
Hisyam keluar setelah hampir sejam di kamar mandi, setelah menunggu cukup lama akhirnya air dingin yang keluar dari pancuran shower, sedikit bisa meredakan suhu tubuhnya yang meningkat drastis akibat ulahnya sendiri.
Benarkah niatnya hanya ingin menakuti istrinya dan hasrat yang di tunjukkannya tadi hanyalah acting belaka?
Tapi hampir saja dia tak bisa mengendalikan diri saat tubuh mungil istrinya berada dalam kungkungannya.
Di tambah lagi aroma mint dari rambut setengah basah milik Alia yang membuatnya hampir lupa diri dan kembali melakukan kesalahan yang sama di masa lalu.
"Tidak, tidak! aku tak akan menyentuhnya hanya dengan bermodalkan nafsu"
Hisyam menepis perasaannya kuat, dengan napas yang masih memburu ia bergegas memasuki walk in closet meninggalkan Alia yang sudah tertidur pulas di balik selimut tebalnya.
***
"Letakkan saja di meja itu..."
Suara Hisyam terdengar berbisik, takut Alia akan terganggu dengan pembicaraannya pada si pelayan yang saat ini sedang memegang sebuah nampan berisi menu makan malam untuk mereka.
"Kalian bisa pergi sekarang!" Titah Hisyam datar, tak senang melihat dua pelayan itu bergunjing sambil menatap sinis ke arah Alia.
Setelah kedua pelayan tadi selesai menata makan malam di atas meja, meraka pun pamit kembali ke bawah meninggalkan tuannya dengan wajah yang menciut.
Entah berapa lama Hisyam bermondar mandir di samping tempat tidur namun tak ada tanda-tanda jika Alia akan segera bangun.
Sebenarnya bisa saja ia menyantap makan malamnya seorang diri, tapi membiarkan Alia tidur tanpa menyantap apapun membuatnya merasa bersalah, pasalnya gara-gara dirinya Alia harus tidur dangan perut kosong.
Lelah menunggu di tambah lagi gengsi yang cukup tinggi, membuatnya lupa akan rasa bersalah.
Hisyam yang tadi merasa bersalah pada Alia, kini kembali ke sofa merilekskan tubuh dan pikirannya, berharap malam ini ia bisa terlelap tanpa bantuan obat yang selalu di konsumsinya.
Di sofa, Hisyam lagi-lagi menatap ponselnya, ragu, haruskah ia meminta bantuan Davis untuk mendapatkan solusi dari insomnia yang di deritanya.
"Tidak, tidak! Aku tidak tak akan merepotkan Davis, dia pasti sedang berusaha keras membereskan krisis perusahaan, kali ini aku bisa mengatasi masalah ini seorang diri"
Gumam Hisyam sembari meletakkan ponselnya kembali, kali ini ia akan berusaha tidur tanpa bantuan obat itu.
Sebenarnya hanya dengan satu panggilan telepon saja, apapun yang di butuhkannya akan dengan mudah untuk di dapatnya.
Tapi karna itu menyangkut masa lalu dan psikis yang di deritanya, membuatnya harus berhati-hati dalam mengambil langkah.
Karna hanya dengan satu kesalahan saja masa lalunya akan menjadi masalah sensitif jika sampai hal itu bocor ke publik.
Hisyam menghirup oksigen cukup dalam sembari mencoba merilekskan pikiran.
Tapi, baru beberapa menit ia memejamkan matanya, bayangan buruk tentang kecelakaan yang meregut nyawa papanya kini kembali menghantuinya.
"NO.....!!!"
Hisyam berteriak di ikuti keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.
Sementara itu Alia yang tertidur pulas spontan terbangun karna teriakan Hisyam memecah kesunyian malam.
"Tidak! Aku bukan pembunuh!"
Racau Hisyam lagi, kini pria itu terlihat gelisah sembari memegangi kepalanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Alia yang mulai kembali ke alam sadarnya pun bangkit, menyambar segelas air putih di atas nakas dan menghampiri suaminya yang sudah terduduk dengan napas yang turun naik.
"Tuan baik-baik saja?" Alia mendekat ragu sambil mengulurkan segelas air putih pada Hisyam.
"Thanks...." Ucap Hisyam singkat, kemudian menghapus kasar wajahnya setelah meneguk tandas air pemberian Alia.
"Apa tuan mimpi buruk lagi?" Tanya Alia pelan.
Alia menciut, apa lagi saat Hisyam tiba-tiba mengerling tajam ke arahnya, seakan pria itu ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Um, maaf aku tak bermaksud untuk..... tunggu sebentar!"
Alia berlari ke arah nakas, membuka satu persatu laci di mana Hisyam selalu menyimpan obat yang sering di konsumsinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Hisyam setelah melihat Alia mengacak laci satu persatu.
"Hm.... otu tidak perlu!"
Cegah Hisyam, kini pria itu sudah berdiri di belakang Alia yang masih sibuk mengutak atik isi dari laci itu.
"Uh.... padahal aku sering melihatnya di sini" Gumam Alia yang tak perduli larangan suaminya.
"Apakah tuan menyimpannya di tempat lain?"
