
"Terima kasih...."
Ucap Alia pelan setelah mencium punggung tangan suaminya yang sudah siap berangkat ke kantor.
"Untuk apa?" Tanya Hisyam.
Sengaja ingin melihat pipi istrinya yang bersemu merah, mungkin karna tak terbiasa dangan apa yang baru saja ia lakukan.
"Terima kasih karna telah menyayangi Assyifa seperti tuan menyayangi Ozan"
Ungkap Alia tanpa berani menatap pria jangkung di hadapannya.
"Hm.... Haruskah aku juga berterima kasih seperti yang kamu lakukan sekarang?"
"Apa....!"
Alia akhirnya mendongak tak paham maksud dari pertanyaan suaminya.
"Bukankah kamu juga menyayangi Ozan sama seperti kamu menyayangi Assyifa? so, apa aku juga harus berterima kasih padamu?" Sindir Hisyam.
Alia kembali menunduk, "Aaa... bu-bukan itu maksudku"
Alia terjebak kata-katanya sendiri, padahal ia memang tulus ingin berterima kasih dan bukan maksudnya untuk menagih ucapan terima kasih atas apa yang telah di lakukannya selama ini.
"Selain terima kasih dan meminta maaf apa hanya itu yang bisa kamu ucapkan?"Ucap Hisyam kesal.
Sebenarnya ia berharap Alia akan mengucapkan sesuatu yang lain yang bisa menghidupkan semangatnya sebelum kembali ke permasalahan bisnisnya yang rumit.
Tapi lagi-lagi wanita di hadapannya hanya bisa membuatnya kesal seperti sebelumnya.
"Litsen Alia, apa yang kulakukan sudah seharusnya di lakukan seorang ayah pada anaknya dan bukankah pernikahan ini juga untuk kebahagiaan Ozan dan Assyifa?"
"Bu-bukan seperti itu.... a-aku hanya...."
"Lupakan saja! Hm... kalau tak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya aku berangkat sekarang dari pada harus berdebat denganmu sepagi ini....
Uh.... ambil ini"
Ucap Hisyam sembari mengeluarkan credit card no limit dari dompetnya dan menyerahkannya pada Alia.
"Apa ini?"
Tanya Alia yang sama sekali tak tahu kegunaan dari kartu itu.
"Ajaklah kaluargamu berbelanja sebelum mereka pulang, dan.... belilah pakaian yang layak untuk kamu gunakan, bukannya layak di mata orang lain" Sindir Hisyam.
"Maksud tuan...."
Belum sempat Alia melanjutkan kata-katanya, Hisyam sudah berlalu lebih dulu, menghampiri Davis yang sudah siap membukakan pintu mobil untuknya.
"Cih! Tak bisakah dia mengatakan hal lain selain berterima kasih dan meminta maaf"
Gumam Hisyam setelah melabuhkan bokonnya di jok belakang.
"Sorry, did you say something? (Maaf, apa kamu mengatakan sesuatu?)"
Ucap Davis saat mendengar Hisyam berguman di belakangnya.
Mendengar perkataan maaf dari mulut Davis, Hisyam spontan melirik tajam ke arah Asistennya lewat spion, hingga dengan lugunya Davis hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi tak bersalah.
"Bukan apa-apa! Ayo berangkat!" Titah Hisyam dengan nada kesal.
-
Alia masih mematung menatap mobil yang di kemudikan Davis melaju meninggalkan mansion yang megah itu.
Sambil menghela napas beratnya ia tak henti-hentinya merutuki dirinya yang selalu melakukan kesalahan di hadapan Hisyam, meski maksud sebenarnya adalah baik tapi tetap saja salah di mata suaminya.
"Akh.... aku salah lagi, emang apa salahnya kalau aku berterima kasih padanya? Aku kan cuma menghargai ketulusannya pada Assyifa tadi.....
