
Hisyam bangun mengacak rambutnya, sambil berdecak sebal pria itu menatap kesal ke arah tempat tidur di mana Alia tak henti hentinya mendengus bosan, hingga Hisyam yang mendengarnya pun merasa kesal.
"Aargghh...ada apa denganya dia bahkan belum tidur di jam seperti ini! Tempat ini sudah menyilaukan, suhu ruangan pun sudah sesuai yang dia inginkan lalu, apa lagi selanjutnya... "
Hisyam membatin, lalu bangkit sembari menghempas selimutnya dengan kasar.
"Kenapa kamu belum tidur juga, hah!"
Tegur Hisyam sambil berkacak pinggang, pria itu masih memerhatikan gelagat Alia yang tak pernah diam di tempat tidurnya yang berukuran king size.
Meski tubuh Alia berbalut selimut dan menutupinya hingga kepala, tapi Hisyam bisa melihat wanita itu terlihat tak nyaman entah dengan kehadiran pria asing di ruangan itu atau karna tak terbiasa dengan kasur empuk yang serba mewah itu.
Alia tiba-tiba terdiam, wanita itu pura-pura tertidur saat suara langkah Hisyam semakin mendekatinya.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin tidur,?"
Cetus Hisyam bersamaan dengan gerakan tangannya menyingkap selimut yang di gunakan oleh wanita yang sedang berpura-pura tidur itu.
"Bangunlah dan bicara padaku! Aku tau kamu kamu hanya berpura-pura tidur!"
Hisyam berdiri di depan Alia sambil memandangi si pengasuh yang perlahan duduk di tempat tidur.
Hisyam menarik kursi untuk duduk di samping tempat tidur dan mengeluarkan selembar foto dari saku celananya.
Alia yang penasaran dengan foto itu sudah tak bisa berpura-pura tidur lagi, ia bergegas bangun dan meraih foto yang di ulurkan Hisyam padanya.
"Foto Assyifa, bagaimana bisa? Bukankah terakhir foto ini ada pada Hamish?"
Pikir Alia setelah melihat pesan ancaman di balik foto itu, tulisan yang sama ia dapatkan dulu bersama Hisyam.
"Hamish memberikannya padaku sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri"
Jelas Hisyam sambil mengukir senyum yang sangat tipis, ia tahu wanita di hadapannya sulit untuk memahami situasinya.
"Tapi bukankah kalian tak pernah akur? Bagaimana dia bisa mempercayakan..."
"Seburuk buruknya hubungan di antara kami, kami tetap adik beradik dan aku bersyukur hubungan kami kembali terjalin dengan baik"
"Apa! Jadi Hamish adalah putra kedua nyonya Farida juga..."
"Aku sudah memberitahumu tentang diriku dan Hamish, sekarang giliranmu, untuk bercerita tentang dirimu atau sesuatu yang menarik yang tak pernah terlupakan dalam hidupmu"
Desak Hisyam sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, berharap Alia bisa lebih terbuka seperti yang di sarankan Dokter Natasha padanya.
Lama terdiam namun Alia tak kunjung memulai kata-katanya, hingga sekali lagi Hisyam mendengus bosan dengan sikap keras kepala pengasuh itu.
"Sebaiknya tuan tidur saja, aku janji tak akan membuat tuan tak nyaman seperti tadi, lagi pula aku tak punya pengalaman dan hal yang menarik untuk di ceritakan"
Ucap Alia hampa, ia merasa sedih setiap kali orang mempertanyakan kehidupan pribadinya, terutama kehidupan remajanya yang tak seindah dan tak semanis kehidupan remaja lain pada umumnya.
"Baiklah, aku tak akan memaksamu, tapi saranku cobalah untuk menceritakannya, percayalah itu akan membuatmu merasa lebih baik"
Saran Hisyam lalu beredar meninggalkan Alia dan kembali berbaring di sofa dengan mengandalkan kedua tangannya sebagai bantal.
