Single Parents

Single Parents
MENCOBA MEMBUKA DIRI.



Mobil yang di kendarai Hisyam masih terparkir di sisi jalan, dengan pemandangan laut yang membentang luas di sisi kiri dan kanannya, menciptakan pemandangan autentik bagi pengunjung yang datang dari luar dan dalam negeri.


Desiran angin menambah suasana tentram bagi Alia yang masih terlelap dalam dekapan Hisyam.


Meski bahunya mulai terasa kebas akibat menahan kepala Alia agar tak terjatuh, tapi ia merasa lega saat pengasuh itu mulai membuka diri untuknya.


Karna itu berarti wanita itu benar-benar tak menyimpan dendam, seperti yang di pikirkannya selama ini


"Terimakasih karna tak menyimpan dendam serta memberi kehidupan baru untuk Ozan....


Aku berjanji akan menjaga Assyifa seperti kamu menjaga Ozan selama ini"


Bisik Hisyam, tak ingin membangunkan Alia yang sebenarnya sudah tersadar dari tidurnya.


Dengan ragu Hisyam perlahan mengelus rambut panjang Alia, sehingga membuat wanita itu terenyuh dengan belaian lembut dari seorang pria selain papanya, bahkan Adam pun tak pernah memperlakukan dirinya setulus itu.


Alia merasa haru, namun masih berpura-pura tidur karna tak ingin merubah suasana menjadi lebih canggung.


"Mungkin memang benar apa yang di katakan tuan Hisyam, kalaupun kami menjalani pernikahan tanpa cinta....


Setidaknya anak-anak bisa merasakan kasih sayang dan utuhnya sebuah keluarga"


Alia menitikkan air matanya, ia mulai pasrah mungkin memang sebaiknya dirinya menerima tawaran dari bosnya itu.


"DERTT....! DERTT....!"


Dering ponsel membuat Alia kalang kabut, pasalnya, Hisyam tak mungkin menggapai ponsel yang berada dalam saku celananya karna takut Alia akan terbangun jika ia bergerak sedikit saja.


"DERTT....! DERTT...!"


Ponsel kembali berbunyi, namun Hisyam masih mengabaikannya, hingga mau tidak mau Alia harus menghadapi rasa malunya karna telah lancang memeluk, serta tidur dalam dekapan bosnya.


Karna dering ponsel semakin memekakkan telinga, Alia pun perlahan menggeser tubuhnya menjauh dari rangkulan tangan kekar Hisyam.


"Maaf, tadi aku...."


"Halo..."


Alia menghentikan kata-katanya saat Hisyam menaikkan telunjuknya, mengisyaratkannya untuk diam.


"All right, i'll be right there..." Ucap Hisyam pada si penelpon.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Hisyam sesaat setelah mengakhiri panggilan dari Davis.


"I-iya, maaf, tadi aku ketiduran...." Jawab Alia gugup juga takut jika Hisyam mengejeknya.


"Tidak apa-apa, aku senang kini kamu bisa lebih terbuka padaku...


Bukankah aku pernah bilang, bahwa kamu bisa menggunakan bahuku untuk bersandar dan... aku akan mencoba menjadi pendengar yang baik untukmu"


Hisyam tersenyum melihat pantulan dirinya di kaca, sambil merapikan kemejanya yang kusut.


Sedang Alia yang melihat senyuman tulus dari wajah Hisyam yang senantiasa kaku, kini ikut tersenyum sembari menatap lurus ke hadapan.


"So, tell me, apa yang mengganggu pikiranmu hari ini?"


Hisyam menunggu jawaban dari pertanyaannya, namun Alia hanya diam .


"Baiklah, aku mengerti, kalau kamu masih belum bisa mengatakannya sekarang" Lanjut Hisyam dan kini kembali melajukan mobilnya.


"Aku hanya.... merindukannya...." Jawab Alia pelan.


"Aku benar-benar sangat merindukannya....


Bagaimana aku bisa meninggalkan negara ini, tanpa menemui Assyifa terlebih dahulu, apa lagi di hari ulang tahunnya, huft.... aku benar-benar ibu yang buruk"


Alia tersenyaum kecut, ia mendongak berusaha menahan air matannya agar tak jatuh, namun ia lega akhirnya ia bisa mengungkapkan isi hatinya.


"Okay.... so that means.... kamu ingin menemuinya?" Pancing Hisyam yang masih menatap lurus ke hadapan.


"Huft... Andai aku bisa...."


Bisik Alia pelan, sembari membuang pandangannya keluar jendela.