Omong-omong..... di balik ketegasan dan sikap dinginnya, tuan Hisyam bisa bersikap manis dan penuh kasih sayang juga..."
Gumam Alia dan tanpa sadar menggigit kartu kredit yang di berikan Hisyam padanya.
"O, iya.... tadi tuan Hisyam bilang untuk menggunakan kartu ini untuk membawa keluargaku keluar dan membeli pakaian yang layak, maksudnya apa, ya....
Haaahhh....! Apa jangan-jangan tuan Hisyam melihatku memakai lingerie itu semalam?"
Alia menggigit bibir bawahnya sambil membayangkan betapa malu dirinya menghadapi suaminya jika memang benar pria itu mendapati dirinya dalam balutan lingerie yang tak cukup bahan itu.
Alia berjalan lunglai menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya masih menikmati sarapannya.
Memikirkan kata-kata Hisyam tadi membuatnya tak bersemangat untuk melakukan apapun, termasuk berbelanja bersama keluarganya.
"Oya, Alia, Hisyam tidak lupa memberi credit card padamu, kan?"
"Ya? Uh.... sudah"
Jawab Alia lemas, sambil memainkan kartu pemberian Hisyam di tangannya.
"Hari ini tuan Farhan tak bekerja, jadi kalian bisa keluar dan bersenang-senang, masalah Ozan dan Assyifa, biar mama yang mengurusnya" Usul Farida pada menantu dan besannya.
"Keluar? Kemana?" Tanya Alia bingung pasalnya ia sama sekali tak berencana untuk kemana-mana.
"Kemana saja, shopping, atau... ke klinik kecantikan, kamu harus mempercantik diri, Alia...."
"Mempercantik? Kenapa?" ucap Alia lagi.
"Alia, Jujur saja, mama takut jika Renata kembali dan lagi-lagi Hisyam tertarik pada wanita ular itu....
Maka dari itu kamu harus segera membuat Hisyam cinta padamu, dan.... memberikan mama cucu, agar tak ada celah untuk Renata kembali dan menghancurkan kehidupan Ozan untuk yang kedua kalinya!"
Usul Farida lagi sambil melirik Farah yang sedari tadi mengangguk setuju dengan usulnya dan sepertinya Farida dan gadis muda itu sudah memiliki rencana untuk mendekatkan Hisyam dengan Alia.
Sementara itu Rima yang sedari tadi terdiam melihat gelagat Farida dan Farah putrinya, hanya bisa menghela napas beratnya, tak setuju dengan rencana besannya kali ini .
"Nyonya...." Panggil Rima pada besannya.
"Menurutku kita tak perlu melakukan semua ini, bukankah lebih baik jika kita membiarkan semuanya berjalan apa adanya?" Jelas Rima.
Setelah mempertimbangkan berulang kali, akhirnya Rima mengutarakan pendapatnya.
"Tapi anda tidak mengerti nyonya-Rima.... aku pernah meletakkan semua keputusan di pundak Hisyam sebelumnya, dan apa yang terjadi? Dia hampir saja menghancurkan hidupnya sendiri, dan kali ini saya tidak akan membiarkan semua itu terjadi lagi"
Ungkap Farida dengan nada sendu namun terdengar tegas, apalagi bila ia mengingat kembali bagaimana keluarganya terpecah belah akibat pilihan Hisyam yang kurang tepat.
"Alia, kamu mau, kan, berusaha lebih keras agar Hisyam bisa jatuh cinta padamu?" Farida memelas.
"Ma.... Alia minta maaf, tapi Alia pikir apa yang di katakan tante Rima itu benar, memaksakan perasaan seseorang untuk mencintai kita bukanlah hal yang baik...."
Ucap Alia sambil menggenggam erat tangan mertuanya yang terlihat resah, takut jika putranya kembali berhubungan dengan mantan istrinya lagi.
