Single Parents

Single Parents
MENJADI IMAM UNTUK PERTAMA KALINYA.



Hisyam terpaku menatap wajah polos istrinya yang sudah terlelap di sampingnya.


Karna sudah tak dapat menahan kantuknya lagi, Alia pun tertidur dengan posisi duduk sebelum pertandingan memasuki babak kedua.


"Maafkan aku, Alia.... dengan menikahimu, ku pikir aku bisa mengembalikan keceriaan dan harga diri yang selama ini kamu pertahankan....


Tapi nyatanya hanya Hamish yang bisa membuatmu kembali ceria, sedangkan aku, aku hanya bisa menjerumuskanmu ke dalam masalah lainnya...."


Bisik Hisyam saat menatap wanita yang sekarang tertidur pulas di sampingnya.


"Drrrttt....!"


Getaran ponsel milik Alia menyadarkan Hisyam dari lamunannya.


"Penyelamatku....?" Bisik Hisyam setelah mengintip nama yang tertera di layar ponsel milik Alia.


Getaran berhenti, kemudian berganti dangan wallpaper yang juga bertema bunga dandelion.


Meski penasaran tapi Hisyam tak bisa berbuat apa-apa karna sekarang kepala Alia kini bersandar di bahunya, membuatnya tak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.


Hisyam mematung mencoba menetralisir detak jantungnya yang tak beraturan, takut jika Alia mendengar suara jantungnya, ia pun meletakkan kepala Alia di atas sofa dengan perlahan.


Hisyam bangkit, menghela nafas dalam lalu meregangkan bahunya yang terasa kebas.


Saat meregangkan bahunya tak sengaja pandangannya tertuju pada wajah teduh istrinya yang masih terlelap dengan tenang.


Terlena dengan kecantikan alami wajah istrinya membuatnya seakan terdorong untuk mendekat dan menyentuh wajah polos yang sedang terlelap di hadapannya.


Hisyam memerhatikan setiap inchi wajah Alia yang begitu polos tanpa sentuhan make up sedikit pun.


"Harus aku akui, apa yang di katakan mama tentangnya semuanya benar, aku yang telah salah menilainya, nyatanya dia benar-benar bisa menjadi ibu yang baik untuk Ozan....


Pemikiran serta keteguhan hatinya lebih dewasa dari apa yang ku pikirkan...."


"Drrrttt....!"


Hisyam menjeda kata-katanya sambil menyentuh dada bidangnya yang masih bergejolak.


Bukan karna kaget dengan getaran ponsel, tapi ada sesuatu yang lain yang membuat perasaannya tak menentu.


"Dan benar, bukan karna hal lain, tapi kekaguman itulah yang membuat jantungku bergejolak setiap kali bersamanya...."


Hisyam kembali membatin, melihat keakraban istrinya hari ini, membuatnya menyadari satu hal, bahwa satu-satunya orang yang bisa membahagiakan istrinya bukanlah dirinya, tapi Hamish- adik kandungnya sendiri.


Hisyam menarik tangannya dari pipi Alia, setelah menyadari dirinya bukanlah pria yang di inginkan istrinya membuatnya seketika menjauh.


Dengan membawa ponsel yang masih meminta untuk segera di angkat, Hisyam berjalan ke arah balkon, menutupnya dari luar agar tak terdengar oleh istri dan anak-anaknya yang telah terbuai dalam mimpi.


"Tidak bisakah kamu menunggu sampai besok pagi....?" Ucap Hisyam pada adiknya tanpa basa-basi.


"Tidak! Aku tak akan bisa tenang sebelum mengatakan hal...."


"Alia sudah tidur dan tak bisa di ganggu, lagi pula ponselnya ada padaku, kamu bisa menghubunginya besok"


"Tunggu! Sebenarnya aku ingin berbicara denganmu, bukan dengan Alia"


Cegat Hamish kemudian keduanya terdiam sejenak.


"Jika itu bukan hal yang penting, kita bisa membicarakannya lain kali saja, ada banyak pekerjaan yang harus ku lakukan...." Hisyam beralasan.


Setelah melihat keakraban Alia dengan Hamish tadi, entah kenapa ia sangat muak mendengar suara adik semata wayangnya itu.


"Ini tentang Alia....!"


Ungkapan Hamish membuat ingatan Hisyam tentang gelak tawa istrinya tadi kembali terbayang.


"Um.... katakan ada apa dengannya?"


"Aku sudah membaca artikel tentang Alia dan, bagaimana bisa, kakak membiarkan dia mengakui semua jebakan itu sebagai kecelakaan!"


Suara Hamish terdengar lantang, ada emosi yang berusaha di luapkan oleh pria muda itu.


"Ini urusanku dengan Alia, kamu tak perlu ikut campur! Biarkan kami menyelesaikan...."


"Menyelesaikan dengan apa? Dengan mengorbankan perasaan Alia lagi? Kak! Bukankah kakak menikahinya karna ingin membalas semua kebaikan yang sudah ia lakukan untuk Ozan....


Lalu apa ini, apa ini balasan dari pengorbanan Alia selama ini!"


"Hamish! Kamu tak punya hak atas Alia so, stop yelling at me like that!"


"Tentu saja aku punya hak, Alia itu temanku....!"