"Haruskah kita menemui Assyifa?"


Pancing Hisyam, hingga membuat Alia membelalak, dan segera berpaling menatap Hisyam.


"Be-benarkah apa yang tuan katakan tadi?" Tanya Alia antusias.


"Mm, kita sudah di sini, aku pikir tidak ada salahnya mengunjungi keluargamu, itupun jika kamu mau"


"Tentu saja aku mau! Tapi... aku sudah mengambil gajiku bulan lalu, mungkinkah aku bisa mendapatkannya lebih awal kali ini?"


Alia merasa tak enak jika terus meminta kelonggaran pada atasannya.


"Baiklah, tapi itu artinya kamu harus membayar waktumu yang hilang bersama Ozan"


Hisyam memberhentikan mobilnya tepat di depan gedung yang terdiri dari beberapa lantai.


"Mall....! Bukankah kita akan ke bandara sekarang"


Alia sedikit kecewa, pasalnya ia sudah merencanakan berbagai hal yang menarik akan di lakukannya bersama putri kecilnya nanti.


"Hey! Apa kamu hanya akan duduk di sana? Bukankah kamu ingin membayar waktumu yang akan terlewatkan selama liburanmu?"


"Maksud tuan, aku harus membayarnya, dengan...."


Alia mengerutkan dahi, tak mengerti maksud dari kata-kata Hisyam.


"Ozan ada di dalam, mereka menunggu kita, maksudku aku akan membawamu menemui keluargamu, tapi sebelum itu ajaklah Ozan bersenang-senang hari ini"


Jelas Hisyam sehingga membuat Alia tersenyum sumringah mendengar penjelasan Hisyam.


Dengan semangat yang menggebu-gebu Alia turun dari mobil dan mengikuti Hisyam dengan senyum yang terlihat mengembang di bibirnya.


Alia kewalahan mengekori langkah panjang Hisyam saat mereka berjalan menuju lantai tiga di mana terdapat berbagai jenis permainan tersedia di sana.


Alia yang takjub dengan berbagai jenis wahana di tempat itu, tak sadar ia sudah berjalan di depan bosnya.


"Alia, Hisyam! Over here!"


Suara nyonya Farida membuat Hisyam dan Alia berpaling mencari asal suara yang memanggilnya.


Terlihat nyonya Farida dan bik Ina melambai ke arahnya, hingga Alia menghampirinya dengan antusias.


"Huft.... untunglah nyonya Farida dan bik Ina benar-benar di sini, kalau tidak suasananya akan semakin canggung"


"Maaf non, saya di pekerjakan untuk menjaga den Ozan, jadi biar saya yang menggendongnya"


Ucap seorang babysitter yang di pekerjakan oleh nyonya Farida selama Alia tak bersama mereka.


"Pengasuh? Apa itu artinya saya tidak akan bekerja dengan nyonya lagi?"


"Alia, maaf, seharusnya saya memberi tahu kalian terlebih dahulu....


Sebenarnya saya sengaja menyuruh Davis untuk mencarikan seorang pengasuh untuk Ozan, agar kalian bisa saling mengenal satu sama lain"


Jelas nyonya Farida sembari menggenggam tangan Alia, berharap apa yang di rencanakannya semalam bisa membuat Alia sadar bahwa dirinya benar-benar serius akan niatnya.


"All right then, enjoy your time, (Kalau begitu, nikmati waktumu) aku dan Davis akan menunggu di cafe...."


"No! Kalian berdua harus ikut bersenang-senang bersama kami!" Cegat nyonya Farida.


"Oh come on, mom, kami sudah cukup dewasa untuk ikut memainkan permainan seperti ini"


Protes Hisyam di ikuti anggukan Davis, yang juga memikirkan hal yang sama seperti sahabatnya.


"Hm....! Apa kalian mengejek mama dan bik Ina! Kalau kalian cukup dewasa, bagaimana dengan kami! Tidak punya perasaan!"


Nyonya Farida menunjukkan rasa tak puas hatinya, dengan berpura-pura merajuk.


Ia berharap putranya mengikuti keinginannya, karna tinggal hari ini kesempatannya untuk mendekatkan putranya dengan pengasuh itu, sebelum penyakit workaholic (gila kerja) Hisyam kembali kambuh.


"Baiklah! Baiklah! Ayo kita mainkan semua wahananya, puas!" Jawab Hisyam datar.