"Tapi kalian sudah menikah, kan? salahkah jika seorang istri berusaha membuat suaminya jatuh cinta padanya, kecuali
jika.... kamu memang tidak menyayangi Ozan sama sekali"
"Bukan begitu, mah, mama percaya jodoh, kan? Sekeras apapun kita berusaha jika Alia dan tuan Hisyam tak berjodoh, semuanya akan sia-sia juga, kan?" Jelas Alia.
Dengan nada lembut Alia kembali meraih tangan mertuanya.
Mendengar ungkapan tulus yang keluar dari bibir menantunya membuat nyonya Farida luluh tak bisa berkata-kata lagi, hingga merelakan rencananya terbengkalai begitu saja.
"Ya sudahlah, terserah kalian saja, tapi, asal kamu tahu, mama sangat menyayangimu dan tak akan rela jika bukan kamu yang akan menjadi menantu mama nantinya"
Suara nyonya Farida terdengar penuh harap.
"Nantinya.... bukankah Alia sudah menjadi menantu mama sekarang...."
Goda Alia, sehingga wajah Farida yang tadi di masam-masam kan, kini tampak terukir senyuman.
Namun terlepas dari itu, masih ada kekecewaan yang bersarang di benaknya kala menantunya itu menolak untuk mengikuti sarannya.
"Kak! Kita berangkat sekarang?" Suara Farah yang sudah siap menemani Alia ke klinik kecantikan seketika mengalihkan perseteruan sehat antara mertua dan menantu itu.
"Ma, Alia titip Assyifa dan Ozan, ya, mau antar tante Rima pulang dulu...." Ujar Alia melihat raut mertuanya yang kembali di tekuk.
"Nyonya.... jangan terlalu di pikirkan, meski Alia dan tuan Hisyam tak berjodoh, tapi saya yakin, tuan Hisyam sudah cukup dewasa untuk memilih mana yang baik dan buruk untuk Ozan"
Bujuk Rima saat mereka sudah tiba di halaman mansion, dan sekarang sedang menunggu pak Farhan-suaminya yang sedang mengeluarkan mobil dari garasi.
Setelah Alia dan Farah duduk di jok belakang, Farhan dan Rima pun berpamitan dengan besannya yang terlihat murung, tak bergairah seperti biasanya.
"Ma! Apa perlu Alia bawa anak-anak saja, biar mama bisa istirahat...." Ungkap Alia dari dalam mobil.
"Tidak perlu, pergi dan bersenang-senang lah, mama bisa menjaga anak-anak, lagi pula ada bik Ina dan pelayan yang bisa membantu mengurus mereka"
"Baiklah kalau begitu Alia berangkat dulu, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam...."
Jawab Farida dengan senyum hangat terukir di bibirnya.
Perasaannya seketika terasa damai dan kekecewaan yang tadi sempat terbesit di lubuk hatinya kini mereda kala mendengar menantunya mengucapkan salam padanya.
Ya, memang selama bertahun-tahun Renata menjadi menantunya, tak pernah sekalipun wanita itu mengkhawatirkan keadaannya, bahkan mengucapkan salam padanya pun hampir tak pernah ia lakukan.
-
Kendaraan roda empat yang selalu di gunakan pak Farhan untuk mengantar jemput Hisyam kini melaju meninggalkan mension yang berdiri megah.
Alia termenung menatap kosong taman yang tersusun rapi sepanjang blok perumahan elite di kawasan itu.
Ia mengingat kembali keinginan mertuanya yang begitu mengharapkan cucu darinya.
"Hmm.... nyonya Farida terlihat sangat kecewa dengan penolakanku tadi, apa aku terlalu kasar padanya, ya?
Tapi tidak mungkin juga aku menyanggupi keinginannya yang satu itu, mengingat hubungan kami yang tak begitu baik, apa kata orang nanti saat tau keluarga Ozmand mempunyai menantu miskin dan tak berpendidikan sepertiku...."
Alia bermunolog sendiri dan sesekali menghela napas panjang.
