Single Parents

Single Parents
Bertemu Angel



pukul 19.30 Dira dan Amel baru saja mengakhiri pertemuannya. Banyak hal yang mereka bicarakankan, mulai dari hal pekerjaan sampai hal pribadi pun mereka singgung.


Siapa yang menyangka jika yang Dira panggil dengan sebutan nona Amel itu ternyata sudah menikah dan memiliki seorang anak, bahkan anaknya sudah remaja.


Postur tubuhnya yang mungil serta wajahnya yang imut membuat Amel terlihat jauh lebih muda.


Suami Amel ialah seorang pengusaha di bidang properti yang cukup terkenal, Amel juga berkata jika ia membuka butiknya hanya untuk mengisi waktu luang saja, dan ia juga mengikuti kompetisi itu juga hanya iseng, siapa yang menyangka jika ia akan mendapatkan juara pertama.


Dira beranjak dari duduknya, ketika membalikkan badan, ia melihat Clara tengah duduk bersama seorang pria disalah satu sudut cafe itu, Dira tak dapat melihat siapa pria itu karena ia membelakanginya.


"bukankah itu Clara?, dengan siapa dia?." gumam Dira pelan. Ia hendak menghampirinya.


"nona Nadira."


Langkah Dira terhenti ketika ia mendengar namanya dipanggil seseorang, ia menoleh kearah sumber suara.


"nona Angel?." dahi Dira bertaut, ia menatap wanita super model yang kini berdiri menjulang didepannya.


"kau mengenalku rupanya, baguslah, jadi saya tidak perlu repot-repot mengenalkan diriku lagi." ujar Angel dengan angkuhnya.


"saya ingin berbicara dengan Anda, mari duduk sebentar." lanjutnya.


"baiklah."


Keduanya kini duduk ditempat dimana Dira tadi berada.


"langsung saja, saya tidak suka basa basi, saya peringatkan anda! jauhi Dean Wilson!, dia itu kekasih saya, saya harap anda tau posisi anda!." Angel berbicara dengan penuh menekanan.


Dahi Dira berkerut dalam " maaf nona, maksud anda Dean Wilson direktur D'Will Company?." tanya Dira memastikan.


"ya, jangan coba-coba menarik simpatinya dengan menggunakan anakmu itu!." tekan Angel lagi.


"maaf nona, mungkin anda salah faham, saya dan tuan Dean tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya ada hubungan kerja sama saja, itupun juga dengan tuan Deva, anda tahu sendiri bukan?!." jelas Dira, ia menarik senyumnya paksa.


'kurang ajar!, atas dasar apa kau membawa-bawa nama anakku' geram Dira dalam hati.


"itu memang kebenarannya." tegas Dira.


"baguslah jika memang begitu, Saya hanya ingin mengatakan itu saja, kalau begitu saya permisi dulu." Angel meninggalkan Dira dengan senyum puas tersungging di bibirnya.


Huh.. Dira menghembuskan nafasnya pelan, menetralkan gejolak emosi yang sempat berterbangan dihatinya. Setelahnya ia beranjak dari duduknya ingin menemui Clara, tapi sayangnya Clara sudah meninggalkan tempat itu.


"sudahlah, besok jika bertemu aku akan bertanya langsung." gumam Dira pelan.


🍁


Ciitt..


Semmy memarkirkan mobilnya tepat dihalaman rumah Dean, ia bergegas masuk kedalam mencari sang tuan rumah.


"Dean... Dean..." panggilnya setengah berteriak.


"ada apa Sem, kenapa kau berisik sekali?, kau bisa membangunkan mama dan papa nanti." Dean berjalan kearah Semmy dengan membawa segelas air putih ditangannya, ia baru saja dari dapur.


"ada sesuatu yang harus ku tunjukkan padamu." Semmy mengangkat map yang ada ditangannya.


"kita keruang kerja saja." Dean berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Semmy dibelakangnya.


..


"jadi, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?." tanya Dean. Kini mereka berdua tengah duduk di sofa diruang kerja Dean.


"bukalah." Semmy menyerahkan map yang tadi ia bawa.


Perlahan Dean membuka map itu. Kedua bola matanya membola sempurna ketika membaca isinya, senyumnya merekah tak tertahankan lagi.


"apakah ini nyata?."


🖤