubuh jangkung itu membungkuk, semakin mendekatkan wajahnya dan berbisik sesuatu ke telinga Alia yang terlihat tegang.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.... jangan lakukan apapun! Ingat, semua ini terjadi karna kamu membangkang dan terus melampaui batasanmu!"


Bisikan Hisyam terdengar penuh penekanan, hingga beberapa rangkaian kata maaf yang telah di susun oleh Alia seakan hilang dalam pikirannya begitu saja.


Alia menghela napas berat setelah Hisyam pergi meninggalkannya seorang diri.


Sebelum menikah, bukan hanya sekali kata-kata Hisyam menyakiti hatinya.


Tapi sebagai seorang pengasuh ia tak punya kekuatan untuk melawan, hingga apapun yang di lontarkan Hisyam padanya harus ia terima, meski kata-kata yang keluar dari mulut mantan majikannya itu, sering kali melukai perasaannya.


-


Sepeninggalan Hisyam, Alia hanya terpaku seorang diri, masih di meja makan.


Meski sudah terbiasa dengan semua kata sinis dari suaminya, tapi kali ini terasa berbeda, entah mengapa setelah menikah, hatinya seakan terusik akan semua cibiran suaminya, apalagi saat mendengar hinaan Hisyam yang mengingatkan dirinya akan batasannya.


"Hah...!" Alia tergelak sambil menghapus air matanya.


"Batasan apa yang dia maksud? Sebagai istri atau sebagai pengasuh dari putranya"


Sambil mengumpat Alia menertawakan keahidupannya yang miris.


"Nona Alia sedang apa di sini?" Tegur bik Ina yang baru saja keluar dari kamar Farida.


"Oh, itu, kami baru saja selesai makan malam..... bibik ngapain disini, bukankah seharusnya bibik sudah istirahat di jam seperti ini?" Alia kembali bertanya.


"Nyonya tak ingin makan apa-apa, jadi bibik berniat membuatkan susu hangat dan buah sebelum bibik tidur...."


Jelas bik Ina yang tampak kusut, mungkin wanita itu sudah terlalu mengantuk.


"Um.... bibik sebaiknya istirahat saja, biar Alia yang menyiapkannya"


Alia menggeser tubuh gempal bik Ina dan mengambil alih buah-buahan yang sudah di bersihkan oleh wanita paruh baya itu.


"Huaapp.... kamu yakin, ingin melakukannya.... Ucap bik Ina sambil menguap.


"Baiklah kalau kamu memaksa, tapi, apa tidak apa-apa jika kamu meninggalkan kamar pengantinmu malam ini? Maksud bibik, tuan Hisyam kan, sudah terbiasa di temani olehmu...." goda bik Ina.


"Um, itu sebenarnya...." Alia mencari alasan.


"Sebenarnya Alia ingin tidur di kamar anak-anak malam ini, bibik tau, kan, Ozan sudah terlalu lama ku tinggalkan..... aku sangat merindukan bocah gembul itu...." Alia mengalikan pembicaraan.


"Tunggu....! Kamu tidak mencoba untuk menghindari tanggung jawabmu, kan?"


Dengan kedua alis yang di tautkan, bik Ina coba mencari tahu alasan Alia kali ini.


Sementara Alia yang mulai terpojok dengan pertanyaan bik Ina sudah tak bisa mencari alasan lain lagi.


"Ah....! Terserah bibik, yang pasti, malam ini Alia tidak mau tidur di kamar itu, jadi bik, please.... rahasiakan hal ini dari nyonya Farida, ya...."


Alia memelas, dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, mungkin dengan cara itu bik Ina bisa luluh dengan aksi imutnya.


"Ah, terserah kamu saja! Hish....! Anak ini lagi-lagi menyusahkanku...." Protes bik Ina, dengan bergumam, ia meninggalkan Alia yang tampak cengengesan.


***


Alia yang kembali mengingat kata-kata Hisyam mengenai batasannya kini hanya meletakkan nampan yang berisi susu hangat itu di atas nakas.


Meski sangat penasaran tapi sekali lagi ia sadar akan batasannya, hingga berniat meninggalkan nyonya Farida yang terlihat sangat sangat gembira mendapat panggilan dari orang itu.


Menyadari keberadaan Alia nyonya Farida cepat mengarahkan ponselnya ke arah Alia.


"Alia!"


"Ya!"


"Kemari, nak, lihat, ada seseorang yang ingin menyapamu" Pinta nyonya Farida antusias.