Dan tanpa ia sadari Rima dan Farhan sedang mengamati kegusarannya dari pantulan spion.
"Kak....!"
Panggilan Farah spontan membuyarkan lamunan Alia dan segera beralih menatap gadis itu dengan alis yang sedikit di angkat ke atas.
"Mm.... waktu itu, kakak pernah bilang akan memberikan hadiah untuk Farah, ingat, kan?"
Alia memutar otak dengan alis yang saling di tautkan, "Ingat, emang kenapa?" Tanya Alia penasaran.
"Kalau Farah menagihnya sekarang, boleh, kan?"
"Boleh, emang kamu mau minta di belikan apa, tapi jangan mahal-mahal, ya, kakak tidak punya banyak uang soalnya" Alia memberi syarat.
"Kakak, kan, punya itu" Jawab Farah sambil memuncungkan bibirnya ke arah sling bag yang sedang di pakai sepupunya.
Alia mengangkat bahu, "Maksud kamu?"
"Um.... bukankah tadi, kakak ipar memberikan kartu kreditnya buat kakak?" Farah mengingatkan.
"Iya, sih, tapi.... itu kan, milik tuan Hisyam, kakak merasa tidak enak menggunakannya"
"Tidak enak gimana, kak? Kakak kan istrinya, itu artinya, kakak berhak menggunakan fasilitas yang di berikan tuan Hisyam pada kakak....
Bagaimana kalau kita ke mall, di sana kita bisa membeli apapun yang kita inginkan, iya kan, mah?"
Lelah membujuk Alia kini gadis energik itu beralih memelas pada mamanya yang sedari tadi memikirkan permintaan nyonya Farida yang mungkin saja berdampak buruk pada keponakannya.
"Stop, pah!" Teriakan Rima membuat suaminya spontan menginjak pedal rem.
"Owh.... maaf, tapi mama ingin membeli sesuatu di apotek itu" Buk Rima mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah apotik.
"Alia, kamu temani tante, ya, kedalam"
"Ya? Owh, baiklah"
Jawab Alia spontan dan bergegas mendapati tantenya yang lebih dulu keluar dari mobil.
Karna hanya berniat menemani tantenya, Alia hanya bermondar-mandir di lorong apotek yang khusus untuk keperluan bayi.
Sambil menilik berbagai produk kesehatan bayi yang tersusun di dalam sebuah etalase kaca, Alia terlihat sesekali mengangguk tanpa berpikir untuk membeli salah satu dari produk tersebut.
"Alia!"
Panggil Rima yang sedang berjalan menghampirinya, lalu memberikan sebuah paper bag yang berisi sebuah kotak kecil di dalamnya.
"Apa ini, tan?"
Tanya Alia heran pasalnya benda itu baru saja di beli oleh tante Rima, lalu mengapa sekarang di berikan padanya.
"Setelah tante pikir-pikir, mungkin sebaiknya kamu tak terlalu mempercayai keluarga itu, Alia...."
"Ada apa? Apa sebenarnya maksud tante dan... apa ini?" Tanya Alia sambil membelalakkan matanya setelah tahu isi dari kotak persegi panjang itu.
"Itu.... pil penunda kehamilan, maaf, Alia, tapi....
Tante khawatir tuan Hisyam hanya menjadikanmu pelariannya saja, nak, dan yang paling tante takutkan adalah, bagaimana jika ia meninggalkanmu dan kembali pada mantan istrinya"
"Gleekk...." Alia menelan saliva.
Mendengar kekhawatiran tantenya membuatnya sadar bahwa apa yang pernah ia lalui di masa lalu, bukan tidak mungkin jika itu hal itu terulang kembali.
"Kamu mau, kan, mempertimbangkan lagi permintaan nyonya Farida?"
Alia mengangguk, "Baiklah, Alia akan selalu mengingat pesan tante"
Mendengar jawaban Alia membuat Rima menghela napas lega dan langsung memeluk anak dari almarhum kakaknya itu.