Single Parents

Single Parents
PENGAKUAN MENGEJUTKAN.



Ada apa denganku? Kenapa aku tak bisa mengendalikan diri, padahal hati ini masih merasa ragu, tapi tubuh ini seakan begitu menginginkan sesuatu yang berbanding terbalik dari hatiku.


Aku bergumam dalam hati sementara mata ini masih terpejam meresapi hembusan nafas tuan Hisyam yang semakin hangat menyapu wajah polosku.


Argh! Larut dalam kata-kata manis tuan Hisyam membuat otakku terkontaminasi oleh perbuatan mesumnya ini. Aku menggeleng menyadarkan diri.


Tak ingin semakin larut, cepat aku membuka mata setelah sebelumnya mengatur napas agar tuan Hisyam tak menyadari kegugupanku di situasi seperti ini.


Dan benar saja pria itu masih menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan, hingga aku terpaksa memulai pembicaraan.


"Pembahasan kita sudah selesai, kan? Bisakah kita pulang sekarang?" Ucapku dengan nada bergetar dan berusaha lepas dari kungkungan tangan tuan Hisyam yang sejak tadi membatasi ruang gerakku.


"You still don't believe me, do you?"


Tuan Hisyam kembali mencegatku kali ini ia menggenggam erat pergelangan tanganku, membuatku tak bisa pergi kemana-mana kecuali menelan ludah dengan susah payah.


"Bukankah sudah sangat jelas bukan aku yang belum bisa percaya pada tuan, tapi tuanlah yang masih belum siap menghadapi tanggapan dunia luar tentang hubungan ini!" Ucapku memperjelas apa yang membuatku masih ragu sampai detik ini.


"Hm....!"


Hisyam menghela cukup dalam, entah dia marah karna sikap lancangku atau merasa tertampar dengan jawabanku.


Ah....! Biarlah dia berpikir aku tidak tau malu karna menuntut sesuatu yang mustahil dalam hubungan ini, dari pada ia menjadi semakin besar kepala dan kembali memperlakukanku semena-mena karna sekarang dirinya sudah membersihkan nama baikku di semua pemberitaan media, pasti pria congkak ini akan meminta imbalan atas keberhasilannya kali ini.


"Follow me!"


Ucapnya tiba-tiba, lalu membawaku keluar tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.


Setelah kami keluar, pintu kembali ia tutup cukup kuat, menghasilkan bunyi gedebum yang membuat semua pegawai di ruang devisi kesekretariatan ini sontak bangkit menatap kami.


Hanya beberapa detik saja semua membungkuk memberi hormat, kemudian kembali ke pekerjaan masing-masing meski bisa kulihat dari gerik mereka, ada yang masih memandang tak sedap ke arah kami, mungkin iri dengan kedekatanku dengan tuan Hisyam?


Entahlah, tapi satu yang pasti, tuan Hisyam telah melewatkan satu hal yang sangat penting saat ini.


Ya, dia masih menggenggam erat tanganku tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang tertuju pada kami sambil berbisik satu sama lain.


"Tuan! Apa yang tuan lakukan? Orang-orang sedang memperhatikan kita" Ucapku setengah berbisik, namun sepertinya tuan Hisyam sama sekali tak terganggu dengan ucapanku kali ini.


"Tuan!" Panggilku lagi sambil berusaha melerai genggaman tangannya yang kokoh dan berotot.


Bukannya melepaskan, dia malah menarikku lebih dekat dan melingkarkan tangannya di pinggang ini.


Ku bulatkan mata dengan sempurna sembari menatapnya penuh tanda tanya, ku amati ekspresi-nya, ada sedikit lengkungan puas di sudut bibir itu.


"Apa dia sedang membalas dendam? Cih!" Aku berdecih sebal dan tak berkomentar lagi karna sepertinya tuan Hisyam sengaja ingin membalas semua kata-kataku tadi.


Setelah beberapa saat terdiam dan mencoba tak ambil pusing dengan tatapan sekitar, kami pun tiba di sebuah kantin yang tak ubah layaknya restoran mewah dan pastinya tatapan pengunjung kantin juga tak jauh bedanya dengan tatapan karyawan sebelumnya pada kami.


Entah takjub dengan kedekatanku dengan seorang Hisyam Al Jaziri Osmand atau malah menganggapku tak pantas berada di sisi Hisyam, mengingat aku hanyalah gadis biasa yang sangat jauh dari standar wanita yang pernah mendampingi tuan Hisyam sebelumnya.


"Ehm!"


Tuan Hisyam berdehem seraya melirik kursi yang telah ia siapkan untukku.


Ku helah napas cukup dalam melihat perubahan sikap tuan Hisyam yang sangat aneh dan membingungkan itu lalu dengan terpaksa menuruti keinginannya, "Cih, bahkan saat memintaku untuk menikah dulu ia tak seromantis ini bahkan terakhir kali ia memperlakukanku dengan begitu manis saat ia menjodohkanku pada Hamish-adik kandungnya"


Aku kembali mengulit peristiwa lalu, dimana ia mengajakku ke sebuah restoran mewah, mempersiapkan semuanya dengan sangat sempurna dan begitu romantis tapi sayang dia membuatku kecewa dengan merelakanku untuk adiknya sendiri di saat aku mulai berharap tinggi dalam pernikahan ini.