Dan dengan kesal ia pun meraih Ozan, serta mengajak Davis bersama ke area Sircuit Race, tapi masalahnya, apa tubuh kekar mereka akan muat dengan mini cars yang telah tersedia di arena balap tersebut?.


Setelah beberapa jam berlalu dan berbagai macam permainan telah mereka coba.


Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah cafe yang menyiapkan sebuah playground untuk pelanggan yang memiliki anak kecil yang aktif seperti Ozan.


Meja yang mereka pilih terletak tak jauh dari playground tempat Ozan bermain dengan pengasuh barunya.


Sementara menunggu pesan di antarkan, Alia bangkit ingin menghampiri Ozan.


"Mau kemana, Alia?" Tanya nyonya Farida, setelah melihat Alia beranjak dari kursinya.


"Aku mau bermain dengan Ozan sebentar..." Jawab Alia.


"Tapi Alia,makanannya akan datang sebentar lagi!"


"Mulai saja tanpa aku! Aku ingin membyar waktuku yang terlewatkan semalam!"


Teriak Alia dengan senyum penuh semangat terukir di bibirnya.


"Aneh, kenapa dia begitu bersemangat hari ini, padahal sebelumnya dia sangat murung apalagi setelah dia tahu soal video itu...."


Nyonya Farida mencari-cari penyebab mood Alia yang terlihat bersemangat hari ini, dan seketika pandangannya tertuju pada putranya.


"Hisyam! Apa kamu sudah memintanya untuk menikah?"


Nyonya Farida memicingkan matanya ia sangat ingin tahu perkembangan dari rencananya semalam.


"Mom, aku memintanya untuk tak terburu-buru menjawabnya, karna biar bagaimana pun dia punya hak untuk menentukan dengan siapa dia akan menjalaninya"


Jelas Hisyam, membuat semua orang di meja itu kompak mengangguk setuju dengan penjelasan Hisyam yang masuk akal.


"Kamu benar, kita tak bisa memaksanya, dia sudah punya banyak masalah saat ini....


Oh, gadis yang malang, dia pasti sangat shock melihat video rekayasa itu, tapi bagaimana dia bisa seceria itu sekarang?"


"Karna aku mengabulkan keinginannya...." Ungkap Hisyam tiba-tiba.


"Keinginan....?" sontak Farida.


"Keinginan....?" teriak Davis.


"Keinginan....?" Bik Ina pun ikut kaget.


"Dia begitu merindukan putrinya, jadi aku berpikir, sebaiknya aku menemaninya untuk bertemu keluarganya, sekaligus mengenalnya lebih jauh....


S**o, untuk beberapa hari ini mama dan bik Ina yang akan menjaga Ozan" Usul Hisyam.


"Don't worry, i will do my best


(jangan khawatir akan ku lakukan yang terbaik)" Ucap nyonya Farida bersemangat.


.........


Di bandara.


Alia duduk di sebuah bangku bersama Ozan, terlihat pengasuh itu tak henti-hentinya mengelitiki Ozan yang sedang terkekeh geli dan kadang berkomat kamit mengikuti kata-kata Alia dengan cadel.


"Lihatlah mereka, betapa bahagianya mama jika wanita itu yang menjadi menantu mama, mengurus Ozan, mengurus makan dan semua keperluanmu....


Pasti mama tak akan berpikir dua kali jika harus meninggalkan kalian dengan wanita seperti Alia, bukankah begitu, honey"


Ucap nyonya Farida sambil merapikan kemeja putranya.


"Mom, sebaiknya mama masuk sekarang, kami juga akan memesan tiket setelah ini"


Ucap Hisyam, juga ikut merapikan rambut mamanya yang mulai banyak di tumbuhi uban.


Ozan kini di gendong oleh nyonya Farida pergi, tapi tatapan bocah itu masih tak ingin beralih dari pengasuhnya yang hanya mengantarnya hingga ke Gate.


"Apakah Ozan akan baik-baik saja?" Tanya Alia dengan perasaan khawatir.


"Kenapa? Apa kamu ingin mengajak Ozan juga?" Pancing Hisyam dengan sebelah alisnya sedikit di naikkan.


"Apa tuan bercanda, Ozan akan mengamuk setibanya di sana...."


"Kenapa....?"


"Bukan apa-apa, sekarang saja aku tidak yakin kalau tuan akan betah sehari saja di sana..."


Tantang Alia dengan senyuman lucu yang sulit di artikan oleh Hisyam.


"Ckk... apa dia sekarang meremehkanku?"


Hisyam berdecak kesal, merasa dirinya di tantang oleh gadis indo itu.