"Kamu tahu hal bahagia apa yang tak pernah ku lupakan dalam hidupku...."
Hisyam menjeda kata-katanya, perlahan bibirnya terlihat mengukir senyum yang sangat jarang ia tunjukkan.
Sementara itu di jarak yang tak terlalu jauh Alia mulai tertarik dengan carita Hisyam, hingga ia mengambil posisi yang nyaman, dengan menghadap bosnya wanita itu bertumpukan sebelah lengannya sebagai bantal, menanti lanjutan cerita dari Hisyam.
"Waktu itu, kabar pertama keberadaan Ozan dalam rahim Renata adalah hal yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku...
Kedua, tangisan pertama Ozan di saat ia lahir ke dunia ini...
Dan yang terakhir adalah, kabar kesembuhan Ozan, semua hal baik itu berawal dari nama Ozan, dan aku harap kamu juga tidak lupa bahwa ada banyak hal baik yang terjadi padamu tanpa kamu menyadarinya ...."
Hisyam terus berbagi kenangan baiknya pada Alia sehingga ia baru sadar Alia sudah terlelap hingga ke alam mimpi sambil memeluk foto putri kecilnya.
Hisyam bangkit mendekati Alia, dengan sedikit membungkuk pria itu mengelus lembut rambut hitam si pengasuh dan beralih pada wajah mungil Assyifa di dalam foto.
"Kamu beruntung memiliki ibu yang kuat seperti dia"
Ucap Hisyam pada foto itu sebelum ia kembali meletakkannya di bawah bantal, ia sekali lagi kembali memandangi raut lelah sang pengasuh yang sentiasa tertutupi dengan wajah cerianya.
-
Jam menunjukkan angka sepuluh, di luar matahari semakin terik mengiringi aktifitas gerombolan manusia yang silih berganti memasuki gedung hotel terpopuler di kota itu.
Di tempat tidur berukuran raksasa itu Alia masih terbuai dalam mimpi indahnya bersama Assyifa, bahkan suara bel dan ketukan dari room service pun tak terdengar olehnya.
Bukannya para staff tak memiliki Accsess ke ruangan itu, tapi mengingat Hisyam adalah orang yang tegas dan tak suka jika kehidupan pribadinya jadi santapan public, sehingga mau tidak mau para staf harus mengikuti peraturan yang ada jika tak ingin kehilangan pekerjaannya.
"Apa dia belum bangun juga! Aiisshh... bahkan seekor singa mengaum di telinganya pun tak terdengar olehnya, dia pikir aku mengajaknya kesini untuk berlibur!"
Gumam Hisyam sambil membuka pintu, terlihat dua wanita mengenakan seragam yang sama sedang berdiri di depan pintu siap melakukan tugasnya.
"I don't need room service, kalian bisa kembali lagi nanti! Uh... beritahu Asisten Davis untuk menyiapkan sarapan dan membawa semua keperluanku kesini! "
Seru Hisyam datar, dia tak suka dengan gelagat dua wanita yang terus melirik ke dalam, seakan ingin mencari keberadaan seseorang di kamar itu.
"And one more! Satu hal yang perlu kamu ingat, 'Costomer Privacy and Conveniece'
[Privacy dan kenyamanan pelanggan] Bukankah itu motto hotel kita!"
Sindir Hisyam, sehingga membuat dua wanita itu menunduk takut hanya dengan mendengar suara tegas dari seorang Hisyam Al Jaziri Osmand.
"Ada apa? Apa ada masalah?"
Alia terbangun setelah mendengar bosnya berbicara pada seseorang dengan nada dingin, masih dengan lilitan selimut wanita itu segera menghampiri Hisyam ke pintu.
Belum sempat Alia melihat wajah para room service itu Hisyam sudah berbalik menarik tubuhnya kedalam pelukannya sehingga menenggelamkan wajah kecil itu di dada bidangnya.