Alia berbalik menatap Hisyam lamat, "Apa mungkin di kamar itu?" Pikir Alia.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan kejadian tadi siang di mana Hisyam terlihat begitu berantakan.
"Biar ku ambilkan...."
"Tidak perlu!" Cegat Hisyam saat istrinya itu ingin beranjak.
"Kenapa? Bukankah tuan tak bisa tidur tanpa obat itu?" Tanya Alia heran.
Sementara Alia masih berdiri menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Aku ingin berhenti...."
"Be-berhenti?" Alia tak mengerti.
"Hm....!" Hisyam lagi-lagi menyapu kasar wajahnya.
"A-aku.... aku ingin bangun dari mimpi buruk ini" Suara Hisyam tercekal.
"Kamu.... mau kan, membantuku?"
"Benarkah? Tentu saja aku akan membantu tuan dengan senang hati!" Alia berjingkrak girang.
Niat Hisyam yang terdengar tulus membuat Alia antusias, hingga tak sadar kini dirinya ikut duduk di atas tempat tidur.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan, apa tuan ingin tidur di sini? Aku bisa tidur di sofa, atau....
Tuan ingin sendiri? Aku bisa mengendap-endap ke kamar anak-anak dan kembali lagi sebelum mama bangun di pagi hari, bagaimana?"
"Tetaplah di sini!"
Alia menatap netra Hisyam cukup dalam.
Selama beberapa saat ia mencari kesungguhan dari permintaan sang suami.
Menurutnya permintaan itu sangat bertolak belakang dengan prinsip seorang Hisyam yang rela mati demi harga dirinya.
"Apa tuan Hisyam bersungguh-sungguh dengan ucapannya? Hanya menemaninya? Bagaimana kalau dia sampai khilaf dan....
Akh.... tapi dia juga tidak salah jika harus menuntut hak yang sudah seharusnya menjadi miliknya"
Alia benar-benar dilema dalam memilih keputusan, harus di akuinya perasaannya begitu berbunga-bunga saat mantan majikannya itu memperlakukannya dengan begitu spesial.
Tapi ia juga takut, bagaimana jika peristiwa di masa lalunya terulang kembali, bagaimana jika Hisyam juga meninggalkanya di saat ia telah memberikan segalanya?
Akankah ia bisa menjalani perannya sebagai single parent lagi.
"Kenapa diam saja, kamu tidak keberatan, kan?"
Suara Hisyam seketika menghempaskan lamunan Alia dan dengan terpaksa wanita itu harus mengangguk, merelakan jika malam ini Hisyam menuntut haknya sebagai seorang suami.
"Ini sudah larut.... ayo kita tidur"
Ajakan Hisyam membuat Alia tersadar jika Hisyam sudah mengambil posisi berbaring di sisi kanannya.
****
Suasana malam terasa begitu hening, hanya suara jam yang tergantung di dinding seolah menuntun irama jantung sepasang suami istri yang sedang hanyut dalam pemikirannya masing-masing.
Berbeda dengan Hisyam yang terlihat santai memerhatikan wajah lembut milik istrinya, Alia malah terlihat kaku di pembaringannya menatap langit-langit kamar yang di dominasi oleh warna hitam sesuai dengan karakter Hisyam yang tertutup.
Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian pria berstatus suami, membuat Alia mengeliat kecil seraya menaikkan guling yang sejak tadi membatasi tubuh mereka hingga ke wajah.
"Kenapa belum tidur?"
Hisyam menurunkan sedikit guling yang menghalangi pandangannya.
"Belum mengantuk.... aku akan tidur setelah tuan tidur"
"Kenapa?"
"Agar tuan bisa mendapatkan tidur yang lebih nyenyak" Jawab Alia beralasan.
Hisyam menatap lamat wajah tegang di hadapannya.
"Bagaimana kamu mengatasinya tanpa bantuan psikiater ataupun obat?"
Pertanyaan Hisyam sukses membuat Alia beralih menatap ke arahnya.
Ada gurat kesedihan di iringi senyuman getir terukir di bibir Alia kala mengingat semua peristiwa pahit dalam hidupnya.
"Assyifa, semua karna Assyifa, huft...." Alia menghela cukup dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Di saat penghianatan hampir membuatku menyerah, sebuah gerakan kecil dalam tubuh yang menyadarkan diriku akan kehadirannya dan ku tersadar, ada kehidupan di dalam sana yang membutuhkan ketegaranku....
Di saat aku harus memilih keputusan terberat dalam hidupku, bayi mungil itu lagi-lagi menguatkanku hingga aku bisa melaluinya seorang diri tanpa perlu mengemis kasih dari orang lain....
Dan di saat aku bertanya adakah hikmah dari pengorbanan ini? Tentu saja ada karna saat ini aku di kelilingi oleh orang-orang yang baik, yang tak pernah mengukur segalanya dengan materi.... te-ri-ma-ka-sih...."
Alia terus bercerita hingga tertidur, sementara Hisyam, pria itu masih menantikan kisah kehidupan Alia yang semakin membuatnya takjub dan haru.
"Dan di saat keluarga ini merasa terpuruk, kamu datang sebagai obat dan memberikan kehidupan baru bagi Ozan"
Bisik Hisyam, seraya menyentuh wajah istrinya dengan lembut