"Dan temanmu itu adalah istriku! Jadi ku peringatkan padamu, berhenti mencampuri urusan keluargaku" Hisyam tak mau kalah.


"Istri? Asal kakak tau, jauh sebelum kakak menghargai ketulusan Alia, akulah yang lebih tahu penderitaannya! Dan.....


Tadi apa yang kakak bilang, istri? Apa kakak pernah memperlakukannya layaknya seorang istri?


"HAMISH....!" Teriak Hisyam.


"I'm your brother, setidaknya tunjukkan rasa hormatmu sedikit saja....!"


"Tuan!"


Teriakan Alia seketika membuat Hisyam menyembunyikan ponsel dan berusaha meredam luapan amarahnya.


"Kenapa tuan masih di sini?"


Tanya Alia lagi, saat Hisyam hanya menatapnya tanpa merespon panggilannya.


"Uh, itu.... aku hanya mencari udara segar... bagaimana denganmu apa yang kamu lakukan di sini?" Hisyam kembali bertanya.


"Aku ingin mengambil wudhu dan tak sengaja melihat tuan di sini"


"Wudhu?" Hisyam melirik arloji di tangannya, "Owh.... sudah subuh rupanya" Gumam Hisyam.


"Apa tuan ingin menuntun shol...."


Pertanyaan Alia yang terdengar samar membuat Hisyam seketika mendekati istrinya.


"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah...." Pancing Hisyam.


"Bukan apa-apa.... um.... sebaiknya aku pergi sekarang!"


Pamit Alia.


Dengan terburu-buru wanita itu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melakukan sholat subuh.


Melihat tingkah istrinya, membuat Hisyam mengulum senyum, dan mulai berpikir terntang hal yang ingin di katakan istrinya.


Meski kata-kata Alia terdengar samar di pendengarannya, namun Hisyam dapat menebak bahwa untuk kesekian kalinya Alia kembali mengajaknya untuk menunaikan sholat.


Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang di bawanya ke kamar mandi, Alia kembali ke kamar Hisyam karna semua perlengkapan sholatnya ada di kamar itu.


Baru saja Alia memasuki kamar suaminya, alangkah terkejutnya ia saat mendapati sosok jangkung berbalut koko putih sedang berdiri membelakanginya.


"Tu-tuan, apa itu kamu...?" Tanya Alia gugup melihat sosok asing di hadapannya.


"Jangan membuang waktu lagi, waktu subuh hampir habis...." Titah Hisyam tanpa menoleh ke arah Alia.


"Ba-baiklah...." Jawab Alia, dan dengan kalang kabut ia bergegas memakai satu persatu perlengkapan sholatnya.


-


"Allahu akbar, Allahu akbar....."


Suara Hisyam menggema di ruangan itu, ayat demi ayat di lantunkannya dengan sangat merdu dan penuh penghayatan.


Dalam diam Alia mengagumi suara merdu suaminya yang terdengar layaknya seorang muadzin yang bertugas mengumandangkan azan di mesjid-mesjid besar.


Dua rakaat telah pun selesai mereka jalankan, Hisyam menengadakan tangan, meminta ampunan pada sang khalik atas kelalaiannya sebagai seorang hamba maupun sebagai suami.


Sementara itu, Alia yang juga sedang khusyuk berinteraksi dengan tuhannya tiba-tiba merasa sebak dalam dadanya.


Bukan karna sedih dengan semua permasalahan dalam hidupnya, melainkan ada sesuatu yang menyentuh perasaannya, membuat air matanya mengalir tanpa bisa tertahan lagi.


Melihat Hisyam telah selesai dengan do'a nya, segera Alia mendekati pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Meski ragu Hisyam akan menolak, namun Alia tetap meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan penuh takzim.


Sekali lagi Alia tak dapat menahan perasaan haru kala Hisyam tak menolak maupun melarang perlakuannya kali ini.


"Kamu menangis? Apa ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?" Tanya Hisyam saat menyadari Alia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.


Alia mendongak lalu mengelengkan kepalanya, "Justru aku sangat bahagia hari ini, terima kasih untuk hari ini...." Ungkap Alia dengan lelehan air mata.


"Bahagia, karna apa? Bahkan aku membuatmu begadang semalaman" Tanya Hisyam heran.


Pasalnya gara-gara keusilannya, semalam, wanita itu harus bangun pagi ini dengan lingkaran hitam di matanya.


"Bukan karena itu, tapi karna.... karna tuan sudah menjadi imamku hari ini"


Jawab Alia malu, apa lagi jika harus mengakui kalau dirinya telah lama memimpikan seseorang yang bisa menjadi imam yang baik, dan bisa menerima semua kekurangan dirinya.


"Um.... sudah pagi, sebaiknya aku ke bawah, bik Ina pasti kewalahan menyiapkan sarapan sendirian...."


Tak nyaman dengan tatapan suaminya yang terlihat lain dari sebelumnya, Alia pun mencari alasa agar cepat keluar dari suasana canggung itu.


"Jadi semudah ini membuatmu bahagia? Hmm...." Hisyam menghela panjang.


Aku bahkan tak pernah tahu dan tak ingin tahu apa sebenarnya yang bisa membuatmu merasa nyaman di sisiku...."


Gumam Hisyam sambil menatap lamat punggung istri kecilnya.