Melihat seseorang di layar ponsel membuat Alia spontan membelalakkan mata sembari membekap mulut dengan tangannya sendiri.


"Hamish!"


Alia menjerit kecil melihat seseorang yang sangat ia kenal berada di layar ponsel.


Karna terlalu antusias, tanpa sadar Alia sudah berada di atas tampat tidur, tepat di samping nyonya Farida.


Nyonya Farida menatap lamat wajah menantunya yang tadinya murung kini berubah ceria.


Meski Hamish terkenal playboy namun entah mengapa Alia merasa ccocok jika berhadapan dengan pria itu.


Mungkin karena pembawaan Hamish yang humoris dan easy going membuat Alia lebih nyaman untuk mengekspresikan sikapnya pada pria itu, di banding jika ia harus berhadapan dengan Hisyam-suaminya, yang dingin dan kaku itu.


Nyonya Farida menghela napas lega sambil memerhatikan garis wajah Alia yang seketika berubah ceria dan bersemangat setiap kali Hamish memulai leluconnya.


Banyak hal yang menarik dan menyenangkan untuk mereka bincangkan, sehingga tanpa sadar mereka sudah bercengkrama selama berjam-jam lamanya, sampai nyonya Farida pun telah tertidur pulas di sampingnya.


("Um.... bisakah kamu keluar, aku ingin bicara berdua saja denganmu")


Ucap Hamish setelah menyadari mamanya sudah pun terbuai mimpi di samping Alia.


"Baiklah" Ucap Alia sembari membetulkan posisi tidur mertuanya.


("Mama pasti sangat bahagia memiliki menantu baik seperti dirimu")


Ucap Hamish setelah melihat Alia menyelimuti mertuanya yang sudah terlelap saat mereka sibuk bercengkrama.


"Apa? Cih.... memang aku menantu seperti apa?" Tanya Alia dengan senyum simpul di bibirnya.


("Kamu menantu idaman, Alia.... ingat saat kita bertemu di taman waktu itu? Mama lah, yang menyuruhku untuk menjagamu, katanya tak ingin hal buruk terjadi padamu")


Jelas Hamish, kini wajahnya sedikit terlihat serius.


"Benarkah! Dan aku sangat beruntung memiliki mertua seperti nyonya Farida, hanya saja......"


Alia menjeda kata-katanya sembari menutup pintu lalu bersandar di sana.


("Hanya saja apa?")


Hamish penasaran.


"Nyonya Farida orang yang baik, hanya saja aku yang terlalu banyak kekurangan, sebagai menantu dan istri dari keluarga Osman"


Ucap Alia merendah, dan untuk beberapa detik keduanya terdiam.


"Oya! Tadi kamu bilang ingin bicara, tentang apa?" Alia mengalihkan pembicaraan.


****


Sementara di dalam kamar Hisyam terus bermondar-mandir menunggu kedatangan istrinya yang tak kunjung kembali ke kamar mereka.


Hisyam yang tak henti-hentinya mengumpat, kini dengan kesal meraih remote dan mematikan televisi yang sedari tadi menyala tanpa seorang pun yang menontonnya.


Setelah membanting pintu kamarnya, Hisyam melangkah dengan hati-hati ke kamar putranya, mengintip dari balik pintu, adakah wanita yang sedari tadi di nantinya sedang berada di kamar itu.


"Apa perlu bibik panggilkan nona Alia, tuan?" Tanya bik Ina tiba-tiba mengacaukan pengintaiannya saat itu.


Hisyam berdiri tegak berpura-pura bersikap cool, "Uh.... bagaimana bibik bisa berpikir kalau aku membutuhkan dia saat ini?"


Hisyam kembali membalas pertanyaan bik Ina dengan sebuah pertanyaan pula.


"Oh.... maafkan bibik, bibik pasti sedang keliru...."


"Aku akan kembali ke kamar, tolong jaga anak-anak.... argh....! Kemana gadis indo itu pergi, bukankah dia seharusnya bersama anak-anak saat ini?"


Ucap Hisyam sembari berlalu, dengan langkah yang di tahan-tahan, ia berharap bik Ina bisa memberi tahukan keberadaan Alia yang tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


"Cih...! Apa mereka sedang ber-konspirasi menyembunyikan keberadaan gadis indo itu, padahal aku hanya penasaran kemana dia pergi malam-malam begini" Gumamnya sambil menuruni anak tangga