Takk!


Aku tersadar saat tuan Hisyam menjentikkan jari tepat di depan wajahku, "Ada apa?" Tanyanya.


"Bukan apa-apa, aku hanya mengingat kembali bagaimana tuan memperlakukanku dengan sangat baik dan begitu romantis waktu itu, bahkan memesan sebuah restoran mewah untuk menyatukanku dengan Hamish" Ungkitku dengan senyum getir sedang hati rasa teriris mengetahui suamiku sama sekali tak keberatan jika harus menyerahkan istrinya pada adik kandungnya sendiri.


"Apa jalan takdirku memang sudah seperti ini? tiada siapa pun yang menginginkan kehadiranku?" Ucapku miris.


"Maaf...." Ucapnya tiba-tiba.


Entah sudah berapa kali aku mendengar permintaan maaf itu keluar dari mulutnya sejak pertemuan tiba-tiba kami kemarin.


Aku memaksa untuk tersenyum, "Meski itu bukan tuan, hidupku akan tetap sama, tak pernah di inginkan kehadirannya" Ucapku lagi.


"Maaf, karna merelakanmu pada orang lain.... Seharusnya, aku meminta penjelasanmu terlebih dahulu, aku pikir kalian...."


"Orang lain? Huh!" Aku tersenyum sinis, semakin jengkel mendengar kalimat itu lalu melempar pandangan ke arah lain.


"Benar, andai saja itu orang lain mungkin aku bisa memakluminya, tapi ini Hamish! Adik kandung tuan sendiri"


Umpatku kesal dan jika mengingat hal itu emosiku tiba-tiba menyerang, merasa harga diriku sama sekali tak berarti baginya.


"Bukan bagitu maksudku tapi, ya, memang banar aku yang salah, seharusnya aku memberi tahumu terlebih dahulu, bukannya....


"BRAAKK!" Tanpa sadar aku menggebrak meja sembari bangkit dari duduk.


"Bahkan sampai saat ini dia masih belum mengerti pokok permasalahan sebenarnya" Umpatku dalam hati.


"Serendah itukah penilaian tuan terhadapku? Tuan memperlakukanku seperti barang bekas yang bisa di berikan kepada siapa pun yang membutuhkanku!" Sergahku panjang lebar pada suamiku yang tak berperasaan itu tanpa memperdulikan situasi sekeliling.


"Tuan pikir aku ini apa! Barang, yang bisa tuan minta saat di perlukan dan melepasnya saat orang lain lebih membutuhkannya, iya?


Maaf, aku memang tak punya apa-apa tapi aku masih memiliki harga diri, permisi!"


"Maaf nona Alia, bisakah anda menjaga sikap!"


Asisten Davis yang sejak tadi hanya memerhatikan kami dari jauh kini mencegatku dan ikut menimpali dengan nada yang di rendahkan namun penuh penekanan.


"Uh! Aku sampai lupa sedang berbicara dengan siapa!" Seharusnya aku menjaga sikap, jangan sampai membuatmu malu di depan umum. Bukan begitu tuan Davis?"


Sindirku, lalu menggeser kursi yang tadinya di siapkan tuan Hisyam untukku.


Ku mantapkan hati dan berniat pergi meninggalkan harapan yang tak akan pernah kugapai bersamanya. "Sekuat apapun usaha kita tak akan bisa merubah perbedan di antara kita, permisi!" Aku pergi.


"Alia, please, forgive me...."


Tak ku hiraukan rayuan tuan Hisyam di belakang, sampailah tuan Hisyam menghampiriku dan dengan serta merta berlutut tepat di hadapanku.


"Ayo menikah...." Tiba-tiba saja kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Meski pelan tapi mampu membuat pertahananku sedikit goyah.


"Maaf tuan, tapi, apakah anda yakin akan melakukannya disini?"


Bisikan Asisten Davis membuatku kembali tersadar bahwa tak akan ku biarkan hati ini semakin larut dengan mulut manis tuan Hisyam, aku pun kembali melanjutkan langkah yang sempat ku hentikan.


"Attention, please!" Suara bariton Hisyam menggema, membuat seluruh pengunjung kantin fokus ke arahnya termasuk diriku.


Kulihat tuan Hisyam menghirup udara cukup dalam kemudian melepasnya perlahan.


"You all must be wondering about us.....


This is Alia and.... she's my wife"


Pengakuan spontan tuan Hisyam membuat orang-orang semakin berkerumun menatap ke arahku dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Bingung harus berbuat apa, akupun bergeser ke pojok menyembunyikan tubuh kucelku di belakang punggung tuan Hisyam.


"Don't worry, aku disini bersamamu..."


Ucap tuan Hisyam sembari meraih tanganku lalu melingkarkannya pada lengan kekarnya dan membawaku keluar dari gedung itu.