
Di waktu yang sama, ditempat yang berada.
Bandung.
Clara dengan perlahan memapah tubuh Dira.
"pelan-pelan Dir." Clara memperingati.
"aduh Cla.. rasanya pengen ngejen tau." rintih Dira, keduanya berjalan perlahan menuju tempat duduk terdekat.
"Heng..."
"Dira, jangan ngejen dulu, kalo anakmu tar keluar disini gimana?!." pekik Clara.
"kita kerumah sakit aja ya.." ajak Clara, ia perlahan membantu Dira duduk.
"gimana mau kerumah sakit!, ketuban aku udah pecah Cla, kamu telfon Tante Seli aja, buruan!." seru Dira, ia sudah tak kuat lagi menahan rasa sakitnya.
"Heng.."
"Dira!, jangan ngejen dulu, biar mamah sampe sini, aku gak ada temennya ini.." panik Clara, ia dengan buru-buru mendial nomor Seli.
"gimana sih!, orang anaknya mau keluar kok gak boleh, agrhh.. udah pengen ngejen bangat ini.."
"sabar-sabar.. "
"halo mah, mamah cepetan pulang! Dira mau lahiran ini." pekik Clara ketika sambungan teleponnya terhubung.
"..."
"aduh mah, gak sempet, buruan deh mah gak usah banyak tanya."
"..."
"iya buruan Clara tunggu!."
Tut.
Oeee...Tangis bayi terdengar nyaring ditelinga Clara. Buru-buru ia menghampiri Dira.
"astaga.." Clara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, buru-buru ia menghampiri Dira yang sudah terbaring dilantai dengan nafas yang memburu.
Diraihnya bayi merah yang baru saja terlahir kedunia itu.
Setelah selesai membersihkan sang bayi, ia membantu Dira membersihkan diri dan berpindah tempat.
Aku haru melakukan tes DNA, walaupun aku sangat yakin jika ayah dari bayi ini adalah tuan Dean Wilson tapi aku harus membuktikannya biar tambah yakin. batin Clara.
Flashback on
Setelah dokter Arya disidang oleh Dean dan juga Semmy, ia langsung menelfon Clara, menyuruhnya untuk segera kembali.
Kediaman dokter Arya.
"jadi papa menjadikanku kambing hitam?!." Clara mendelik setelah mendengar cerita sang papa.
"ya, bukan maksud papa sih, tapi mau bagaimana lagi, Dirakan sahabat kamu, jadi kamu yang lebih tau tentang dia."
Clara mendengus sebal, dalam hati, ia mengumpat sang papa karena sudah menjadikannya kambing hitam.
"pah, Clara curiga deh, kalo sbenarnya anak yang dikandung Dira saat ini itu anaknya tuan Dean." seru Clara.
"tadinya papa juga berfikir seperti itu, tapi apakah mungkin?, keluarga tuan Wilson itu sangat menjunjung tinggi harga diri seorang wanita, masa iya tuan Dean melakukan hal itu sama Dira?." elak Arya.
"Clara juga ragu sih pah."
"bagaimana kalau kita melakukan tes DNA saja pah?" usul Clara.
"melakukan tes DNA pada kehamilan resikonya tinggi sayang."
"ya kita lakuin tes DNA pas anaknya udah lahir pah, aku ambil Sempel rambut anaknya Dira, papah ambil punya tuan Dean, gimana?. Clara yakin pah, bayi yang dikandung Dira itu anaknya tuan Dean. Pokonya kita harus melakukan tes DNA." kekeh Clara.
Cukup lama Arya menimbang-nimbang keputusan putrinya, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan, " oke, papah setuju."
Flashback off
Clara baru saja menyimpan helai rambut dan kuku anak Dira ketika pintu rumahnya terbuka. Nampak Seli dengan nafas memburunya memasuki rumah.
"Dira mana sayang?." tanyanya ketika ia melihat Clara.
"ust.. mama, pelan-pelan dong, Dira lagi istirahat, anaknya juga, mama sih lama." Clara mengambilkan minuman untuk Seli yang masih terengah-engah.
"nih minum dulu."
"makasih sayang."
🖤