"Apa yang..."
"Diamlah! Atau mereka akan bergosip tentangmu setelah ini..."
Bisik Hisyam tak ingin kedua pelayan itu mengenali wajah Alia apalagi mengetahui wanita yang bersamanya saat ini adalah wanita yang membuat satu gedung itu gempar dengan insiden semalam.
"Kalian boleh pergi sekarang!"
Seru Hisyam pada pelayan yang sekarang berdiri di belakangnya.
"Ba...baik tuan"
Jawab kedua pelayan itu dan sekali lagi melirik wanita yang terhalang oleh punggung tegap Hisyam.
"Sial! padahal kita hampir melihat wajah wanita itu"
Umpat si pelayan sebelum meninggalkan kamar bos besarnya.
Hisyam bernapas lega setelah hanya tinggal dirinya dengan Alia di kamar itu, seketika ia tersadar ada rasa aneh yang merasuki pikirannya sehingga tubuhnya pun dapat merasakan reaksi yang sama saat napas Alia kini menyapa lembut dada bidangnya.
Sedangkan Alia yang merasakan hembusan maskulin di pucuk kepalanya, baru menyadari dirinya sedang dalam pelukan Hisyam yang masih bertelanjang dada.
"Um... apa tuan bisa melepasku sekarang? Saya harus ke kamar mandi"
Ucap Alia dengan sedikit mendorong tubuh Hisyam, ia berusaha melepaskan diri dari rangkulan tuannya.
"Ehmm... sorry, i didn't mean to..."
Hisyam melepas tangan kekarnya sehingga Alia yang baru saja terbebas dari rangkulannya secepat kilat berlari menuju kamar mandi, tanpa memperdulikan selimut yang menutupinya kini berserakan di lantai dan hampir membuatnya tersandung, bangkit lagi dan lagi hingga hilang di balik pintu.
Hisyam memerhatikan tingkah lucu Alia, wanita itu berlari mengenakan kemeja putih miliknya, kemeja yang berukuran hampir selutut di tubuh mungil pengasuh itu.
Dan dengan reflek pria kaku itu tersenyum cetus menertawakan diri sendiri, ia berusaha menjaga dirinya tetap waras, sambil membusungkan dadanya, melancarkan pernapasannya yang tadi sempat tertahan.
"Cih! Apa yang aku pikirkan, apa sekian lama tanpa seorang wanita di sisiku membuatku tak waras dan memikirkan hal yang tak pantas pada anak di bawah umur itu..."
Hisyam tergelak lucu sambil menggelengkan kepalanya ia mencoba untuk menepis nalurinya sebagai pria dewasa yang kadang tiba-tiba menguasai pikirannya.
"Huft...! Harus aku akui, sih, dia ibu yang tangguh meski dengan tingkah kekanak-kenakannya itu"
Ucap Hisyam lagi, pria itu masih berdiri dengan balutan handuk di pinggangnya, hingga Davis yang kini berdiri di belakagnya pun tak di sadarinya.
"Is everything oke, boss?"
Ucapan Davis mengejutkan Hisyam, sehingga membuat pria itu hanya bisa mengangkat bahunya.
"What's going on here?" Tanya Davis seraya memerhatikan sekeliling.
"Jangan bilang kalau kamu dan wanita itu...."
Tanya Davis menelisik setelah menyadari posisi Hisyam hanya mengenakan handuk serta selimut yang berserakan di lantai dan, secara kebetulan Alia juga sedang di dalam kamar mandi.
"No... is not what you think, oh, come on Davis, ini tak seperti yang kamu pikirkan..."
"Huh... aku tak percaya ini" Gelak Davis.
"She's still very young, boss, well, aku akan memberimu ruang, so, enjoy your new experience"
Davis masih terdengar terkekeh lucu sebelum menutup pintu, sehingga Hisyam yang tak sempat meluruskan kesalapahamannya pun, hanya bisa mengumpat geram di buatnya.